NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:309.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Empat

“Chika rela mengkhianati pernikahannya demi satu tujuan, tapi ia tak pernah tahu, satu kebohongan kecil bisa menjadi awal kehancuran yang tak bisa dihentikan.”

Hari-hari setelah pertemuan itu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.

Chika mencoba menjalani semuanya seperti biasa—bangun pagi, menyiapkan sarapan, tersenyum di depan Farhan, dan berpura-pura tidak ada apa-apa. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak bisa lagi ia abaikan.

Keputusan itu sudah ia ambil. Dan sekarang, tidak ada jalan kembali.

**

Tiga hari berlalu.

Tiga hari penuh dengan pikiran yang terus berputar di kepalanya. Kadang ia ragu. Kadang ia hampir membatalkan semuanya. Tapi setiap kali bayangan kemiskinan menghantui, ia kembali tekatkan hati. Dan itu cukup untuk membuatnya bertahan pada pilihannya.

Sore itu, Chika duduk di tepi ranjang. Ponsel berada di tangannya. Nama Alex terpampang di layar.

Ia menatapnya lama. Jempolnya sempat berhenti di atas tombol panggil.

“Ini yang kamu pilih jangan mundur sekarang,” gumamnya pelan.

Akhirnya, ia menekan tombol itu. Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum akhirnya diangkat.

“Halo,” suara Alex terdengar tenang dari seberang.

Chika menarik napas sebentar. “Ini aku.”

“Chika,” jawab Alex singkat, seolah sudah menunggu.

“Aku mau kita bertemu.”

Tidak ada basa-basi. Alex langsung mengerti arah pembicaraan itu. “Kapan?”

“Siang ini.” Hening sesaat.

“Tempat?”

Chika menyebutkan sebuah hotel yang cukup jauh dari rumahnya. Tempat yang tidak mungkin membuatnya bertemu orang yang ia kenal.

“Baik,” jawab Alex. “Aku tunggu.”

Telepon terputus. Chika memejamkan mata sebentar.

Detak jantungnya terasa lebih cepat.

Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu, setelah malam ini, semuanya akan benar-benar berubah.

Siang datang dengan cepat, Chika telah siap dengan rencananya. Ia pergi dengan gaya casual.

Ia duduk diam sepanjang perjalanan. Tangannya menggenggam tas dengan erat. Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Setidaknya, ia mencoba untuk tidak merasakannya.

Sebuah kamar hotel. Pintu tertutup rapat. Dan siang ini, Chika benar-benar melewati batas yang seharusnya ia jaga.

Tidak ada canggung. Tidak ada rasa bersalah atau mungkin ia sengaja menekannya dalam-dalam. Ia melakukan semuanya dengan kesadaran penuh.

Bahkan ada satu momen di mana ia merasa seperti menikmati semuanya. Bukan karena Alex. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa punya kendali atas hidupnya sendiri.

Waktu berlalu tanpa terasa. Sinar matahari sore menembus celah tirai. Jam menunjukkan pukul lima sore saat Chika perlahan membuka mata.

Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangannya. Ruangan itu terasa asing sesaat. Sampai akhirnya ingatannya kembali.

Chika duduk perlahan. Rambutnya sedikit berantakan. Tubuhnya terasa lelah, tapi anehnya begitu ringan.

Ia menoleh ke samping. Alex masih ada di sana, duduk santai sambil menatap ponselnya.

“Kamu sudah bangun,” ucap pria itu tanpa menoleh.

Chika menghela napas pelan. “Kenapa kamu nggak bangunin aku?”

Alex akhirnya menoleh. “Aku nggak tega.”

Chika mengernyit sedikit.

“Kamu kelihatan tidur nyenyak,” lanjut Alex santai.

Chika tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu bangkit dari tempat tidur. “Aku mau bersih-bersih,” ucapnya singkat. Tanpa menunggu respon, ia berjalan ke kamar mandi.

Air dingin menyentuh kulitnya. Chika memejamkan mata di bawah pancuran. Semua terasa nyata sekarang. Tidak bisa dibatalkan. Tidak bisa diulang. Dan ia harus siap dengan apa pun hasilnya.

Beberapa waktu kemudian, Chika keluar dengan penampilan rapi. Rambutnya masih sedikit basah. Ia mengambil tasnya.

Alex memperhatikannya sebentar. “Langsung pulang?”

“Iya.”

Chika membuka tasnya, mengambil sejumlah uang, lalu meletakkannya di meja. Alex melirik uang itu sekilas.

“Kalau aku hamil .…” Chika berhenti sebentar, menatap pria itu lurus. “Aku akan kasih bonus banyak untuk kamu.”

Nada suaranya datar. Tanpa emosi.

Alex hanya mengangguk kecil. “Aku tunggu kabarnya.”

Chika tidak menjawab lagi. Ia berbalik dan pergi. Tanpa menoleh.

**

Perjalanan pulang terasa lebih panjang.

Langit sudah mulai gelap saat Chika sampai di depan rumahnya. Ia berdiri sebentar di depan pintu. Menarik napas. Mencoba kembali menjadi dirinya yang “biasa”.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu. Dan begitu masuk, langkahnya langsung terhenti.

Farhan sudah ada di ruang tamu. Duduk di sofa, dengan wajah datar. Chika menelan ludah.

