NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|27| Mama Marisa

Pagi harinya, didalam penthouse lantai 98. Aruna sudah bersiap didalam dapur. Ia mengaduk bubur yang sudah dibuatnya tadi. Bahan-bahan berantakan diatas meja, jari Aruna terlihat sudah dibalut plester akibat sayatan pisau. Tersenyum saat mencium aroma wangi dari bubur yang Ia buat tadi.

Perlahan memasukkan bubur kedalam mangkuk, melepas celemeknya lalu menaruh bubur dan segelas susu diatas nampan dan berjalan menuju kamar Devara.

Saat sampai di depan kamar, terdengar jelas suara tawa dari seorang perempuan. Yang tak lain Ialah Alana, jam menunjukkan pukul 07.30, perempuan itu sudah lebih dulu mengambil garis start untuk menemui Devara.

Tangan Aruna gemetar, nampan yang dipegangnya menjadi miring dan bubur hampir tumpah.

"Buat Pak Devara..?" Tanya Andre sambil menujuk nampan tersebut.

Aruna yang melihat kedatangan Andre langsung menyodorkan nampan itu, dan pergi tanpa bilang sepatah kata apapun. Andre hanya bingung menatap Aruna yang berjalan pergi tanpa bicara.

Ia mengetuk pintu kamar Devara, lalu membukanya. Disana Alana duduk di sofa sedangkan Devara duduk di sisi ranjang hanya diam mendengar celotehan Alana.

Andre menaruh nampan berisi bubur itu ke meja disamping ranjang Devara, dia terlihat bingung melihat Andre yang tiba-tiba membawa bubur.

"Dari Ibu Aruna" ujar Andre lalu keluar kamar.

Alana berjalan mendekati nampan itu, melihat bubur sekilas lalu memutar bola matanya malas. "Jangan dimakan Dev, dia udah ngasih racun"

Devara tak menghiraukannya, justru Ia bangkit dari duduknya meninggalkan Alana keluar kamar.

Alana menahan tangannya. "Dev, kemana..?"

Namun di lepas paksa. "Pulang Al, aku mau kerja bentar lagi.." melirik Alana sekilas, berlalu pergi.

Alana kembali masuk kedalam kamar Devara, mengambil tasnya, matanya melirik bubur itu kembali, Ia tersenyum pahit lalu menendang meja hingga buburnya tumpah dan pergi.

Saat hendak menuju lift, Alana melihat Devara berjalan kearah kamar Aruna, Ia tersenyum miring dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Kemudian berjalan cepat menuju lift.

Devara berhenti didepan kamar gadis itu, matanya melirik gagang pintu. Kedua tangannya masih didalam saku celana, terlihat beberapa kali membuang pandangan dan hendak meninggalkan kamar itu, namun langkahnya terhenti, dia menangkup wajahnya, menarik nafas hingga akhirnya memutuskan membuka pintu.

Klik... Kamar Aruna dibuka olehnya, tanpa ketukan, tanpa permisi. Wajahnya muncul dari balik pintu yang mengagetkan Aruna saat itu.

Ia menyender di kusen pintu dengan tangan menyilang, melirik Aruna sekilas lalu pandangannya menyapu ruangan yang nampak berantakan.

"Siapa suruh buat bubur..?" katanya datar.

Aruna mendekat, mengerutkan alisnya. Jaraknya lumayan dekat. "Gak boleh?"

Devara menghela nafas kasar, Ia tidak sengaja melihat telunjuk Aruna yang sudah terbungkus plester. "Dapur itu bukan milikmu, hanya Bi Meri yang boleh masak disana"

Aruna tertawa pelan, tawa hambar tanpa ekspresi. "Oke.. Aku hanya boleh mengklaim hak milik atas kamar ini saja?"

Devara membuang pandangan, rahangnya terkunci beberapa detik hingga akhirnya pergi dari ruangan Aruna.

"Aneh.." gumam Aruna yang bersender di depan kamarnya sambil melihat punggung Devara yang mulai menjauh.

Beberapa jam kemudian..

Pintu kamar Aruna terdengar diketuk, Ia langsung membukanya. Meri muncul dari balik pintu memegang sapu dan alat pel. Aruna menaikkan alisnya bingung.

"Saya mau bersihin kamar nyonya" Ujar Meri sambil tersenyum ramah.

"Eum... Oke" Jawab Aruna sambil menyuruh Meri masuk kedalam kamarnya.

Meri langsung membersihkan lantai kamar yang nampak kotor berdebu, sampah kertas berserakan yang membuat Meri geleng kepala.

"Nyonya duduk aja, gak papa kok" ujar Mari yang melihat Aruna berdiri sedari tadi.

Aruna langsung tersenyum dan duduk di sisi ranjangnya. "Bi, Alana sama Devara apa cuma pacaran aja?" pertanyaan itu lolos dari mulut Aruna begitu saja.

Meri berhenti menyapu, lalu memandang Aruna. "Mereka udah tunangan" ujar Meri lirih.

"Nyonya jangan cemburu ya, memang sifat Ibu Alana seperti itu" Ujar Meri kembali.

