Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 十六
Matahari sudah meninggi, menyinari gedung pencakar langit Mo Group yang megah, namun laboratorium herbal di lantai eksekutif itu tampak sangat sunyi dari aktivitas medis yang biasanya padat. Tidak ada suara dentuman lumpang batu yang sedang menumbuk akar kering, tidak ada kepulan uap dari kuali obat yang aromanya menusuk hidung. Sebaliknya, yang terdengar hanyalah suara musik remix yang berulang-ulang dengan dentuman bas yang aneh, diselingi suara tawa kecil yang terdengar sangat... malas.
Di atas sofa beludru hijau zamrud yang sangat empuk, Xi’er sedang tengkurap dengan posisi yang sangat tidak mencerminkan wibawa seorang Tabib Agung. Kakinya diayun-ayunkan ke udara dengan riang. Matanya terpaku sepenuhnya pada benda tipis bercahaya di tangannya, kotak sihir pemberian Mo Yan yang kini menjadi belahan jiwanya. Sejak Vania mengajarinya cara "menggeser mimpi" atau yang disebut orang modern sebagai scrolling, Xi'er seolah-olah telah berpindah ke dimensi lain yang lebih menghibur daripada sekadar meracik jamu pahit.
"Hahaha! Lihat kucing ini, Vania! Bagaimana bisa dia memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakek penjaga gerbang di desaku? Sangat ketus tapi lucu!" seru Xi'er tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar. "Dan wanita ini... kenapa dia terus-menerus menari-nari sambil menunjuk-nunjuk tulisan yang melayang di udara? Apa dia sedang merapal mantera pemanggil hujan atau sedang memanggil roh makanan?"
Vania, yang duduk di sudut ruangan sambil mencoba fokus pada laporan inventaris, hanya bisa menghela napas panjang untuk yang ke sekian kalinya. "Nona Xi'er, itu namanya konten video pendek. Dan wanita itu hanya sedang memberikan tips cara memakai bedak yang benar, bukan sedang merapal mantera apa pun."
Xi'er mendengus, jempolnya kini sudah sangat lincah menggeser layar ke atas, mencari kejutan baru dari algoritma yang seolah tahu apa yang ia suka. "Orang kota benar-benar ajaib. Mereka menghabiskan waktu dengan bergoyang di depan kotak kaca demi dilihat orang asing. Tapi... aku akui, aku tidak bisa berhenti melihatnya. Rasanya jempolku ini sudah dirasuki oleh jin penarik layar yang sangat kuat!"
Saking asyiknya dengan dunia digital, Xi'er benar-benar melupakan kewajibannya. Di sudut ruangan, beberapa tunas Ginseng salju yang sangat langka, yang seharusnya disiram dengan air embun buatan setiap tiga jam, kini mulai terkulai lemas dengan ujung daun yang menguning. Debu halus mulai menumpuk di atas meja laboratoriumnya yang biasanya sangat steril. Sang Tabib Agung yang legendaris kini telah resmi berubah menjadi budak FYP.
Keasyikan Xi'er tiba-tiba terganggu ketika pintu laboratorium terbuka dengan suara desisan otomatis yang halus. Mo Yan masuk dengan langkah tegap, auranya yang dominan seketika memenuhi ruangan. Namun, keningnya langsung berkerut dalam saat melihat suasana ruangan yang berantakan dan aroma jamu yang digantikan oleh aroma parfum ruangan yang terlalu manis.
"Xi'er." panggil Mo Yan dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara musik jedag-jedug dari ponsel Xi'er yang volumenya cukup keras.
Mo Yan mendekat, berdiri tepat di samping sofa. Ia melihat Xi'er yang bahkan tidak menyadari kedatangannya karena terlalu fokus menonton video resep "Ayam Geprek" dengan level pedas yang gila. Tanpa banyak bicara, Mo Yan mengulurkan tangannya dan dengan satu gerakan cepat, ia mengambil ponsel itu dari tangan Xi'er.
"Sudah lewat satu jam dari jadwal pemeriksaan denyut nadiku, dan kau malah asyik menonton orang menghancurkan ayam dengan cabai?" sindir Mo Yan sambil menatap layar ponsel itu dengan tatapan datar.
