Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Colelat, Orasi, dan Geng Komunikasi
Cokelat, Orasi, dan Geng Komunikasi
Setelah adegan "By Sayang" yang membuat lambung Kirana serasa diaduk-aduk, mereka bertiga sebenarnya sudah hampir sampai di depan gerbang gedung Sastra. Namun, langkah mereka terhenti saat Maya tiba-tiba menggeledah tas selempangnya dengan panik.
"Aduh, gila! Dompet gue ketinggalan di meja stand Adit!" seru Maya dengan wajah pucat.
Kirana menghela napas panjang, hampir saja dia ingin meninggalkan sahabatnya itu. "Kan, makanya jangan kebanyakan gaya 'By Sayang' di depan umum, jadi pikun kan lo."
"Ayo dong temenin balik, Ra, Sar! Kalau dompet gue ilang, gue nggak bisa jajan Thai Tea seminggu!" Maya memohon sambil menarik-narik lengan baju Kirana.
Dengan langkah gontai dan penuh gerutuan, Kirana terpaksa balik lagi menuju lapangan basket yang semakin ramai. Matahari tepat berada di atas kepala, membuat suhu di Uwikerta terasa seperti sedang berada di dalam oven raksasa.
Saat memasuki area lapangan lagi, suasana terasa lebih formal. Anak-anak Teknik Mesin sedang bersiap untuk sesi orasi dan demo unit. Bima sudah berdiri di dekat motor matic hitamnya yang sudah dipreteli setengah bagian, sedang mengecek mikrofon nirkabel yang terpasang di kerah kaus hitamnya.
Namun, sebelum mereka sampai di stand Adit, langkah Kirana terhenti oleh seseorang yang muncul dari arah stand desain teknik.
"Hai, Kirana. Balik lagi?"
Kirana mendongak. Di depannya Namanya Danu. Dia teman seangkatan Bima, tapi vibes-nya benar-benar langit dan bumi. Meskipun dia ana Teknik Mesin juga dan Semester 5 sama kaya Bima tapi Danu tidak seperti anak Teknik Mesin pad umumnya, katanya dulu ia adalah mantan calon dokter, mamanya pengen dia jadi dokter tapi Danu tidak mau, entahlah apa alasannya tidak ada yang tau.
Danu sangat rapi dengan kemeja polo berwarna biru laut yang pas di tubuh tegapnya yang setinggi 180 cm. Hidungnya mancung, wajahnya bersih tanpa setitik pun noda oli, dan wanginya... sangat mahal, seperti habis mandi parfum di mall.
"Eh, iya kak Danu. Dompet Maya ketinggalan," jawab Kirana sedikit canggung.
Danu tersenyum manis, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Dia adalah salah satu cowok paling pinter dan populer di angkatannya, tapi entah kenapa dia selalu bersikap sangat lembut pada Kirana. Danu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cokelat bar impor kemasan emas.
"Nih, buat kamu. Tadi aku mau kasih pas di jalan tapi kamu jalan cepet banget. Buat asupan gula, biar nggak pusing kena panas," kata Danu sambil menyodorkan cokelat itu.
Kirana sedikit ragu, tapi karena Danu menatapnya dengan sopan, dia pun menerimanya. "Makasih ya, Kak. Jadi nggak enak."
"Sama-sama. Oh iya, nanti sore pulang naik apa? Aku bawa mobil, mau aku anterin?" tanya Danu dengan nada yang sangat macho namun tetap kalem.
Kirana melirik ke arah Sari yang berdiri di belakangnya. Sari seolah paham kode itu dan langsung mengangguk. "Maaf ya, Kak. Aku udah janjian pulang bareng Sari. Mau ada urusan tugas kelompok sebentar," jawab Kirana sambil memberikan senyum paling ramah yang dia punya. "Mungkin next time ya?"
"Oh, oke. Gak masalah. Hati-hati ya," jawab Danu tetap tersenyum sebelum akhirnya kembali ke standnya.
Di tengah lapangan, Bima yang sedang bersiap untuk orasinya sebenarnya melihat semua itu dari kejauhan. Matanya yang tajam tidak lepas dari sosok Kirana yang sedang tersenyum—senyum yang sangat berbeda dari wajah judek yang biasanya dia berikan pada Bima. Di sana, Kirana tampak lembut, sementara kalau dengannya, Kirana selalu terlihat ingin menerkamnya hidup-hidup.
Sama cowok bersih itu aja manis banget, batin Bima sambil mengetatkan pegangannya pada mikrofon.
Roni, yang menyadari arah pandangan Bima, langsung menyenggol lengan temannya itu. "Tuh, liat saingan lo. Danu kalau udah gerak mah nggak main-main. Makanya, kalau suka tuh dideketin, diajak ngobrol yang bener, bukan cuma diliatin doang dari jauh."
