Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceraikan Aku
Rian yang menyadari dirinya kini menjadi pusat perhatian ratusan pasang mata dan sorot kamera mendadak tersentak. Rasa malu yang teramat sangat memukul kesadarannya. Namun, egonya yang terlanjur terbakar membuatnya enggan mundur. Ia menatap ke arah kamera-kamera itu dengan pandangan mata yang liar dan penuh amarah yang tak terkendali.
"Tulis ini di koran kalian!" teriak Rian pada para wartawan, suaranya serak penuh kegilaan. "Wanita ini adalah istriku! Dia datang ke sini untuk menggoda Kenzi Hutama karena dia wanita gila harta! Kenzi Hutama sudah merebut mantan istriku, dan sekarang dia mau merebut istri siriku juga! Hutama Group itu isinya perampok!"
"Mas Rian, diam!!" Suci menjerit histeris, menampar lengan Rian dengan tas tangannya untuk menghentikan ucapan gila suaminya yang bisa menghancurkan sisa hidup mereka dalam sekejap.
Di tengah riuhnya sorotan lampu kilat, kepungan wartawan yang kian beringas, dan drama rumah tangga yang telanjang di bawah terik matahari pagi, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam perlahan-lahan tampak berbelok di ujung jalan, bergerak lambat mendekati lobi hotel. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, sepasang mata elang milik Kenzi Hutama bersama Sintia Arunika yang duduk di sampingnya, mulai menangis menyaksikan kekacauan yang terjadi di luar jendela kaca mereka.
****
Suasana di halaman depan Hotel Grand Hutama kian mencekam, berubah menjadi sirkus jalanan yang bising dan memuakkan. Kilatan lampu dari ratusan kamera wartawan tak henti-hentinya menyambar wajah Alfandi Rian Mahesa dan Suci Wahyuni. Aroma keputusasaan, amarah, dan aib domestik yang dikuliti secara telanjang di bawah terik matahari pagi berbaur dengan asap knalpot jalanan protokol.
Di tengah-tengah lautan manusia yang sedang beringas memburu skandal itu, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam legam berhenti dengan keanggunan mutlak tepat di depan lobi utama. Kehadiran kendaraan itu seolah membawa atmosfer dingin yang seketika memotong kegilaan udara di sekitarnya.
Pintu belakang mobil terbuka. Sepatu kulit mewah bernuansa hitam mengkilap menapak pertama kali di atas karpet merah. Kenzi Hutama keluar dari dalam mobil. Pria itu berdiri tegap, mengenakan setelan jas potongan custom-made berwarna abu-abu arang dengan sapu tangan saku sutra putih yang tertata sempurna. Tatapan matanya yang sipit dan tajam tersembunyi di balik kacamata hitam berbingkai platinum. Di sampingnya, Sintia Arunika melangkah turun dengan gaun terusan satin berwarna biru dongker yang elegan, memancarkan aura ketenangan seorang wanita yang telah selesai membasuh air matanya dengan keteguhan baja.
"Pak Kenzi! Pak Kenzi! Mohon tanggapannya mengenai tuduhan pria di seberang sana!" teriak seorang wartawan senior yang menyadari kedatangan sang konglomerat, berusaha mengarahkan mikrofonnya melompati barikade.
Namun, Kenzi Hutama bahkan tidak menoleh sedikit pun. Kepalanya tetap lurus menatap ke depan, ke arah pintu kaca raksasa gedung hotel yang menjulang megah. Bagi seorang Kenzi, drama murahan yang sedang diumbar oleh Rian dan Suci di tepi jalan tak lebih dari sekadar riak kecil air kotor di selokan yang tidak sudi ia lirik, apalagi ia komentari. Jangankan memandang Suci yang sedang berurai air mata riasan, menatap Rian yang sedang berteriak kesetanan pun ia enggan.
Kenzi mengulurkan lengan kanannya dengan sopan. Sintia menyambut uluran itu, menyandarkan jemarinya yang lentik di atas lengan kokoh Kenzi. Keduanya melangkah bebas, anggun, dan tak tersentuh melewati karpet merah, memasuki gedung mewah yang sejuk. Mereka berjalan dengan pembawaan aristokrat sejati, meninggalkan badai kotor di belakang punggung mereka seolah itu sama sekali tidak pernah ada.