Xi'er tersentak kaget, ia hampir terjatuh dari sofa karena terkejut. "Tuan kaku! Kembalikan jimatku! Aku sedang melakukan riset pengetahuan penting! Aku baru saja menemukan rahasia bahwa ayam bisa diolah dengan cara dihancurkan menggunakan batu dan diberi bumbu merah yang sangat menggoda selera! Ini adalah ilmu kuliner tingkat tinggi!"
"Itu namanya ayam geprek, dan kau bisa memesannya lewat aplikasi dalam sepuluh menit, tidak perlu menontonnya sampai matamu merah seperti itu." sahut Mo Yan sambil meletakkan ponsel itu di atas rak buku yang paling tinggi, jauh dari jangkauan tangan Xi'er yang pendek. "Sekarang lihat tanamanmu. Jika mereka bisa bicara, mereka pasti sudah menuntutmu ke pengadilan karena penelantaran berat."
Xi'er melirik tanamannya dengan wajah sedikit merasa bersalah, namun harga dirinya melarangnya untuk mengaku kalah. "Mereka sedang bermeditasi dalam diam! Mereka tidak butuh air setiap saat, mereka sedang menyerap energi 'AC' di gedungmu ini untuk memperkuat khasiatnya!"
Mo Yan hanya bisa memijat pelipisnya, merasa kepalanya mendadak pening menghadapi logika ajaib gadis ini. "Belajarlah hal yang lebih berguna Xi'er. Vania bilang kau mulai tertarik untuk mencoba dapur di lantai ini?"
Mata Xi'er seketika berbinar terang, kemarahannya soal ponsel langsung hilang. "Ah, benar! Aku melihat kotak putih besar yang bisa membuat makanan menjadi panas dalam sekejap tanpa api sedikit pun. Sangat hebat! Aku mencobanya pagi tadi untuk menghangatkan ramuan herbalmu yang sudah dingin, tapi... kotak itu mulai mengeluarkan percikan petir kecil dan suara ledakan seperti meriam bambu."
Mo Yan membelalakkan matanya. "Kau memasukkan mangkuk logam ke dalam microwave?"
"Aku memasukkan sendok perak penyaring obatku." jawab Xi'er dengan wajah polos tanpa rasa berdosa. "Aku pikir kotak sihir itu butuh persembahan benda logam yang berharga agar roh apinya mau bekerja lebih cepat."
"Itu bukan kotak persembahan, itu teknologi gelombang mikro! Jika kau terus melakukannya, kau akan meledakkan seluruh lantai eksekutif ini Xi'er!" Mo Yan menghela napas berat, menyadari bahwa membawa Xi'er ke dunianya adalah keputusan yang sangat menghibur sekaligus sangat berbahaya bagi keberlangsungan gedung miliknya.
Sore harinya, karena merasa bertanggung jawab agar kantornya tidak hancur lebur, Mo Yan memutuskan untuk mengajari Xi'er secara langsung tentang fungsi benda-benda modern. Mereka berjalan berkeliling lantai seperti sepasang guru dan murid yang sangat kontras.
"Ini namanya kulkas, atau kita bisa menyebutnya kotak dingin. Gunanya untuk menjaga bahan makanan dan obat-obatan tetap segar dalam waktu lama." jelas Mo Yan sambil membuka pintu kulkas double-door yang besar.
Xi'er tidak hanya melihat, ia justru memasukkan setengah kepalanya ke dalam kulkas, menghirup udara dinginnya dengan ekspresi takjub yang luar biasa. "Wah! Luar biasa! Apakah ada naga es kecil yang kau kurung di dalam sini? Dinginnya sangat murni dan segar, hampir sama dengan hawa dingin di gua es puncak gunung tempatku mencari bunga salju dulu!"
"Tidak ada naga di sana Xi'er. Hanya ada kompresor dan gas pendingin." sela Mo Yan sambil menarik kerah baju Xi'er agar keluar dari kulkas sebelum kepalanya membeku.
"Lalu ini apa? Alat untuk membuat racun cair?" Xi'er menunjuk ke arah mesin kopi otomatis yang sedang mengeluarkan uap panas dan aroma pahit yang tajam.
