Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Lolos dari jebakan malah dijual teman
Ternyata alkohol emang seberbahanya itu, makanya grandpa haji Rhoma Seirama ngasih paham sama seluruh insan manusia untuk jauhin itu si Mirasantika! Haram pak bapak haraaam! Tuh buktinya si Dai, teler dia nyampe nggak nyadar jika yang diseruduk itu adalah si mantan pacar.
Kilau Aura Maharani si cantik mantannya Badai ini tampak terkejut dengan makhluk yang baru saja menyeruduk dirinya. Lelaki yang dulu pernah mengisi hari-harinya dengan tawa dan kerandoman, lelaki yang membuatnya bucin tingkat tinggi, dan lelaki yang dia tinggalkan lima tahun lalu karena harus menyelesaikan pendidikannya ke luar negeri demi cita-cita yang sekarang ini sudah diraihnya. Badai adalah masa lalu terindah seorang Kilau Aura Maharani. Begitu juga sebaliknya.
"Ma-maaf.. Sa-saya buru-buru." begitu kata Dai sambil jalan terhuyung meninggalkan Kilau begitu saja.
"Apa mabuk bikin mata seseorang jadi rabun, nggak bisa ngenalin orang gitu?" cela Kilau menatap kesal pada punggung Dai.
Kilau berbalik badan ingin kembali ke dalam ruangan VVIP tadi untuk mengambil kunci mobilnya, dia berusaha tak peduli atas kemunculan mantan pacarnya secara mendadak barusan. Bener kata Tante Inul Darahtinggi, masa lalu biarlah masa lalu jangan kau ungkit jangan ingatkan akuuuu!
Tapi baru juga tubuhnya berputar dengan anggun, Kilau dikejutkan dengan suara yang menganggu telinganya..
"Kalian bawa dia ke ruang VIP, gue udah booking satu ruangan khusus untuk kami malam ini. Rencana gue buat dapetin dia nggak boleh gagal! Dan kalian harus jaga di depan pintu untuk masti'in cowok gue nggak bisa kabur ke mana-mana!" suara itu terdengar dominan meski ada centil centilnya.
"Ayank mau ke mana sih? Malam ini aku bikin ayank enak ya, nurut sama aku, oke!" Kali ini si perempuan tadi bicara pada Dai yang udah kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Bersamaan dengan itu, perempuan yang adalah Lalinan bersama dua dayangnya pergi membawa Dai pergi menuju lift melewati Kilau begitu saja. Saking senengnya dapat mangsa tak berdaya, Lalinan sampai nggak ngeh ada orang yang menatapnya dengan kilat amarah.
Nggak lagi bisa fokus melanjutkan apapun kalau seperti ini ceritanya, Kilau berpikir cepat bagaimana caranya menyelamatkan sang mantan. Harusnya sih dia nggak usah peduli aja ya, ngapain gitu lho? Kan antara Dai dan Kilau udah nggak ada hubungan apa-apa. Tapi enggak! Kilau nggak setega itu. Meski katanya buanglah mantan pada tempatnya, tapi ya nggak dibuang ke betina lagi birahi gitu juga kali.
Jemari Kilau bermain lincah di layar gawainya, dia sedang mencari nomer Sajen di grup alumni sekolah yang sudah sangat lama tidak pernah dia buka. Untung saja Kilau bisa langsung mengenali yang mana nomer Sajen diantara banyaknya orang yang ada di dalam grup dengan melihat foto profil yang Sajen pakai. Foto narsis pemuda itu sedang tersenyum menunjukkan deretan giginya berpose di atas motor sport hitam.
Kilau : Jen, ini urgent. Temen lo dalam bahaya, ke ruang VIP klub Paradise sekarang atau lo bakal kehilangan dia untuk selamanya.
Memang agak lebay dan mendramatisir keadaan sih, tapi Kilau yakin pesannya itu bisa langsung direspon oleh Sajen. Dan benar saja, Sajen langsung menelepon dirinya.
