Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Syukurlah kalau Nona suka. Sebenarnya jarum-jarum ini butuh ketelitian ekstra karena ukurannya yang sangat kecil dan tipis. Tapi karena saya tahu Nona pasti pakai untuk hal yang baik, saya kerjakan dengan senang hati," jawab Pak Harun dengan senang.
Ghaizka mengangguk. Uang kemaren sudah cukupkan?" tanya Ghaizka.
"Jumlahnya lebih dari cukup kok! Silakan mampir lagi kalau butuh apa-apa ya!" kata Pak Harun dengan ramah.
"Baik," pamit Ghaizka singkat.
"Mari, Nona," kata Pak Harun.
Mereka pun berbalik arah, berjalan pulang.
Ghaizka membawa kotak kayu itu dan memasukkan ke dalam tasnya. Jarum baru ini akan sangat membantunya dalam pengobatan, dan juga bisa menjadi senjata mematikan jika ada orang jahat yang berani mengganggu mereka.
Tapi tiba-tiba saja ada masalah tak terduga.
Belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba dari arah depan muncul tiga orang pria bertubuh kekar dengan wajah garang dan tatapan kurang baik.
Mereka berdiri menghadang jalan gang yang menuju jalan raya, mereka menyilang tangan di dada.
Ghaizka langsung mengerutkan keningnya.
"Heh... wanita dari mana kamu?" tanya salah satu dari mereka.
Ghaizka segera menarik tangan Gelsya dan menarik anak itu ke belakang tubuhnya, melindunginya.
Wajahnya berubah menjadi dingin dan waspada.
"Minggir. Jangan menghalangi jalan kami!" ucap Ghaizka datar.
Salah satu pria yang paling besar dan bertato di lengannya tertawa sinis, lalu melangkah maju mendekati Ghaizka.
"Waduh... galak sekali ya mulutnya, Cantik. Kami tidak mau menghalangi, kok. Kami cuma mau minta 'uang jaga jalan' saja. Karena kalian lewat wilayah kami, wajib bayar!" jawabnya sambil menatap Ghaizka dari ujung kaki sampai ke kepala tersenyum miring.
"Wilayah kalian? Jalan ini milik umum. Dan kami tidak membawa uang untuk diberikan pada pemalak seperti kalian. Minggir, atau jangan salahkan saya kalau kalian yang rugi," ancam Ghaizka dengan suara dingin.
"Wih, berani ya menantang kami?" pria itu tertawa keras.
"Lihat nih, dia bawa tas apa itu? Emas ya? Kasih sini sini! Atau kalau tidak ada uang, wanita cantik ikut kami saja jadi jaminan!" kata mereka terkekeh.
Mereka tertawa terbahak-bahak, merasa menang karena jumlah mereka lebih banyak dan bertubuh kuat.
Gelsya di belakang ibunya mulai gemetar ketakutan, tangannya mencengkeram kuat baju Ghaizka.
"Ma... Mama..." panggilnya takut.
Ghaizka menepuk pelan tangan putrinya untuk memberi ketenangan.
"Kalian benar-benar memilih waktu yang salah untuk mencari masalah... Saya sedang ingin pulang dengan tenang, tapi kalian yang meminta sakit," kata Ghaizka pelan.
"Dasar wanita kurang ajar! a berani sekali kau mengancam kami! Tangkap mereka!" bentak pria bertato itu, amarahnya meledak mendengar ucapan Ghaizka yang tidak mau menurut.
Tanpa aba-aba lagi, dua orang anak buahnya langsung menerjang maju. Mereka berniat menangkap Ghaizka dan merebut tas yang dibawanya.
"Gelsya, tutup mata sebentar ya," bisik Ghaizka, tanpa sedikit pun melirik ke belakang.
"I... Iya Ma..." jawab Gelsya kecil, segera memejamkan matanya erat-erat sambil memeluk tubuhnya sendiri.
SWISH!
Gerakan Ghaizka begitu cepat hingga meninggalkan bayangan.
Sebelum kedua pria itu sempat menyentuh ujung bajunya, tangan Ghaizka sudah bergerak cepat.
JLEB! JLEB!
Dua suara halus terdengar nyaris tak terdengar.
"ARGHHH?!"
Dua pria yang tadi berlari kencang itu tiba-tiba berhenti mendadak di tengah jalan.
Tubuh mereka kaku seperti patung, mulut mereka terbuka lebar namun tidak bisa mengeluarkan suara apa pun selain rintihan tertahan.
Mata mereka melotot kaget. Mereka merasa tubuh mereka tiba-tiba tidak bisa digerakkan sama sekali! Seperti ada sesuatu yang melumpuhkan seluruh otot mereka.
"Apa yang kalian tunggu?! Serang! Kenapa diam saja?!" teriak ketua mereka bingung melihat anak buahnya berdiri kaku seperti orang bodoh.
"Bodoh... lihat baik-baik," desis Ghaizka dingin.
Ia mengangkat tangannya sedikit, dan seketika kedua pria itu ambruk ke tanah secara bersamaan.
Mereka tidak pingsan, tapi mereka benar-benar tidak bisa bergerak atau berdiri lagi.
Jarum akupunktur baru Ghaizka menancap sempurna di titik saraf utama mereka, melumpuhkan fungsi tubuh sementara waktu.
Ghaizka tersenyum tipis, iq tak menduga jika kedua pria itu menjadi manusia percobaan untuk mencoba jarum Akupunturnya yang baru.
Sekarang hanya tersisa si ketua preman bertato itu sendirian. Wajahnya mulai berubah pucat melihat kekuatan mengerikan wanita di depannya itu.
"Kau... kau siapa sebenarnya?!" tanyanya mulai mundur selangkah, tangannya gemetar.
"Pertanyaan yang salah," jawab Ghaizka pelan.
Ia melangkah maju perlahan, mendekati pria besar itu yang kini mulai ketakutan setengah mati.
"Yang harus kalian tanya adalah... hukuman apa yang pantas untuk orang yang berani melakuka kejahatan?"
"Tidak! Jangan mendekat! Aku..."
BRUK!
Belum sempat pria itu selesai bicara atau mencoba lari, Ghaizka sudah berada tepat di hadapannya.
Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan kuat, ia mencengkeram kerah baju pria itu, lalu membanting tubuh besarnya ke tanah dengan sangat mudah!
DUG!
Pria itu terhempas bahkan tidak sempat melihat bagaimana caranya bergerak.
Ghaizka lalu menginjak dada pria itu dengan kakinya yang kecil namun menekan dengan kekuatan yang luar biasa, membuatnya tidak bisa bernapas dan tidak bisa bergerak.
"Sekarang dengarkan baik-baik," ucap Ghaizka dingin
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...