Aruna membulatkan matanya, Ia hampir tersedak karena ucapan dari Meri. "Cemburu?, gak lah Bi mana mungkin" kata Aruna sambil tertawa pelan.

Tok.. Tok.. Seseorang mengetuk pintu kamar Aruna, gadis itu langsung pergi membukanya. Marisa tersenyum dari balik pintu, pakaian formal, tas branded yang di jinjing.

"Run, ikut saya yuk" Ujar Marisa lirih.

Aruna sempat bingung dengan ajakan Marisa yang mendadak itu, namun Ia setuju untuk ikut dengannya setelah berpikir beberapa detik, mereka menaiki sebuah taxi yang sudah Marisa pesan sebelumnya.

Taxi berhenti di depan Mahesa Hospital. Aruna mengerutkan alisnya bingung kenapa Marisa membawanya ke rumah sakit.

“Tan, kita mau ke mana?” tanya Aruna saat sudah memasuki lobi.

Marisa tidak menjawab. Dia menggenggam tangan Aruna, menarik pelan ke arah lift.

“Ikut aja.”

Pintu lift terbuka di lantai 7. Lorongnya sepi, cuma ada suara roda tempat tidur pasien dan bau obat yang menyengat. Jantung Aruna langsung aneh. Sudah lama dia tidak kesini. Sejak Devara larang dia nengok ayahnya tanpa izin.

Marisa berhenti di depan pintu kamar VIP 702. Dia bisikin suster jaga “Buka.”

Suster itu mengangguk, lalu membuka pintu pelan.

Dan disitu Aruna lihat…

Ranjang kosong. Selimut rapi. Alat infus sudah dicabut. Cuma sisa kabel di tembok.

“Papa?” suara Aruna pecah. “Papa di mana, Tan?”

Marisa tutup pintu kembali. Dia menarik kursi, suruh Aruna duduk. Wajah Marisa tegang, tapi matanya… ada iba.

“Run, dengerin saya baik-baik. Ayah kamu… udah saya pindahin ke Australia tiga hari lalu.”

Dunia Aruna gelap satu detik. “Apa? Pindahin? Tanpa bilang saya?”

“Saya nggak bisa kasih tau kamu, Run. Kalau Devara tau, dia bakal batalin semua. Ayah kamu butuh alat yang nggak ada di sini. Di sana ada tim terbaik.”

Aruna berdiri, gemetar. “Terus kenapa baru bilang sekarang? Kalau ada apa-apa sama Papa gimana? Saya nggak bisa liat, nggak bisa pegang tangannya!”

“Karena mulai sekarang, kamu harus punya alasan buat lepas dari Devara.” Marisa deketin Aruna, suaranya pelan tapi tajam. “Kamu inget kan saran saya? Bikin dia jatuh cinta… terus tinggalin. Kalau ayah kamu masih disini, kamu nggak akan punya keberanian.”

Air mata Aruna jatuh. “Jadi saya harus pura-pura? Sementara Papa saya sendirian di negara orang?”

“Bukan sendirian. Saya yang urus. Tapi Run…” Marisa genggam bahu Aruna. “Kamu harus pilih. Mau terus jadi tahanan Devara, atau rebut ayah kamu balik.”

Aruna nutup muka pakai dua tangan. Dadanya sesak. Marisa baru aja mengambil kendali penuh atas hidupnya.

Ponsel Marisa berdering, dilayar ada nama Andre yang menelponnya. Marisa melirik Aruna beberapa detik lalu mengangkat teleponnya.

 “Nyonya Marisa, Pak Devara nyari Nyonya. CCTV liat Nyonya keluar sama Ibu Aruna"

Marisa langsung tarik Aruna berdiri. “Pulang. Sekarang. Sebelum dia curiga.”

Di dalam taxi pulang, Aruna tidak bisa berhenti gemetar. Di kepalanya cuma satu ayahnya sudah di Australia. Dan Devara nggak tau apa-apa.

Taxi berhenti di lobby penthouse. Aruna turun, wajah masih pucat. Marisa di sampingnya, punggung tegak, dagu terangkat.

Pintu lift kebuka di lantai 98. Devara udah nunggu. Jas rapi, tangan di saku, sorot matanya langsung mengunci ke arah Aruna.

“Dari mana?” tanyanya datar.

Sebelum Aruna buka mulut, Marisa maju setengah langkah. Suaranya tenang, tapi nusuk

“Dari mall. Saya yang bawa dia.”

Devara tidak berkedip. Rahangnya terkunci. Dia tidak menjawab. tidak membantah. Cuma diam, nahan amarah yang berisik di dalam kepalanya.

Marisa lanjut, senyum tipis, seorang ratu yang memegang kartu.

“Aruna anak saya juga Dev. Kamu juga harusnya tau batas.”

Dia lewatin mereka berdua, masuk lift, memencet tombol turun. Sebelum pintu ketutup, dia buang satu kalimat tanpa noleh.

“Besok pagi. Aruna ikut saya ke kantor. 24 jam.”

Pintu lift tertutup.

Marisa tidak gerak. Cuma menggenggam tangan Aruna lebih erat. Perang udah mulai. Dan Marisa baru aja nembak duluan.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!