"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANCURAN SANG GURU PICIK
Setelah memastikan Arkana sudah sepenuhnya nyaman dan mulai asyik memamerkan robot balapnya kepada sang kakek dan nenek di ruang tengah, Samudera memutuskan untuk menyelesaikan urusan administrasi yang sempat tertunda. Ia membalikkan tubuh tegapnya, melangkah mantap menuju lantai satu sayap kanan rumah, tempat ruang kerja pribadinya berada.
Sebelum memutar knop pintu kayu ek tebal ruang kerjanya, Samudera menghentikan langkah salah satu pelayan wanita senior yang kebetulan sedang melintas membawa nampan camilan.
"Bi Minah," panggil Samudera dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas.
"Iya, Den Samudera? Ada yang bisa saya bantu?" jawab pelayan itu dengan sikap hormat yang dalam.
"Tolong ambil tas ransel dinosaurus dan kantong mainan Arkana di dekat sofa depan," instruksi Samudera, jemarinya menunjuk halus ke arah ruang tengah. "Bawa semuanya ke lantai dua, masukkan ke dalam kamar utama anak yang sudah saya minta siapkan minggu lalu. Letakkan pakaiannya di lemari dengan rapi, dan taruh mainannya di rak yang mudah dia jangkau."
"Baik, Den. Segera saya laksanakan," patuh Bi Minah dengan senyum hangat, ikut merasa bahagia melihat kehadiran anggota keluarga baru di rumah itu.
Samudera mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih, lalu mendorong pintu ruang kerjanya dan melangkah masuk. Begitu pintu tertutup rapat, suasana megah nan hangat dari luar langsung berganti dengan keheningan yang profesional. Bau harum aroma terapi maskulin dan jajaran buku-buku tebal yang tertata rapi di rak dinding menyambutnya.
Ia berjalan menuju meja kerja marmer hitamnya, mengempaskan tubuhnya di kursi kebesaran, dan langsung membuka laptop tipisnya. Gurat kelembutan yang tadi ia tunjukkan pada Arkana perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi dingin seorang penguasa bisnis yang siap menuntut keadilan. Tangan kanannya meraih ponsel, menekan tombol panggil cepat pada kontak asisten pribadinya.
Tuut... tuut...
"Halo, Pak Samudera," sahut suara di seberang telepon dengan sigap.
"Randy," buka Samudera tanpa basa-basi, tatapannya menatap tajam ke arah layar laptop yang mulai menyala. "Urus berkas perpindahan sekolah Arkana ke intercultural school siang ini juga. Dan satu lagi... aku punya rekaman video dari kelas online tadi pagi. Kirimkan langsung ke jajaran direksi lembaga pengajarnya. Aku mau wanita bernama Yeni itu diberhentikan hari ini juga tanpa pesangon."
"Baik, Pak Samudera. Segera saya proses dan pastikan semuanya selesai siang ini juga," jawab Randy dari seberang telepon dengan nada yang sangat profesional, sebelum sambungan akhirnya diputuskan.
Sebagai asisten kepercayaan seorang CEO Wijaya Group, Randy bergerak secepat kilat. Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan data lembaga online tersebut, menyusun draf laporan pelanggaran etika berat, dan melampirkan potongan video rekaman saat Ibu Yeni mendiskriminasi Arkana. Dengan pengaruh dan kekuatan finansial yang dimiliki keluarga Wijaya sebagai salah satu donatur besar di berbagai yayasan pendidikan, laporan itu langsung menembus meja jajaran direksi tertinggi institusi tersebut dalam hitungan menit.
Tidak sampai dua jam berselang, di sebuah rumah sederhana di sudut kota, ponsel Ibu Yeni berdering kencang. Nama kepala lembaga tertera di layarnya. Dengan tangan gemetar karena firasat buruk yang mendera sejak pagi, ia menggeser tombol hijau.
"Halo, Selamat siang, Pak—"
"Ibu Yeni, hari ini juga, detik ini juga, lembaga mencabut hak mengajar Anda dan memutus kontrak kerja Anda secara tidak hormat!" suara bariton kepala lembaga terdengar menggelegar tanpa ada basa-basi, sarat akan kemarahan yang meluap-luap.
"Ta–tapi kenapa, Pak? Salah saya apa?" tanya Ibu Yeni dengan suara parau, air mata kepanikan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Anda masih bertanya apa salah Anda?!" sentak kepala lembaga itu lagi. "Anda tahu siapa orang tua dari Arkana yang Anda hina tadi pagi? Beliau adalah Samudera Wijaya! Tindakan picik dan diskriminatif Anda bukan hanya merusak mental murid, tapi hampir membuat lembaga kita hancur dituntut hukum oleh Wijaya Group! Surat pemecatan resmi dan klausul daftar hitam Anda sudah dikirim ke email. Jangan harap Anda bisa mengajar di sekolah mana pun lagi!"
Bip. Sambungan telepon diputus sepihak.
Ibu Yeni lemas seketika. Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh begitu saja ke atas lantai. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, menyadari bahwa ancaman pria berjas mewah tadi pagi bukanlah sekadar gertakan belaka. Masa depannya sebagai seorang pendidik telah hancur total dalam sekejap mata karena keangkuhannya sendiri.
Sementara itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Samudera menatap layar laptopnya yang menampilkan pesan singkat dari Randy: 'Tugas selesai, Pak. Yang bersangkutan sudah resmi dipecat dan masuk daftar hitam per jam 11 siang ini.'
Sebuah senyuman dingin yang penuh kepuasan terbit di wajah tampan Samudera. Ia menutup laptopnya dengan gerakan perlahan. "Satu masalah selesai. Sekarang, waktunya fokus pada masa depan putraku," gumamnya pelan sebelum berdiri dari kursi kerjanya untuk memeriksa keadaan Arkana di lantai atas.