NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Rahasia Mangkok Kedua & Umpan di Balik Masa Lalu

​Suasana ruang makan mansion malam itu kembali normal, namun ada sedikit kejanggalan. Calix hanya menyentuh sedikit menu makan malam mewah buatan koki pribadi, lalu buru-buru menyeka bibirnya dengan serbet.

​"Aku ada draf laporan keuangan yang harus diselesaikan di ruang kerja. Jangan ganggu aku," ucap Calix ketus, melirik Mireya sekilas sebelum melangkah cepat meninggalkan meja makan.

​Begitu pintu ruang kerja pribadi Calix tertutup rapat, aroma gurih kaldu yang sangat familiar langsung menyambut indra penciumannya. Di atas meja kerja marmernya, sebuah mangkok porselen berisi bakso hangat yang sudah dipanaskan ulang telah tersaji dengan rapi. Doni berdiri di samping meja dengan wajah seprofesional mungkin.

​"Sesuai perintah Anda lewat pesan singkat tadi, Tuan Besar. Bakso tambahan sudah saya hangatkan dan saya letakkan di sini agar Nyonya Muda tidak tahu," ucap Doni, menahan kedutan di sudut bibirnya.

​Calix berdehem berat, melonggarkan dasinya dengan gaya angkuh. "Bagus. Doni, kamu tahu sendiri lambungku peka. Aku hanya ingin memastikan apakah bakso pinggir jalan ini benar-benar tidak higienis seperti dugaan awal. Ini demi draf evaluasi kesehatan... ya, kesehatan rahim Mireya juga."

​"Tentu saja, Tuan. Saya mengerti," sahut Doni takzim, lalu membungkuk mundur dan keluar dari ruangan, membiarkan bosnya menikmati "evaluasi medis" tersebut sendirian.

​Calix segera duduk, menyambar sendok, dan mulai menyantap bakso itu dengan lahap. Rasa gurih yang kuat dan gigitan dagingnya yang padat benar-benar memanjakan lidahnya. Namun, karena gengsi bertanyanya siang tadi, ia tidak tahu bahwa kuah yang dihangatkan Doni ini sudah tercampur sedikit sambal sisa potong.

​"Hah... pedas juga," gumam Calix, wajahnya mulai memerah dan peluh tipis mulai muncul di pelipisnya. Namun, ia terlalu menikmati rasanya hingga enggan berhenti menyendok.

​Sementara itu di kamar utama, Mireya sedang duduk di tepi ranjang sembari memeriksa ponselnya. Ia bermaksud mengecek draf pengeluaran untuk keperluan pengobatan Aiden lewat aplikasi m-banking. Namun, begitu layar menampilkan saldo rekeningnya, mata bulat Mireya seketika membelalak.

​Angka di dalamnya melonjak drastis, jauh di luar nominal kontrak awal. Setelah diteliti pada draf riwayat transaksi, ada kiriman dana rutin setiap pagi sebesar sepuluh juta rupiah dari rekening pribadi Calix David.

​"Sepuluh juta setiap hari?" beo Mireya bingung. "Untuk apa uang sebanyak ini? Aku bahkan tidak pernah keluar rumah atau jajan. Semua keperluan rajutan dan makanan sudah disiapkan Bi Ani."

​Mireya menghela napas panjang. Ia tidak ingin berutang budi lebih jauh pada pria itu, apalagi terikat dalam urusan finansial yang tidak jelas di luar kontrak rahim mereka. Dengan tekad bulat, Mireya bangkit berdiri, membawa ponselnya, dan melangkah turun menuju ruang kerja Calix di lantai bawah.

​Tok! Tok! Tok!

​Mireya mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu perlahan. Karena tidak ada jawaban, dan pintu sedikit merenggang, Mireya mendorongnya pelan. "Calix? Aku mau bicara soal—"

​Kalimat Mireya terputus seketika saat pandangannya menangkap basah sang Tuan Besar David Group sedang duduk di balik meja kerja mewahnya, memegang mangkok porselen, dengan bibir yang sudah memerah padam dan sebelah tangan sibuk mengipasi mulutnya sendiri yang kepedasan.

​Calix tersentak hebat. Ia langsung menurunkan mangkoknya dengan buru-buru, berusaha memasang kembali topeng sedingin es miliknya walau napasnya masih terengah-engah akibat cabai.

​"Mireya! Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk?!" geram Calix, suaranya naik satu oktav karena panik dan malu rahasianya terbongkar.

​Mireya tidak takut, ia justru melangkah mendekat dengan senyum geli yang mulai terukir di sudut bibirnya. Ia melirik mangkok bakso di meja, lalu menatap wajah merah padam suaminya. "Aku sudah mengetuk, Tuan Gengsi. Jadi... ini alasan Anda tidak nafsu makan di bawah tadi? Demi berduaan dengan bakso pinggir jalan yang katanya penuh debu dan rendah gizi ini?"

​"Ini... ini bukan seperti yang kamu pikirkan!" tangkis Calix cepat, membuang muka demi menyembunyikan rona merah yang kian menjalar ke telinganya. "Aku hanya sedang melakukan... uji laboratorium secara personal. Aku harus memastikan makanan ini aman jika nanti kamu mengidamnya lagi."

​"Oh ya?" Mireya menopang dagunya di depan meja kerja Calix, menatap suaminya dengan pandangan menggoda yang teramat jahil. "Lalu kenapa uji laboratoriumnya sampai membuat bibir Tuan Besar memerah seksi begitu? Mau aku ambilkan es teh manis lagi untuk meredakan 'penelitian' Anda, Suamiku?"

