Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Riak Cemburu di Ruang Baca dan Masa Lalu yang Mengetuk
Denting lonceng istirahat mengalun, membebaskan para siswa dari kungkungan aksara di papan tulis. Bagi sebagian besar murid laki-laki, ini adalah saatnya bergegas menuju kantin, memperebutkan tempat duduk dan semangkuk soto panas. Namun bagi Jenawa Adraw, rute pelariannya kini telah berubah arah secara mutlak. Langkah kakinya tak lagi menuju kepulan asap rokok di kedai belakang sekolah, melainkan menuju lorong sayap barat yang sunyi.
Ruang perpustakaan menyambut presensinya dengan aroma kertas usang yang kini terasa menenangkan. Bu Tari, sang pustakawati paruh baya, menghentikan aktivitas menyampul bukunya sejenak. Ia membetulkan letak kacamatanya, menatap Jenawa dengan gurat keheranan yang belum sepenuhnya hilang meski ini adalah hari keempat sang mantan panglima berkunjung.
"Selamat siang, Bu Tari," sapa Jenawa sopan, sedikit menundukkan kepala.
"Siang, Nak Jenawa. Mencari bacaan sejarah lagi, atau sekadar mencari... ketenangan?" goda Bu Tari dengan senyum tertahan, matanya melirik ke arah sudut baca dekat jendela.
Jenawa terkekeh pelan. "Keduanya, Bu. Keduanya sama-sama tak ternilai harganya."
Pemuda itu melangkah menuju sudut yang dimaksud. Di sana, Sinaca Tina telah duduk dengan keanggunan yang tak pernah pudar. Gadis itu tengah membuka halaman sebuah buku ensiklopedia, namun fokusnya jelas tak berada pada deretan kalimat ilmiah tersebut. Tatkala derit pelan kursi yang ditarik Jenawa terdengar, Sinaca mengangkat wajahnya.
"Kau menghabiskan waktu tiga menit lebih lama dari biasanya untuk tiba di sini, Jenawa," ucap Sinaca, suaranya mengalun datar, namun ada sebersit riak yang tak biasa di matanya.
Jenawa mengambil tempat di seberang gadis itu, menyandarkan lengannya di atas meja. "Aku harus menemui wali kelas untuk menyerahkan tugas yang sempat tertunda minggu lalu. Apakah keterlambatan tiga menitku membuatmu merasa kehilangan, Sinaca?"
Alih-alih membalas godaan itu dengan rona merah seperti biasanya, Sinaca justru menundukkan pandangannya kembali ke buku. Gadis itu membalik halaman dengan sedikit kasar.
"Aku tak merasa kehilangan. Hanya saja, aku berasumsi kau mungkin tertahan oleh sapaan beberapa siswi kelas sebelas di koridor tadi," balas Sinaca lugas. Bahasanya tertata rapi, namun nadanya sedingin es.
Jenawa mengerutkan kening, bingung. Ia memutar tubuhnya sedikit, menoleh ke arah jendela kaca perpustakaan yang mengarah ke lorong. Di luar sana, sekelompok siswi kelas sebelas memang tengah berjalan melintas, dan beberapa di antara mereka tertangkap basah sedang mencuri pandang ke arah Jenawa sembari berbisik dan tertawa kecil.
Sebagai seorang mantan panglima jalanan yang memiliki perawakan tegap dan paras rupawan, daya tarik Jenawa di mata kaum hawa sekolah ini tak pernah pudar. Kini, setelah ia menanggalkan aura beringasnya dan beralih rupa menjadi pemuda yang lebih tenang, pesonanya justru kian memikat banyak pasang mata.
Jenawa kembali memutar tubuhnya menghadap Sinaca. Sebuah senyum miring yang teramat jenaka perlahan terukir di bibirnya tatkala ia menyadari apa yang tengah terjadi pada gadis di hadapannya.
"Sinaca Tina," panggil Jenawa lembut, mencondongkan wajahnya sedikit ke depan. "Apakah telingaku baru saja menangkap nada cemburu dari kalimat bakumu barusan?"
Sinaca seketika mendongak. Mata kecokelatannya membelalak tipis, dan rona merah kini menjalar cepat hingga ke telinganya. Bukan karena tersipu, melainkan karena tertangkap basah.
"Jangan menyimpulkan sesuatu di luar logika, Jenawa," elak Sinaca cepat, merapatkan bukunya. "Aku tak memiliki alasan empiris untuk merasa cemburu. Aku hanya mengutarakan probabilitas atas keterlambatanmu."
"Logika tak selalu bisa menjabarkan isi hati, Sinaca," tawa Jenawa pelan, tak ingin mengusik keheningan perpustakaan namun tak mampu menahan kegembiraannya. "Biarkan mereka menatap dari kejauhan. Bagiku, mereka hanyalah kerumunan tanpa nama. Sementara kau... kau adalah satu-satunya alasan mengapa aku memilih sudut sunyi ini daripada hiruk-pikuk di luar sana."
