Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HYEANA ANASTASIA
Sejak kecil, Hyeana mampu melihat hal-hal yang tak dapat dilihat oleh orang lain. Bayangan hitam di sudut rumah, suara langkah kaki di lorong saat tengah malam, sosok asing yang berdiri diam menatapnya dari balik jendela. Awalnya Hyeana tidak bisa membedakan mereka karena sebagian besar terlihat seperti manusia biasa. Ia bahkan sering menangis ketakutan setiap kali melihat sosok berlumuran darah atau sosok yang aneh muncul di hadapannya. Namun seiring waktu, Hyeana perlahan terbiasa hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk itu. Meski dapat melihat roh dengan jelas, kakaknya hanya mampu merasakan keberadaan mereka. 'Ada yang berdiri di belakangmu, ya?' Kalimat itu sering terdengar dari bibir sang kakak dengan wajah pucat setiap kali Hyeana menoleh ke arah ruang kosong. Kini mereka tinggal berdua di rumah besar milik keluarga mereka. Ayah dan ibu Hyeana bekerja di luar negeri dan jarang sekali pulang sehingga membuat rumah itu terasa semakin sunyi setiap malam. Hyeana paling membenci malam purnama karena biasanya… mereka datang silih berganti saat bulan itu muncul.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Malam itu hujan turun deras di luar jendela kamar. Hyeana menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sambil memejamkan mata. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 00.17 dini hari. Entah mengapa suasana malam terasa berbeda, terlalu dingin dan terlalu sepi. Hanya suara hujan yang terdengar samar sebelum akhirnya rasa kantuk perlahan membawanya tertidur.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kuda menggema kencang di tengah keheningan malam. Hyeana membuka mata perlahan...yang pertama kali ia lihat bukanlah kamarnya, melainkan kabut putih pekat yang menyelimuti jalan panjang di depan sana. Seketika tubuhnya menegang dan terkejut Ia sedang duduk di atas seekor kuda hitam besar, tubuhnya dibonceng oleh seorang pria berjubah gelap. Wajah pria itu tertutup tudung hitam hingga tak terlihat sedikit pun.
“Hah?! Kau siapa?!”
Refleks Hyeana memegang pinggang pria itu agar tidak terjatuh karena kuda yang ditungganginya sedang berlari kencang.
“K-kita di mana?! Kau mau membawaku ke mana?”
Tidak ada jawaban.
Kuda itu terus berlari melewati jalan asing yang dipenuhi kabut serta pepohonan hitam menjulang tinggi. Jantung Hyeana mulai berdetak semakin cepat, ia kembali bertanya..
“Hei…sebenarnya kau siapa?”
“Jawab aku! Kau ingin membawaku ke mana?”
Tetap tak ada jawaban sepatah katapun.
Hyeana menggigit bibir bawahnya, antara kesal dan takut. Tempat itu terasa aneh. Langitnya begitu gelap, tetapi cahaya pucat samar menyelimuti seluruh jalan, seolah dunia tersebut bukan milik manusia. Dan entah kenapa… udara di sana terasa mati. Tiba-tiba cahaya putih menyilaukan muncul tepat di depan mereka, Hyeana spontan menutup mata. Saat penglihatannya kembali jelas… pria berjubah hitam beserta kudanya itu telah menghilang. Kini hanya tersisa dirinya yang terbaring di atas tanah, dikelilingi pepohonan tinggi dan kabut putih yang disertai hawa dingin.
“Hah…?ini dimana?” gumamnya bingung.
Hyeana berdiri perlahan sambil melihat sekeliling. Tempat itu begitu luas dan asing. Ia mencoba mencari jalan keluar, tetapi tak dapat melihat ujung apa pun. Tak ada suara, Tak ada siapa-siapa, Hanya terdapat keheningan yang terasa menyeramkan.
“A-aku harus segera pulang” gumamnya pelan.
Ia mulai berjalan cepat, berusaha menemukan jalan keluar. Namun semakin jauh melangkah, tempat itu justru terasa makin asing. Tidak ada ujungnya…Tidak ada jalan pulang…
“Haloo?! Ada orang di sini?!”
Tak ada jawaban. Napas Hyeana mulai memburu. Rasa takut perlahan memenuhi dadanya. Saat ia mulai berlari….
