Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 34 (Mual di Balik Meja CEO)
Tiga bulan berlalu sejak meja kerja Arini resmi berpindah ke dalam sangkar emas lantai 50. Berada dalam satu ruangan sepanjang hari bersama Adrian ternyata tidak mengurangi intensitas romansa di antara mereka, justru sebaliknya. Setiap hari selalu dipenuhi ketegangan manis yang mendebarkan, di mana Adrian selalu mencari celah untuk memanjakan istri tercintanya di sela-sela jam kerja.
Siang itu, udara di dalam ruang CEO terasa sejuk seperti biasa. Arini sedang duduk di meja marmer putihnya, fokus membandingkan dua laporan keuangan anak perusahaan Wijaya Group. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik, sementara otak akuntansinya bekerja keras menyusun draf audit tahunan.
Di meja sebelah, Adrian sedang mendengarkan pemaparan Yudha mengenai rencana akuisisi lahan di Surabaya.
"Pak, jika kita menutup kesepakatan minggu ini, maka tim legal bisa langsung..." Kalimat Yudha mendadak terhenti.
Ugh...
Suara lenguhan tertahan dari meja sebelah seketika mengalihkan fokus seluruh orang di ruangan tersebut. Arini mendadak meletakkan pulpennya kasar, menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan. Wajahnya yang semula segar kini berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Rasa mual yang teramat dahsyat, yang terasa sangat familier dari ingatan dua tahun lalu, tiba-tiba menghantam ulu hatinya tanpa ampun.
Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, Arini bangkit berdiri dengan setengah berlari menuju kamar mandi privat yang berada di dalam ruang kerja Adrian.
Brak!
Adrian langsung berdiri dari kursi kebesarannya hingga kursi mewah itu bergeser kasar ke belakang. Topeng wibawa dingin sang CEO utama tanggal seketika, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa pekat. Ia mengabaikan Yudha dan berkas akuisisi puluhan triliun di tangannya, melangkah lebar menyusul belahan jiwanya.
"Sayang?!" panggil Adrian tegang, langsung mendorong pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
Arini sudah bertumpu lemas pada pinggiran wastafel marmer putih, memuntahkan cairan bening dengan tubuh yang bergetar hebat. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuk leher jenjangnya.
Adrian dengan sigap menyurukkan tangan besarnya untuk menahan tubuh ramping Arini dari belakang, tangan satunya bergerak lembut mengusap punggung istrinya demi meredakan rasa sakit. Wajah tampannya ikut pucat karena cemas yang posesif.
"Yudha! Batalkan rapat komite investasi siang ini! Panggil dokter kandungan pribadi keluarga ke sini menit ini juga!" seru Adrian berteriak ke arah luar kamar mandi, suaranya sarat akan otoritas mutlak yang bergetar panik.
"Baik, Pak! Segera dilaksanakan!" sahut Yudha dari luar yang langsung bergerak cepat tanpa berani menunda satu detik pun.
Adrian mengambil tisu basah, mengusap sisa keringat di wajah Arini dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh perasaan. Tanpa meminta izin, ia menyurukkan lengan kekarnya ke bawah lutut dan punggung Arini, mengangkat tubuh istrinya yang melemas dalam satu gerakan instan, lalu membawanya menuju sofa beludru besar di tengah ruangan.
"Mas... turunkan aku. Ini di kantor, nanti staf lain ada yang masuk," protes Arini lemah dengan suara berbisik, bersandar pasrah pada dada bidang suaminya yang kokoh.
"Persetan dengan kantor, Baby. Wajahmu sudah seputih kapas," potong Adrian tegas. Ia merebahkan Arini di sofa, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan istrinya, menggenggam erat kedua tangan Arini yang terasa dingin. "Mana yang sakit, hm? Perutmu kram?"Arini menggelengkan kepalanya pelan, ia menyentuh dadanya sendiri yang terasa sesak. "Hanya mendadak sangat pusing dan mual, Mas... Bau parfum kayu cendanamu siang ini rasanya mendadak sangat menyengat di hidungku."
Adrian mengernyitkan dahi tipis, seolah sebuah potongan teka-teki lama mendadak melintas di dalam kepalanya. Sifat posesif dan kalkulasi taktisnya mulai menangkap sebuah sinyal yang sangat kuat.
Satu jam kemudian, dokter spesialis kandungan keluarga Wijaya selesai melakukan pemeriksaan singkat menggunakan alat medis portabel yang dibawa Yudha. Adrian berdiri kokoh di samping sofa dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap sang dokter dengan mata elangnya yang tajam seolah sedang menuntut laporan keuangan bursa efek.
"Bagaimana kondisinya, Dok? Istri saya tidak keracunan makanan kantor, kan?" tuntut Adrian dingin.
Dokter senior itu tertawa kecil, menjabat tangan Adrian dengan ramah. "Sama sekali tidak ada keracunan, Pak Adrian. Gejala ini persis seperti dua tahun lalu saat Nyonya Muda mengandung Arsenio. Selamat, Pak Adrian, Nona Arini. Usia kandungan Nyonya Muda sudah memasuki minggu kelima. Calon anak kedua Anda tumbuh dengan sangat baik."
Ruangan seketika senyap total. Arini membelalakkan matanya tidak percaya, tangannya refleks turun menyentuh permukaan perutnya yang masih rata di balik blusnya. Minggu kelima. Otak akuntansinya mendadak menghitung mundur, dan wajahnya seketika merona merah padam saat teringat malam perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang sangat intens di penthouse sebulan lalu.
Adrian kembali mematung untuk kedua kalinya dalam hidup. Fokus mata elangnya turun menatap lurus ke arah perut Arini, lalu beralih menatap manik mata istrinya dengan binar emosi yang begitu pekat, campur aduk antara keterkejutan yang mendalam dan rasa kepemilikan yang luar biasa agung. Pria itu berlutut kembali di samping sofa, menangkup wajah Arini dengan kedua tangan besarnya yang hangat.
"Mulai detik ini, meja kerjamu resmi ditutup, Sayang," ucap Adrian rendah, suara baritonnya yang serak terdengar begitu seksi namun sarat akan proteksi mutlak yang tidak bisa dibantah. "Kamu kembali ke mode istirahat total di penthouse. Tidak ada bantahan, Baby."
Arini menghela napas pasrah namun tersenyum sangat manis, melingkarkan lengan rampingnya di leher kokoh suaminya. "Sifat posesifmu sebagai calon ayah dua anak sepertinya akan berlipat ganda mulai hari ini, Mas."
"Tentu saja," bisik Adrian seksi, menundukkan kepalanya untuk mendaratkan sebuah lumatan dalam yang intens, hangat, dan penuh rasa sayang di bibir merah muda Arini, menyegel kabar bahagia kedua mereka di bawah saksi keheningan ruang CEO siang itu.