Mendengar deklarasi yang diucapkan dengan kesungguhan mutlak itu, pertahanan Sinaca perlahan luluh. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum kelegaan yang memaksa keluar. Perasaan asing bernama 'cemburu' ini rupanya amat menyiksa, namun penawar yang Jenawa berikan sukses menyejukkan hatinya kembali.
Namun, kedamaian di sudut perpustakaan itu tak berlangsung lama.
Pintu perpustakaan kembali terbuka. Kali ini, bukan siswi kelas sebelas yang mengagumi dari jauh, melainkan presensi seorang pemuda yang membawa hawa masa lalu. Agam, pimpinan SMA Pelita yang beberapa hari lalu takluk di pabrik tua, melangkah masuk. Ia tak mengenakan seragam sekolahnya, melainkan sebuah jaket kulit hitam. Luka memar di wajahnya masih terlihat jelas.
Bu Tari yang melihat sosok asing dari sekolah lain masuk ke wilayahnya seketika berdiri dengan raut cemas. Namun Agam mengabaikan sang pustakawati, langkah kakinya lurus mengarah ke meja tempat Jenawa dan Sinaca duduk.
Insting jalanan Jenawa meronta. Ia segera bangkit berdiri, menempatkan tubuh tegapnya di antara Agam dan Sinaca. Wajahnya yang semula jenaka dan penuh kelembutan, kini kembali mengeras bagaikan pahatan batu karang.
"Ini bukan wilayahmu, Agam," desis Jenawa, suaranya rendah namun memancarkan ancaman yang mematikan. "Dan perpustakaan bukanlah tempat bagi orang yang tak tahu cara mengeja kata 'damai'."
Agam menghentikan langkahnya tepat satu meter di hadapan Jenawa. Ia menatap mantan lawannya itu, lalu melirik ke arah Sinaca yang masih duduk di kursinya dengan raut wajah tegang.
"Aku tak datang untuk mencari perkara, Jenawa," ucap Agam. Nada suaranya terdengar ganjil—bukan nada arogansi yang biasa ia lontarkan, melainkan nada keterpaksaan.
Jenawa tak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun. "Lalu untuk apa kau membawa wajah hancurmu itu ke mari?"
Agam merogoh saku jaket kulitnya. Jenawa bersiap untuk menangkis jika pemuda itu mengeluarkan senjata kotornya lagi, namun yang dikeluarkan Agam hanyalah sebuah saputangan kain yang telah kotor oleh noda darah kering.
"Aku datang... untuk mengakui kekalahan mutlakku," ucap Agam seraya melemparkan saputangan kotor itu ke atas meja. "Kabar tentang kau yang mundur dari barisan dan menggagalkan tawuran di simpang tiga dengan pasar malam... itu telah sampai ke telingaku. Kau menang bukan hanya karena tinjumu lebih keras, Wa. Kau menang karena otakmu selangkah lebih maju dariku."
Jenawa tak merespons. Ia menatap Agam dengan saksama, mencari celah kebohongan.
"Pelita tak akan lagi mengusik Bangsa. Itu janjiku," lanjut Agam, rahangnya mengatup rapat seolah kalimat itu teramat berat untuk diucapkan. Ia kemudian menatap Sinaca sejenak. "Dan kau benar. Menyasar orang yang tak bersalah adalah tindakan seorang pengecut. Kau beruntung memiliki pelindung sepertinya, Nona."
Tanpa menunggu balasan, Agam membalikkan badan dan melangkah keluar dari perpustakaan, meninggalkan Jenawa dan Sinaca yang terdiam dalam kebisuan.
Jenawa menghela napas panjang, mengendurkan otot-otot tubuhnya yang menegang. Ia baru saja akan berbalik menatap gadisnya, tatkala ia menyadari Sinaca tengah menatap tajam ke arah saputangan kotor yang dilemparkan Agam tadi.
Itu bukan sembarang saputangan. Itu adalah saputangan milik Sinaca, yang sempat Jenawa kembalikan dalam keadaan bersih dan wangi beberapa hari lalu. Saputangan yang sama yang terjatuh dari saku Jenawa saat perkelahian di pabrik tua, dan dirampas oleh Agam.
Sinaca menatap noda darah kering di kain putih tersebut. Darah Jenawa. Ingatan tentang betapa brutalnya dunia yang pernah digeluti pemuda itu kembali berkelebat di benaknya, menghancurkan ketenangan yang baru saja mereka bangun.
"Sinaca..." panggil Jenawa pelan, menyadari perubahan drastis pada raut wajah gadis itu.
Sinaca bangkit dari kursinya. Tak ada kalimat baku. Tak ada teguran. Hanya ada tatapan sarat akan trauma dan kekecewaan yang kembali menganga. Ia mengemasi buku-bukunya dengan tangan gemetar.
"Aku... aku harus kembali ke kelas," lirih Sinaca, melangkah tergesa melewati Jenawa tanpa berani menatap wajah pemuda itu, meninggalkan sang mantan panglima sendirian bersama sisa-sisa kelam masa lalunya yang menolak untuk dilupakan.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