Bruk! Kakinya tersandung sesuatu hingga tubuhnya jatuh keras ke tanah.
“Aduh…sakit…” gumamnya.
Hyeana mengangkat kepala perlahan, lalu matanya langsung membelalak. Di hadapannya berdiri sebuah gerbang raksasa berwarna putih perak dengan ukiran asing yang indah. Gerbang itu menjulang tinggi, sebagian tertutup kabut tipis, sementara cahaya terang keluar dari sela-sela pintunya. Jantung Hyeana berdetak semakin cepat dan entah mengapa…gerbang itu terasa hidup.
Kreeeet…
Gerbang besar dihadapannya itu perlahan terbuka dengan sendirinya. Kabut dingin keluar dari dalamnya, menyapu pelan hingga membuat tubuh Hyeana merinding, Ia melangkah maju dengan harapan tempat itu bisa menjadi jalan pulang. Tanpa Hyeana sadari, seseorang berjalan mendekat dari belakangnya, seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam pekat, kulit pucat, dan tatapan mata merah dingin yang terasa tidak manusiawi. Ia mengenakan pakaian hitam mewah layaknya bangsawan kerajaan kuno dan tatapannya langsung tertuju pada Hyeana.
“H-Hyeana? Kenapa dia berada di sini?” gumam pria itu pelan.
Saat Hyeana hendak memasuki gerbang, pria tersebut segera menarik lengan Hyeana lalu pria itu berkata…
“Belum saatnya kau berada di sini.”
Seketika pandangan Hyeana menggelap, ketika ia membuka mata kembali….ia sudah berada di kamarnya sendiri. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan, sementara hawa dingin dari tempat aneh tadi masih terasa jelas di kulitnya. Hujan deras telah berhenti, Cahaya bulan purnama masuk melalui celah tirai, menyinari sesuatu di pergelangan tangan kiri Hyeana, sebuah tanda hitam samar muncul. Tanda yang sebelumnya tidak pernah ada.
“Apa ini…kenapa tiba-tiba muncul?” gumamnya lirih.
Tanpa banyak berfikir lagi, Hyeana langsung tertidur kembali karena keesokan harinya ia harus pergi ke sekolah. Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari dunia manusia….Seorang pria bermata hitam kemerahan berdiri di bawah langit gelap dengan banyaknya bintang-bintang. Angin dingin berembus pelan, membuat jubah berwarna hitam disertai corak emasnya berkibar. Pria itu menatap bulan purnama sambil tersenyum tipis.
“Maafkan ibuku yang menarikmu kemari lebih awal.” gumam pria itu.
“Aku berjanji akan menjagamu dan...”
“Aku akan menjemputmu kembali saat waktunya tiba, Hyeana Anastasia.”
Cahaya matahari pagi masuk melalui celah tirai kamar Hyeana, menerangi ruangan yang masih dipenuhi hawa dingin sisa hujan semalam. Namun Hyeana sama sekali tidak merasa tenang, ia masih saja terbaring diam di atas ranjang sejak beberapa menit lalu, menatap pergelangan tangan kirinya dengan wajah pucat karena disana masih ada tanda hitam samar, tanda itu terlihat seperti lingkaran tipis dengan garis-garis aneh yang saling terhubung di tengahnya dan sampai sekarang… tanda itu tidak menghilang. Hyeana menyentuh tanda hitam itu dengan perlahan, tanda itu terasa dingin....Sangat dingin....
“ini cuma mimpi… kan?tadi malam itu....” bisik Hyeana pelan.
Namun entah kenapa, setiap kali mengingat pintu gerbang putih besar itu, dadanya selalu terasa sesak. Kreeatttt…pintu kamarnya terbuka sedikit.
“Hyeana? Kamu udah bangun?” Suara kakaknya langsung membuat Hyeana tersadar dari lamunannya.
“I-iya kak, aku udah bangun”
Ia buru-buru menarik lengan piyamanya untuk menutupi tanda tersebut sebelum sang kakak masuk.
Kakaknya berjalan masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat. Rambut hitam panjangnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
“Aku pikir kamu masih tidur, dari tadi kamarmu sepi banget ga ada suara.” Ucap kakaknya
“Aku ngerasa kurang enak badan kak.” Jawab Hyeana
Beberapa detik kemudian, tatapan kakaknya berubah aneh, menjadi pucat dan kosong. Perlahan matanya tertuju ke belakang tubuh Hyeana dan kakaknya perlahan berkata...
