NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Mata yang Terbuka

Pagi itu, Rumah Sakit Keluarga Pradipa tidak seperti biasanya. Alesha berdiri di samping ranjang Kakek Wijaya dengan tangan terkepal di sisi tubuh. Maya menjaga pintu, memastikan tidak ada yang masuk tanpa izin. Dan Aditya berdiri di sisi lain ranjang, sebuah kapsul biru transparan di telapak tangannya.

Pil Pemulihan Jiwa.

"Ini obatnya?" Dokter Hendra—yang kembali hadir meski enggan—menatap kapsul itu dengan campuran skeptis dan penasaran. "Tidak ada label, tidak ada sertifikasi, tidak ada—"

"Dokter," Alesha memotong tanpa menoleh, "Anda di sini untuk memonitor tanda vital Kakek. Bukan untuk mengomentari obat."

Dokter Hendra menutup mulutnya.

Aditya mendekatkan pil itu ke bibir Kakek Wijaya. Begitu menyentuh kulit, kapsul itu meleleh dengan sendirinya—cairan biru bening meresap ke dalam mulut sang kakek.

Satu detik. Dua detik.

Monitor detak jantung berdetak stabil. Tidak ada perubahan.

"Apa ini benar-benar—"

BIP!

Monitor melonjak. Detak jantung Kakek Wijaya naik dari 62 ke 90 dalam sekejap. Tubuh tuanya bergetar—bukan kejang, tapi seperti ada energi yang merambat dari dalam. Jari-jarinya bergerak. Kelopak matanya berkedut.

"Ini pertama kalinya dalam tiga tahun," bisik Dokter Hendra, wajahnya pucat. "Dia merespons."

Alesha melangkah lebih dekat. "Kakek?"

Kelopak mata itu terbuka.

Sepasang mata abu-abu—tua, lelah, tapi masih menyimpan ketajaman—menatap langit-langit, lalu turun ke arah Alesha. Bibir kering itu bergerak, menghasilkan suara serak yang nyaris tak terdengar:

"A... lesha..."

Air mata jatuh dari pipi Alesha. Satu tetes. Hanya satu. Tapi Aditya melihatnya, dan dia tahu itu lebih berharga dari emosi apa pun yang pernah ditunjukkan sang CEO.

"Kakek," suara Alesha bergetar, "aku di sini. Kita semua di sini."

---

Tiga puluh menit kemudian.

Kakek Wijaya duduk bersandar di ranjangnya, kedua tangan kurusnya menggenggam secangkir teh jahe yang diseduh Maya. Wajahnya masih pucat, tulang pipinya menonjol, tapi matanya—mata itu bergerak waspada, mengamati setiap orang di ruangan.

Lalu berhenti pada Aditya.

"Kau," suaranya masih serak, "yang menyembuhkanku?"

Aditya mengangguk. "Saya hanya memberikan pilnya. Sistem yang membuatnya."

"Sistem," Kakek Wijaya mengulang kata itu. "Liontin itu memberimu sistem?"

Aditya terkejut. "Kakek tahu soal liontin?"

"Aku tahu lebih banyak dari yang seharusnya." Kakek Wijaya meneguk tehnya, lalu menatap Alesha. "Cucuku, apa kau sudah tahu soal pusaka keluarga?"

Alesha mengangguk. "Aku baru tahu Belati Surya bukan sekadar hiasan. Dan liontin yang dicuri tiga tahun lalu... rupanya ada di tangan Aditya."

"Bukan dicuri." Kakek Wijaya meletakkan cangkirnya. "Disembunyikan."

Semua orang menegang.

"Apa maksud Kakek?" tanya Alesha.

"Tiga tahun lalu, seseorang di dalam keluarga mencoba mencuri liontin itu. Aku tahu rencana mereka sebelum terjadi. Jadi aku menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah mereka duga—ruang rahasia di Pradipa Tower. Hanya aku yang tahu."

"Tapi Kakek jatuh koma setelah itu," Aditya menyambung.

"Karena mereka tahu aku yang menyembunyikannya. Teh ginseng itu..." Kakek Wijaya menutup mata sejenak. "Dihidangkan oleh orang kepercayaanku sendiri."

"Dokter Hendra?" tebak Maya.

"Bukan. Seseorang yang lebih dekat lagi." Mata Kakek Wijaya terbuka, menatap Alesha. "Pamanmu, Edwin."

Hening.

Lalu kemarahan mengalir ke wajah Alesha. Bukan kemarahan meledak-ledak—tapi sesuatu yang lebih dingin, lebih berbahaya. "Aku sudah mencurigainya. Tapi bukti..."

"Belum cukup," potong Kakek Wijaya. "Edwin hanyalah pion. Dia bekerja untuk seseorang yang jauh lebih kuat. Seseorang yang menginginkan ketujuh pusaka—untuk ritual yang akan membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur."

