Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DON'T LEAVE AGAIN, HYEANA
Angin lembut Netherveil masih bergerak pelan di sekitar danau bercahaya itu. Hyeana duduk di batu hitam dekat air sambil memainkan cahaya kecil yang melayang di ujung jarinya. Sesekali ia masih nyuri-nyuri pandang ke Harvey.
Karena jujur saja…melihat Harvey ketawa barusan terasa lebih langka daripada gerhana dan membuat Hyeana tak bisa untuk berhenti memikirkan nya.
Sedangkan Harvey berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jubah hitamnya bergerak pelan tertiup angin malam itu. Tatapan merahnya tidak pernah benar-benar lepas dari Hyeana. Sunyi nyaman itu bertahan cukup lama sampai tiba-tiba....
“Hyeana.”
“Hmm? Iyaa?”
Nada suara Harvey kali ini berbeda, lebih rendah dan lebih serius. Hyeana otomatis menoleh.
Harvey berjalan mendekat perlahan sampai akhirnya berdiri tepat di depan Hyeana. Mata merahnya terlihat jauh lebih tenang dari biasanya… tapi entah kenapa justru terasa berat.
“jangan pergi lagi Hyeana.”
Deg.
Hyeana berkedip bingung.
“hah? maksudnya?”
Harvey menatapnya diam beberapa detik sebelum melanjutkan.
“jangan menghilang dariku lagi.”
Angin di sekitar mereka seolah ikut melambat, tatapan Harvey tidak goyah sedikit pun.
“Aku tidak ingin mencarimu ratusan tahun lagi.”
Kalimat itu terdengar sederhana tapi entah kenapa… suara Harvey terdengar seperti seseorang yang pernah kehilangan terlalu banyak hal.
Hyeana perlahan berdiri dari batu itu.
“Harvey…”
“Aku tidak peduli dunia manusia, roh, ataupun kekuasaan di Netherveil.” lanjut Harvey pelan.
“Tapi kau…”
Untuk pertama kalinya, Harvey terlihat benar-benar ragu melanjutkan kalimatnya sendiri.
“aku tidak mau kehilanganmu lagi.” lanjutnya
Deg.
Jantung Hyeana langsung berdetak tidak kencang, tatapan merah itu terlalu serius, terlalu jujur, dan anehnya….Hyeana bisa merasakan kalau Harvey tidak sedang bicara tentang “baru kemarin.”
Seolah ada perasaan ratusan tahun yang akhirnya bocor sedikit malam ini.
Hyeana menggenggam ujung bajunya sendiri pelan.
“Aku kan masih di sini…”
“Sekarang iya.” Jawaban Harvey cepat sekali seolah dia takut bahkan pada kemungkinan kecil Hyeana akan menghilang lagi.
“Kau sekarang manusia.....” ucap Harvey lirih.
“Dan manusia.....selalu mudah pergi.”
Deg.
Kalimat itu membuat dada Hyeana terasa aneh. Harvey menunduk sedikit, jemarinya perlahan menyentuh tangan Hyeana yang bertanda hitam.
“Aku sudah pernah terlambat sekali.”
“dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Aura hitam tipis bergerak lembut di sekitar mereka, bukan menyeramkan, Justru hangat.
Hyeana diam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas kecil.
“Kamu tau gak sih.”
“Tau apa?”
“Kamu kadang ngomong kayak orang posesif.”
Harvey langsung menjawab tanpa ekspresi.
“memang.”
Deg.
“H-HAH?!”
“Aku tidak suka saat kau jauh dariku.”
“M-MAKSUDKU BUKAN GITU—”
“Kau terlalu sering terluka.”
“Itu bukan salahku.”
“Kau tetap manusia lemah.”
“Harveyyy…”
Harvey sedikit membungkuk hingga sejajar dengan wajah Hyeana. Tatapan merahnya melembut tipis.
“Tetaplah di sisiku Hyeana.”
Deg.
Jantung Hyeana langsung kacau total, wajahnya merah sampai telinga sedangkan Harvey masih menatapnya setenang biasanya seolah baru mengatakan hal normal padahal Hyeana rasanya mau meledak.
“kalau aku bilang iya gimana?” bisik Hyeana pelan tanpa sadar.
Harvey diam. Lalu dengan perlahan…tangannya bergerak membelai rambut Hyeana. Gerakan yang sangat hati-hati, sangat lembut.
“Itu sangat bagus.” ucap Harvey
Deg.
Dan di saat itu....Untuk sepersekian detik... Bayangan seseorang lain muncul di ingatan Harvey. Rambut panjang tertiup angin aurora, tawa lembut di tepi danau yang sama.
“Harvey…..jangan merasa sendirian lagi.”
Mata merah Harvey sedikit membesar, bayangan itu hilang, yang tersisa hanya Hyeana di depannya sekarang. Namun kali ini…Harvey tidak ingin kehilangan lagi.
