Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Suasana di dalam ruangan praktik Briella yang tadinya meledak-ledak kini menyisakan keheningan yang canggung.
Sisa-sisa aroma maskulin Lexington bercampur dengan wangi antiseptik khas klinik kecantikan.
Briella sudah berhenti menangis, namun matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah membuatnya terlihat jauh dari citra dokter bedah estetika yang tangguh.
Lexington, pria yang biasanya akan langsung pergi setelah menyelesaikan masalah secara logis, kali ini tampak tidak punya niat sedikit pun untuk melangkah keluar dari ruangan itu. Ia masih berdiri di dekat Briella, mengawasi setiap gerak-gerik istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dengan gerakan pelan yang sangat berhati-hati—seolah sedang menghadapi mesin yang sangat sensitif—Lexington membungkuk. Ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening Briella, cukup lama hingga Briella bisa merasakan hangatnya kulit pria itu.
"Apa kita sudah baikan, Honey?" tanya Lexington lirih, suaranya kembali ke nada bariton yang menenangkan.
Briella tidak menjawab. Ia justru membuang muka, menatap ke arah jendela besar yang menampilkan kemacetan kota Los Angeles. Ia merapikan jas putihnya yang sedikit kusut akibat pelukan Lexington tadi, berusaha mencari kembali sisa-sisa harga diri yang sempat runtuh.
"Rupanya istriku masih sangat marah," ucap Lexington lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan, hampir seperti gumaman pada dirinya sendiri.
Lexington berjalan memutari meja, mencoba mencari celah untuk masuk kembali ke radar perhatian Briella. "Kau sudah sarapan? Mau sarapan bersama? Aku tahu tempat brunch baru yang kabarnya memiliki kopi terbaik di kota ini."
"Tidak," jawab Briella singkat. Dingin. Pendek. Satu kata yang cukup untuk membuat pria mana pun mundur, tapi tidak bagi seorang Lexington Valerio.
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan duduk saja di sini," ucap Lexington tanpa dosa. Ia melangkah menuju sofa bulu berwarna abu-abu yang terletak di sudut ruangan—sofa yang biasanya digunakan pasien untuk berkonsultasi secara privat.
Ia menghempaskan tubuhnya di sana, menyilangkan kaki panjangnya, dan menatap Briella seolah-olah ia sedang menunggu sebuah pertunjukan dimulai.
Briella akhirnya menoleh, alisnya bertaut heran. "Apa kau tidak ke kampus? Ini hari kerja, Profesor Valerio. Mahasiswamu pasti sedang menunggumu untuk memberikan kuliah tentang efisiensi mesin atau apalah itu."
Lexington menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk, tangannya bermain dengan jam tangan mewahnya.
"Aku punya waktu dua minggu untuk berbulan madu," jawabnya santai. "Semua kelasku sudah diambil alih oleh asisten dosen. Aku mengosongkan jadwal karena pernikahan kemarin. Tapi sepertinya..." ia menjeda kalimatnya sambil menatap Briella dari ujung kepala hingga ujung kaki, "...bulan madu itu sedikit gagal karena istriku memutuskan untuk kabur pagi-pagi buta."
Briella memicingkan matanya tajam. Ia bisa merasakan sindiran halus di balik nada bicara Lexington yang tenang.
"Berhenti menggodaku, Lex," desis Briella. Ia mencoba berdiri dari kursi kerjanya, namun saat ia bertumpu pada kakinya, sebuah rasa linu yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke paha bawahnya.
Ia mendesis pelan, kembali terduduk dengan kaku. "Aku bahkan tidak berani memakai sepatu hak tinggi hari ini. Kau lihat? Aku hanya memakai sandal rumah sakit yang datar."
Lexington menaikkan sebelah alisnya, wajahnya menunjukkan ekspresi pura-pura bingung yang sangat menyebalkan.
"Kenapa? Apa kakimu terluka? Atau kau sedang mencoba tren fashion baru yang aku tidak tahu?"
Briella meraih sebuah pulpen dari mejanya dan nyaris melemparnya ke arah Lexington.
"Ulahmu! Jangan amnesia! Siapa yang semalam bertingkah seperti orang gila yang seakan tidak ada hari esok? Siapa yang membuatku tidak bisa tidur sampai jam empat pagi? Kau benar-benar tidak tahu malu!"
Sebuah senyuman tipis—senyuman kemenangan yang nakal—mulai tersungging di bibir Lexington. Ia tidak lagi berusaha menyembunyikan sisi gelapnya.
"Pfffttt..." Lexington menahan tawa, namun binar di matanya tidak bisa berbohong.
"Itu karena aku terlalu merindukanmu, Honey. Ingat itu. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama bagi mesin yang kau sebut 'macet' ini untuk melakukan pemanasan. Jadi, jangan salahkan aku jika kinerjaku sedikit berlebihan semalam."
"Berlebihan? Itu bukan berlebihan, itu brutal!" balas Briella, wajahnya memerah karena malu bercampur kesal.
"Anggap saja itu kompensasi atas semua kata-kata pedasmu di pengadilan," Lexington berdiri dari sofa, melangkah mendekat ke arah meja Briella.
Kali ini, ia tidak menyentuh dagunya, melainkan menumpukan kedua tangannya di atas meja, mengurung posisi Briella. "Dan soal bulan madu kita yang tertunda... karena kau sudah ada di sini, bagaimana kalau kita melakukannya di kantormu saja? Aku yakin pintu ini punya kunci yang sangat kokoh."
"Lexington Valerio! Kau benar-benar sudah gila!" teriak Briella, namun kali ini ada sedikit tawa kecil yang terselip di sana.
"Ya, aku gila karenamu. Dan aku belum selesai menghukummu karena catatan kecil yang kau tinggalkan di nakas tadi pagi," bisik Lexington tepat di depan wajah Briella. "Jadi, sarapan atau... ronde kedua di sofa bulu itu?"
Briella menelan ludah. Ia tahu, berurusan dengan Lexington pasca-pernikahan jauh lebih berbahaya daripada menghadapi hakim di pengadilan.
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