****
Sementara itu, para kuli tinta dan pemburu berita seolah benar-benar lupa pada esensi agenda peresmian hotel hari itu. Skandal perselingkuhan, kebangkrutan, dan tuduhan perampasan aset yang dilontarkan Rian dengan berapi-api jauh lebih menjual daripada sekadar berita ekonomi pemotongan pita. Mereka terus mengepung Rian dan Suci, mencecar setiap jengkal privasi yang tersisa hingga pertengkaran itu menjadi konsumsi publik yang paling menjijikkan.
****
Dua jam setelah drama memalukan di depan hotel itu usai, atmosfer di dalam rumah mewah keluarga Mahesa telah berubah total menjadi medan perang yang mengerikan. Sisa-sisa kemegahan rumah itu kini terasa mencekik, seolah-olah dinding-dinding jatinya siap runtuh menimbun para penghuninya.
Suci Wahyuni berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah menghentak kasar. Gaun brokat putih gadingnya yang tadi pagi ia kenakan dengan penuh ambisi, kini tampak berantakan. Riasan matanya yang luntur karena keringat dan air mata amarah meninggalkan coretan hitam di pipinya, membuatnya tampak seperti monster yang kehilangan kedoknya.
"Suci! Tunggu!" Rian mengekor di belakangnya, menyentak pintu depan hingga terbanting keras. Wajah Rian pucat pasi, namun matanya memancarkan kilat cemburu dan murka yang belum padam. "Kamu belum menjawab pertanyaanku! Apa yang kamu lakukan di hotel itu pagi-pagi sekali, hah?! Kamu mau mempermalukanku di depan seluruh wartawan kota ini?!"
Suci membalikkan badannya dengan cepat di tengah ruang tamu. Tas tangan mahalnya ia lemparkan ke atas sofa kulit dengan kasar hingga talinya nyaris putus. Ia menatap Rian dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa muak dan kebencian yang selama ini ia tekan rapat-rapat di balik topeng kelembutannya.
Suci membalikkan badannya dengan cepat di tengah ruang tamu. Tas tangan mahalnya ia lemparkan ke atas sofa kulit dengan kasar hingga talinya nyaris putus. Ia menatap Rian dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa muak dan kebencian yang selama ini ia tekan rapat-rapat di balik topeng kelembutannya.
"Ya! Aku mau pergi dari hidupmu, Rian! Apa kamu belum paham juga?!" teriak Suci, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian rumah. "Aku tidak sudi lagi hidup bersamamu! Aku mau kita berpisah!"
****
Rian terperangah, langkah kakinya terhenti seolah dihantam gada tak kasat mata. Jantungnya bertalu hebat. "Berpisah? Setelah apa yang kita lalui? Setelah aku membuang Sintia demi kamu dan Arka, kamu mau meninggalkanku?!"
"Jangan bawa-bawa Sintia di depanku!" desis Suci dengan nada meremehkan yang teramat tajam. "Kamu membuangnya karena kamu bodoh! Kamu mengira kamu sudah kaya dan berkuasa, padahal kenyataannya? Perusahaan konveksimu itu kosong! Rumah mewah ini bukan milikmu! Kamu itu hanya numpang di atas harta peninggalan mertuamu!"
Suci melangkah maju, memperkecil jarak, menunjuk dada Rian dengan jari telunjuknya yang gemetar karena amarah yang meledak-ledak. Kali ini, ia menguliti kejujuran busuknya secara terang-terangan, tanpa ada sekat kepura-puraan lagi.
"Dengar ya, Rian Mahesa! Aku mencintaimu saat kamu memegang kartu kredit tanpa limit! Aku mendampingimu karena kamu menjanjikanku kehidupan bak ratu di rumah ini! Tapi sekarang? Dua minggu lagi sidang pembuktian, dan pengacaramu sendiri bilang kamu akan kalah! Kamu akan kehilangan perusahaan! Rumah ini akan disita oleh Sintia! Kamu akan menjadi gembel, Rian! Gembel!" Suci berteriak tepat di depan wajah Rian, napasnya memburu kasar. "Aku tidak dilahirkan untuk hidup melarat bersama pria pecundang seperti kamu! Aku tidak sudi mengurus anak dan hidup di rumah petak atau kolong jembatan! Jadi, ceraikan aku sekarang juga!"