Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Digital
Aula Utama Universitas Samudra kembali bergemuruh sejak pukul sembilan pagi. Sorot lampu putih menyinari meja peserta kompetisi perdagangan saham riil hari kedua. Posisi klasemen sementara di layar LED raksasa masih menempatkan kelompok Gala, Aluna, Adit, dan Reza di posisi puncak, sedangkan nama kelompok Kenzo terbenam di dasar papan skor setelah kerugian besar di hari pertama.
Di deretan kursi VVIP terdepan, rombongan konglomerat telah mengambil posisi. Kakek Wijaya Samudra duduk tegap sembari bertumpu pada tongkat kayunya yang berukir naga. Di sisi kanannya, Tuan Baskara dan Nyonya Shinta tampak mengamati pergerakan pasar dengan ekspresi serius. Sementara itu, Pak Surya berdiri sigap di belakang sang singa tua, sesekali membisikkan pergerakan indeks global ke telinga Kakek Wijaya.
Di sudut lain barisan VVIP, Om Bramantyo dan Tante Ratna tidak bisa menyembunyikan kecemasan mereka. Rahang Om Bramantyo mengeras, sementara jemari Tante Ratna meremas tas tangan kulit buaya miliknya dengan sangat kuat. Mereka terus melemparkan pandangan tajam penuh ancaman ke arah meja Gala.
"Lihat anak beasiswa sombong itu," bisik Kenzo dengan wajah pucat menahan amarah.
"Gue nggak sudi kalah lagi dari dia hari ini."
Davin yang berada di samping Kenzo langsung menyenggol lengan sang Putra Mahkota, lali menyodorkan sebuah diska lepas (flashdisk) kecil berwarna hitam di bawah kolong meja.
"Tenang, Ken. Gue udah urus semuanya. Anak buah gue di bagian server kampus udah berhasil disuap," ucap Davin dengan senyum kelicikan yang sangat menjijikan.
Kenzo menaikkan sebelah alisnya, menerima benda kecil itu dengan cepat. "Apa rencana
lo?"
"Di dalam ini ada malware pelacak arus transaksi. Begitu transaksi hari kedua dimulai, kita tinggal colok ini," bisik Davin sembari menunjuk layar monitor mereka dengan dagunya.
"Sistem bakal otomatis menyalin seluruh portofolio dan keputusan beli tim Gala. Sederhananya, kita bakal membajak analisis jenius mereka secara real-time sebelum mereka sempat menekan tombol eksekusi!"
Mendengar rencana curang itu, Kenzo langsung menyunggingkan senyum licik yang lebar. Ia menepuk bahu Davin dengan kasar penuh kepuasan. "Bagus! Biar anak sialan itu tahu rasanya dirampok di depan mata kepala sendiri!"
Tepat saat lonceng tanda perdagangan hari kedua berbunyi nyaring, Davin dengan cepat mencolokkan diska lepas tersebut ke port CPU komputer mereka. Di kursi VVIP, Bramantyo yang melihat kode gerakan dari anaknya langsung membetulkan letak kacamata dan tersenyum miring penuh kemenangan semu.
Sementara itu, di meja kelompok Gala, Reza mendadak menghentikan ketukan jemarinya di atas papan ketik. Matanya yang tersembunyi di balik poni rambut langsung menyipit tajam menatap baris kode peringatan berwarna merah yang berkedip di sudut bawah monitornya.
"Gala, ada tikus yang mencoba menyusup ke jalur data kita," ucap Reza dengan nada suara yang mendadak dingin dan kaku, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Aluna yang sedang mencatat grafik lilin saham langsung menoleh dengan wajah cemas. "Maksud lo ada yang menyabotase sistem kita, Re?"
Adit langsung menggebrak meja dengan kepalan tangannya. "Sialan! Pasti ulah curang si Kenzo dan gengnya! Mereka nggak terima kalah kemarin!" bentak Adit dengan mata yang mulai memerah menahan berang.
Gala yang sejak tadi hanya bersandar santai sembari memutar-mutar pena di jarinya, perlahan menegakkan tubuh. Ia menurunkan sedikit kacamata tebalnya, menampilkan sekejap sorot mata tajam seorang pewaris tunggal yang sangat mengintimidasi. Tatapannya beralih ke Kenzo yang sedang menatapnya dengan pandangan mengejek dari kejauhan.
"Biarkan saja, Re," sahut Gala dengan suara rendah yang berwibawa namun sarat akan kelicikan universal. Ia menyunggingkan senyum miring yang sangat tenang.
"Kalau mereka ingin mencuri data kita, mari kita beri mereka umpan beracun yang paling mematikan. Jalankan protokol pengalihan aset palsu sekarang juga."