Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.
Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.
Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman yang Mengubah Segalanya
Jantung Aluna langsung kacau total.
Karena untuk pertama kalinya...
dia merasa Arsen benar-benar ingin menciumnya malam ini.
Bukan karena emosi.
Bukan karena kontrak.
Bukan karena pura-pura di depan orang lain.
Tapi karena memang ingin.
Tatapan laki-laki itu terlalu dekat sekarang.
Terlalu dalam.
Dan terlalu bikin lemas.
Arsen...
Suara Aluna kecil banget sampai nyaris nggak kedengeran.
Namun Arsen justru makin mendekat perlahan.
Pelan.
Hati-hati.
Seolah memberi kesempatan Aluna buat mundur kalau nggak mau.
Tapi masalahnya...
Aluna nggak mundur.
Dan itu cukup jadi jawaban.
Deg.
Napas mereka mulai bercampur.
Hangat.
Pelan.
Jantung Aluna berdetak sampai dadanya sakit sendiri.
Tatapan Arsen turun ke bibirnya beberapa detik sebelum akhirnya laki-laki itu berbisik rendah,
Saya cium ya.
Dan sebelum Aluna sempat menjawab—
bibir Arsen menyentuh bibirnya pelan.
Deg.
Dunia langsung sunyi.
Nggak ada suara kota.
Nggak ada suara AC.
Nggak ada apa-apa selain detak jantungnya sendiri yang brutal banget sekarang.
Ciuman itu lembut.
Pelan.
Berbeda jauh dari ciuman mereka sebelumnya yang penuh emosi dan amarah.
Kali ini...
Arsen menciumnya seperti sesuatu yang berharga.
Tangannya naik pelan menyentuh pipi Aluna.
Hangat.
Hati-hati.
Dan justru itu yang bikin lutut Aluna langsung lemas.
Bibir laki-laki itu bergerak perlahan di bibirnya.
Nggak buru-buru.
Seolah menikmati tiap detik.
Sedangkan Aluna...
udah nggak bisa mikir.
Tangannya refleks menggenggam pelan kemeja Arsen.
Dan detik itu juga...
ciumannya berubah sedikit lebih dalam.
Deg.
Napas Aluna langsung tercekat.
Karena Arsen tiba-tiba menarik tubuhnya lebih dekat sampai nggak ada jarak lagi di antara mereka.
Dadanya nempel.
Napasnya terasa.
Dan jantung laki-laki itu ternyata sama kencangnya.
Fakta itu bikin kepala Aluna makin kosong.
Arsen...
gumamnya lirih di sela napas.
Hm?
Suara Arsen rendah banget sekarang.
Serak.
Dan entah kenapa seksi banget.
Pipi Aluna langsung panas brutal.
Cowok ini sadar nggak sih efek suaranya bahaya?
Namun sebelum rasa malunya makin parah, Arsen kembali mencium bibirnya.
Kali ini lebih lama.
Lebih dalam.
Bikin Aluna makin kehilangan arah.
Tangannya tanpa sadar naik memegang bahu Arsen pelan buat nyari pegangan.
Dan laki-laki itu langsung menarik pinggangnya lebih dekat lagi.
Deg.
Tubuh Aluna langsung gemetar kecil.
Karena sentuhan Arsen selalu bikin dirinya nggak aman.
Apalagi malam ini.
Saat semua perlahan terasa nyata.
Bukan kontrak.
Bukan akting.
Tapi hubungan sungguhan.
Beberapa menit kemudian, Arsen akhirnya melepas ciumannya pelan.
Napas mereka sama-sama berantakan sekarang.
Aluna bahkan sampai nggak berani lihat wajah laki-laki itu.
Malu banget.
Sedangkan Arsen masih menatap dirinya dekat sekali.
Tatapannya gelap.
Tapi hangat.
Kayak laki-laki itu juga lagi berusaha nenangin dirinya sendiri.
Kamu lucu kalau malu.
Deg.
Wajah Aluna langsung merah maksimal.
Jangan ngomong gitu...
Kenapa?
Malu.
Sudut bibir Arsen naik tipis.
Tadi berani nangis depan saya.
Itu beda!
Apa bedanya?
Aluna langsung nggak bisa jawab.
Karena memang beda.
Nangis tadi spontan.
Kalau sekarang...
dia sadar banget dirinya baru aja dicium laki-laki yang diam-diam udah bikin hatinya jungkir balik tiap hari.
Dan yang paling bahaya...
dia suka.
Banget.
Arsen memperhatikan wajah Aluna yang masih merah sambil tersenyum tipis kecil.
Pemandangan langka banget.
CEO dingin itu sekarang kelihatan jauh lebih muda kalau lagi senyum begini.
Tiba-tiba tangan laki-laki itu naik lagi merapikan rambut Aluna yang berantakan di dekat pipi.
Gerakannya pelan.
Natural.
Seolah dia memang terbiasa melakukan itu.
Padahal justru hal kecil seperti itu yang bikin jantung Aluna makin nggak normal.
Aku jadi bingung sama hubungan kita.
Kalimat itu keluar pelan tanpa sadar.
Tatapan Arsen langsung turun ke arahnya.
Bingung?
Ini awalnya kontrak... tapi sekarang semuanya beda.
Sunyi sebentar.
Lalu Arsen mengusap pelan pipi Aluna dengan ibu jarinya.
Kalau saya bilang saya nggak mau ini cuma jadi kontrak lagi?
Deg.
Napas Aluna langsung tertahan.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Dan kali ini...
nggak ada yang pura-pura lagi.
Namun sebelum suasana berubah makin berbahaya—
ponsel Arsen tiba-tiba bunyi keras.
Aluna refleks mundur cepat sambil langsung salah tingkah sendiri.
Sedangkan Arsen menghela napas kecil kesal lalu mengambil ponselnya dari meja.
Tatapannya langsung berubah dingin begitu melihat layar.
Kenapa lagi?
Suasana hangat tadi langsung hilang sedikit.
Ada apa? tanya Aluna pelan.
Arsen diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab rendah,
Besok pagi keluarga kamu mau datang ke penthouse.
Deg.
Jantung Aluna langsung jatuh lagi.