NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Cokelat Panas

Perjalanan di atas sepeda motor besar milik Aeros kembali berlangsung dalam keheningan. Sael mencengkeram pembatas besi di belakang jok, ia sengaja letakkan tasnya di antara mereka agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan punggung Aeros.

Ia membiarkan angin malam menerpa wajahnya, ia lalu memejamkan matanya menikmati sejuknya angin itu.

Aeros mengendarai motornya dengan kecepatan rendah. Ia sesekali melirik dari kaca spion, melihat Sael yang mulai terlihat nyaman duduk di belakangnya.

Setengah jam kemudian, motor Aeros berbelok masuk ke sebuah kawasan perumahan elit. Dua rumah megah berdiri berdampingan tanpa pembatas yang tinggi, hanya dipisahkan oleh halaman rumput hijau dan deretan pohon. Dua bangunan yang menjadi saksi bisu masa kecil mereka.

Aeros menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Sael.

Sael segera turun, ia merapikan 𝘣𝘭𝘢𝘻𝘦𝘳-nya dan memberikan senyum terbaiknya.

"Terimakasih Kak Aeros, maaf sudah merepotkan," ucap Sael.

Aeros melepaskan helmnya, menatap Sael dengan tatapan tenangnya. "Ganti baju, minum air hangat lalu tidur. Jangan buka berkas kerjaan lagi malam ini."

"Iya." Sael memberikan anggukan kecil, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.

"Sael! Jangan lupa balas 𝘤𝘩𝘢𝘵-ku," seru Aeros tiba-tiba.

Sael menoleh dan kembali ke hadapan Aeros.

"Apa?" tanyanya, ia tidak begitu mendengar perkataan Aeros.

"Kamu sibuk banget ya, sampai nggak bales 𝘤𝘩𝘢𝘵-ku seharian" Aeros balik bertanya.

"Hah?" Sael buru-buru mengeluarkan ponselnya menekan ikon pesan, terlihat banyak pesan yang belum dibaca oleh Sael.

"Maaf kak, akhir-akhir ini banyak nomor tak dikenal yang menghubungi aku, mana nomor kakak" Sael menyerahkan ponselnya.

Aeros menerima ponselnya dan melihat nomor orang-orang yang menurutnya kegatelan, kebanyakan dari nomor itu adalah milik pria pria yang ingin menggoda Sael atau sekedar mengajak kenalan.

Tangannya dengan cepat memblokir semua nomor nomor itu.

"Aku nggak pernah balas 𝘤𝘩𝘢𝘵 orang yang nggak aku kenal" ujar Sael.

Aeros mengangguk, tangannya masih bergerak cepat memblokir, hapus semua nomor nomor tak penting itu.

"Nih ... Nomor ku " Aeros mengembalikan ponsel Sael.

Sael menerima ponselnya melihat nomor Aeros yang sudah Aeros beri nama 'AEROS'.

"Kenapa kamu nggak ganti nomor aja?" tanya Aeros.

"Ada niat buat ganti cuman malas aja kak, lagian ponselku ini selalu mode 𝘴𝘪𝘭𝘦𝘯𝘵 kok. Sejauh ini enggak menganggu aku," jawab Sael.

Aeros mengangguk paham.

"Ya udah, aku masuk dulu ya kak" Sael berbalik masuk ke dalam rumah.

Aeros tetap diam di atas motornya, memperhatikan punggung Sael sampai pintu utama rumah itu tertutup rapat, barulah ia melajukan motornya masuk ke pekarangan rumahnya sendiri.

Begitu melangkah melewati 𝘧𝘰𝘺𝘦𝘳, suasana hangat langsung menyambut Sael. Aroma masakan sup ayam buatan Mamanya menguar di udara. Di ruang tengah, Papanya sedang duduk membaca tablet.

"Sael? Sudah pulang, Nak? Sini, Mama baru saja buat sup hangat," panggil Mamanya dengan senyum merekah dari arah dapur.

Sael langsung memeluk Mamanya.

"Iya, Mama" tak lupa ia juga memeluk Papanya.

