Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
langkah Nara dan Sagara terus berlanjut memasuki ballroom utama.
Ruangan besar dengan dekorasi elegan itu dipenuhi tamu-tamu penting dari berbagai kalangan. Para pengusaha, pejabat, dan relasi bisnis keluarga Dhanubrata tampak memenuhi setiap sudut ruangan.
Perlahan perhatian mereka mulai teralihkan saat melihat sosok pria asing yang berjalan berdampingan dengan Nara.
Bisikan-bisikan kecil kembali terdengar.
"Pantas saja selama ini dia menolak dikenalkan dengan keponakanku."
"Keduanya terlihat serasi."
"Tampan sekali."
Nara tentu mendengar sebagian bisikan itu. Namun, wanita itu sama sekali tidak peduli. Justru sudut bibirnya semakin terangkat, karena akhirnya ia datang bersama seorang pria yang bahkan berusia lebih muda darinya.
Di sampingnya, Sagara berusaha mengabaikan seluruh perhatian yang tertuju pada mereka. Tatapannya menyapu ruangan sesekali, berusaha tetap tenang meski menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Kakek sudah melihat kita," bisik Nara. "Bersiaplah. Dan jangan lupa dengan apa yang kukatakan di mobil tadi.
Sagara tidak menjawab, meski jantungnya mulai berdebar lebih cepat, ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Dengan penuh kesadaran ia memilih membantu wanita di sampingnya. Maka selama sandiwara ini berlangsung, ia akan menjalankannya sebaik mungkin.
Di ujung ballroom Kakek Dhanubrata sudah berdiri menunggu kedatangan mereka. Tatapan pria tua itu masih tidak lepas dari tangan Nara yang masih melingkar pada lengan pria di sampingnya.
Tepat di hadapan Kakek Dhanubrata, langkah keduanya terhenti.
Nara melepas tangannya perlahan lalu menampilkan senyum manis. "Selamat ulang tahun, Kakek," ucapnya sopan.
Dhanubrata mengangguk pelan. "Terima kasih, cucuku sayang," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari sosok pria yang berdiri tegak di samping cucu kesayangannya itu.
Pria itu memperhatikan Sagara dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya tajam, tetapi tidak terlihat tidak suka. Justru sebaliknya, seolah sedang menilai dan mengingat sesuatu.
"Jadi ...," ujar Dhanubrata pelan. "Pria ini yang membuatmu begitu keras kepala?"
"Kakek," protes Nara pelan.
Dhanubrata terkekeh kecil.
Nara menghela napas sebelum berbalik ke arah Sagara. "Kakek, perkenalkan. Ini Sagara."
Sagara segera melangkah maju setengah langkah. "Selamat ulang tahun, Tuan Dhanubrata," ucapnya sopan. "Perkenalkan, saya Sagara."
Sesaat suasana menjadi hening.
Tatapan Dhanubrata tiba-tiba berubah. "Sagara ...," ulangnya pelan. Lalu untuk pertama kalinya malam itu, pria tua tersebut tersenyum.
Senyum yang penuh arti. Seolah nama itu mengingatkannya pada sesuatu yang sudah sangat lama tersimpan dalam ingatannya.
Hal itu membuat Nara tanpa sadar mengernyit bingung. Karena ia belum pernah melihat kakeknya menatap seseorang seperti itu.
Belum sempat Dhanubrata melanjutkan pertanyaannya, sebuah suara pria terdengar dari belakang mereka.
"Sepertinya aku datang tepat waktu."
Nara langsung menoleh. Begitu pula beberapa kerabat lainnya.
Seorang pria tinggi dengan setelah jas abu-abu gelap berjalan mendekat. Wajahnya tampak sedikit lelah, tanda baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dari luar negeri. Namun begitu langkahnya tetap tenang dan berwibawa.
"Seokjin Oppa." Nara menyebut namanya lebih dulu.
Pria itu mengangguk tipis "Aku tidak ketinggalan pesta ini bukan?" ucapnya santai.
"Kau tetap datang," ujar Dhanubrata.
"Tentu. Ini ulang tahun, Kakek."
Setelah menyapa Dhanubrata, tatapan Seokjin akhirnya beralih pada pria yang berdiri di samping Nara.
Tatapan itu berhenti sesaat. Menilai, mengamati, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Nara ... kau tidak mengenalkanku padanya?"
Nara menghela napas pelan. "Ini Sagara." Kemudian ia beralih pada Sagara. "Dan ini Han Seokjin. Sepupuku."
Keduanya berjabat tangan singkat.
"Senang bertemu dengan Anda," ucap Sagara sopan.
"Begitu juga saya," jawab Seokjin sambil tersenyum ramah. Namun, sorot matanya tidak lepas dari wajah Sagara.
"Seokjin," panggil Kakek Dhanubrata.
Panggilan itu membuat perhatian Seokjin teralihkan sesaat.
"Sapalah relasi bisnis keluarga kita lainnya. Banyak di antara mereka yang mencarimu."
Seokjin tersenyum tipis. "Tenang saja, Kakek. Aku pasti akan menghampiri mereka nanti," ucapnya santai. Namun, setelah berkata demikian, tatapannya kembali tertuju pada Sagara.
"Kudengar kau adalah kekasih adik cantikku ini?" tanya Seokjin kemudian.
Sagara tersenyum tipis. "Benar. Kami sudah cukup lama menjalin hubungan."
Alis Seokjin terangkat. "Benarkah?" Ia lalu menoleh ke arah Nara. "Kenapa sepupuku ini tidak pernah mengatakannya."