Ia tidak menyangka suaminya sudah pulang. Untuk sesaat, pikirannya kosong. Tapi kemudian ia memaksakan senyum.

Ia berjalan mendekat, lalu memeluk Farhan dari samping dengan manja. “Mas Farhan udah pulang?” tanyanya lembut.

Farhan tidak langsung membalas pelukannya. Ia hanya melirik sekilas.

“Seperti yang kamu lihat,” jawabnya dingin.

Senyum Chika sedikit kaku. Tapi ia tidak menyerah.

“Aku buatkan teh ya,” ucapnya cepat, mencoba mencairkan suasana.

Farhan menatapnya lebih lama kali ini. Tatapan yang membuat Chika sedikit tidak nyaman. Ia baru saja ingin melangkah ke dapur, ketika suara Farhan menghentikannya.

“Rambutmu basah.”

Langkah Chika langsung terhenti. Jantungnya berdetak lebih kencang.

“Dari mana?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi cukup membuat suasana berubah. Chika berbalik perlahan. Ia memaksakan senyum.

“Maaf, Mas … aku nggak minta izin.”

Farhan masih menatapnya.

“Aku tadi ke rumah mama,” lanjut Chika dengan suara yang tetap ia jaga agar terdengar normal. “Pas mau pulang, aku mandi … jadi basah rambut.”

Ia menatap Farhan, mencoba terlihat santai. “Kamu marah, Mas?”

Hening beberapa detik. Farhan akhirnya menggeleng pelan. “Enggak.”

Jawaban itu singkat. Tapi cukup membuat Chika bisa bernapas lagi.

“Oke … aku buatkan teh dulu ya,” ucapnya cepat.

Ia langsung berjalan ke dapur. Langkahnya terlihat biasa. Tapi begitu sampai di sana, ia berhenti. Tangannya bertumpu di meja.

Lalu ia menarik napas dalam-dalam. “Hhuuu ... hampir saja. Hampir saja Farhan curiga."

Chika memejamkan mata. Jantungnya masih berdebar kencang.

“Masa baru sekali melangkah langsung ketahuan …,” gumamnya pelan.

Ia menatap dirinya sendiri di pantulan kaca dapur. “Chika … kamu harus lebih pintar, " gumam Chika pada dirinya sendiri.

Ia lalu mulai membuat teh untuk suaminya. Gerakannya perlahan kembali normal. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi jauh di dalam hati, permainan ini baru saja dimulai.

Dan Chika sadar, sekali ia melangkah, ia harus siap menghadapi apa pun. Termasuk jika suatu hari semuanya terbongkar.

Sementara di tempat lain, Han tampak tersenyum. Sepertinya ia telah mengetahui keberadaan Hana dan siap untuk melaporkan semua pada Arsaka.

1
Radya Arynda
semogah hana hamil kembar biar 4 anaknya,,,semangaaat💪💪💪
ken darsihk
Mam koq buku wanita simpanan sang aktor di hapus ya mam
Sama buku yng baru juga nggak bisa di baca lagi
ken darsihk: ok mam di tunggu karya 2 nya 😍
total 2 replies
Felycia Fernandez
seorang ibu kandung pasti paham apa yang di katakan anaknya.walaupun bahasa cadel nya parah,tapi si ibu tetap bisa mengerti bahasa anaknya👍👍👍
Ida Nur Hidayati
akan rame ini keluarga kalau Namba anak lagi...
Ida Nur Hidayati
selalu bahagia keluarga Arsaka Hana...
Ida Nur Hidayati
semoga Chelsea menjadi anak yg Sholeha
ken darsihk
Berharap nya Hana beneran hamil agar kebahagiaan mereka total sempurna
Ilfa Yarni
nah iya gitu hana hrs ha. ikuti lg masak cuma satu anak kandungnya harta berliimpah baguslah punya snk byk nanti jadi rami dan di hari tua bshagia
ken darsihk
Bahagia untuk semua nya 😍😍
🌷💚SITI.R💚🌷
ga satu hanna tardi kasih kembar sm mama reni🤣🤣
Rahma Inayah
semoga hamil bnr hamil dan moga aja. hamil nya twins JD GK hamil lagi 🤭🤭 apa jadi klu Farhan lihat Hana bisa memberi ank yg byk utk arsaka pasti dlm hati nya di penuhi rasa pemyeslan walau SDH berulang kali mnt maaf ttp saja rasa bersalah tu msh membekas
Sugiharti Rusli
dua toddler dan satu bayi lagi akan tambah rame yah rumah mereka nanti😆😆😆
Sugiharti Rusli
mungkin baby El dan Chelsea sudah mau menginjak dua tahun yah mereka,,,
Sugiharti Rusli
wah sepertinya memang akan bertambah lagi sih yah keluarga baru mereka🥰🥰🥰
fatmawati (pipit)
hamil hana anak kedua
Lisa Halik
semoga saja hana hamil,semangat thor,sudah bagi gift😍😍
Lisa Halik
😍😍😍😍semoga semuanya bahagia hingga ending
Sri Supriatin
Selamat klu Hana hamil lagi🙏🙏🙏
🌷💚SITI.R💚🌷
smg hanna hamil lg ya dan anak kembar pasyi tambah rame de🥰🥰🥰
Patrick Khan
hana hamil lg kyk nya🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!