Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru di Keheningan Subuh
Jarum jam dinding di kamar VIP itu merayap hampir menyentuh pukul sepuluh malam ketika pintu kayu ek di depan koridor terbuka perlahan. Suster Rita, seorang perawat senior bertubuh subur dengan senyum keibuan yang khas, masuk sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat dan mangkuk kecil berisi potongan buah.
Dia menghentikan langkahnya sesaat, menatap ranjang Kayla yang kini sudah berubah seperti meja kerja darurat. Lembar-lembar kertas memo rumah sakit berserakan di atas seprai putih, dipenuhi coretan tinta hitam yang melingkari bagan-bagan rumit.
Di tengah labirin kertas itu, Kayla duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk, matanya menempel lekat pada layar ponsel yang retak.
"Ya ampun, Bu Kayla. Ini rumah sakit, bukan kantor akuntan publik," tegur Suster Rita dengan nada mengomeli yang ramah. Dia meletakkan nampan di atas meja nakas, lalu dengan cekatan memeriksa botol infus Kayla.
Kayla mendongak, menarik sudut bibirnya membentuk senyum meminta maaf. "Sedikit lagi selesai, Sus. Tanggung."
Suster Rita menggeleng-gelengkan kepala. Sambil merapikan letak selimut di kaki Kayla, dia berbisik dengan nada menggoda yang sengaja dikecilkan, "Tahu tidak? Tadi sekitar jam sembilan malam, sebelum operan shift, dr. Raditya berdiri lama sekali di depan kaca pintu kamar ini."
Gerakan jemari Kayla di atas layar ponsel seketika terhenti. Dia menatap Suster Rita, sedikit sangsi. "Dokter Raditya?"
"Iya. Beliau tanya ke meja perawat, memastikan apakah Bu Kayla sudah minum obat antinyeri malamnya atau belum. Beliau bahkan berpesan supaya lampu kamar ini dimatikan tepat jam sepuluh malam agar Bu Kayla tidak begadang," Suster Rita terkekeh pelan melihat sepasang pipi Kayla yang perlahan menampakkan semburat merah tipis.
"Dokter muda itu memang terkenal ramah, tapi baru kali ini saya lihat dia secemas itu pada pasien pasca-sesar. Jadi, tolong habiskan buahnya, lalu tidur. Jangan sampai saya kena omel dokter kesayangan rumah sakit ini besok pagi."
"Iya, Suster. Terima kasih," jawab Kayla, suaranya melembut.
Setelah Suster Rita keluar dan menyisakan lampu tidur yang temaram, keheningan kembali menguasai ruangan. Kayla menatap mangkuk buah di sampingnya, lalu melirik boks bayi tempat Arsen tengah mendengkur halus.
Perhatian kecil yang tulus dari orang-orang asing di rumah sakit ini terasa seperti hangat yang perlahan menyembuhkan batinnya dari luka menganga yang ditinggalkan Adrian.
Namun, waktu tidak menunggunya untuk larut dalam kenyamanan. Kayla menggelengkan kepala kuat-kuat, mengusir rasa kantuk yang mulai mengetuk pelupuk matanya. Jam digital di ponselnya kini menunjukkan pukul 02.45 subuh.
Rasa lelah yang luar biasa hebat mulai menyerang fisiknya. Efek obat bius total yang sudah habis beberapa saat yang lalu menyisakan rasa pegal dan linu yang menjalar dari pinggang hingga ke bahu.
Matanya terasa perih dan panas akibat berjam-jam menatap radiasi layar ponsel dalam kegelapan. Untuk mengatasinya, Kayla terpaksa menggigit bibir bawahnya sendiri beberapa kali, menggunakan rasa perih instan itu sebagai pemantik agar kesadarannya tidak tumbang.
Jemari tangannya yang kurus bergerak lincah di atas keyboard virtual, merangkum poin-poin krusial dari temuan manipulasi dana PT Mahkota Karya ke dalam format dokumen PDF formal. Semua analisis orisinalnya tentang rekening penampung V-Vanguard Management sudah tertata rapi.
Kayla membuka aplikasi Gmail, menempelkan file draf laporan tersebut ke dalam kolom lampiran, dan mengetikkan alamat email rekrutmen Pratama & Co.
Tepat saat jarinya melayang di atas tombol 'Send', sebuah peringatan sistem tiba-tiba muncul di tengah layar dengan kedipan warna merah yang mencekam: [Peringatan: Baterai Sekarat - 2%. Perangkat akan mati dalam 30 detik.]
Jantung Kayla mendadak melompat ke tenggorokan. "Jangan sekarang..." bisiknya panik.
Dia melirik ke sekeliling kamar dengan cepat. Sial. Stopkontak utama di kamar VIP itu terletak di dinding bagian bawah dekat sofa panjang—terlalu jauh dari ranjangnya.
Sementara kabel charger milik rumah sakit yang dipinjamnya pagi tadi berukuran sangat pendek, tidak akan sampai jika ditarik ke atas kasur.
Jika ponselnya mati sebelum proses pengunggahan selesai, draf email ini bisa rusak atau hilang, dan dia akan kehilangan momen krusial sebelum pertemuan raksasa Xavier Group besok malam.
Menolak membiarkan perjuangan semalam suntuknya hancur menjadi sia-sia, Kayla mengambil keputusan nekat. Dia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, menurunkan kedua kakinya perlahan hingga menyentuh lantai keramik yang dingin yang dilapisi sandal rumah sakit.
Sreeek!
Rasa nyeri yang luar biasa tajam seketika menyengat perut bawahnya. Jahitan operasinya terasa seperti ditarik paksa. Kayla memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibirnya kuat-kuat hingga memucat demi menahan pekikan perih agar tidak membangunkan Arsen.
Sambil satu tangannya menekan korset di perut dan tangan lainnya menggenggam ponsel serta kepala charger, Kayla melangkah terseok-seok, merayap mendekati dinding dekat sofa.
Dia menurunkan tubuhnya perlahan, terduduk di atas lantai dengan punggung bersandar pada dinding. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Kayla mencolokkan adaptor charger ke lubang stopkontak, lalu matanya langsung tertuju pada layar ponsel.
Persentase baterai: 1%.
Di sudut atas, lingkaran proses pengiriman email masih berputar-putar. 92%... 95%... 98%...
Setiap detik terasa seperti satu jam di dalam benak Kayla. Dia menahan napasnya, tidak berani berkedip.
Ting.
Sebuah baris notifikasi kecil muncul di bagian bawah layar: [Pesan Berhasil Terkirim.]
Detik berikutnya, layar ponsel itu berkedip sekali, lalu menggelap total. Mati karena kehabisan daya.
Kayla perlahan menurunkan tangannya yang memegang ponsel, membiarkan benda itu tergeletak di atas lantai di samping pahanya. Dia menyandarkan kepala ke dinding semen yang dingin, lalu mengembuskan napas panjang yang teramat berat, namun sarat akan rasa lega yang tak ternilai.
Peluru pertamanya telah resmi dilepaskan ke udara di keheningan subuh ini. Di luar jendela kaca besar kamar rumah sakit, langit malam Jakarta yang pekat perlahan-lahan mulai memudar, digantikan oleh semburat biru fajar yang cerah dan bersih. Kayla tersenyum tipis menatap fajar itu.
Dia tahu, ketika matahari pagi ini naik sepenuhnya, peluru pertama bakalan menusuk kesenangan Adrian dan valerie