NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan berburu

Aveline turun dari kudanya. Sepatu boot-nya menyentuh tanah dengan mantap, sementara mantel gelap di belakang tubuhnya masih bergerak pelan tertiup angin pagi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, seolah puluhan pasang mata yang kini tertuju padanya sama sekali tidak berarti apa-apa. Para bangsawan yang sejak tadi duduk dengan tenang mulai memperhatikannya lebih saksama. Beberapa bahkan menghentikan percakapan mereka hanya untuk melihat apa yang akan dilakukan wanita itu.

Aveline berjalan beberapa langkah ke depan sebelum akhirnya berhenti. Setelah itu ia menundukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan. Namun cara ia melakukannya jelas berbeda dari tata cara bangsawan yang biasa terlihat di istana. Tidak ada gerakan yang anggun atau terlatih. Gerakannya sederhana dan sedikit kaku, seperti seseorang yang hanya mengetahui bahwa dirinya harus memberi hormat tanpa pernah diajari bagaimana melakukannya dengan benar.

“Hormat saya, Yang Mulia Raja,” ujarnya dengan suara tenang dan datar.

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, ia langsung menegakkan tubuh kembali. Tidak ada jeda ataupun menunggu izin. Tanpa berpikir bahwa tindakannya sedikit bermasalah.

Keheningan hanya bertahan beberapa detik sebelum bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.

“Lihatlah, benar-benar sangat tidak tahu aturan.”

“Dasar gadis desa. Dia saja tidak tahu bagaimana cara menghormati Yang Mulia.”

“Kalau aku jadi dia, aku sudah memikirkan nasibku ke depannya akan bagaimana.”

“Apa dia tidak takut kesalahan kecil bisa mengantarnya ke ruang eksekusi?”

Bisikan itu muncul dari satu orang lalu menyebar ke yang lain. Beberapa wanita bangsawan menutupi mulut mereka dengan kipas sambil berbicara pelan. Sebagian pria hanya menggelengkan kepala. Bahkan ada yang memandang Aveline dengan tatapan iba, seolah mereka benar-benar percaya wanita itu baru saja menggali kuburnya sendiri.

Melihat pemandangan yang cukup memalukan tersebut, Marquis Edmund segera berdiri dari kursinya. Ekspresinya mengeras. Ia menundukkan kepala ke arah Raja Leopold dengan cepat, jelas berniat meminta maaf sebelum situasi menjadi semakin buruk.

“Yang Mulia—”

“Maafkan saya, Yang Mulia.”

Suara Aveline memotong kalimatnya begitu saja.

Edmund langsung menoleh ke arahnya. Namun Aveline sama sekali tidak memperhatikan reaksi itu. Wajahnya masih tampak tenang dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Tatapannya juga tidak bergeser sedikit pun dari Raja Leopold yang duduk di kursi kehormatan.

“Mereka semua benar,” ucapnya pelan. “Saya hanyalah gadis desa yang dilahirkan dari seorang selir.”

Beberapa bangsawan langsung terdiam mendengar kalimat itu.

Sementara Aveline melanjutkan ucapannya tanpa ragu. “Jadi mohon untuk memakluminya, Yang Mulia. Sejak awal saya memang tidak pernah dibesarkan dengan perhatian dan pendidikan yang sama seperti anggota keluarga Marquis Grimwald lainnya.”

Nada suaranya terdengar sopan. Siapa pun yang mendengarnya jelas tahu ke mana arah kalimat itu ditujukan.

Wajah Marquis Edmund langsung menegang.

“Aveline, jaga ucapanmu di hadapan Yang Mulia!” bentaknya secara refleks.

Tangannya terangkat dan menunjuk ke arah putri bungsunya. Suaranya terdengar lebih keras daripada yang ia inginkan. Beberapa bangsawan yang semula hanya memperhatikan dari jauh kini benar-benar fokus pada keluarga Grimwald.

Raja Leopold yang melihat semua itu langsung menggaruk bagian belakang kepalanya. Ekspresinya menunjukkan kebingungan yang tidak disembunyikan sama sekali. Pandangannya berpindah dari Edmund ke Aveline, lalu kembali lagi ke Edmund.

