Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Aragon akhirnya keluar dari ruangan, diikuti Hank yang berjalan di belakangnya bagaikan perisai hidup. Mereka bersiap untuk menemui Steven Gu.
Saat itu, hujan kembali mengguyur Kota S dengan deras.
Begitu mendengar pengumuman bahwa sang pimpinan akan pergi, para pegawai yang berada di lobi segera berbaris rapi hingga ke pintu utama.
Ting! Pintu lift khusus pimpinan terbuka, di sana Aragon berjalan dengan kaki yang panjang, tatapannya lurus ke depan, namun ekor matanya sempat melihat sesuatu yang ganjil di luar dari dinding kaca perusahaan yang membentang.
Para pegawai segera menundukkan kepala dengan penuh hormat. Di luar gedung, barisan pengawal telah bersiap di samping iring-iringan mobil yang berjajar rapi.
Seorang pengawal melangkah maju untuk memayungi Aragon. Begitu Aragon masuk dan mobil mulai bergerak membelah hujan, seluruh orang di lobi sekali lagi membungkuk hormat, melepas kepergiannya.
Sedangkan Aurora yang sejak tadi berdiri di bawah guyuran hujan kini menggigil hebat. Pakaiannya basah kuyup, rambut hitamnya menempel di wajah yang pucat, sementara kedua tangannya mengepal erat menahan dingin.
Namun, saat ia melihat Aragon akhirnya keluar dari gedung perusahaan dan masuk ke dalam mobil, sesuatu dalam diri Aurora seakan runtuh.
“Itu dia!” Serunya dengan bibir yang gemetar.
Entah keberanian dari mana munculnya, atau mungkin rasa putus asa yang telah mencapai batasnya, Aurora nekat menerjang derasnya hujan.
Ia berlari ke arah iring-iringan mobil tanpa memikirkan lagi apa yang akan terjadi setelahnya.
Kendaraan-kendaraan hitam itu mulai bergerak perlahan meninggalkan lobi. Tepat di saat itulah.
Aurora mendadak melompat ke tengah jalan, tepat di depan mobil pengawal paling depan.
CITTT——BRAAKK!!
“BRAKK!!”
“BRAAKK!!”
Aksi Aurora membuat mobil menabrak secara beruntun.
Suara rem yang diinjak mendadak terdengar nyaring, membelah suara hujan. Seluruh iring-iringan mobil langsung berhenti seketika. Mobil Aragon yang berada di barisan kedua ikut berhenti mendadak, tabrakan beruntun itu menyisakan asap yang mengepul.
Para pegawai sontak terkejut dan penasaran apa yang terjadi, mereka tentu tak ingin melewatkan pemandangan langka tersebut.
Di dalam kabin yang senyap, Aragon yang semula duduk tenang perlahan mengangkat pandangannya.
“Sudah bosan bekerja denganku?” tanyanya dingin.
Sopir pun menundukkan kepala.
”Mohon maaf Tuan, mobil pengawal di depan berhenti secara mendadak.”
Lalu Hank yang duduk di kursi tepat di samping sopir menoleh ke belakang dengan kepala tertunduk pertanda menyesal.
“Maaf, Tuan. Sejak pagi tadi ada seorang gadis yang memaksa ingin bertemu dengan Anda. Saya pikir dia akan menyerah dan pergi sendiri, jadi saya belum sempat melaporkannya. Tapi sekarang, dia nekat menghadang jalan.”
Aragon tidak langsung menjawab. Matanya menatap datar ke depan.
Sementara di luar, Aurora berdiri di tengah kepungan hujan dengan kedua tangan membentang lebar, seolah siap ditabrak kapan saja. Air seakan menghantam tubuh kecilnya tanpa ampun.
Melihat situasi tersebut, beberapa pengawal segera turun dari mobil dan bergerak cepat untuk menyingkirkannya. Derap langkah kaki dengan sepatu-sepatu hitam siap menangkap Aurora.
Namun bukannya mundur, Aurora justru panik. Ia menerobos celah penjagaan dan berlari kencang menuju mobil Aragon.
“Tuan Aragon, tolong saya…!!! Berikan saya waktu anda 10 menit!!! Tidak, 5 menit saja!!” Aurora berteriak sambil menunjukkan 5 jari telapak tangannya.
Tidak ada respon, Aurora kembali menggedor kaca jendela mobil berkali-kali dengan tangan yang gemetar hebat.
Namun, kaca mobil itu terlalu pekat, gelap bagaikan samudra terdalam. Aurora bahkan tidak bisa melihat bayangan pria di dalamnya, dan suara teriakannya pun lenyap begitu saja, teredam oleh dinding mobil mewah yang sepenuhnya kedap suara.
