NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Eyang Blarak Geni melangkah menuju sudut ruangan yang paling gelap, di mana sebuah peti kayu kecil berwarna merah darah tersimpan di atas meja batu. Ia membukanya dengan sangat hati-hati. Dari dalamnya, ia mengeluarkan seuntai kalung yang terbuat dari potongan tulang jari manusia yang dirangkai dengan benang sutra hitam.

​"Ini adalah Rantai Penambat Sukma," ucap Eyang Blarak Geni sembari menyerahkannya kepada Ra Kuti. "Di setiap ruas tulang ini, aku telah menyegel jeritan para pendekar yang gagal kuhias raganya. Pakailah. Selama kalung ini melingkar di lehermu, jiwamu yang tak utuh itu akan terikat kuat pada ragamu. Ilusi Jagad Ireng tidak akan bisa menarikmu masuk ke dunianya."

​Ra Kuti menerima kalung itu. Terasa hawa dingin yang luar biasa menjalar dari telapak tangannya hingga ke jantung, membuat detak jantungnya yang semula lambat mendadak berdegup kencang secara paksa.

​"Terima kasih, Eyang Guru," bisik Ra Kuti sembari mengenakan kalung itu.

​"Jangan senang dulu, Muridku," sela Eyang Blarak Geni dengan suara yang mendingin. "Benda itu hanyalah perlindungan. Untuk menghadapi Gajah Mada dan kedua jagal Anggrek Hitam itu, kau tetap membutuhkan kekuatan fisik. Aku akan meminjamkanmu dua 'mainan' terbaikku."

​Eyang Blarak Geni kemudian mengetukkan lonceng perunggunya tiga kali.

​Ting... ting... ting...

​Dua peti mati yang tadi baru saja tertutup, mendadak bergetar hebat. Tutupnya terlempar hingga hancur berkeping-keping. Dari dalamnya, kedua pendekar yang lehernya hampir putus itu bangkit kembali. Namun kali ini, kulit mereka yang pucat berubah menjadi hitam legam seperti besi tua, dan dari luka di leher mereka, keluar asap hijau yang berbau belerang.

​"Mereka tidak akan bisa mati lagi, karena mereka sudah melewati batas kematian," ucap sang Eyang. "Bawa mereka. Dan ingat, sasaranku adalah raga para pendekar yang ada di sana. Jangan kau hancurkan tubuh Bagaskara atau Lodra. Aku menginginkan raga mereka untuk koleksi terindahku."

​Ra Kuti menyeringai puas. Kini ia merasa tak terkalahkan. Dengan perlindungan dari ilusi dan dua pendekar mayat hidup yang tak bisa mati, ia yakin bisa merebut Gandraka dan menghancurkan Gajah Mada sekaligus.

​"Satu hal lagi, Ra Kuti," Eyang Blarak Geni menahan langkah muridnya yang hendak keluar. "Jika kau bertemu dengan Gajah Mada, sampaikan salamku padanya. Katakan bahwa keris pusakanya mungkin bisa membelah raga manusia, tapi tak akan pernah bisa menyentuh mereka yang sudah menjadi bagian dari malam."

​Ra Kuti mengangguk mantap, lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan busuk itu. Di belakangnya, dua pendekar mayat hidup mengekor dengan langkah yang kini lebih ringan namun tetap mematikan.

​Di luar, pasukan Ra Kuti kembali bersiaga. Saat pemimpin mereka keluar dengan aura yang jauh lebih mengerikan, mereka tahu bahwa perjalanan menuju neraka Mojorejo akan segera dimulai. Dan kali ini, mereka tidak hanya membawa pedang dan panah, tapi juga membawa maut yang dipinjam dari tangan Eyang Blarak Geni.

Di Mojorejo, langit yang semula merah membara kini mulai berubah warna menjadi ungu pekat yang tidak wajar. Matahari ilusi di atas sana tampak berdenyut, seolah-olah sebuah jantung raksasa yang sedang memompa kegelapan ke seluruh penjuru desa.

​Gandraka masih terduduk di tengah balai desa, namun tubuhnya kini benar-benar kepayahan. Keringat yang bercampur darah membasahi baju kainnya. Di depannya, anak ketiga—seorang bocah laki-laki bertubuh gempal bernama Boyo Jaya—mulai mengerang. Dari mulut Boyo, keluar suara tawa yang sangat berat, suara yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak seumurannya.

​"Eyang sudah merasuki pasak ketiga secara langsung," bisik Gandraka dengan suara serak. "Ayah... Ibu... dia menggunakan Boyo sebagai perantara suaranya!"

