NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25- Mulai tidak aman

Mulai Tidak Aman

Sejak kedatangan Ratih Aditama ke kantor, pikiran Mona tidak benar-benar tenang. Kalimat demi kalimat terus terngiang di kepalanya.

“Dunia kalian tidak mudah.”

“Apakah Mona sanggup menghadapi semuanya?”

Dan yang paling mengganggu… Ratih tidak pernah benar-benar terdengar merendahkannya, justru itu yang membuat semuanya terasa lebih nyata. Karena wanita seperti Ratih pasti melihat kenyataan lebih jelas daripada dirinya.

***

Sore itu kantor mulai sepi.

Mona masih duduk di meja kerjanya sambil menatap layar laptop tanpa fokus. Beberapa kali ia mengetik lalu menghapus lagi. Pikirannya terlalu penuh, sampai suara pintu ruangan terbuka membuatnya tersadar.

Wira keluar dari ruangannya sambil melepas kancing jas. “Kamu belum pulang?”

Mona buru-buru menegakkan badan. “Masih ada revisi laporan.”

“Bohong.”

Mona langsung menoleh.

Wira berjalan mendekat perlahan. Tatapannya terlalu tajam untuk dibohongi.

“Kamu melamun dari tadi.”

Mona langsung salah tingkah. “Sedikit.”

“Karena Ibu?”

Deg

Tepat sasaran.

Mona menunduk pelan.

Wira menghela napas kecil lalu duduk di tepi meja dekat Mona. “Dia tidak bermaksud buruk.”

“Saya tahu.”

“Lalu?”

Mona diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata lirih, “Bapak pernah nggak merasa… hidup di dunia yang terlalu berbeda dari seseorang?”

Tatapan Wira langsung berubah lebih serius. “Mona.”

“Saya cuma realistis.”

“Tidak. Kamu sedang takut.” Kalimat itu membuat Mona langsung terdiam.

Karena sekali lagi… Wira terlalu mudah membaca dirinya.

Mona menggenggam jemarinya pelan. “Bapak itu seperti langit,” katanya sambil tertawa kecil pahit. “Sementara saya… cuma orang biasa.”

Wira menatapnya lama, lalu tanpa banyak bicara, pria itu berdiri.

Dan tiba-tiba...

Bruk

Ia menarik kursi Mona mendekat ke arahnya.

“Pak?!”

“Mona.”

Jantung Mona langsung tidak aman lagi karena posisi mereka terlalu dekat.

“Kamu tahu kenapa aku suka kamu?”

Mona membeku. “Apa?”

“Karena kamu tidak pernah memperlakukanku seperti CEO.”

Deg

Tatapan Wira melembut. “Di dekatmu aku cuma jadi Wira.”

Kalimat itu terasa terlalu hangat, terlalu tulus, dan Mona mulai sadar… pria ini selalu serius setiap bicara soal perasaan.

“Kalau dunia kita berbeda…” lanjut Wira pelan, “biar aku yang mendekat ke duniamu.”

Mata Mona langsung membesar sedikit. Dadanya terasa penuh karena tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya sebelumnya, namun sebelum suasana semakin berbahaya...

Ponsel Wira berbunyi.

Ekspresi pria itu langsung sedikit berubah saat melihat layar.

“Ada apa?” tanya Mona pelan.

Wira diam beberapa detik sebelum menjawab,

“Makan malam keluarga.”

“Hah?”

“Ibu mengundangku pulang malam ini.” Nada suaranya terdengar biasa.

Tapi Mona langsung merasa tidak nyaman tanpa alasan jelas. “Kalau begitu Bapak harus pergi.”

Wira masih memperhatikan layar ponselnya, lalu tiba-tiba berkata, “Kamu ikut.”

Mona langsung membeku. “…Apa?”

“Aku tidak suka datang sendiri.”

“PAK WIRA!”

Wira terlihat santai. “Kamu sekretarisku.”

“Itu alasan paling bohong yang pernah saya dengar.” Wira akhirnya tersenyum tipis.

Dan senyum kecil itu langsung membuat Mona gugup lagi. Malam harinya, Mona berdiri kaku di depan rumah keluarga Aditama. Bukan rumah, lebih tepatnya mansion. Bangunan besar dengan halaman luas dan penjagaan ketat.

Mona langsung minder begitu turun dari mobil. “Saya mau pulang saja.”

Wira yang berdiri di samping langsung menahan pergelangan tangannya pelan. “Jangan kabur.”

“Saya serius.”

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

“Karena saya masih waras!”

Wira justru terlihat ingin tertawa. “Tenang. Mereka tidak makan manusia.”

“Bapak mungkin tidak. Tapi keluarga kaya lain belum tentu.”

Wira akhirnya benar-benar tertawa kecil dan Mona langsung membeku karena pria ini sekarang semakin sering tertawa di dekatnya. Itu jelas tidak sehat untuk jantungnya. Begitu masuk ke dalam rumah, suasana langsung terasa elegan.

Pelayan menyambut sopan. Lampu kristal besar menggantung di ruang utama.

Mona benar-benar merasa seperti masuk dunia lain dan rasa gugupnya makin menjadi saat melihat beberapa orang sudah duduk di ruang makan. Termasuk Ratih. Tatapan wanita itu langsung berhenti pada Mona, lalu perlahan berpindah ke tangan Wira yang ternyata masih menggenggam pergelangan tangan Mona sejak tadi.

Deg

Wira baru sadar beberapa detik kemudian, namun bukannya langsung melepas... ia justru menggenggamnya sedikit lebih erat sebelum akhirnya perlahan melepaskan dan itu tidak lolos dari perhatian siapa pun di ruangan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!