NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Iblis / Perperangan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Eyang Jagad Ireng tertawa sinis melihat kedatangan sang Patih. Suara tawanya yang berat membuat tiang-tiang balai desa kembali bergetar.

​"Gajah Mada... manusia sombong yang merasa bisa mengatur seluruh Nusantara," gemuruh suara sang Eyang mencemooh. "Kau mengira karisma keprabonmu bisa memadamkan api Surya Pralaya? Di tempat ini, hukum manusiamu tidak berlaku!"

​Gajah Mada tidak membalas provokasi itu dengan kata-kata. Ia melangkah maju perlahan, mendekati tangga balai desa di mana tubuh Boyo Jaya masih melayang kaku dalam cengkeraman uap hitam. Tangan kanannya bergerak tenang, memegang hulu keris pusakanya, Kyai Gajah.

​Saat keris itu ditarik sedikit dari warangkanya, sebersit cahaya kuning keemasan yang murni memancar, menciptakan benteng tak kasat mata yang seketika menetralkan hawa dingin mencekam di sekitar balai desa. Aura kewibawaan seorang pemimpin besar Majapahit menguar hebat, memaksa raga-raga mayat hidup di hadapannya mundur beberapa langkah karena ketakutan.

​"Tanah yang kau injak ini adalah tanah Majapahit, Tua Bangka," ucap Gajah Mada, suaranya datar namun menggetarkan nyali. "Dan di bawah langit Majapahit, tak ada satu pun iblis yang boleh bertingkah sesukanya."

​Ia menoleh ke arah Jayantaka dan kedua jagal Anggrek Hitam. "Jayantaka, bantu bocah itu memutuskan pasak ketiganya sekarang. Biar aku dan pasukanku yang menahan raga terkutuk ini."

​"Sendiko Dawuh, Gusti Patih!" jawab Jayantaka tangkas. Ia segera bersila di samping Gandraka, menyalurkan sisa energi spiritualnya untuk membentengi sukma sang bocah.

​Ki Bagaskara dan Nyai Lodra saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk kecil. Mereka tahu, meski Gajah Mada adalah ancaman bagi masa depan mereka, saat ini pria itu adalah satu-satunya sekutu terkuat untuk menyelamatkan putra mereka.

​"Lodra, bantu Senopati! Aku akan mendampingi Patih!" seru Ki Bagaskara sembari melesat maju, dua pedang kembarnya kembali berkilat memburu sisa-sisa bayangan hitam yang mencoba mendekati Gajah Mada.

​Gandraka kembali memejamkan mata. Didampingi perlindungan spiritual dari Jayantaka, sukmanya melesat masuk ke dalam pikiran Boyo Jaya. Di sana, ia melihat Boyo sedang dirantai di sebuah gua batu yang dipenuhi oleh lava hitam yang bergolak. Di atas lava itu, wajah raksasa Eyang Jagad Ireng menatapnya lapar.

​"Kau tidak akan bisa melepaskannya, Gandraka! Sukma bocah ini sudah melekat dengan kekuatanku!"

​"Tidak ada yang abadi dari kekuatan yang dibangun di atas penderitaan, Eyang!" teriak Gandraka. Bocah itu menyatukan kedua telapak tangannya, mengonsentrasikan seluruh sisa energi murni dalam darahnya. Cahaya keemasan yang dipinjam dari aura keris Kyai Gajah milik Gajah Mada ikut mengalir ke dalam sukmanya, membentuk sebuah kapak cahaya yang raksasa.

​"LEPAS!!!"

​Gandraka menghantamkan kapak cahaya itu ke rantai yang membelenggu Boyo Jaya.

​PRANGGG!

​Di dunia nyata, tubuh Boyo Jaya mendadak meliuk kaku sebelum akhirnya jatuh berdebam ke lantai balai desa. Bersamaan dengan itu, bayangan raksasa Eyang Jagad Ireng yang mengepung mereka melengking tinggi, lalu terpecah menjadi kepulan asap hitam yang hancur berantakan. Pasak ketiga berhasil diputus. Langit ungu di atas Mojorejo bergolak hebat, memunculkan retakan-retakan cahaya putih yang menandakan ilusi Surya Pralaya mulai goyah.

Gajah Mada tidak bergeming. Ia berdiri tegak di tangga balai desa, menjadi karang di tengah badai energi hitam yang masih berkecamuk. Meski pasak ketiga telah hancur, Eyang Jagad Ireng belum menyerah. Matahari merah di langit justru semakin berdenyut kencang, seolah-olah sang iblis sedang menguras seluruh sisa tenaga dari empat anak yang masih tersisa sebagai pasak.

​"Jangan terlena!" suara Gajah Mada menggelegar, membuyarkan kepanikan Jayantaka. "Lawanmu belum tumbang. Dia hanya sedang berganti rupa."

​Benar saja, uap hitam yang keluar dari tubuh Boyo Jaya tidak menghilang, melainkan merayap di tanah dan membentuk sosok-sosok raksasa tanpa wajah—Buto Kala yang lahir dari manifestasi kebencian sang Eyang.