Papa Sael mengusap rambut putrinya dengan sayang. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Sael. Papa dan Mama tidak mengirimmu ke luar negeri selama tujuh tahun supaya kamu pulang dan menyiksa dirimu sendiri dengan pekerjaan."

"Iya Papa" jawab Sael mengangguk.

Tak lama kemudian, pintu ruang tengah terbuka. Kael masuk dengan kemeja yang sedikit berantakan—ia baru saja pulang kerja dari kantor ayahnya. Saat matanya menangkap sosok Sael yang sedang bersandar di bahu ayahnya, raut lelah di wajah Kael seketika hilang.

"Aduh manjanya, adikku satu ini" ujar Kael dengan nada bercanda, lalu ia mengacak rambut Sael pelan.

"Sael," panggil Kael pelan. "Kak Aeros tadi meneleponku. Dia bilang dia mengantarkan mobilmu."

Sael tertegun sejenak, lalu mengangguk. "Ya, dia membantuku tadi."

Kael menatap kembarannya dalam-dalam.

"Tadi kambuh yaa?" tanyanya, kedua orang tua mereka langsung menoleh ke arah Sael.

"Iyaa ... tapi cuman sebentar kok" mata Sael berputar menghindari pandangan keluarganya.

"Sekarang gimana? Nggak sesak kan?" tanya Mamanya khawatir.

"Nggak, nggak, aman, Ma" jawab Sael cepat.

"Ya udah, kalian berdua mandi dulu sana, nanti kita lanjut makan," ucap Mamanya.

Setelah makan malam selesai, suasana rumah berangsur tenang saat Papa dan Mama bersiap beranjak ke kamar mereka di lantai atas. Sebelum melangkah menjauh Mamanya sempat menoleh ke arah ruang baca.

"Sael, nanti sebelum tidur jangan lupa minum obatnya lagi, ya!. Jangan begadang nanti malam!" ucap Mamanya mengingatkan lalu menutup pintu kamarnya.

"Iya Ma!" sahut Sael setengah berteriak dari dalam ruang baca.

Di ruang baca favorit si kembar, Kael sedang menuangkan dua gelas cokelat panas—minuman yang selalu mereka bagi sejak kecil.

Sael memejamkan mata, dengan gelas cokelat panas di tangannya.

"Tadi di kantor cukup berat?" tanya Kael suaranya rendah dan santai.

Sael menyesap cokelat panasnya, "Hanya klien yang keras kepala dan tumpukan dokumen yang tidak habis-habis. Kamu sendiri? Pekerjaan di kantor Papa pasti membosankan."

"Membosankan sih, tapi aman," Kael terkekeh, menyandarkan kepalanya di bahu Sael. "Berbeda denganmu yang selalu mencari masalah di ruang sidang"

Sael terdiam, " Hm... Kalimat mu itu agak rancu Kael, kamu lagi menghinaku atau gimana?" Sael bergerak menaruh gelasnya di meja dan tangannya berpura ingin mencekik Kael.

Kael menggeser duduknya, "Bukan begitu maksudku, aku cuman mau bilang nggak ada yang bisa mengalahkan kamu di ruang sidang" jawab Kael cepat.

Begitu mendengar penjelasan Kael, Sael tersenyum kecil lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kael,

"Pijat bahuku dong, bahuku tegang dari kemarin terlalu banyak duduk "

"Siap bos," Kael langsung duduk di belakangnya dan mulai memijat bahu Sael.

"Terima kasih, Kael," ujar Sael pelan.

"Untuk apa? Untuk cokelat panasnya?" Kael terkekeh pelan.

"Untuk banyak hal, karena aku, kamu delapan tahun ini sering bolak-balik luar negeri cuman buat nemenin aku disana. Nurutin semua keinginanku. Pasti capek ya punya saudara kayak aku" jawab Sael.

Kael tersenyum, lalu dengan iseng mengacak-acak rambut saudarinya. "Yah, karena kalau kamu sakit aku juga sakit, kalau kamu seneng aku juga seneng."

"Apaan sih, kok begitu " Sael mencubit kaki Kael pelan.

"Ya ... Memang harus begitu. Kita kan kembar," jawab Kael.

Sael hanya bisa tertawa kecil mendengar jawaban Kael.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!