NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - Langit Yang Sepi

Langit malam menggantung rendah, seolah ingin menyentuh ujung kota yang dipenuhi lampu-lampu redup. Angin berembus pelan, membawa sisa panas siang yang belum sepenuhnya hilang, menyelusup di antara bangunan tua yang berdiri diam tanpa suara. Dari atas rooftop sebuah gedung yang jarang dikunjungi orang, seorang gadis berdiri sendirian, memandangi jalanan yang mulai lengang dengan tatapan yang sulit ditebak.

Airel Virellia.

Namanya terdengar lembut, hampir seperti sesuatu yang seharusnya dipenuhi kehangatan dan cerita yang menyenangkan. Namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang berbeda, bukan luka yang terbuka, bukan pula kesedihan yang berisik, melainkan ruang kosong yang perlahan tumbuh dan menetap tanpa pernah benar-benar pergi. Ia sudah terbiasa dengan rasa itu, meski tidak pernah benar-benar mengerti sejak kapan semuanya berubah.

Kota di bawahnya terus bergerak seperti biasa, kendaraan berlalu tanpa henti, lampu lalu lintas berganti warna, dan orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Semua terlihat hidup dan terarah, seolah tidak ada satu pun yang tertinggal di tempat yang sama. Hanya dirinya yang masih berdiri di titik itu, seakan lupa bagaimana rasanya melangkah tanpa membawa sesuatu dari masa lalu.

Ia menarik napas dalam, membiarkan udara malam memenuhi dadanya sebelum menghembuskannya perlahan. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk menenangkan pikirannya yang sering berjalan terlalu jauh tanpa arah yang jelas.

“Sudah tujuh tahun… tapi aku masih di sini.”

Kalimat itu keluar begitu saja, seperti kebiasaan yang tidak pernah benar-benar ia sadari. Ia tidak lagi menghitung berapa kali sudah mengucapkannya, karena pada akhirnya angka tidak mengubah apa pun. Namun setiap kali kata-kata itu terucap, selalu ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya, sesuatu yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan meski dirinya terasa tetap di tempat.

Airel memejamkan mata sejenak, membiarkan angin menyapu rambut panjangnya yang tergerai. Beberapa helai jatuh ke wajahnya, tapi ia tidak mengusirnya. Ia membiarkan semuanya terjadi begitu saja, seperti ia membiarkan hari-harinya berlalu tanpa banyak perlawanan.

Dulu, tempat ini bukan hanya miliknya.

Dulu, ada seseorang yang berdiri di sampingnya, mengisi ruang yang sekarang terasa terlalu sunyi.

Ingatan itu datang tanpa peringatan, seperti potongan waktu yang menolak untuk benar-benar hilang. Suara tawa yang ringan, langkah kaki yang selalu mendahului, dan janji sederhana yang diucapkan dengan keyakinan yang tidak pernah ia ragukan. Semuanya masih tersimpan dengan jelas, seolah tidak pernah tersentuh oleh jarak dan waktu.

“Aku bakal balik ke sini. Tunggu aku, ya.”

Suara itu masih terdengar di benaknya, tidak berubah sedikit pun. Airel membuka matanya perlahan, lalu menoleh ke sisi kosong di sebelahnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya udara dingin yang mengisi ruang yang dulu terasa hangat.

Ia tersenyum kecil, bukan karena bahagia, melainkan karena sudah terbiasa dengan perasaan itu.

“Aku masih nunggu, tahu.”

Ia bergumam pelan, lebih seperti berbicara pada kenangan daripada seseorang yang benar-benar bisa mendengar. Kata-kata itu tidak menuntut jawaban, tidak juga mengharapkan sesuatu, hanya sekadar pengakuan bahwa ia masih bertahan di tempat yang sama.

Langkah kakinya bergeser mendekati tepi rooftop, membuat pandangannya terhadap kota menjadi lebih luas. Dari sana, semuanya terlihat lebih jauh dan sedikit asing, seperti dunia yang terus berubah tanpa pernah menoleh ke belakang. Ia pernah yakin bahwa segalanya akan kembali seperti semula, tetapi keyakinan itu perlahan memudar tanpa benar-benar hilang.

Airel mengangkat tangannya, seolah ingin meraih sesuatu di udara yang kosong. Tidak ada yang bisa ia sentuh, tidak ada yang bisa ia genggam, dan akhirnya ia menurunkannya kembali dengan perlahan. Gerakan itu terasa ringan, tetapi meninggalkan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Waktu tujuh tahun seharusnya cukup untuk mengubah banyak hal. Cukup untuk membuat seseorang berhenti menunggu dan mulai berjalan ke arah yang berbeda. Namun ada bagian dalam dirinya yang menolak untuk bergerak, bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Suara langkah kaki dari arah tangga darurat tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian yang selama ini terasa akrab. Bunyinya samar, tetapi cukup jelas untuk membuat Airel menoleh dengan alis yang sedikit berkerut. Tempat ini jarang didatangi orang, apalagi di jam seperti ini, sehingga kehadiran orang lain terasa janggal.