“D-Dia masih ngikutin kamu?”
“A-apa kak? siapaa? dimanaa?!” Tanya Hyeana panik
“Ada seseorang berdiri di belakangmu…” Suara kakaknya terdengar bergetar, dan ia mundur satu langkah sambil menggenggam cangkir teh erat-erat.
Tubuh Hyeana langsung menegang dan perlahan ia menoleh ke belakang...dan ternyata...
Kosong, Tidak ada siapa-siapa dibelakangnya.
“Kak… jangan bercanda…” ucap Hyeana agak kesal
“Aku serius…” ucap kakaknya dengan wajah yang semakin pucat.
“Dia tinggi… pakai baju hitam…” lanjut kakaknya
Hyeana langsung teringat pria yang berada di depan gerbang semalam. Tubuhnya mulai terasa dingin, Saat ia kembali menoleh ke arah kakaknya....
Brak!
Cangkir teh yang tadi dipegang erat oleh kakaknya jatuh ke lantai hingga pecah. Kakaknya membeku sambil menatap sesuatu di belakang Hyeana dengan ketakutan.
“Dia lihat ke arahku…” ucap kakaknya lirih
“Hah? Siapa kak?” ucap Hyeana bingung
“Hyeana…dia tersenyum hyeana....” suara kakaknya yang semakin lirih.
Belum sempat ia berkata apa-apa, tiba-tiba....
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki terdengar dari lorong lantai dua. Suara langkah kaki itu terdengar Pelan, berat, tapi sangat jelas sekali, padahal… mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Sontak Hyeana dan kakaknya langsung saling menatap satu sam lain.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara itu semakin mendekat, napas kakaknya mulai memburu.
“Hyeana…itu....”
“Kak….”
Tap....Tap.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar dan tiba-tiba.....Sunyi. Tidak ada suara apa pun lagi. Beberapa detik terasa sangat lama namun perlahan, gagang pintu mulai bergerak sendiri.....Ceklak…..Pintu kamar hyeana terbuka sedikit tapi saat Hyeana dan kakaknya mengecek tidak ada siapa pun di sana. Lalu tak berselang lama Hyeana dan kakaknya melihat lorong rumah yang terlihat kosong dan gelap meski hari sudah pagi, angin dingin tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membuat tirai bergerak pelan...dan bersamaan dengan itu....Tanda hitam di pergelangan tangan kiri Hyeana mulai terasa panas.
“Arghh…!” teriak Hyeana dengan refleks langsung memegang pergelangan tangan kirinya, rasa sakit mulai menyebar seperti sesuatu sedang terbakar di kulit tangan kirinya.
“Hyeana?!” Ucap Kakaknya sembari mendekat panik.
Saat tangan kakaknya menyentuh tangan kiri Hyeana....Bruk!
Tubuh Hyeana tiba-tiba terjatuh lemas ke lantai, pandangan mata hyeana mendadak kabur dan untuk sesaat…Hyeana terbangun dan matanya melihat kembali tempat asing itu. Tempat yang berisi kabut putih, pepohonan hitam, udara dingin yang terasa mati, dan ada suara seorang pria terdengar samar di telinganya.
“Tanda itu telah aktif….maaf jika itu menyakitimu”
Suara yang sama seperti semalam. Dingin, rendah, tapi anehnya terasa sangat menenangkan. Saat Hyeana mencoba mengusap matanya agar penglihatan-nya semakin jelas, di tengah kabut putih, samar-samar ia melihat sosok pria berpakaian hitam berdiri di depannya. Rambut hitamnya tertiup angin pelan, sementara mata pria itu terus saja menatap lurus ke arah Hyeana.
“Hyeana Anastasia.....”
Pria itu perlahan berjongkok di hadapannya dan tatapannya terlihat lembut, sangat berbeda dari aura dingin yang ia miliki.
“Jangan takut, aku hanya ingin bertemu denganmu walau sebentar...”
Hyeana ingin bertanya siapa pria yang dihadapan-nya itu, tetapi tubuhnya terasa terlalu lemah untuk bergerak.