“Baiklah, baiklah ... tidak masalah.”

Leopold berdeham pelan sambil berusaha mempertahankan wibawanya sebagai seorang raja. Tangannya bahkan sempat bergerak membenarkan kerah bajunya secara refleks sebelum ia menyadari bahwa pakaian yang dikenakannya hari ini tidak memiliki kerah yang perlu dirapikan.

“Tidak perlu diperbesar lagi.” Ucapan itu membuat beberapa bangsawan yang tadinya menunggu kemarahan Raja langsung kehilangan harapan.

Aveline kembali menundukkan tubuhnya. Gerakannya tetap sama seperti sebelumnya. Sederhana dan tidak sesuai tata krama istana.

“Kalau begitu ... terima kasih atas pengertiannya, Yang Mulia.”

Leopold hanya mengangguk kecil.

Akan tetapi, setelah itu ia beberapa kali menelan ludah tanpa sadar. Entah kenapa, melihat cara Aveline berbicara membuatnya merasa tidak nyaman. Bukan karena marah ataupun tersinggung. Perasaannya lebih mirip seperti seseorang yang sedang berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang menakutkan.

Sebelum rasa aneh itu bertahan lebih lama, Leopold sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Wilhelm yang duduk di sebelahnya.

“Bukankah dia wanita yang kau nikahi?” bisiknya pelan.

William tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sebagai tanda bahwa tebakan itu benar. Leopold menghela napas pendek. Tatapannya kembali jatuh kepada Aveline yang masih berdiri di lapangan.

“Orang-orang bilang dia adalah wanita penakut dan pendiam,” gumamnya sambil mengeratkan gigi. “Tapi entah kenapa saat aku melihatnya sekarang ... dia lebih mirip seperti malaikat pencabut nyawa.”

William tetap tidak memberikan tanggapan. Hanya ada lengkungan samar di bibirnya yang tersembunyi di balik topeng.

Di sisi lain, Caelum yang sejak tadi menahan emosi akhirnya bergerak. Ia melangkah mendekati Aveline lalu meraih lengannya dengan kasar. Jemarinya mencengkeram cukup kuat hingga kain pakaian di bagian lengan ikut tertarik.

“Perhatikan statusmu di keluarga Grimwald, jalang.”

Tatapannya penuh permusuhan, disertai rahang yang mulai mengeras.

Aveline menoleh perlahan ke arah tangan yang mencengkeram lengannya. Pandangannya turun sebentar menatap jari-jari Caelum, lalu kembali melirik wajah pria itu.

Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, ia mengibaskan tangannya dengan cepat. Dalam satu tarikan pendek, genggaman Caelum langsung terlepas.

Aveline menarik kembali lengannya lalu merapikan bagian pakaian yang sedikit kusut akibat cengkeraman tadi. Setelah itu ia mengangkat pandangan dan menatap Caelum lekat.

“Sepertinya kau benar-benar tidak mendengarkan sejak tadi.”

“Bukankah aku sudah menjelaskannya dengan cukup jelas?”

Ia berhenti sejenak.

“Sejak awal aku mengatakan bahwa aku hanyalah anak dari seorang selir.”

Sudut bibir Aveline terangkat tipis. Matanya tetap datar saat menatap Caelum, seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh. Wajahnya tidak memancarkan kemarahan, melainkan tampak begitu meremehkannya.

“Kau!—”

“Tidak perlu berteriak,” ucap Aveline datar tanpa mengubah nada sedikit pun, seolah suara Caelum yang meninggi tadi tidak pernah benar-benar mengganggunya. “Aku masih bisa mendengarnya.”

Caelum langsung mengeratkan giginya, rahangnya menegang kuat hingga urat di pelipisnya terlihat jelas. Tatapannya tajam, penuh kesal yang tidak ia sembunyikan. Di sekelilingnya, beberapa bangsawan mulai memperhatikan ketegangan yang kembali muncul di antara mereka, sementara Aveline tetap berdiri tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

Dari sisi lain lapangan, Leon Volmark melangkah maju dengan sikap yang lebih terkontrol namun jelas ikut tersulut suasana. Di sampingnya Arvian Valcrest juga ikut mendekat dengan senyum tipis yang tidak ramah. Keduanya menatap Aveline seperti sedang menilai sesuatu yang dianggap tidak pantas berada di tempat itu.