"Ini siapa? Temen gue banyak. Yang lagi dalam bahaya temen gue yang mana? Kalau yang banyak utangnya dan problematik skip aja skip. Dunia udah kebanyakan penduduk, berkurang satu nggak bakal bikin matahari terbit dari Barat!" suara Sajen terdengar setengah berteriak, itu karena dia masih asyik menikmati suasana pesta ulang tahun Lalinan di lantai dansa.
"Gue Kilau. Oke kalau menurut lo Dai seenggak penting itu. Lo di mana sih, berisik banget!" Jawab Kilau menjauhkan alat komunikasi dari telinganya.
"Eh, Badai? Gue di Paradise sama---"
Belum selesai Sajen bicara, Kilau langsung mematikan teleponnya. Ya udah sih, masa bodoh. Seenggaknya dia udah ngasih tau Sajen kalau temennya sedang dalam bahaya kan?
"Anjir! Kilau? Kilau mantannya Badai? Kok bisa ada di sini, dia udah balik dari luar negeri apa?" suara Sajen terdengar tak percaya sambil menimang apa benar yang tadi menelponnya adalah Kilau.
Merasa urusannya udah beres, Kilau memilih pergi dari Paradise. Tapi jujur saja, hati mungilnya masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Badai. Sampai di parkiran, gawai Kilau berbunyi kembali. Nomer tidak dikenal menghubunginya, tapi dia mengetahui jika itu adalah Sajen. Terpampang jelas dari foto profilnya.
"Ki, lo di mana? Bisa tolongin gue nggak?"
"Enggak."
"Bangsui! Gue beneran kepepet ini, Ki. Orang-orangnya Lalinan lagi nguber gue, eh.. Nyari Dai sih lebih tepatnya---"
"Lo di mana?" potong Kilau cepat.
"Di toilet, sama mantan lo. Nggak tau ini bocah mabok parah apa gimana, merem mulu matanya."
"Kalian ngerepotin tau nggak?! Lo bisa bawa dia ke luar nggak, gue ada di parkiran!" judes banget cara ngomongnya.
"Yang ada gue tinggal nama kalau nekat nyelonong ke luar. Lo tau nggak, ini aja gue udah babak belur dihajar sama hulu balangnya si Lalinan, gile bener.. Ngadepin betina sangE lebih nyeremin dari pada ketemu hantu ternyata."
"Di sana aja nyampe akhir jaman. Gue mau pulang. Lagian salah sendiri pake acara mabok segala, udah bagus kayak gitu, hah?"
"Woooow matane! Lha yang nyuruh nyelametin Dai kan lo tadi. Ini gue udah se effort ini kok lo nggak mau bantuin sih? Lagian yang lo omelin juga kagak sadar, kagak denger dia mau lo maki-maki juga."
Akhirnya dengan menanggalkan keegoisan dan mengutamakan kemanusiaan yang adil dan beradab, Kilau bergerak masuk ke dalam klub Paradise kembali. Bukan hal sulit bagi Kilau untuk menemukan keberadaan Sajen, dia langsung melacak lokasi lelaki itu lewat koordinat yang dikirimkan Sajen melalui pesan singkat. Kilau berjalan cepat, sepatunya berbunyi tuk-tuk di lantai marmer klub yang mulai terasa pengap. Dia melewati lorong-lorong remang menuju toilet yang terletak di pojok area VIP.
"Jen, buruan keluar." Kilau mengetuk pintu toilet yang tertutup.
Sajen muncul dengan kepala menyundul keluar memastikan jika yang memanggilnya adalah Kilau. Terlihat Sajen mengusap dadanya dengan hembusan nafas lega. "Kok lo bisa bawa dia ke sini? Dan tadi lo bilang, lo babak belur dihajar orang, tapi kelihatannya lo nggak kenapa-napa,"
"Ngomongnya bisa sambil bantuin gue ngangkut seonggok dosa ini nggak?" Sajen menunjuk dengan dagu lelaki yang duduk bersandar di kloset, siapa lagi kalau bukan Badai.
Mereka keluar dari klub lewat jalur belakang. Sudah ada supir Kilau yang menunggu di sana.