“Aku sudah menunggumu sangat lama.”
Deg.
Jantung Hyeana berdetak keras. Entah kenapa, suara pria itu terasa familiar yang seolah ia pernah mendengarnya sejak lama. Pria itu mengangkat tangan perlahan, lalu menyentuh tanda hitam di pergelangan tangan kiri Hyeana, seketika tanda hitam itu mulai menjadi samar namun masih ada.
“mereka akan terus mencarimu....dengarkan aku hyeana.....” Suara pria itu terdengar semakin pelan.
“Aku akan terus menjagamu hingga waktunya tiba”
“Hah…apa maksudmu?”
Namun sebelum Hyeana sempat bertanya....semuanya mendadak menghilang.
“HYEANA!”
Hyeana tersentak dan membuka mata, ia kembali berada di kamar, kakaknya memegang tangan hyeana dengan wajah panik.
“Kamu pingsan tiba-tiba!” ucap kakaknya
Napas Hyeana masih tidak beraturan, tubuhnya gemetar dingin, dan saat ia menatap pergelangan tangannya....tanda hitam itu kini terlihat jauh lebih samar dibanding sebelumnya, seolah-olah seseorang baru saja menenangkannya.
“Kamu yakin gapapa?” tanya kakaknya khawatir sambil membantu Hyeana duduk di atas ranjang.
“Aku mungkin kecapekan aja kak.” Ucap Hyeana sambil mengangguk pelan walau kepalanya masih terasa sedikit pusing.
Kakaknya terlihat belum sepenuhnya percaya, tetapi akhirnya ia menghela napas panjang.
“Hari ini jangan aneh-aneh dulu. Kalau masih kurang enak badan, izin aja jangan masuk sekolah.”
“Kalau aku bolos nanti wali kelas ngomel-ngomel hahaha.” jawab Hyeana pelan sambil mencoba bercanda.
Jauh di dalam pikirannya, Hyeana tahu…apa yang barusan terjadi tadi bukan hal yang biasa.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Pagi itu berjalan seperti biasanya, langit setelah hujan terlihat mendung pucat, sementara udara dingin masih terasa saat Hyeana berjalan menuju sekolah. Beberapa siswa terlihat bercanda di depan gerbang SMA, ada yang sibuk mengerjakan PR dadakan, ada juga yang mengobrol sambil tertawa keras.
“Hyeana!” suara seorang gadis membuat Hyeana menoleh.
Seorang siswi berambut panjang berlari kecil menghampirinya sambil membawa tas penuh gantungan lucu. Siswi tersebut bernama Chiara azalea, nama panggilannya Ara.
“Kamu dari tadi aku chat ga bales!” ucap Ara
“Maaf ra, aku ketiduran hehe...” ucap Hyeana sambil tersenyum
Ara dengan spontan langsung memperhatikan wajah Hyeana.
“Tumben muka kamu pucet banget.” ucap Ara.
“Aku kurang tidur semalam.” ucap Hyeana.
“Jangan bilang kamu begadang nonton anime lagi?” ucap Ara dengan nada menggoda Hyeana.
Hyeana hanya tertawa kecil walau sebenarnya semalaman ia hampir tidak bisa tidur dengan tenang, Mereka berjalan memasuki ruang kelas sekolah bersama.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa, guru terus menjelaskan materi di depan kelas, sementara suara kipas angin terdengar pelan memenuhi ruangan, tapi tetap saja Hyeana sama sekali tidak bisa fokus. Tatapannya beberapa kali tanpa sadar tertuju pada jendela kelas yang ntah kenapa…Hyeana merasa seseorang terus memperhatikannya.
“Hyeana.” Suara guru yang mendadak membuatnya tersentak.
“hah kenapa bu?!” jawab Hyeana.
Seisi kelas langsung menoleh ke Hyeana dan tertawa kecil.
“Kamu dengerin saya dari tadi atau melamun?” tanya guru itu.
“Maaf bu...” ucap Hyeana langsung menunduk malu.
“Untung baik gurunya, hahaha” Ucap Ara berbisik kecil sambil tertawa.