“Sepertinya keluarga Grimwald benar-benar sudah tidak menjaga tata krama,” ujar Leon dengan suara dingin.

Arvian menimpali, “Atau mungkin memang tidak pernah diajarkan sejak awal.”

Aveline memandang keduanya sebentar, lalu menghela napas pelan, bukan karena lelah, tetapi seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak penting. “Menarik,” ucapnya tenang. “Ternyata di sini orang-orang menganggap suara sendiri sebagai ukuran kebenaran.”

Leon sedikit menyipitkan mata. Arvian hanya tersenyum tipis, tapi jelas ada ketegangan di sana. Sedangkan Aveline melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan, “Orang seperti kalian, memang gemar mencampuri urusan orang lain.”

Marquis Edmund yang berdiri tidak jauh dari situ langsung mengencangkan rahangnya, sementara Marchioness Elowen menahan ekspresi kesalnya dengan sangat jelas. Keduanya sama-sama terlihat tidak senang.

Sementara itu dari arah paviliun, Clarissa mulai berjalan mendekati Aveline dengan langkah ringan namun cepat, wajahnya terlihat jauh lebih hidup dibandingkan sebelumnya. Ia langsung mendekati Aveline tanpa ragu, seolah tidak peduli pada tatapan bangsawan lain yang mengikuti gerakannya.

“Wah, kau benar-benar datang,” kata Clarissa dengan antusias. “Kau ikut berburu juga kan? Atau kau lebih suka menunggang kuda di jalur hutan bagian dalam? Oh, tadi aku dengar ada jalur baru yang katanya lebih sulit, kau pernah coba? Atau ini pertama kalinya kau ikut acara seperti ini? Kau terlihat tidak terlalu gugup, apa kau memang selalu setenang ini?”

Pertanyaan itu keluar bertubi-tubi tanpa jeda. Clarissa berbicara seperti orang yang tidak bisa berhenti ketika sudah mulai tertarik pada lawan bicaranya. Namun Aveline hanya diam, menatapnya tanpa respons.

Dari kejauhan, Duke Alaric yang melihat Clarissa mendekati Aveline langsung memicingkan matanya. Ia tahu betul putrinya tidak mudah akrab dengan bangsawan wanita lain. Tapi kali ini Clarissa justru tampak seperti anak kecil yang dengan mudah mendekati seseorang yang bahkan tidak ia kenal baik.

“Ah, dimana Wim?” tanya Clarissa tiba-tiba dengan nada iseng sambil melirik ke arah paviliun utama.

Matanya jatuh ke arah Pangeran Wilhelm yang duduk tenang di samping Raja Leopold, dengan topeng emasnya. Meskipun begitu, Clarissa jelas tahu siapa orang itu.

Aveline menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangan, “Tidak tahu dan aku tidak ingin membahasnya.”

Clarissa langsung mengerucutkan bibirnya sedikit lalu tertawa kecil. “Ah, kau ‘kan istrinya. Kenapa tidak ajak dia untuk melihatmu bertanding?”

Aveline menatapnya sekilas, lalu menjawab dengan tenang namun menusuk, “Bukankah kau wanita pujaannya? Kupikir pria itu menginap di rumahmu, ternyata tidak, ya?”

Suasana langsung berubah sedikit hening setelah kalimat itu jatuh. Clarissa terdiam beberapa detik, sementara Wilhelm yang mendengar dari kejauhan sedikit mengepalkan tangannya di bawah meja. Sedangkan Raja Leopold terlihat berusaha keras menahan tawa yang hampir keluar sejak tadi, bahunya sedikit bergetar.

Namun Clarissa tidak terlihat tersinggung sama sekali. Setelah terdiam singkat, ia justru tertawa ringan seperti tidak terjadi apa-apa. “Wim dan aku adalah teman masa kecil.”

