Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Betmen
Walau kesal, Kinan tetap melakukannya. Entah mengapa dia kembali ke rumah yang sempat di sebut Baskara gubuk itu.
Karena tidak tau apa yang ingin di makan laki-laki itu, dia memasak seadanya saja. Apalagi mengingat ketika dia hendak pulang tadi, benar-benar membuatnya kesal.
Flashback
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan artinya mereka sudah harus berakhir. Pekerjaan hari ini cukup sampai disini.
Saat Kinan bersiap keluar dari gedung perkantoran itu, tiba-tiba saja ada suara yang sangat menyeramkan di belakangnya. Suara laki-laki menyebalkan itu.
"Kinan, tunggu!" panggil Baskara saat tidak ada orang lagi.
"Tugas saya sebagai asisten bos sudah berakhir 3 menit yang lalu. Jadi saya tidak memiliki kewajiban apapun lagi untuk mendengarkan anda." jawab Kinan berani membuat Baskara menatapnya dengan tatapan remeh.
Di tatap seperti itu oleh Baskara membuat nyali Kinan yang tadinya besar langsung menciut seketika.
"Oh, ya? Kita lihat, sejauh mana kamu bisa melawan." ujar Baskara menarik lengan Kinan dan memasukkannya ke dalam mobil.
Kinan yang mendapatkan perlakukan seperti itu dari Baskara langsung kesal. "Apaan sih bos. Saya bisa pulang sendiri!" ucapnya ketus pada Baskara yang masih berdiri di samping pintu mobilnya.
Klik!
"Jangan berani-berani mencoba untuk turun." ucapnya penuh ancaman.
Dia tidak ingin di bantah, namun gadis itu masih tetap berusaha memberontak dan sebisa mungkin melarikan diri dari Baskara saat ini.
"Anda tidak berhak mengatur saya!" mencoba membantah Baskara.
Sayangnya saat dia hendak keluar, Baskara semakin mendekatkan dirinya hingga membuat Kinan terpojok.
"Bos, minggir gak?!"
"Jika kamu bergerak, saya pastikan jika orang-orang akan melihat kita. Jadi silahkan jika kamu ingin mencobanya." Baskara tersenyum simpul saat melihat Kinan yang tidak berdaya.
Dia benar-benar tidak bisa melawan lagi, hingga pasrah duduk di kursi penumpang. Sementara Baskara langsung duduk di kursi kemudinya.
"Kita pergi belanja lebih dulu. Kulkas di rumah tidak ada barang untuk bisa di masak." ujar Baskara mencoba memulai pembicaraan di antara mereka.
"Saya sedang bicara dengan kamu, Kinan...." lanjut Baskara saat Kinan tidak menjawabnya.
"Untuk apa bicara lagi jika sudah membuat keputusan?!" jawab Kinan berdecak kesal.
"Ternyata semakin hari kemampuan melawan kamu semakin meningkat ya." entah itu pujian atau sebuah sindiran keras padanya.
Tapi Baskara tidak menanggapinya sama sekali. Mana Dia peduli dengan semua itu. Tujuan utamanya adalah hidup sehat dengan tidur yang cukup.
Hingga saat ini masih menjadi pertanyaan besar baginya. Bagaimana bisa dia tidur dengan begitu lelapnya di tempat sederhana, bahkan di jam-jam tertentu terasa sangat berisik saja pun dia masih bisa tidur dengan begitu nyenyak.
"Saya belajar dari bos saya. Lagi pula kebanyakan orang-orang salah menilai mana melawan mana bertahan." semakin menarik pembicaraan di antara mereka.
Karena Kinan benar-benar tidak ingin kalah lagi. Rasanya belum puas dia membuat laki-laki ini kesal.
"Baiklah, mari kita lihat sejauh mana sikap pembangkang kamu ini. Saya ingin tahu sejauh mana kamu bisa melawan saya." jawab Baskara dingin.
Dia kembali fokus pada kemudinya dan mereka pergi menuju supermarket. Seperti yang dia katakan tadi jika di apartemen kecil itu tidak ada barang yang bisa dimakan di dalam kulkas. Hanya ada air dingin saja. Menyebalkan sekali bukan?
Kinan tidak menjawab lagi. Dia benar-benar membiarkan laki-laki itu dengan segala tingkahnya. Biarkan sajan sampai dia merasa lelah dia akan berhenti dengan sendirinya nanti.
Kini keduanya sudah berada di supermarket. Lihat, bahkan dengan tak tahu malunya Baskara berjalan lebih dulu dan membiarkan Kinan membawa troli besar tersebut.
"Bagaimana cara memilih ikan yang segar?" tanya Baskara ketika mereka sampai di outlet hidangan laut.
"Liat matanya. Kalau merah berarti ngak sehat kayak, bos." sindir Kinan membuat laki-laki yang sibuk menyuruh ini itu pada penjaga outlet tersebut langsung melihat ke arah Kinan.
"Oke, saya mau ini, ini dan ini. Sekalian yang ini juga." petunjuknya pada ikan dan juga beberapa jenis makanan laut yang siap untuk mereka olah di rumah nanti.
Keduanya tidak tahu jika apa yang mereka lakukan saat ini diperhatikan oleh seseorang dari ujung sana. Entah siapa, ya udah sosok tersebut sangat mengenal salah satu dari kedua manusia yang sedang berbelanja tersebut.
***