Bima langsung membuang muka, suaranya terdengar berat dan dingin. "Apasih lu orang. Gue nggak suka. Udah, siapin unitnya, gue mau orasi."
Maya yang baru saja mengambil dompetnya dari Adit, kembali ke samping Kirana sambil senyum-senyum nakal. "Cie, dapet cokelat dari Pangeran Lab. Danu mah emang idaman banget ya, bersih, wangi, pinter lagi."
"Tapi Danu emang ganteng sih, sopan lagi" Ucap Sari.
Maya menggeleng kuat-kuat. "Ih, nggak! Menurut gue cowok itu harus yang macho dan begajulan kayak Bima. Vibes nakal-nakal gimana gitu, Berasa panas-panas maskulin gitu loh kalau liat Bima. Kalau Danu terlalu 'lurus' buat gue."
Kirana hanya bisa memutar bola mata mendengar istilah aneh Maya. "Terserah lo deh, May."
Tiba-tiba, suara riuh terdengar dari arah gerbang lapangan. Rombongan kakak kelas Maya dari jurusan Komunikasi datang. Ada sekitar empat orang cewek modis yang penampilannya sangat menonjol di antara anak-anak Teknik yang kucel.
"Eh, liat tuh! Ada Kak Sheila, Kak Cindy, Kak Tania, sama Kak Bella," bisik Maya heboh.
Ketua geng mereka, Kak Sheila, yang paling cantik dan modis, langsung berjalan penuh percaya diri ke arah Bima. Bima yang baru saja selesai mengecek mikrofon tampak sedikit terkejut, tapi ekspresinya tetap datar.
"Bima! Hai, makin sibuk aja nih ya," sapa Sheila dengan nada yang sangat akrab.
Bima hanya mengangguk kecil. Dia bersikap sangat dingin, namun sesekali dia memberikan senyum tipis—hanya senyum formalitas untuk menghargai kakak tingkatnya itu. Mereka mulai mengobrol, dan Sheila tampak sangat betah berdiri lama-lama di samping Bima yang berkeringat.
Kirana yang melihat pemandangan itu dari pinggir lapangan langsung mendengus keras. "Tuh kan, bener kata gue. Liat tuh si cowok bau oli itu. Playboy banget emang. Baru juga tadi sok-sokan cuek, sekarang udah dikerumunin cewek-cewek Komunikasi. Emang dasarnya nggak bener."
Maya menoleh ke arah Kirana dengan alis terangkat. "Kok lo julid banget sih, Ra? Peduli amat dia mau ngobrol sama siapa. Wajar lah Sheila nyamperin, orang Bimanya emang ganteng gitu kalau lagi serius. Aura mekaniknya itu loh, nggak nahan, berasa kayak kukus aku mas gitu aww." Ucap Maya sambil meragain pose centilnya dia.
Sari hanya geleng geleng kepala melihat tingkah temannya itu.
"Gue nggak peduli! Gue cuma bilang fakta!" tegas Kirana.
"Halah, bilang aja lo cemburu liat Bima dikasih perhatian sama cewek lain," goda Maya sambil menyenggol bahu Kirana.
"Ogahhh! Gue cemburu sama dia? Mending gue cemburu sama orang yang nilainya lebih bagus daripada gue!" Kirana langsung berbalik badan dengan gerakan cepat. "Yuk ah, pergi! Gerah di sini, bau asap knalpot."
Setelah rombongan Sheila dan teman-temannya beranjak pergi karena harus masuk kelas, Bima langsung meletakkan kertas panduan orasinya di atas meja. Matanya kembali bergerak liar mencari-cari ke arah pinggir lapangan, tempat Kirana berdiri tadi.
Dia mencari kuncir kuda itu. Dia mencari wajah cewek yang tadi tampak sangat sinis melihatnya. Tapi lapangan sudah semakin padat oleh mahasiswa lain, dan sosok Kirana sudah benar-benar hilang dari pandangannya.
"Nyari siapa lagi lo?" tanya Roni sambil tertawa.
Bima tidak menjawab. Dia mengusap wajahnya yang penuh noda oli dengan handuk kecil di lehernya. Pikirannya masih tertinggal pada momen saat Kirana tersenyum pada Danu tadi. Dia merasa ada yang mengganjal di dadanya, sesuatu yang lebih menyebalkan daripada mesin motor yang mogok di tengah jalan.
"Gak ada," jawab Bima singkat, lalu dia naik ke atas panggung kecil untuk memulai orasinya. Suaranya yang berat menggema di seluruh lapangan, tapi pikirannya sudah terbang entah ke mana, mengikuti langkah kaki cewek Sastra yang baru saja pergi dengan wajah marah itu.