“Dia juga bilang begitu,” jawab Aveline cepat tanpa perubahan nada.

Clarissa mengangguk pelan, seperti baru menyadari sesuatu yang terlambat ia pahami. “Dia memang pria yang baik, meskipun agak tidak peduli dengan sekitar.”

Aveline menatapnya sebentar lalu menjawab datar, “Kupikir dia jahat.”

Clarissa langsung terdiam, kemudian berkedip beberapa kali. “Lady Aveline, kau bercanda.”

Aveline tidak menjawab. Ia mulai memalingkan wajahnya, jelas sudah tidak ingin melanjutkan percakapan. Namun Clarissa segera melangkah sedikit ke samping, seperti sengaja menghalangi niatnya untuk pergi, tetap ingin melanjutkan obrolan tanpa peduli situasi di sekitarnya.

Pada saat yang sama, Wilhelm memberi isyarat kecil kepada Raja Leopold. Tidak ada kata, hanya gerakan singkat yang cukup jelas. Raja Leopold menghela napas lalu berdeham keras, kali ini dengan nada yang sengaja dibuat lebih resmi.

“Baik,” ujar Raja Leopold akhirnya. “Sebelum pertandingan berburu dimulai, akan aku jelaskan aturan utamanya.”

Ia berdiri sedikit lebih tegak, lalu melanjutkan, “Setiap peserta akan masuk ke wilayah hutan yang telah ditentukan. Perburuan berlangsung hingga matahari mulai turun. Setiap hewan yang berhasil dibawa kembali akan dihitung berdasarkan jenis dan ukurannya. Hewan buruan besar seperti rusa jantan dewasa dan babi hutan akan memiliki nilai lebih tinggi dibanding hewan kecil. Selain itu, ada satu hadiah khusus bagi peserta yang berhasil membawa hasil buruan paling bernilai di akhir pertandingan. Tidak ada batasan jumlah buruan, tetapi dilarang melampaui batas wilayah yang sudah ditandai.”

Beberapa bangsawan langsung memperhatikan lebih serius setelah mendengar aturan itu. Suasana yang tadi tegang perlahan berubah menjadi lebih fokus pada pertandingan yang akan dimulai.

Clarissa akhirnya menghela napas kecil, lalu kembali berbalik menuju paviliun para gadis bangsawan. Langkahnya ringan seperti sebelumnya, seolah percakapan panjang tadi tidak meninggalkan beban apa pun.

Saat Aveline melangkah melewati Caelum untuk menuju kudanya, pria itu berbisik pelan dengan suara rendah namun tajam, “Jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup.”

Aveline tidak berhenti, tidak menoleh, bahkan tidak mengubah ekspresinya sedikit pun. Ia hanya terus berjalan, lalu dengan tenang menaiki kudanya seolah tidak ada satu kata pun yang layak disimpan di pikirannya.

Peserta lain mulai bersiap, menaiki kuda masing-masing dan memeriksa perlengkapan mereka. Di tengah persiapan itu, Caelum melirik ke arah Marquis Edmund. Tatapannya singkat, namun jelas mengandung isyarat yang hanya dipahami keduanya. Edmund tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menegang sesaat sebelum akhirnya memberikan anggukan kecil sebagai balasan.

Caelum membalas dengan satu anggukan pelan, tanda bahwa semuanya sudah berada pada jalurnya.

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru thor semangat💪💪💪
Dede Dedeh
lanjuttttttt
Norris Yuniarty
seru2 thor semangat episode selanjut y💪💪💪
Eka Putri Handayani
sedikit bingung tapi jika dibaca secara lebih cermat lagi aku udah mulai paham😄
Saelyn: Aku mikirnya pun kadang bingung nulisnya🤣
total 1 replies
Norris Yuniarty
seru sekali😍😍😍
Norris Yuniarty
mulai cemburu nich🤭🤭🤭
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru sekali thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor!!! 😍😍😍
Norris Yuniarty
seru2 let's go💪💪💪
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!