NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 9: Sumpah

Pagi itu lebih hening dari biasanya.

Tidak ada suara benturan kayu.

Tidak ada aliran Qi yang bergerak di sekitar gubuk.

Tidak ada langkah latihan Ten’i Ryū yang biasanya terdengar sejak matahari belum sepenuhnya naik.

Hutan tetap hidup.

Burung-burung masih bernyanyi di kejauhan. Angin masih bergerak melewati pepohonan tua. Sungai masih mengalir dengan ritme yang sama.

Namun di antara semua itu—

ada sesuatu yang hilang.

Atau mungkin…

sesuatu sedang berubah.

Grachius berdiri di depan gubuk.

Tubuhnya tegak.

Pakaiannya sederhana seperti biasa, namun pedang pendek dan beberapa perlengkapan kecil kini tergantung di pinggangnya. Rambut putih panjangnya yang diikat ke belakang bergerak pelan tertiup angin pagi.

Ia tidak terlihat seperti seseorang yang akan berlatih.

Ia terlihat seperti seseorang yang… akan pergi.

Purus berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Diam.

Mengamati.

Tatapannya jatuh pada punggung Grachius yang kini jauh lebih lebar dibanding bertahun-tahun lalu.

“...kau mau ke mana?”

Suara Purus rendah.

Tidak menahan.

Tidak curiga.

Hanya bertanya.

Grachius tidak langsung menjawab.

Ia mengangkat tangannya perlahan, menunjuk ke arah jauh di balik hutan.

Sebuah tebing tinggi samar terlihat di kejauhan, berdiri menghadap langit luas.

“Aku ingin membuat makam.”

Hening sesaat.

“Untuk ayah dan ibuku.”

Angin berhembus pelan melewati mereka.

Purus menatap Grachius beberapa saat.

Lalu mengangguk kecil.

“Baik.”

Tidak ada larangan.

Tidak ada nasihat.

Karena Purus tahu—

beberapa langkah tidak bisa diwakili siapa pun.

Grachius mulai berjalan.

Sendiri.

Langkahnya tenang, tidak terburu-buru.

Namun tidak ragu.

...—...

Hutan terasa berbeda hari itu.

Cahaya matahari jatuh di antara pepohonan seperti biasanya, namun terasa lebih pucat. Udara pagi yang sejuk menyentuh kulitnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Grachius berjalan melewati jalur-jalur yang telah ia kenal sejak kecil.

Sungai.

Pohon besar tempat ia pernah memanjat.

Batu-batu tempat ia berlatih meditasi.

Semuanya terasa dekat.

Namun juga jauh.

Setiap langkahnya terasa seperti meninggalkan sesuatu.

Tidak berat.

Namun nyata.

Ia tidak berbicara.

Tidak berpikir terlalu keras.

Hanya berjalan.

Dan entah kenapa—

alam di sekitarnya terasa diam.

Bukan sunyi kosong.

Melainkan seperti… memperhatikan.

Daun-daun bergoyang pelan ketika ia lewat.

Angin bergerak mengikuti arah langkahnya.

Bahkan suara burung terasa lebih jauh dari biasanya.

Perjalanan itu tidak singkat.

Namun Grachius tidak merasa lelah.

Ketika akhirnya pepohonan mulai menipis, langit terbuka di hadapannya.

Tebing itu luas.

Tanahnya dipenuhi rumput pendek yang bergerak perlahan tertiup angin. Di ujungnya, dunia terbentang tanpa batas—hutan, pegunungan jauh, dan langit yang begitu besar hingga terasa menelan segalanya.

Grachius berhenti.

Matanya mengamati tempat itu perlahan.

Lalu mengangguk kecil.

“...tempat ini cukup.”

Suaranya hampir tenggelam oleh angin.

Ia mulai bekerja.

Tanpa Qi.

Tanpa teknik.

Hanya dengan tangannya sendiri.

Grachius mengumpulkan batu-batu besar dari sekitar tebing. Membawanya satu per satu. Menyusunnya perlahan dengan ketelitian yang tenang.

Lalu kayu.

Dipotong.

Dibentuk.

Tidak ada tergesa.

Setiap gerakan terasa… penuh makna.

Matahari bergerak perlahan di langit.

Dan Grachius terus bekerja dalam diam.

Tangan yang pernah memegang senjata untuk latihan kini menyusun makam.