Dengan mulut mungilnya Aurora berteriak dan tangan mungilnya yang mengepal menggendor jendela mobil berkali-kali, Aurora terus berusaha menarik perhatian Aragon.
Aragon masih duduk tegak di dalam kabin mobil dengan kaki tersilang tenang. Wajahnya datar, benar-benar tidak bisa dibaca, tanpa menunjukkan emosi sedikit pun.
Di kursi depan, sang sopir menundukkan kepala dengan tubuh gemetar.
“Maaf, Tuan,” bisiknya penuh penyesalan. Sopir itu sudah bersiap membuka pintu untuk turun tangan, sementara Hank, asisten pribadi Aragon yang duduk di sebelah sang sopir, mulai dilingkupi kecemasan.
Sebelum ada yang bergerak, Aragon akhirnya bersuara.
“Kalian sudah bosan bekerja denganku?”
Suara itu terdengar sangat rendah, hampir menyerupai bisikan, namun membawa aura ancaman yang mutlak.
Kabin mobil seketika diselimuti keheningan yang mencekam. Diamnya Aragon adalah sinyal bahaya bahwa pria itu sedang berada dalam suasana hati yang sangat buruk.
Melihat Aragon sama sekali tidak menoleh ke arah jendela tempat si gadis yang terus menggedor, Hank tahu ia harus segera bertindak sebelum amarah tuannya memuncak.
Hank membuka pintu dan turun dari mobil, tepat ketika beberapa pengawal bertubuh kekar hendak menyeret Aurora menjauh. Kedua tangan gadis itu sudah dicengkeram kuat, mengunci pergerakannya.
Hank melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan Aurora yang basah kuyup.
“Anda sudah menyebabkan keributan dan kerusakan yang cukup parah,” ucap Hank, suaranya sedingin es.
“Apa Anda tahu berapa biaya perbaikan mobil-mobil yang rusak akibat tindakan nekat Anda ini?”
Pertanyaan itu seketika menyentak Aurora. Seolah baru saja tersadar dari kegilaan sesaat, ia perlahan menoleh.
Kedua matanya membelalak mendapati deretan mobil hitam di belakang mereka ternyata saling bertabrakan beruntun akibat aksi pengereman mendadak tadi. Napas Aurora langsung tercekat di tenggorokan.
Dengan panik, matanya bergerak gelisah menatap sekeliling. Para pengawal berjas hitam, berkacamata gelap, lengkap dengan earphone di telinga kini telah mengepungnya. Tatapan mereka tajam dan intimidatif, membuat atmosfer di tempat itu terasa kian menekan.
Kepala Aurora mulai berputar hebat. Puluhan pasang mata kini tertuju padanya. Di lobi perusahaan, para pegawai yang penasaran berkerumun, menyaksikan dirinya dengan pandangan menghakimi.
Beberapa di antaranya bahkan saling berbisik sinis sembari menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.
Aurora perlahan menundukkan kepala. Sadar bahwa penampilannya saat ini pasti terlihat sangat berantakan. Basah kuyup, gemetar, dan luar biasa memalukan.
Di tengah kepungan para pengawal yang mengintimidasi Aurora, sebuah pergerakan kecil terjadi di dalam mobil mewah itu. Aragon perlahan menolehkan kepalanya. Benteng pertahanan Aragon akhirnya terusik.
Jangankan seorang wanita, seluruh kolega maupun musuh di dunia atas dan dunia bawah pun tahu, mencari perhatian di hadapan Aragon adalah hal yang mustahil. Aragon yang sedingin es tidak pernah sudi melirik hal-hal yang dianggapnya tidak penting.
Selama ini, bagi semua kalangan, baik di bisnis dunia atas maupun dunia bawah tahu itu, apalagi menghadang jalan Aragon adalah tindakan bunuh diri.
Pria itu tidak akan pernah sudi membuang waktu, bahkan tidak akan melirik barang sekilas pun. Justru, nyawa mereka lah yang akan melayang, namanya lenyap dan tidak ada lagi yang akan berani mengungkit nya.
Namun entah mengapa, mungkin gadis di luar sana terasa berbeda.
Melalui balik kaca gelap yang tebal, Aragon memperhatikan setiap jengkal penampilan Aurora. Wajah gadis itu pucat, basah, dan menyiratkan keputusasaan yang mendalam.
Anehnya, pemandangan menyedihkan itu justru menangkap ketertarikan Aragon. Di balik penampilannya yang berantakan itu membuat Aragon bertanya, ada sesuatu yang membuatnya ingin terus ingin melihatnya.
Bersambung