Langkah itu semakin mendekat, perlahan namun pasti, hingga akhirnya berhenti tepat di balik pintu besi yang memisahkan tangga dengan rooftop. Pintu itu terbuka dengan bunyi berdecit yang cukup mengganggu, memperlihatkan cahaya dari dalam yang membentuk siluet seseorang.

Airel memicingkan mata, mencoba mengenali sosok itu dari kejauhan.

Seorang pria.

Posturnya tegap, langkahnya tenang, dan cara ia berdiri seolah tempat ini bukan sesuatu yang asing baginya. Rambutnya sedikit berantakan karena angin, sementara wajahnya masih tertutup bayangan, membuat ekspresinya sulit dibaca.

Airel tidak langsung berbicara. Ada sesuatu yang terasa aneh, bukan hanya karena kehadiran orang asing, tetapi karena perasaan yang muncul tanpa alasan yang jelas. Perasaan itu samar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya tidak nyaman.

Seperti pernah merasakan hal yang sama sebelumnya.

“Tempat ini ternyata belum berubah.”

Suara pria itu akhirnya terdengar, rendah dan tenang, dengan nada yang terasa terlalu akrab di telinga Airel. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, meski ia tidak ingin mengakui alasan di baliknya.

“Jarang ada yang ke sini,” jawab Airel singkat sambil mengalihkan pandangan. “Kalau kamu cari tempat ramai, ini bukan pilihan yang tepat.”

Pria itu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekati pagar pembatas rooftop. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat kehadirannya terasa jelas.

“Justru karena itu aku ke sini.”

Jawaban itu sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang sulit diabaikan. Airel tidak menanggapi, hanya kembali memandang ke arah kota yang terbentang luas di bawah mereka.

“Aku biasa sendiri di sini,” katanya pelan setelah beberapa saat. “Jadi kalau kamu cuma lewat, tidak masalah.”

Pria itu tidak pergi. Ia justru ikut memandang ke arah yang sama, seolah mencoba melihat sesuatu yang selama ini Airel perhatikan.

“Masih sama,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Airel mengernyit sedikit. “Apa yang sama?”

Pria itu menoleh, dan kali ini wajahnya mulai terlihat jelas di bawah pantulan cahaya lampu kota. Tatapan mereka bertemu, dan dalam sekejap, sesuatu di dalam diri Airel terasa bergeser.

Bukan karena ia langsung mengenali siapa pria itu, melainkan karena perasaan yang muncul begitu saja tanpa penjelasan.

Seperti sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang, tetapi tiba-tiba muncul kembali.

“Kamu sering ke sini?” tanya pria itu dengan nada santai, seolah tidak terjadi apa-apa.

Airel mengangguk pelan. “Lumayan sering.”

“Sejak kapan?”

Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi Airel tidak langsung menjawab. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk memilih kata yang tepat, atau mungkin untuk memastikan bahwa jawabannya tidak membawa sesuatu yang terlalu jauh.

“Sudah lama,” ujarnya akhirnya. “Dari sebelum tempat ini jadi sepi.”

Pria itu mengangguk, seolah memahami tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

“Menunggu sesuatu?”

Airel tersenyum tipis, matanya tetap mengarah ke kejauhan.

“Mungkin.”

Jawaban itu menggantung di udara, tidak jelas tetapi cukup untuk menyampaikan sesuatu. Pria itu tidak mendesak, hanya berdiri diam, membiarkan waktu berjalan tanpa gangguan.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang tidak sepenuhnya canggung. Airel merasakan ada perubahan kecil dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah.

“Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa pergi,” katanya, mencoba menjaga jarak. “Tempat ini tidak punya hal istimewa.”

Pria itu menoleh, senyumnya kembali muncul.

“Kamu salah.”

Airel menatapnya, sedikit bingung dengan keyakinan di suaranya.

“Tempat ini punya alasan untuk membuat seseorang kembali.”

Kalimat itu membuat Airel terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, karena ada sesuatu yang terasa terlalu dekat dengan kenyataan yang selama ini ia hindari.

“Orang datang dan pergi,” ucapnya pelan. “Tidak semua kembali.”

Pria itu tidak membantah, tetapi sorot matanya berubah sedikit.

“Kadang yang kembali bukan cuma orangnya.”

Sebelum Airel sempat bertanya lebih jauh, pria itu sudah melangkah mundur.

“Aku harus pergi.”

Airel menatapnya, ada keinginan kecil untuk menahan atau sekadar bertanya lebih banyak. Namun kata-kata itu tidak keluar, seolah tertahan oleh sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pahami.

Pria itu berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak sebelum masuk.

“Sampai jumpa, Airel.”

Langkahnya terhenti.

Nama itu.

Airel tidak pernah menyebutkannya, tidak sekali pun sejak pria itu datang. Namun ia mengucapkannya dengan cara yang terasa begitu familiar.

Airel menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu. Jantungnya berdetak lebih cepat, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak punya jawaban pasti.

Angin kembali berembus, kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia menggenggam ujung bajunya, mencoba menenangkan diri yang mulai goyah.

Tatapannya kembali ke sisi kosong di sampingnya, tempat yang selama ini hanya diisi oleh kenangan.

Namun kali ini, ruang itu terasa berbeda.

Tidak sepenuhnya kosong.

“…kamu siapa?”

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!