Malam di Netherveil berlanjut jauh lebih tenang setelah itu. Danau bercahaya itu tetap memantulkan aurora gelap ke permukaan air hitam beningnya. Cahaya kecil terus beterbangan di sekitar mereka seperti kunang-kunang roh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…Hyeana merasa tempat menyeramkan ini justru terasa nyaman karena Harvey ada di sampingnya. Hyeana kembali duduk di batu hitam tadi sambil memainkan cahaya roh kecil di tangannya. Sedangkan Harvey berdiri di dekat air, diam seperti biasa.
“Harvey.” panggil Hyeana
“Hmm?.”
“Kalau aku jatuh ke danau itu bakal mati gak?” lanjut Hyeana
“Tidak.”
“Serius?”
“Kau akan ditarik makhluk bawah danau lebih dulu.” jawab Harvey
Deg.
Hyeana langsung mundur sedikit dari pinggir batu.
“AKU GAK NANYA YANG SEREM GITU!”
Harvey menoleh pelan, tatapan merahnya terlihat sangat tenang.
“Itu jawaban jujur.”
“HARVEY!”
Sudut bibir Harvey naik tipis lagi dan lagi-lagi Hyeana langsung melotot.
“KAMU KETAWA LAGI KAN BARUSAN?!”
“Tidak.”
“BOHONG.”
Harvey akhirnya berjalan mendekat lalu duduk di samping Hyeana. Jarak mereka dekat sekali sampai Hyeana bisa merasakan hawa dingin lembut dari tubuh Harvey. Anehnya…dingin itu tidak membuatnya takut lagi.
Mereka menghabiskan waktu cukup lama di sana.
Hyeana banyak bicara seperti biasa, menceritakan sekolahnya, Ara yang terlalu berisik, Haras yang suka cari masalah, sampai Olla yang hobi tidur saat pelajaran.
Dan Harvey mendengarkan. Benar-benar mendengarkan, sesekali menjawab pendek, sesekali menatap Hyeana diam-diam tanpa Hyeana sadari. Sampai akhirnya langit Netherveil mulai berubah semakin gelap, Harvey berdiri perlahan.
“Kita harus kembali.”
Hyeana sedikit kecewa tanpa sadar.
“kembali.....”
Harvey menatapnya.
“Kau ingin tinggal disini lebih lama?”
“Bukan gitu sih…” Padahal jelas iya.
Harvey mengulurkan tangannya pelan.
“Ayo.”
Hyeana menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menggenggamnya. Aura hitam langsung bergerak mengelilingi mereka dan dalam sekejap....Dunia berubah.
Hyeana kembali jatuh pelan di atas kasurnya sendiri.
Kamar gelapnya muncul lagi di depan mata. Cahaya bulan masuk dari jendela seperti biasa. Hyeana duduk perlahan sambil menghela napas kecil.
“Udah balik lagi…”
Harvey muncul beberapa langkah dari tempat tidur. Jubah hitamnya bergerak pelan.
“Tidurlah Hyeana.”
“Kamu mau kemana?”
“Aku masih di sini.”
Jawaban itu entah kenapa membuat hati Hyeana tenang. Hyeana akhirnya berbaring lagi di kasur sambil menarik selimut sampai dagu. Tatapannya masih mengarah ke Harvey.
“Harvey.”
“Ada apa Hyeana?.”
“Jangan ngilang ya pas aku bangun.”
Mata merah Harvey sedikit melembut.
“Aku akan kembali sebelum kau bangun.”
“Hmm.…”
Hyeana akhirnya memejamkan mata perlahan, beberapa menit kemudian…napasnya mulai teratur.
Dia tertidur dan Harvey tetap berdiri di sana cukup lama, menatap Hyeana diam tanpa bergerak sedikit pun. Sampai tiba-tiba.....
Sretttt.
Aura hitam tipis muncul di belakang Harvey membentuk lingkaran gelap seperti cermin retak, suara wanita terdengar pelan dari dalamnya.
“Harvey Alystair.......”
Tatapan merah Harvey langsung berubah dingin lagi.
“Ibu.”
Siluet seorang wanita terlihat samar di dalam bayangan itu. Bayangan wanita yang elegan, anggun, dan penuh tekanan mengerikan yang bahkan membuat udara kamar ikut berat.
“Pulanglah ke istana.”
“Aku sedang sibuk.”
“Kau terlalu lama berada di dunia manusia, Harvey.”
Harvey menatap Hyeana yang tertidur di kasur.
“Aku belum selesai bu.”
Suara wanita itu terdengar sedikit lebih rendah.
“Justru karena itu kau harus segera kembali kemari.”
Sunyi beberapa detik, lalu wanita itu kembali bicara.
“Ibu juga ingin melihat gadis itu.”
Deg.
Tatapan Harvey langsung berubah tajam.
“Aku tidak mengizinkan siapa pun menyentuhnya.”
Aura hitam di ruangan langsung bergerak liar sesaat namun wanita itu hanya tertawa kecil.
“Kau benar-benar mirip ayahmu.”
Dan sambungan itu menghilang perlahan, ruangan kembali sunyi. Harvey menatap tempat bayangan tadi beberapa detik sebelum akhirnya kembali melihat Hyeana, tatapan merahnya melembut lagi.
“Aku akan segera kembali Hyeana.”