​"Bagaskara! Lodra! Bersihkan sayap kiri dan kanan!" perintah Jayantaka, kembali mengambil alih koordinasi lapangan atas izin lisan dari tatapan Gajah Mada.

​Nyai Lodra melesat dengan kemarahan seorang ibu. Rantai peraknya kini tidak hanya membara, tapi mengeluarkan percikan listrik statis yang memecah udara. Setiap kali rantainya menyabet udara, Buto Kala itu melengking sebelum hancur menjadi jelaga. Di sisi lain, Ki Bagaskara bergerak layaknya badai hitam; kedua pedangnya membelah kegelapan dengan presisi seorang jagal profesional.

​Gandraka sendiri kini terkapar lemas. Kepalanya berada di pangkuan Jayantaka. Darah masih mengalir dari telinganya, tanda bahwa perang sukma tadi hampir saja menghancurkan kewarasannya.

​"Gandraka, dengar aku," bisik Gajah Mada, berjongkok di samping bocah itu. Patih besar itu meletakkan telapak tangannya yang hangat di dahi Gandraka. "Kau adalah ujung tombak Majapahit saat ini. Jika kau menyerah, desa ini akan menjadi gerbang neraka yang tak bisa kututup."

​Gandraka membuka matanya yang sayu. Melihat sosok Gajah Mada secara dekat, ia merasakan sebuah kekuatan yang sangat asing namun menenangkan—kekuatan hukum dan ketertiban yang sangat solid.

​"Pasak keempat..." Gandraka terbatuk, memuntahkan gumpalan darah hitam. "Namanya Gendis. Dia ada di dapur umum desa. Eyang sedang mencoba... membakar jiwanya."

​"Jayantaka! Bawa anak ini ke sana!" perintah Gajah Mada sembari berdiri. Ia mencabut keris Kyai Gajah sepenuhnya dari warangka. Bilahnya tidak besar, namun memancarkan wibawa yang membuat Buto Kala di halaman balai desa gemetar ketakutan. "Aku akan menjaga balai desa ini agar anak-anak yang sudah selamat tidak ditarik kembali olehnya."

​"Tapi Gusti Patih, Anda sendirian di sini?" Jayantaka ragu.

​Gajah Mada menyeringai tipis, sebuah seringai yang jarang terlihat. "Kau lupa siapa yang berdiri di hadapanmu, Senopati? Pergilah. Selamatkan Gendis."

​Dengan perlindungan dari Ki Bagaskara dan Nyai Lodra yang membuka jalan di tengah kepungan warga desa yang masih kerasukan, Jayantaka menggendong Gandraka menuju dapur umum.

​Suasana di luar balai desa jauh lebih mengerikan. Pohon-pohon meranggas dalam hitungan detik. Udara terasa panas seperti di dalam tungku pembakaran. Di kejauhan, bangunan dapur umum mulai mengeluarkan asap hijau yang berbau belerang. Gendis, seorang gadis kecil yang malang, kini menjadi pusat dari api gaib yang siap menelan apa saja.

​"Gandraka, kau siap?" tanya Nyai Lodra sembari menebas bayangan yang mencoba meraih kaki mereka.

​Gandraka mengangguk lemah. "Lakukan sekarang... sebelum Gendis menjadi abu."

​Perjuangan menyelamatkan Mojorejo masih panjang. Di balik bayang-bayang, Eyang Jagad Ireng mulai menyadari bahwa ada kekuatan "Dunia Atas" yang ikut campur lewat tangan Gajah Mada, dan ia menyiapkan kejutan yang lebih mengerikan untuk pasak-pasak berikutnya. Sementara itu, di perbatasan desa, langkah kaki kaku pasukan Ra Kuti mulai terdengar, namun mereka masih tertahan oleh kabut tebal yang sengaja diciptakan oleh Eyang Blarak Geni untuk menunggu saat yang paling tepat.

1
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh....
saniscara patriawuha.
gaddddddd deuiiii
Semoli Ginon
dasar lintah darat
Semoli Ginon
hayo luh sarpin. 🤣
Semoli Ginon
sarpin peak juga nih
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
hancurrrr leburrrkannn sudahhhhh.....
Semoli Ginon
waduh lawan makin berat nih kayanha
saniscara patriawuha.
ratakannnnn dannn salinggg hancurrrrkannnn......
Semoli Ginon
wah dua eyang rebutan
saniscara patriawuha.
sikatttty sudahhhh manggg jigurrr ojooo kendorrrr....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnn manggg jigurrrrrr....
Semoli Ginon
ayo balaskan dendam 👍
saniscara patriawuha.
gassssd manehhhhh manggg jigurrrr... ojo kondorrrrr....
saniscara patriawuha.
gassddd....
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap...🔥
Protocetus: jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
total 1 replies
Semoli Ginon
mantul. lanjut 👍
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
gassdd pollll manggg jigurrrr...
Semoli Ginon
lanjur bos 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!