Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Pagi itu terasa lebih hening dari biasanya.
Tidak ada latihan. Tidak ada suara kayu beradu. Tidak ada instruksi singkat dari Purus.
Grachius berdiri di depan gubuk.
Sudah siap.
Bukan untuk bertarung.
Tapi untuk pergi.
Purus berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Menatap tanpa bertanya.
Namun tetap… bertanya.
“…kau mau ke mana?”
Grachius tidak langsung menjawab.
Ia mengangkat tangannya.
Menunjuk ke arah kejauhan—
ke arah tebing yang terlihat samar di balik pepohonan.
“Ke sana.”
Purus mengikuti arah itu dengan matanya.
Ia tahu tempat itu.
Tidak jauh.
Tapi cukup terpisah.
“…untuk apa?”
Sunyi sejenak.
Grachius menarik napas pelan.
“…aku mau membuat makam.”
Angin berhenti.
“Untuk ayah… dan ibuku.”
Suara itu tidak bergetar.
Tidak tinggi.
Namun… dalam.
Purus tidak berkata apa-apa.
Hanya mengangguk pelan.
Itu sudah cukup.
Grachius berjalan.
Langkahnya stabil.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Seperti seseorang yang sudah tahu ke mana ia pergi.
Hutan membiarkannya lewat.
Daun-daun berguguran pelan.
Angin hanya mengikuti… tidak menghalangi.
Beberapa waktu kemudian—
ia sampai.
Tebing itu menghadap ke hamparan luas.
Langit terbuka.
Angin berhembus lebih bebas.
Tempat yang sunyi…
tapi tidak terasa sempit.
Grachius berdiri di sana.
Menatap sekeliling.
Untuk beberapa saat… ia tidak bergerak.
Seolah memastikan—
bahwa ini tempat yang tepat.
Lalu—
ia mulai.
Ia mengumpulkan batu.
Satu per satu.
Tidak terburu-buru.
Tidak asal.
Ia memilih.
Menyusun.
Menumpuk.
Dua tempat.
Berdampingan.
Kemudian ia mencari kayu.
Memotongnya.
Membentuknya sederhana.
Dua nisan.
Ia menancapkannya di depan tumpukan batu.
Tanpa nama.
Tanpa tulisan.
Namun… cukup.
Angin berhembus pelan.
Membawa suara yang hampir tidak terdengar.
Grachius berdiri di depan dua makam itu.
Untuk beberapa saat—
ia hanya diam.
Lalu—
ia berlutut.
Kepalanya tertunduk.
Rambut panjangnya jatuh ke depan.
Menutupi wajahnya.
“…aku tidak pernah mengenal kalian.”
Suaranya pelan.
Hampir seperti bisikan.
“…tapi aku tahu… kalian ada.”
Sunyi.
“…aku tidak tahu seperti apa kalian.”
“…tidak tahu suara kalian.”
“…tidak tahu wajah kalian.”
Tangannya mengepal pelan.
“…tapi aku tahu… kalian bukan seperti mereka.”
Angin berhembus lebih kencang.
“…semoga kalian tenang.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih tajam.
“…aku akan membalasnya.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada emosi meledak.
Hanya janji.
Dan itu lebih berat dari apa pun.
Grachius perlahan mengangkat kepalanya.
Matanya terbuka.
Tatapannya tidak lagi sama.
Ia berdiri.
Perlahan.
Lalu—
ia menatap ke atas.
Ke langit.
Ke arah yang sama—
di mana semua itu berasal.
Tatapannya tajam.
Diam.
Namun… mengunci.
Seolah ia sudah menemukan targetnya.
Seolah jarak—
tidak lagi berarti.
"Bersiaplah para dewa bajingan... Aku pasti akan memberikan neraka paling mengerikan pada kalian."
"... akan kuberikan kematian paling menyakitkan."
"Itu janji ku."
"Pasti..."
Angin berhenti.
Dan di atas sana—
sesuatu terasa.
Tidak terlihat.
Tidak terdengar.
Namun… sadar.
Bahwa seseorang di bawah—
baru saja…
menyatakan perang.
Grachius tidak berkata apa-apa lagi.
Tidak perlu.
Karena janji itu—
sudah cukup.
Dan langit—
telah mendengarnya.
Di sisi lain—
Purus menatap Grachius dari kejauhan.
Ia menunggu.
Menunggu jalan apa yang akan diambil oleh muridnya.
Jika Grachius memilih jalan kehancuran, maka itu tidak akan bisa dihentikan lagi.
Para dewa telah menginjak ekor macan.
Dan macan itu akan memburu mereka.
Satu persatu.
Tanpa ampun.
Para dewa akan merasakan ketajaman taring macan itu.