Hyeana memukul pelan lengan Ara karena sedikit kesal, saat Hyeana kembali melihat ke arah jendela....Sosok pria berpakaian hitam itu kembali terlihat sedang berdiri di luar gedung sekolah, ia berdiri diam, dan tatapan nya seolah menatap lurus ke arahnya. Kali ini Hyeana bisa melihat wajahnya sedikit lebih jelas, kulit pucat, tatapan dingin, dan mata hitam kemerahan yang terasa aneh untuk seorang manusia. Napas Hyeana langsung tercekat, lalu beberapa detik kemudian.....sosok itu menghilang lagi.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Siang hari akhirnya tiba, bel sekolah terdengar nyaring memenuhi gedung sekolah, sebagian besar siswa juga langsung berhamburan keluar kelas dan menuju kantin untuk makan siang, tetapi Hyeana memilih pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku favoritnya sebentar. Suasana perpustakaan siang itu sangat sepi, hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik dan ketikan laptop dari beberapa siswa yang sedang ada di perpustakaan itu. Setelah jam istirahat selesai, Hyeana kembali masuk ke kelas sampai tak terasa Waktu berjalan cepat hingga langit di luar mulai berubah jingga, sudah waktunya pulang sekolah, Hyeana pulang kerumah sendirian.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Malam harinya, Hyeana memutuskan makan malam di luar bersama kakaknya, mereka pergi ke restoran kecil yang tidak terlalu ramai di pusat kota, suasana hangat dari restoran sedikit membuat pikiran Hyeana lebih tenang.
“Untung kamu udah keliatan mendingan,” ucap kakaknya sambil menuangkan minuman ke gelas Hyeana.
“Iya aku udah sedikit enakan kak.” jawab Hyeana sambil tersenyum kecil.
“Kamu masih kepikiran kejadian tadi pagi?” tanya kakaknya.
“Kak....itu...eumm...” ucap Hyeana ragu
“Hm?kenapa hyeana?” jawab kakaknya
“Kakak beneran lihat pria itu?” Hyeana bertanya pelan
“Aku ga bohong Hyeana, aku beneran liat dia sejelas itu.” Jawab kakaknya
“Aku juga bisa ngerasain dia…” lanjut kakaknya pelan.
“Sepertinya dia bukan roh yang biasa.”
Deg.
Jantung Hyeana kembali terasa berat namun sebelum ia sempat menjawab....
“Permisi, saya taruh pesanannya ya kak, sekarang semua pesanannya udah lengkap ya kak, selamat menikmati”
Suara pelayan restoran membuat Hyeana dan kakaknya langsung tersadar, pelayan itu meletakkan makanan di meja mereka lalu tersenyum ramah sebelum pergi meninggalkan mereka, suasana yang tadi terasa tegang perlahan sedikit mencair. Kakaknya menghela napas panjang lalu menatap Hyeana serius.
“Mulai sekarang jangan pulang terlalu sore, jangan sampai malam juga ya” ucap kakaknya
“Hah?tapi kan aku jarang pulang malam kak” jawab hyeana
“Iya aku tau Hyeana, Aku cuma takut ada sesuatu ngikutin kamu lagi.” ucap kakaknya lagi
“Kakak takut ya sama aku?” ucap Hyeana dengan sedikit lirih
“Hyeana, jangan ngomong gitu.” ucap kakaknya yang terkejut dengan pertanyaan Hyeana
“Kan dari kecil aku selalu bawa hal aneh…mungkin kalau aku kaya anak normal.....” ucap Hyeana dengan suara yang makin lirih
“Hyeana.” kakaknya langsung memotong ucapan itu disertai tatapannya yang melembut.
“Kamu adikku, Aku emang takut sama mereka…tapi aku ga akan pernah takut sama kamu” lanjut kakaknya pelan sambil tersenyum.
Hyeana langsung terdiam, untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, dadanya terasa sedikit lebih tenang.
“Udah, jangan dipikirin terus. Kamu tuh kebanyakan overthinking hahaha.” ucap kakaknya berusaha mencairkan suasana
“Hah?! Kakak sendiri yang tadi pagi panik!” ucap Hyeana agak kesal sedikit
“Habisnya serem banget!” ucap kakaknya lagi
“Hahaha!” Akhirnya mereka tertawa bersama.
Setelah selesai makan direstoran malam itu, Hyeana dan kakaknya pulang kerumah dan mereka beristirahat dengan tenang dan damai