"Waktu gue mau masuk ke ruangan yang lo kasih tau di telepon, gue dihadang dua orang yang ngejaga pintu. Gue bilang aja mau ngasih konD0m pesenan Lalinan ke dalem, mereka percaya aja. Dongo emang!" Sajen geleng kepala mengingat apa yang terjadi tadi di ruangan VIP klub terkenal, Paradise.
"Najis!" Kilau berkomentar.
"Apanya yang najis? Dai beneran dijebak, lo liat sendiri dia sekarang aja masih tepar gitu. Pas gue masuk ruangan, Lalinan yang udah sangE parah mau nyopotin ikat pinggangnya Dai, tuh liat kancing kemejanya aja nggak gue benerin dulu saking gue buru-buru mau bawa mantan lo pergi dari kuda betina yang lagi birahi itu."
Kilau melirik ke bagian dada Badai yang emang sekacau itu. "Kok lo bisa bawa dia ke luar dari sana? Lo apain cewek itu?"
Sajen tersenyum sok ganteng menunjukkan gigi gingsulnya. "Gue bilang.. Cara dia salah kalau mau dapetin Dai, misal iya malam ini dia jadi ambil keperjakaannya Dai, emang ada jaminan Dai bakal luluh sama dia. Cinta itu tumbuh dari hati, bukan tumbuh dari penyatuan alat kelamin kayak yang dia pikirin. Dan, entah dia dapet ilhamudin dari mana, dia diem aja pas gue mapah Dai keluar dari sana."
"Emang temen lo masih perjaka?"
Pertanyaan Kilau membuat senyum jahil Sajen muncul. "Lha gue tanya sama lo, emang selama kalian dulu pacaran kalian pernah mendalami ilmu biologi tentang perkembangbiakan?"
"Sialan mulut lo nggak ada sopan sopannya ya! Udah sono bawa temen lo pergi!" bentak Kilau melotot dengan mata selebar bola pingpong.
"Gue nggak bisa.. Gue bilang kan tadi kalau gue babak belur, lo pikir gue bercanda? Nih liat, pengorbanan gue buat nyelametin mantan terindah lo!" Sajen menyingkap kemeja bagian punggungnya, di sana terdapat memar kebiruan yang begitu ketara.
"Dih, kenapa itu? Ya udah ke rumah sakit aja. Gue anter sekalian sama temen lo itu."
"Nggak usah, gue bisa urus diri gue sendiri. Tapi, bisa kali ngasih gue ongkos pijet," Sajen beneran manusia nggak tahu malu, bisa-bisanya dia minta uang pada mantan pacar temannya sendiri dengan cara seperti itu.
"Gue nggak bawa cash. Gue transfer aja."
Sajen mengangguk tanpa rasa sungkan. "Yang banyak sekalian, kayaknya gue juga butuh konsultasi ke ahli tulang."
"Lima juta cukup?"
"Cukup! Cukup banget!" Lalu Sajen menyerahkan ponselnya untuk di scan barcode nya. Klunting, tiba-tiba uang sebesar 10 juta masuk begitu saja ke akun dana Sajen.
"Wuiih banyak banget ini, Ki. Betewe bawa aja itu mantan lo pulang, mau lo jadi'in ani-ani versi belalai juga terserah aja. Gue ikhlas," segirang itu Sajen mendapati aplikasi dana nya yang sejak dulu hanya dihuni sarang laba-laba kini menyimpan uang sepuluh juta rupiah.
"Heh! Kupret, gue nggak tertarik sama temen lo! Ini gimana ceritanya malah gue yang harus ngurusin dia??"
Sambil berjalan menuju motornya, Sajen berteriak bahagia, "Kan lo udah beli dia sepuluh jeti. Gue mau cepet-cepet ke tukang urut, takut ngesot kalau lama-lama di sini." Lalu Sajen berlalu pergi dengan suara motor yang memekakkan telinga.
"Sialan! Gue ngasih dia duit segitu kan buat ngurusin temannya ini juga. Kok malah gini sih!"
Ya gimana ya mbak ya, punya temen yang otaknya udah kena sembur kabut dracin dan tercemar game online emang setengah kewarasannnya dipastikan ikut melebur bersama kehaluan.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