"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu," jawab Nara santai.
Seokjin terkekeh kecil. "Kupikir kau hanya bercanda saat itu."
"Aku tidak pernah bercanda soal hal seperti ini," balas Nara santai.
Seokjin hendak menanggapi lagi. Namun Kakek Dhanubrata lebih dulu menginterupsi. "Kalian bisa lanjutkan perdebatan itu nanti."
Seokjin dan Nara langsung terdiam. Keduanya saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya mengalihkan perhatian.
Dhanubrata hanya menggeleng kecil melihat tingkah kedua cucunya itu. Meski usia mereka sudah tidak muda lagi, keduanya masih sering berdebat seperti anak-anak saat bertemu.
Tatapan pria tua itu kemudian beralih pada Sagara. Berbeda dengan sikapnya kepada Seokjin dan Nara, sorot matanya kali ini terlihat lebih tenang. "Maaf jika suasananya sedikit ramai," ujarnya ramah. "Mereka berdua hanya sedang menunjukkan rasa sayang dengan cara yang berbeda."
Sagara mengangguk sopan. "Tidak masalah, Tuan."
Dhanubrata tersenyum tipis. "Jangan terlalu tegang."
"Saya mengerti,"
"Dan karena kau datang bersama cucuku, itu artinya kau juga bagian dari tamu kehormatanku malam ini."
Ucapan itu langsung membuat beberapa kerabat yang berada tidak jauh dari sana saling melirik. Tidak banyak orang yang mendapat perlakuan sehangat itu dari Dhanubrata.
Sementara Pria tua tersebut terlihat sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ia justru menepuk pelan lengan Sagara.
"Kalian berdua tidak perlu menemaniku terus. Pergilah menikmati pesta."
Wajah Nara langsung berubah. Ia bahkan sempat tampak tercengang.
Bagaimana mungkin? Kakek Dhanubrata yang selama ini terkenal sangat selektif terhadap siapa pun yang mendekatinya justru terlihat begitu ramah pada Sagara.
Dulu, bahkan ada seorang pewaris keluarga konglomerat yang nekat mendekatinya dengan langsung datang menemui Kakek Dhanubrata. Namun, pria itu justru pulang dengan wajah pucat setelah berhadapan dengan pria tua itu.
Tapi malam ini berbeda. Bahkan sangat berbeda.
"Kakek ... yakin?" tanya Nara pelan.
Dhanubrata menoleh ke arahnya. "Tentu saja yakin."
"Membiarkan kami pergi begitu saja?" tanya Nara memastikan.
Sudut bibir Dhanubrata terangkat tipis. "Pergilah. Ajak kekasihmu menikmati pesta."
Jawaban santai dengan ekspresi ramah itu tentu saja menjadi tanda tanya besar dibenak Nara maupun Seokjin.
Tadinya Nara sempat berpikir. Kakeknya itu akan langsung melontarkan pertanyaan tajam pada Sagara. Tapi apa semua ini? yang terjadi justru sebaliknya.
Tidak ada pertanyaan tajam, tatapan tajam, apalagi ucapan yang menjatuhkan kepercayaan diri Sagara. Kakeknya justru bersikap ramah dan tenang saat berhadapan dengan pria itu.
"Pergilah. Nikmati pesta ini bersama kekasihmu." Dhanubrata kembali meminta Nara untuk menikmati pesta itu.
Nara yang masih ingin mengatakan sesuatu langsung menoleh. Namun, sebelum sempat membuka mulut, Sagara lebih dulu mengangkat tangannya dan menarik lembut lengan Nara. Gerakan itu sederhana, sangat tenang, tetapi cukup membuat Nara membeku sesaat.
Sagara lalu melingkarkan lengan Nara ke lengannya sendiri, seolah memang sudah terbiasa melakukannya. Jantung Nara mendadak berdetak sedikit lebih cepat.
"Kakekmu benar," ucap Sagara tenang. "Sebaiknya kita menikmati pesta ini."
Nara berkedip beberapa kali. Untuk sesaat ia bahkan lupa apa yang sudah ia rencanakan pada Sagara saat di mobil tadi. "Eh ...."
Melihat reaksinya, Seokjin langsung menyipitkan mata curiga. Sementara Kakek Dhanubrata justru terlihat semakin puas.
"Ayo," ucap Sagara pelan.
Barulah Nara tersadar. "Oh ... iya." Tanpa sadar pipinya terasa sedikit hangat. Untungnya pencahayaan ballroom yang temaram membuat perubahan ekpresinya tidak terlalu terlihat.
Keduanya pun mulai melangkah meninggalkan Dhanubrata dan Seokjin.
Melihat Kakeknya membiarkan keduanya pergi begitu saja, rahang Seokjin langsung mengeras. "Kakek,"
Dhanubrata tetap memandangi para tamu yang berlalu lalang.
"Hm?"
"Kakek benar-benar membiarkan mereka pergi begitu saja?" protes Seokjin.
Kali ini pria tua itu menoleh. "Tentu saja."
Seokjin menurunkan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain di sekitar mereka. "Apa Kakek tahu siapa pria itu sebenarnya?"
Tatapan Dhanubrata tetap tenang. "Aku tahu." Jawaban singkat itu membuat Seokjin terdiam. Bahkan ekspresi tenangnya perlahan retak.
"Aku tidak setua itu sampai kehilangan kemampuan mencari informasi."
**** bersambung.
kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana
udah nyampe ke relung yang paling dalam dong 😁
apalagi kalau ngaku jadi pacar gara