Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Hari ujian akhirnya selesai. Kayla menarik napas panjang saat bel pulang berbunyi. Ia merasa lega, meskipun tidak yakin dengan hasilnya.
"Semoga aja gak jelek-jelek amat…" gumamnya pelan.
Beberapa hari kemudian, hasil ujian dibagikan. Suasana kelas terasa tegang. Semua siswa menunggu dengan perasaan masing-masing.
"Ibu akan umumkan peringkat kalian," kata guru di depan kelas.
Kayla mulai merasa gugup. Tangannya saling menggenggam.
"Peringkat pertama…"
Satu per satu nama dipanggil. Kayla hanya menunduk, tidak berharap banyak.
"...peringkat sembilan, Kayla Azurra."
Kayla langsung mengangkat kepala. Matanya membesar, seakan tidak percaya.
"Aku… peringkat sembilan?" bisiknya.
Dari 12 siswa, Kayla berada di posisi 9. Bukan yang terbaik, tapi juga bukan yang terburuk.
Teman di sampingnya tersenyum, "Lumayan, Kay!"
Nadia Putri teman sebangku Kayla yang mendapatkan juara 3 di kelas, berusaha untuk menyemangati dan mendukung Kayla. Kayla hanya tersenyum kecil.
Sepulang sekolah, Kayla berjalan sendirian. Langkahnya pelan…
tapi tiba-tiba air matanya jatuh. Ia menangis. Bukan karena sedih sepenuhnya. Bukan juga karena bahagia sepenuhnya. Perasaannya campur aduk.
"Aku udah berusaha… tapi masih segini…" ucapnya pelan sambil menghapus air mata.
Ia teringat bagaimana dulu ia bahkan tidak mengerjakan PR sama sekali. Tapi sekarang, ia sudah mencoba belajar. Namun hasilnya belum seperti yang ia harapkan. Tangisnya semakin pecah.
Saat Kayla masih melangkah menuju rumah sambil mengusap matanya, seseorang memanggilnya. Tante Desi seorang tetangga yang berada tepat di samping rumah Kayla.
"Kayla, hari ini dapat juara berapa?" Tanya tante Desi.
"Juara 9 dari 12 siswa" jawab Kayla
"Wah banyak yah juaranya, hehee..." ujar tante Desi
Ledekan tante Desi yang sebenarnya mau menghibur terdengar seperti hinaan bagi Kayla.
Sesampainya di rumah, Mama melihat Kayla yang langsung masuk kamar.
"Kayla?" panggil Mama sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban. Saat pintu dibuka, Mama melihat Kayla duduk di pojok tempat tidur sambil menangis.
"Kenapa, Nak?" tanya Mama lembut.
Kayla menyerahkan kertas hasil ujian dengan tangan gemetar.
"Aku cuma peringkat sembilan, Ma…" ucapnya sambil terisak.
Mama duduk di samping Kayla, lalu memeluknya.
"Kayla… Mama bangga," kata Mama pelan.
Kayla terdiam.
"Lho? Tapi… nilainya biasa aja…" jawab Kayla bingung.
Mama tersenyum.
"Dulu Kayla bahkan tidak mau belajar. Sekarang Kayla sudah berusaha. Itu yang paling penting."
Kayla perlahan berhenti menangis.
"Perubahan itu tidak langsung besar, tapi sedikit demi sedikit," lanjut Mama.
Kayla masih memegang kertas hasil ujiannya. Tangannya gemetar.
"Aku cuma peringkat sembilan, Ma… sembilan…" ulangnya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, air matanya jatuh semakin deras.
"Aku udah belajar! Aku udah capek-capek belajar!" teriak Kayla.
Mama sedikit terkejut. Kayla berdiri, lalu melempar kertas ujiannya ke lantai.
"Percuma! Tetap aja jelek!" katanya sambil menangis.
Napasnya mulai tidak teratur. Ia mengusap air mata dengan kasar.
"Aku gak mau sekolah lagi! Aku gak mau belajar lagi!" teriaknya lagi.
Kayla mulai menangis sambil menghentakkan kakinya. Tangannya mengepal, wajahnya memerah.
Mama mencoba mendekat, "Kayla… tenang dulu, Nak—"
"TIDAK!" potong Kayla dengan suara keras.
Ia menjauh sedikit, masih menangis.
"Kenapa aku gak bisa kayak yang lain? Kenapa mereka pintar semua? Aku udah coba… tapi tetap aja!" ucapnya penuh emosi.
Suasana kamar menjadi hening sesaat, hanya terdengar suara tangis Kayla. Mama tidak langsung menasihati. Ia hanya duduk perlahan di dekat Kayla.
Beberapa menit berlalu…
Tangis Kayla mulai mereda, meskipun sesekali masih terisak. Mama kemudian berkata dengan suara lembut,
"Kayla… marah boleh. Sedih juga boleh."
Kayla tidak menjawab, hanya menunduk.
"Tapi jangan bilang usaha kamu percuma," lanjut Mama.
Kayla menggigit bibirnya. Mama mengambil kertas yang tadi terjatuh, lalu menunjukkannya kembali.
"Lihat ini… ini bukan bukti kamu gagal. Ini bukti kamu mulai."
Kayla perlahan menatap kertas itu. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini lebih tenang.
"Dulu kamu bahkan tidak mau belajar sama sekali. Sekarang kamu sudah berusaha, walaupun hasilnya belum sempurna."
Kayla menarik napas dalam.
"Tapi aku pengen lebih, Ma…" ucapnya lirih.
Mama tersenyum kecil, lalu mengusap kepala Kayla.
"Itu bagus. Artinya kamu sudah punya kemauan."
Kayla terdiam. Kayla masih terdiam, memeluk lututnya. Sisa tangisnya masih terdengar pelan. Mama memperhatikannya sejenak, lalu tersenyum kecil seolah mendapat ide.
"Kayla…" panggil Mama lembut.
Kayla tidak langsung menjawab.
"Gimana kalau kita keluar sebentar?" tanya Mama.
Kayla mengangkat sedikit wajahnya, matanya masih merah.
"Keluar?" tanyanya pelan.
"Iya… Mama pengen beli sesuatu buat Kayla."
"Apa?" tanya Kayla, masih dengan suara lemah.
Mama tersenyum, "Es krim favorit Kayla."
Kayla terdiam beberapa detik. Biasanya, ia akan langsung semangat. Tapi kali ini, ia hanya menunduk lagi.
"Aku gak mau…" ucapnya pelan.
Mama tidak menyerah.
"Yang cokelat… sama topping warna-warni," lanjut Mama menggoda.
Kayla mulai melirik sedikit.
"Ditambah yang dingin banget… yang suka bikin Kayla senyum itu loh," kata Mama lagi.
Sudut bibir Kayla mulai bergerak sedikit, meskipun masih menahan sedih. Mama mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kita gak harus langsung bahagia hari ini," kata Mama pelan
"tapi kita bisa mulai dengan hal kecil." lanjut Mama.
Kayla menatap Mama.
"Kayla boleh sedih… tapi Kayla juga boleh istirahat sebentar dari rasa sedih itu."
Kayla terdiam, lalu mengusap sisa air matanya.
"Benar boleh?" tanyanya lirih.
Mama mengangguk. Akhirnya, Kayla berdiri perlahan.
"Yaudah… tapi cuma sebentar ya, Ma…" katanya masih sedikit cemberut.
Mama tersenyum hangat.
"Iya, cuma sebentar."