​Ki Bagaskara, yang baru saja bangkit setelah terhempas oleh hantaman gada Lurah Sekit, menyeka darah di dagunya. Ia berdiri di sisi kiri tangga balai desa, sementara Nyai Lodra bersiaga di sisi kanan dengan rantai peraknya yang masih membara.

​"Biarkan dia bicara, Gandraka! Fokuslah pada sukmanya!" teriak Ki Bagaskara.

​Tiba-tiba, dari kegelapan di ujung jalan desa, muncul sesosok bayangan yang sangat tinggi. Langkahnya pelan, namun setiap kali kakinya menyentuh tanah, getarannya terasa hingga ke tiang-tiang balai desa. Itu adalah Eyang Jagad Ireng dalam wujud proyeksi sukmanya. Ia mengenakan jubah hitam yang tampak seperti kumpulan asap, dan wajahnya tertutup topeng kayu berbentuk wajah menangis.

​"Bagaskara... Lodra... anak-anakku yang tersesat," suara Eyang Jagad Ireng menggema, bukan dari telinga, melainkan langsung di dalam kepala mereka. "Kalian memberikan cucuku pada Trowulan? Kalian lebih memilih mengabdi pada raja manusia daripada menjadi penguasa alam lelembut bersamaku?"

​"Kami memilih memanusiakan anak kami, Ayah!" sahut Nyai Lodra dengan nada bergetar namun penuh tekad. "Cukup sudah ribuan nyawa kau tumbalkan demi keabadianmu yang busuk!"

​"Kalau begitu, biarlah pasak ketiga ini menjadi saksi... bagaimana aku akan menghisap sari pati kehidupan desa ini hingga kering!"

​Seketika, tubuh Boyo Jaya melayang di udara. Cahaya hitam memancar dari dadanya, menciptakan pusaran angin kencang yang mulai merobohkan rumah-rumah penduduk di sekitar balai desa. Warga desa yang tadinya membeku sebagai mayat hidup, kini mulai bergerak kembali, namun kali ini mereka saling menerjang dan mencabik satu sama lain—sebuah tumbal massal untuk memperkuat ilusi sang Eyang.

​"Senopati! Tahan garis depan!" perintah Ki Bagaskara.

​Jayantaka menggeram, ia menghujamkan kerisnya ke lantai panggung untuk menjaga keseimbangan di tengah badai energi tersebut. "Aku bertahan! Tapi Gandraka... dia tidak akan kuat menahan tekanan ini lebih lama lagi!"

​Di saat kritis itu, Gandraka mulai memejamkan mata untuk masuk ke alam bawah sadar Boyo Jaya. Namun, baru saja ia hendak melepas sukmanya, sebuah anak panah dengan bulu berwarna emas melesat dari arah kegelapan hutan dan menancap tepat di depan tangga balai desa.

​Anak panah itu mengeluarkan cahaya putih yang sangat murni, seketika meredam aura hitam yang menyelimuti area tersebut.

​"Siapa?!" teriak Jayantaka sembari menoleh ke arah datangnya panah.

​Dari balik kabut ilusi, terdengar suara derap kaki kuda yang teratur. Bukan pasukan besar, melainkan hanya lima orang penunggang kuda yang mengenakan seragam kebesaran yang sangat dikenal oleh Jayantaka. Di posisi paling depan, seorang pria bertubuh tegap dengan dada bidang dan sorot mata sedalam samudera turun dari kudanya.

​Ia tidak membawa tameng, hanya sebuah keris yang terselip di pinggang dan sebuah aura wibawa yang membuat ilusi Surya Pralaya seolah menepi memberinya jalan.

​"Patih... Gajah Mada?" bisik Jayantaka dengan nada tak percaya, sebelum ia jatuh berlutut memberi hormat.

​Gajah Mada tidak menjawab. Ia menatap matahari merah di langit, lalu beralih menatap Gandraka yang sedang sekarat.

​"Rupanya benar laporan itu," ucap Gajah Mada, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang mutlak. "Ada kerusuhan yang melampaui batas nalar di tanah ini. Jayantaka, berdirilah. Bhayangkara tidak berlutut di tengah medan perang."

​Ia melirik Ki Bagaskara dan Nyai Lodra yang masih memegang senjata mereka. Gajah Mada menyipitkan mata, mengenali teknik pegangan pedang mereka. "Dua jagal Anggrek Hitam... urusan kalian dengan hukum kerajaan akan kita bahas nanti. Sekarang, singkirkan kabut hitam ini dari tanah Majapahit!"

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!