Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4. Menjadi Bayangan
Pusat perbelanjaan kelas atas itu berkilauan di bawah lampu neon yang mewah, namun bagi Alya, tempat ini terasa seperti labirin yang menyiksa. Di depannya, Arka berjalan berdampingan dengan Sisil. Sisil dengan manja menggelayut di lengan Arka, menunjuk ke arah butik-butik bermerek dengan tawa yang berderai.
Sementara itu, Alya berjalan tiga langkah di belakang mereka. Tangannya sudah penuh dengan kantong belanjaan kertas tebal berlogo merek internasional. Jari manisnya yang terbungkus plester kain akibat luka tadi pagi berdenyut perih setiap kali tali kantong belanjaan itu menyentuh lukanya.
"Arka, lihat gaun ini! Bagus tidak kalau aku pakai untuk pesta peluncuran produk barumu minggu depan?" Sisil mengangkat sebuah gaun malam berwarna emas yang sangat terbuka di bagian punggung.
Arka melirik sekilas, lalu mengangguk kecil. "Apapun yang kau pakai akan terlihat bagus, Sil."
Sisil bersorak senang dan mencium pipi Arka di depan umum. Arka tidak menolak, namun matanya secara tidak sengaja melirik ke arah pantulan cermin butik, menatap Alya yang berdiri mematung dengan wajah pucat.
"Pelayan! Sini!" panggil Sisil dengan nada melengking, sengaja menggunakan sebutan itu untuk memancing perhatian pengunjung butik lainnya.
Alya mendekat dengan kepala tertunduk. "Iya?"
"Pegang ini. Hati-hati, jangan sampai lecek. Harganya lebih mahal dari seluruh harga diri keluargamu," Sisil menyampirkan gaun itu ke tumpukan barang yang dibawa Alya hingga menutupi pandangannya.
Beberapa pelayan butik saling berbisik, menatap Alya dengan pandangan kasihan sekaligus penasaran. Siapa wanita yang membawa barang-barang itu? Dia terlihat terlalu cantik untuk menjadi seorang asisten, namun pakaiannya yang sederhana dan matanya yang sembab menceritakan kisah yang berbeda.
"Arka, aku lapar. Kita makan di restoran Prancis lantai atas, ya?" ajak Sisil.
"Tentu," jawab Arka singkat.
Di restoran, Arka dan Sisil duduk di meja privat yang menghadap ke pemandangan kota. Alya? Dia diminta berdiri di samping meja, memegang semua belanjaan itu karena Sisil beralasan "barang-barang mahal tidak boleh diletakkan di lantai yang kotor."
Alya merasa kakinya hampir mati rasa. Dia belum makan sejak pagi, dan aroma masakan mewah yang tersaji di depan Arka mulai membuat perutnya perih.
"Arka, suapi aku..." manja Sisil sambil membuka mulutnya.
Arka memotong sepotong steak dengan elegan dan menyuapkannya ke Sisil. Pemandangan itu seharusnya menghancurkan hati Alya sebagai seorang istri, namun yang dia rasakan saat ini hanyalah kehampaan. Dia merasa seperti roh yang terperangkap dalam tubuh yang dipaksa bekerja.
Tiba-tiba, ponsel Alya di dalam saku dress-nya bergetar. Dia ragu untuk mengambilnya, namun getaran itu terus berulang. Dengan susah payah, dia menyelipkan satu tangan untuk melihat layar.
Pesan dari Ibu.
> "Alya sayang, bagaimana malam pertamamu? Arka memperlakukanmu dengan baik, kan? Ibu dan Ayah sangat bersyukur kau menikah dengan pria sehebat dia. Kabari Ibu ya, Nak."
>
Air mata Alya nyaris jatuh menetes di atas tas belanjaan Sisil. Dia ingin berteriak pada ibunya bahwa dia sedang berdiri seperti pajangan di sebuah restoran, melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Dia ingin mengadu bahwa Arka adalah iblis yang menyamar.
Namun, dia teringat wajah ibunya yang lemah di ranjang rumah sakit. Dia tidak boleh jujur.
"Siapa yang mengizinkanmu bermain ponsel saat sedang bertugas?" suara Arka menginterupsi pikirannya.
Alya tersentak, hampir menjatuhkan salah satu tas. "Maaf... ini dari Ibu."
Arka meletakkan garpunya. Matanya menajam. "Sampaikan pada ibumu, kau sangat bahagia di sini. Katakan padanya bahwa aku sangat 'mencintaimu'. Jika kau berani mengadu sedikit saja tentang apa yang terjadi di rumah ini, aku pastikan bantuan medis untuk ibumu akan kuhentikan detik ini juga."
Alya gemetar. "Jangan, Arka... tolong jangan sakiti Ibu. Dia tidak tahu apa-apa tentang urusan Ayah."
"Di mataku, kalian semua sama. Satu darah, satu dosa," desis Arka.
Sisil tertawa sinis sambil menyesap anggurnya. "Dengar itu, Alya? Jadi pelayan yang baik jika ingin keluargamu tetap hidup. Sekarang, ambilkan aku tisu, tanganku lengket."
Alya meletakkan semua belanjaan ke lantai—kali ini dia tidak peduli jika Sisil marah—dan berjalan menuju meja service untuk mengambil tisu. Namun, karena kepalanya yang pening akibat lapar dan stres, pandangannya mendadak kabur.
Lantai marmer yang licin terasa bergoyang. Alya mencoba berpegangan pada kursi, namun tangannya meleset.
Alya jatuh tersungkur. Kepalanya membentur pinggiran meja kayu yang keras sebelum akhirnya dia jatuh pingsan di lantai dingin restoran tersebut.
"Alya!"
Suara terakhir yang dia dengar adalah teriakan panik yang entah berasal dari siapa. Apakah itu Arka? Ataukah hanya khayalannya sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya?
Saat Alya terbangun, dia tidak lagi berada di restoran. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya. Dia berada di sebuah ruangan serba putih.
Di sudut ruangan, Arka berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela besar rumah sakit.
"Sudah bangun?" tanya Arka tanpa berbalik. Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.
"Aku... aku di mana?" tanya Alya lemah, memegang dahinya yang kini dibalut perban.
"Rumah sakit. Kau merepotkanku, Alya. Pingsan di tempat umum hanya akan merusak reputasiku sebagai suami yang baik," ucap Arka dingin sembari berbalik.
Namun, ada sesuatu yang berbeda di tangan Arka. Dia memegang ponsel Alya. Layarnya menyala, memperlihatkan pesan dari ibu Alya yang tadi belum sempat dibalas.
"Dokter bilang kau kurang gizi dan kelelahan hebat," Arka berjalan mendekat, menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jangan berpikir bahwa pingsanmu ini akan membuatku merasa bersalah. Ini hanya membuktikan betapa lemahnya kau."
Arka melempar ponsel itu ke atas tempat tidur Alya.
"Balas pesan ibumu. Katakan kau pingsan karena terlalu bahagia berbulan madu denganku. Dan setelah infus itu habis, kita pulang. Ada pekerjaan rumah yang belum kau selesaikan."
Alya menatap ponselnya, lalu menatap punggung Arka yang berjalan keluar ruangan. Pria itu benar-benar tidak memiliki hati. Bahkan saat dia terluka secara fisik, Arka hanya peduli pada reputasi dan dendamnya.
Di bawah selimut rumah sakit yang tipis, Alya menangis tanpa suara. Dia tahu, ini baru permulaan, dan jalan keluar dari neraka ini terasa semakin jauh dari jangkauan.