Tangan yang bisa membelah air kini membersihkan tanah dengan hati-hati.

Tidak ada ekspresi besar di wajahnya.

Namun tatapannya… lembut.

Ketika semuanya selesai—

dua makam sederhana berdiri berdampingan.

Tidak megah.

Tidak indah.

Hanya batu dan kayu.

Namun cukup.

Di depan masing-masing makam berdiri nisan sederhana.

Tanpa nama.

Karena Grachius sadar—

ia bahkan tidak benar-benar mengenal mereka.

Ia berdiri diam di depan kedua makam itu.

Angin bergerak pelan di sekitar tebing.

Matahari mulai turun sedikit.

Lalu perlahan—

Grachius berlutut.

Tidak ada doa yang rumit.

Tidak ada ritual.

Hanya keheningan.

Beberapa saat, ia hanya menatap kedua makam itu.

Kemudian—

“Aku tidak pernah mengenal kalian.”

Suaranya rendah.

Tenang.

“Aku tidak tahu wajah kalian.”

Angin berhembus pelan melewati rambutnya.

“Aku juga tidak tahu suara kalian.”

Tatapannya sedikit turun.

“Bahkan kenangan tentang kalian pun… tidak ada.”

Hening.

Namun ia melanjutkan.

“Namun anehnya…”

Jari-jarinya perlahan mengepal di atas lututnya.

“…aku tetap merasa terhubung.”

Tidak ada air mata.

Tidak ada suara bergetar.

Justru karena ketenangan itu—

kata-katanya terasa lebih berat.

Grachius mengangkat sedikit kepalanya.

“Ayah…”

Untuk pertama kalinya, ia menyebutnya.

“Dan ibu…”

Matanya menatap kedua makam itu dalam diam panjang.

“Kalian tidak seperti mereka.”

Angin berhenti.

Perlahan—

suasana berubah.

Bukan drastis.

Namun terasa.

Udara menjadi lebih berat.

Tatapan Grachius perlahan berubah.

Tidak lagi hanya duka.

Ada sesuatu yang lebih dingin.

Lebih dalam.

“Mereka membunuh kalian.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Tenang.

Namun berat.

Grachius berdiri perlahan.

Tatapannya naik—

langsung ke langit.

Dan untuk pertama kalinya—

ia menatap langit bukan dengan rasa ingin tahu.

Melainkan permusuhan.

“Aku akan membalasnya.”

Suaranya tetap tenang.

Namun udara di sekitarnya mulai bergetar tipis.

“Aku akan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama.”

Tidak ada ledakan Qi.

Tidak ada api hitam.

Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih mengerikan.

Karena kali ini—

Grachius sadar sepenuhnya.

“Aku akan menghancurkan mereka.”

Langit meredup sedikit.

Awan bergerak perlahan di atas tebing.

Angin yang sebelumnya lembut kini terasa dingin.

Seolah dunia…

mendengar sumpah itu.

Grachius tetap berdiri.

Tatapannya tidak bergeser dari langit.

Dan jauh di dalam dirinya—

sesuatu yang gelap itu…

bergerak pelan.

Bukan liar seperti sebelumnya.

Melainkan… bangun.

...—...

Di kejauhan, dari balik pepohonan—

Purus berdiri.

Ia tidak mendekat.

Tidak mengganggu.

Ia hanya mengamati.

Tatapannya jatuh pada sosok Grachius yang berdiri di depan dua makam sederhana.

Dan untuk pertama kalinya—

Purus benar-benar melihat arah jalan anak itu.

Bukan lagi kemungkinan.

Bukan lagi dugaan.

Melainkan kepastian.

“...seekor macan.”

Gumamnya pelan.

“Yang ekornya diinjak.”

Angin bergerak melewati jubahnya.

Tatapan Purus perlahan naik ke langit yang mulai berubah gelap.

Dan ia tahu—

macan itu kini mulai berburu.

Bukan demi kekuasaan.

Bukan demi dunia.

Melainkan demi balas dendam.

Dan ketika makhluk seperti itu mulai bergerak—

darah akan mengikuti.

Perang belum dimulai.

Langit masih berdiri.

Para dewa masih duduk di singgasana mereka.

Namun takdir—

sudah bergerak.

Dan jauh di atas sana—

sesuatu mulai menyadari bahwa kehancuran mereka…

mungkin telah lahir.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!