Aditya menyentuh liontin di dadanya. "Sistemku menunjukkan bahwa liontin ini adalah warisan Dewa Matahari. Dan tujuh kesatria—leluhur keluarga Pradipa—masing-masing memegang satu pusaka."

"Kau tahu lebih banyak dari yang kukira." Kakek Wijaya menatap Aditya dengan mata yang seolah menembus jiwa. "Ya. Tujuh pusaka: Liontin, Belati, Cincin, Tameng, Tombak, Busur, dan Mahkota. Masing-masing menyimpan sepotong kekuatan Dewa Matahari. Jika ketujuhnya disatukan oleh orang yang tepat, mereka bisa membangkitkan kembali sang dewa. Tapi jika disatukan oleh orang yang salah..."

"Mereka bisa membangkitkan sesuatu yang lain," Aditya menyelesaikan.

"Tepat."

"Dan musuh kita," Maya memotong, "mengincar ketujuh pusaka itu?"

"Mereka sudah punya tiga." Kakek Wijaya mengepalkan tangannya yang kurus. "Cincin, Tameng, dan Tombak. Dicuri dari keluarga-keluarga pemegang pusaka lainnya selama sepuluh tahun terakhir. Keluarga Pradipa adalah yang keempat yang mereka targetkan."

Alesha bangkit dari kursinya. "Kenapa Kakek tidak bilang padaku dari dulu?"

"Karena aku ingin melindungimu. Dunia kultivator bukan tempat untuk CEO muda yang sedang membangun karier. Tapi sekarang..." Kakek Wijaya menatap cucunya dengan bangga sekaligus sedih, "...kau sudah terjun ke dalamnya. Kalian bertiga."

Aditya membuka peta Kartel Lotus yang ia dapat dari sistem. "Kakek, apa Kartel Lotus terlibat dalam pencurian pusaka?"

"Kartel Lotus hanyalah alat. Mereka dibayar untuk membantu. Tapi dalang di balik semua ini..." Kakek Wijaya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu siapa dia. Hanya tahu bahwa dia menyebut dirinya 'Sang Pengumpul'. Dan dia memiliki kekuatan yang tidak bisa ditandingi oleh kultivator biasa."

---

DING!

Misi Selesai: Bangkitkan Kakek Wijaya dari Koma.

Hadiah: 2000 Koin, cetak biru senjata kuno, informasi "Sang Pengumpul".

Total Koin: 4210.

Misi Baru: Kumpulkan Tujuh Pusaka Dewa Matahari.

Progres: 2/7 (Liontin, Belati).

Pusaka Berikutnya: Cincin Api—dimiliki oleh Kartel Lotus, disimpan di markas utama mereka di luar Jakarta.

Hadiah: 5000 Koin, pembukaan skill baru, akses ke Toko Sistem tingkat 2.

Aditya membaca panel itu dengan jantung berdebar. 4210 koin. Cukup untuk membeli banyak hal dari toko sistem—pil, senjata, bahkan skill book baru. Tapi yang lebih penting: misi utamanya kini jelas.

"Mereka punya tiga pusaka. Kita punya dua." Aditya menatap Alesha, lalu Maya. "Kita harus mendapatkan yang ketiga sebelum mereka."

"Markas utama Kartel Lotus," Maya membaca panel itu dari belakang bahu Aditya. "Di luar Jakarta. Itu berarti..."

"Kita harus naik level dulu." Aditya mengepalkan tinjunya. "Aku tidak mau menghadapi level 9 lagi dengan modal nekat dan tumpahan bensin."

Kakek Wijaya tersenyum tipis. "Anak muda, kau sudah membangunkanku dari koma, menghancurkan markas Kartel, dan memegang Liontin Surya tanpa mati. Menurutku kau sudah melebihi ekspektasi."

"Tapi masih kurang."

"Benar." Kakek Wijaya membuka laci kecil di samping ranjangnya—sebuah kotak kayu tua yang tidak disadari siapa pun. "Karena itu, aku akan membantumu."

Ia mengeluarkan selembar perkamen kuning yang ditulis dengan tinta emas.

"Ini adalah peta keluarga. Lokasi ruang pelatihan rahasia yang dibangun oleh kakek buyutku—seorang kultivator Alam Master. Di sana, kau bisa berlatih dengan kecepatan sepuluh kali lipat dari dunia luar."

Aditya menerima perkamen itu. Tangan Kakek Wijaya menutupi tangannya.

"Tapi ingat," suaranya turun menjadi bisikan, "Sang Pengumpul juga mencari tempat ini. Begitu kau masuk ke sana, kau akan menjadi target yang lebih besar lagi. Kau siap?"

Aditya menatap perkamen itu, lalu menatap Alesha dan Maya.

"Aku tidak pernah siap untuk semua ini. Tapi mungkin itulah kenapa sistem memilihku."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!