​Mendengar kata 'suamiku' diucapkan dengan nada menggoda seperti itu, pertahanan tsundere Calix runtuh seketika. Ia berdehem kaku, menyambar segelas air putih di dekatnya. "Tutup mulutmu, Mireya. Jangan mengejekku."

​Mireya tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang entah sejak kapan menjadi suara favorit baru bagi Calix. "Baiklah, aku berhenti. Tapi aku ke sini sebenarnya ingin bertanya soal draf m-banking ini." Mireya menunjukkan layar ponselnya. "Kenapa Anda mentransfer sepuluh juta setiap hari ke rekeningku? Tolong hentikan mulai besok, Calix. Aku tidak butuh uang sebanyak ini."

​Calix kembali memasang wajah datarnya, bersandar pada kursi kerjanya. "Uang itu untuk jajanmu. Pakai saja untuk membeli benang sulam, kanvas, atau apa pun yang kamu inginkan. Anggap saja itu biaya perawatan untuk kenyamanan... asetku."

​Mireya menghela napas, ketegasan kembali membayang di matanya. "Semua keperluanku sudah dipenuhi oleh Bi Ani. Aku tidak ingin menjadi wanita serakah yang memanfaatkan situasi. Jadi, tolong stop transfer uang itu, Calix. Cukup penuhi kontrak adikku, itu sudah lebih dari cukup bagiku."

​Calix menatap lekat-lekat mata bulat Mireya, ada rasa kagum yang kian mendalam melihat bagaimana gadis ini sama sekali tidak silau oleh gelimang hartanya. "Uang yang sudah masuk tidak bisa ditarik kembali. Terserah kamu mau menggunakannya untuk apa. Sekarang, kembali ke kamar dan istirahat."

​Mireya mendengus pasrah, tahu bahwa berdebat dengan Calix dalam urusan ini tidak akan ada habisnya. "Baiklah. Habiskan baksonya, Tuan David, sebelum kuahnya dingin. Tapi hati-hati, nanti lambung Anda bisa protes lagi," goda Mireya sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan keluar kamar dengan senyuman tipis yang manis.

​Calix menatap kepergian Mireya dengan dada yang bergetar hangat. Hangat yang nyata, yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun sejak tragedi masa lalu merenggut senyumnya.

​Namun, di saat kehangatan mulai merayap di mansion Calix, di sebuah restoran privat di pusat kota, atmosfer kedengkian sedang dirajut dengan rapi.

​Bianca duduk dengan anggun, menyesap segelas anggur merahnya sembari menatap wanita muda yang baru saja duduk di hadapannya. Wanita itu bernama Ilana, berusia dua puluh lima tahun, berpenampilan sangat modis, cantik, berkelas, dan memiliki wajah yang sekilas sangat mirip dengan almarhumah kakaknya, Zeana—mantan tunangan Calix yang meninggal akibat kecelakaan tragis bertahun-tahun lalu.

​Selama ini, hidup Ilana di luar negeri ditanggung sepenuhnya oleh santunan finansial dari Calix sebagai bentuk tanggung jawab moral atas duka masa lalu, namun Calix sama sekali tidak pernah melibatkan perasaan padanya. Bagi Calix, Ilana hanyalah adik dari masa lalu yang harus dijamin hidupnya, tidak lebih.

​"Jadi, Kak Bianca mendadak memanggilku pulang dari Paris hanya untuk menceritakan soal jalang desa itu?" tanya Ilana, suaranya terdengar manja namun tajam. Jemarinya yang berkutek merah darah mengetuk-ngetuk meja kaca.

​"Dia bukan sekadar jalang desa biasa, Ilana," hasut Bianca dengan senyum licik yang melebar. "Gadis bernama Mireya itu sudah mulai mengikis pertahanan Calix. Calix bahkan rela menghancurkan perusahaan Ardan Pradipta demi dia. Jika kamu tetap diam di Paris, posisi nyonya besar David Group yang seharusnya menjadi milik kakakmu—atau turun kepadamu—akan direbut sepenuhnya oleh anak haram itu."

​Ilana mengepalkan tangannya, matanya berkilat penuh ambisi dan kecemburuan. Sejak dulu, ia diam-diam memendam rasa pada Calix, memanfaatkan rasa bersalah pria itu atas kematian kakaknya untuk terus mengemis perhatian.

​"Calix adalah milik kakakkku, dan tidak boleh ada satu pun wanita rendahan yang menggantikan posisi Kak Zeana di sampingnya," desis Ilana tajam. "Lalu, apa rencana kita, Kak Bianca?"

​Bianca memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada lambat yang dipenuhi bisa ular. "Besok pagi, datanglah ke mansion Calix dengan statusmu sebagai 'adik kesayangan' yang merindukannya. Manfaatkan kemiripan wajahmu dengan Zeana untuk mengacaukan psikologis Mireya. Dokter Januar bilang rahim Mireya sangat peka terhadap stres. Jika kita bisa membuat jiwanya terguncang oleh bayang-bayang masa lalu Calix... kontrak anak itu akan gagal dengan sendirinya, dan Calix akan menendangnya keluar karena dianggap tidak berguna."

​Ilana tersenyum kejam, menyetujui rencana busuk tersebut. "Menarik. Mari kita lihat, seberapa kuat gadis desa itu bertahan saat berhadapan dengan hantu dari masa lalu suaminya."

1
Aditya Rian
mantap
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Aditya Rian: matap👍
total 2 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!