Lalu tubuh Harvey perlahan menghilang ke dalam kegelapan malam.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Pagi harinya…Sekolah berjalan seperti biasa, atau setidaknya…terlihat biasa. Hyeana berjalan di koridor bersama Seana dan Olla sambil membawa beberapa buku.
“Aku ngantuk banget hari ini…” gumam Olla.
“Kamu tiap hari juga ngantuk.” jawab Seana datar.
“Itu bakat.” lanjut Olla.
Jam istirahat akhirnya tiba.
Ara, Haras, Anne, dan Lidia langsung pergi ke kantin buat makan seperti biasa, sedangkan Hyeana ikut Seana dan Olla ke perpustakaan. Suasana perpustakaan siang itu sepi dan tenang. Cahaya matahari masuk dari jendela tinggi membuat debu-debu kecil terlihat berkilau di udara. Olla langsung rebahan di meja baca.
“Aku tidur lima menit aja.” ucap Olla
“Kamu baru duduk.” sahut Seana.
Hyeana berjalan pelan ke rak buku belakang sambil mencari buku tugasnya, namun.....langkahnya tiba-tiba terhenti. Di ujung lorong rak buku…Seorang wanita berdiri di sana, wanita itu sangat cantik sampai terasa tidak nyata. Rambut panjang gelap keperakan jatuh sampai pinggangnya. Gaun hitam elegan dengan detail emas terlihat seperti pakaian kerajaan kuno dan di atas kepalanya…mahkota emas berkilau pelan. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada Hyeana.
Dan anehnya…Tidak ada orang lain yang bereaksi, perpustakaan tetap normal seolah hanya Hyeana yang bisa melihatnya. Hyeana menoleh cepat ke arah Seana dan Olla.
“Kalian liat....”
Namun saat ia menunjuk kembali…Wanita itu masih ada. Wanita itu tersenyum tipis tapi Seana dan Olla terlihat bingung.
“Liat apa na?” tanya Seana.
“Hah?” ucap Hyeana dengan jantung yang mulai berdetak aneh.
Wanita itu akhirnya berjalan mendekat perlahan, langkahnya nyaris tidak bersuara, lalu ia berhenti tepat di depan Hyeana.
“Kau Hyeana kan.”
Bukan pertanyaan, Hyeana menelan ludah kecil.
“I-iya…a-aku Hyeana.”
Wanita itu menatap tanda hitam di tangan Hyeana beberapa detik, tatapannya berubah sangat lembut.
“Tidak salah lagi…”
Deg.
“A-apa…kita kenal?”
Wanita itu tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin mengajakmu sebentar.”
“Hah?”
“Ikutlah bersamaku, ini tidak akan lama.”
Sebelum Hyeana sempat menjawab, Wanita itu menyentuh pelan tangan Hyeana.
WOOSHH~
Aura hitam langsung menelan tubuh Hyeana dalam sepersekian detik.
“HYEANA?!” ucap Seana langsung berdiri dari kursinya.
Olla sampai jatuh dari meja, Rak buku di depan mereka kosong. Hyeana hilang, benar-benar hilang.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
“HYEANA!!”
Seana panik setengah mati sambil nyari ke seluruh perpustakaan. Olla bahkan hampir nangis.
“Masa orang bisa ilang gitu aja?!”
Mereka langsung lari keluar perpustakaan, koridor, tangga, kelas kosong, toilet, semua tempat mereka cari tapi tetap gak ada. Akhirnya mereka berdua lari ke kantin.
BRAK.
Pintu kantin kebuka keras sampai Ara hampir nyemburin minumnya.
“WOI KAGET TAU—”
“HYEANA HILANG!”
Haras langsung berdiri.
“Hah?!”
Anne dan Lidia juga langsung panik.
“Apa maksudnya hilang?!”
“Kita cuma di perpus terus tiba-tiba dia gak ada!” jawab Olla hampir panik.
Akhirnya mereka berenam nyari Hyeana bareng-bareng ke seluruh sekolah, lapangan, UKS, gudang belakang, atap sekolah (ini kayanya ngga deh soalnya ketinggian hahaha). Bahkan sampai ruang guru tapi hasilnya tetap sama, Hyeana tidak ada di mana pun. Sampai akhirnya mereka berhenti di koridor belakang dengan napas capek.Ara mulai panik beneran.
“Ini gak lucu sumpah…”
Haras mengacak rambut frustasi.
“Mana mungkin orang ilang gitu aja.”
Namun Olla tiba-tiba terdiam.
“Ehh guyss.”
Semua menoleh.
Olla mengerutkan dahi pelan.
“Jangan-jangan..…”
“Apa?”
“Hyeana dibawa Harvey?”
Suasana berubah sunyi karena semakin dipikir…itu justru masuk akal. Hal-hal aneh di sekitar Hyeana memang hampir selalu berhubungan sama Harvey.
Ara menghela napas panjang sambil memegang kepala.
“Kalau itu sih…kayaknya emang susah dicari.”
Haras mendecakkan lidah kecil.
“Nyebelin banget.”
Meski masih khawatir…Akhirnya mereka berhenti mencari karena kalau benar Harvey yang membawa Hyeana…maka kemungkinan besar Hyeana sedang aman-aman saja.