"Itu mesin kopi. Minuman yang sangat penting bagi orang kota agar tetap terjaga saat bekerja."
Xi'er penasaran dan mencoba mencicipi sedikit sisa kopi hitam tanpa gula yang ada di sebuah cangkir. Seketika wajahnya mengkerut hebat, dan ia langsung menyemburkannya kembali ke wastafel. "Pahit! Ini benar-benar empedu raksasa yang dicairkan! Bagaimana mungkin orang kota meminum racun hitam ini setiap hari dengan wajah bahagia? Pantas saja wajah kalian semua kaku dan kurang senyum seperti mayat hidup!"
Mo Yan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Namun, di balik semua kekonyolan itu, Mo Yan menyadari satu hal yang luar biasa. Xi'er belajar dengan sangat cepat. Gadis itu mulai mengerti cara kerja lampu sensor yang menyala saat ia lewat, ia sudah tidak lagi berteriak saat masuk ke lift, dan ia bahkan mulai bisa mengetik pesan singkat di ponsel meskipun gaya bahasanya masih sangat formal seperti titah seorang ratu.
Di sela-sela proses belajarnya, Xi'er sering kali "keceplosan" membandingkan teknologi tersebut dengan kehidupan lamanya. "Kalian punya tangga berjalan yang bergerak sendiri, tapi kami punya mantera peringan tubuh yang bisa membuat kita melompat antar atap rumah." atau "Kalian punya lampu neon yang terang, tapi kami punya mustika kuno yang cahayanya bisa menerangi satu desa."
Setiap kali Xi'er bercerita seperti itu, Mo Yan selalu mendengarkan dengan seksama, menyerap setiap informasi tentang "dunia" yang pernah ditinggali gadis itu. Baginya, Xi'er adalah teka-teki paling indah yang pernah ia temui.
"Tuan kaku." panggil Xi'er saat mereka kembali ke dalam laboratorium.
"Hmm?"
"Terima kasih sudah sabar mengajariku cara hidup di dunia penuh sihir aneh ini. Tapi... bolehkah aku meminta satu hal kecil?"
"Apa itu?" tanya Mo Yan dengan nada curiga.
Xi'er dengan malu-malu menunjukkan layar ponselnya yang ternyata sudah ia ambil kembali secara diam-diam dari saku jas Mo Yan saat Mo Yan lengah tadi. "Bagaimana cara mematikan suara musik yang sangat cepat ini? Jempolku tidak sengaja menyentuh gambar hati dan sekarang dia terus-menerus bernyanyi 'jedag-jedug' tanpa henti! Kepalaku mulai berdenyut mengikutinya!"
Mo Yan menatap ponsel itu, lalu menatap wajah Xi'er yang tampak panik bercampur malu karena tertangkap basah mencuri kembali ponselnya. Mo Yan tidak bisa menahannya lagi, ia tertawa pelan, sebuah tawa yang sangat lepas dan hangat yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun. Ia mengambil ponsel itu, mematikan suaranya, lalu tanpa sadar mengacak rambut Xi'er dengan sangat lembut.
"Istirahatlah, Tabib Agung. Besok aku akan membelikanmu bahan makanan asli agar kau bisa mencoba memasak tanpa meledakkan peralatan dapurku lagi."
Xi'er mematung di tempatnya karena perlakuan lembut Mo Yan. Jantungnya berdetak jauh lebih kencang daripada musik di ponselnya tadi. Pipinya terasa sangat panas, seolah-olah ia baru saja terpapar uap dari kuali obat paling kuat. Ia segera membalikkan badan dan berpura-pura sibuk menyiram tanamannya yang sudah sekarat. "Cepat pergi dari sini! Kau sangat berisik dan mengganggu konsentrasiku untuk... eh, meneliti tanaman!"
Mo Yan berjalan keluar ruangan dengan senyuman yang belum juga hilang dari wajahnya. Sementara di dalam laboratorium, Xi'er justru kembali menatap layar ponselnya yang kini sunyi. Namun kali ini, ia tidak lagi mencari video kucing atau ayam geprek. Dengan jari yang masih kaku, ia mencoba mengetik di kolom pencarian
"Bagaimana cara membuat pria kaku agar lebih sering tertawa?"
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/