Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 16.
Malam semakin larut, namun udara di dalam mobil mewah yang dikendarai sendiri oleh Kenan terasa semakin menyesakkan.
Rahang Kenan mengeras, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. di dalam pembuluhnya, darah terasa mengalir lebih cepat. Ia baru menyadari bahwa segelas minuman yang ia teguk di pesta tadi telah dicampur dengan sesuatu yang kini mulai menggerogoti akal sehatnya, itu obat perangsang yang dosisnya tidak main-main.
Kiara duduk di sampingnya masih mematung. Keisengannya meminta ciuman tadi justru berbuah keheningan yang mencekam dari Kenan. Pria itu tidak berbicara lagi setelah itu, ia hanya fokus memacu mobil.
"Pak... kita mau ke mana?" tanya Kiara lirih.
"Ini bukan jalan pulang ke rumah saya atau ke kantor atau ke apartement bapak." Kiara mulai panik.
Kenan tetap diam seribu bahasa. matanya menatap lurus ke depan dengan sorot tajam yang berkabut oleh gairah yang dipaksakan oleh obat tersebut. Ia hanya ingin sampai ke tempat yang aman sebelum kehilangan kendali sepenuhnya di tempat umum.
Sesampainya di basement hotel mewah milik keluarganya. Kenan langsung menarik tangan Kiara menuju lift pribadi.
Kiara yang masih bingung hanya bisa mengikuti langkah lebar Kenan yang penuh tuntutan.
"Pak Kenan, ada apa? Bapak terlihat aneh," ucap Kiara saat mereka berada di dalam lift.
Ia mencoba menyentuh kening Kenan namun Kenan menangkap tangannya dengan kasar.
"Diam, Kiara. jangan memancingku jika kamu tidak siap menghadapi badainya," desis Kenan dengan suara serak yang sangat dalam.
Di sebuah kamar suite.
Begitu pintu kamar terbuka kasar. Kenan tidak membiarkan Kiara melangkah lebih jauh. Ia menyudutkan wanita itu ke dinding pintu yang tertutup rapat. napas Kenan memburu, panasnya menerpa wajah Kiara yang kini mulai merasa ketakutan.
"Pak kenan... Bapak sedang mabuk?" bisik Kiara gemetar.
"Bukan mabuk!" jawab Kenan, kedua tangannya mengunci pergerakan pinggang Kiara.
"Seseorang telah menjebakku dengan obat brengsek itu di tempat tadi. dan sekarang permintaan konyolmu tentang ciuman itu terus terngiang di kepalaku."
Sebelum Kiara sempat memprotes, Kenan sudah membungkam bibirnya dengan ciuman yang penuh tuntutan. Ini bukan ciuman lembut yang Kiara bayangkan. ini adalah ledakan rasa lapar dan frustrasi.
Kenan melucuti gaun yang dikenakan Kiara dengan gerakan penuh gairah, seolah-olah gaun mahal itu hanyalah penghalang tipis di tubuh Kiara.
Di atas ranjang besar yang dingin, suasana berubah menjadi sangat panas. Kenan bergerak seolah didorong oleh insting murni.
Namun, di tengah luapan yang membuncah, ia melihat air mata mengalir perlahan dari sudut mata Kiara. wanita itu tampak rapuh, sangat jauh dari sosok berisik yang selama ini ia kenal.
Kenan mendadak berhenti. kesadarannya seolah dipukul mundur oleh tangisan itu. Ia menjauhkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih tersenggal-senggal.
"Perbaiki gaunmu." ucap Kenan dingin, berusaha menekan hasrat yang masih menguasai tubuhnya.
"Aku akan membasuh tubuhku dengan air dingin. maaf..... maaf sudah menyakitimu." Kata Kenan.
'Dia ingin mengusirku? bagaimana setelah aku pergi dia meminta wanita lain memuaskannya.' Batin Kiara sambil memeluk tubuhnya.
'Apa yang sudah aku lakukan?' Batin Kenan merasa sangat bersalah.
Kenan hendak berdiri menuju kamar mandi namun sebuah tangan kecil yang lembut menahan lengannya. Dengan sedikit sentakan, Kiara menarik tangan Kenan hingga pria itu kembali terjatuh di atas tubuhnya, menindihnya dalam posisi yang sangat intim.
"Apa yang kamu lakukan? Aku sudah mencoba melepaskanmu!" Kenan menatap Kiara dengan bingung.
Kiara menatap mata Kenan, air matanya masih tersisa namun tatapannya kini berubah menjadi kepasrahan yang tulus.
"Aku bukan tidak mau hiks.... hiks....." Bisiknya dengan suara bergetar.
"Aku hanya takut... aku takut itu akan terasa sangat sakit."
Kenan tertegun, amarah dan gairahnya seolah tertahan oleh pengakuan polos itu.
"Bisakah kamu memulainya pelan-pelan?" Kiara membelai rahang tegas Kenan.
"Ini pertama kali untukku." Tambah Kiara.
Kenan terpaku sejenak, menatap wanita di bawahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa haru sekaligus pelindung yang muncul di hatinya, mengalahkan pengaruh obat yang masih bergejolak.
"Aku juga yang pertama?" desis Kenan tepat di depan bibir Kiara.
Kiara mengangguk.
"Jadi, jangan menangis lagi... kita akan melaluinya bersama. ini juga pertama kali untukku." Kata kenan.
Kenan memulai kembali kegiatannya, namun kali ini dengan kelembutan yang tidak pernah Kiara bayangkan bisa dilakukan oleh seorang Ice Man yang dia sebut-sebut sebagai pria brengsek, pecandu wanita, bagaimana tidak? Kiara berfikir kenan sengaja memecat asisten-asistennya. bukan karena kesalahan kerja tetapi karena pria itu mencari yang lebih cantik dan seksi.
Sentuhannya perlahan menghapus ketakutan Kiara, menggantinya dengan rasa hangat dan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh.
Malam itu, di dalam kamar yang tertutup rapat, bukan hanya fisik yang menyatu, namun juga rahasia dan harga diri yang mereka pertaruhkan satu sama lain.
****
Pagi harinya...
Kenan memeluk Kiara erat di bawah selimut tebal. obat itu mungkin sudah hilang pengaruhnya, namun keinginan Kenan untuk tetap mendekap Kiara justru semakin kuat.
Ternyata sangat nikmat, pikir Kenan mulai meraba-raba kulit belakang Kiara yang mulus.
"Jadi... bonus sepuluh miliarku? Pak Kenan serius kan dengan itu." tanya Kiara pelan, mencoba mencairkan suasana pagi yang terasa canggung.
Kenan mengecup kening Kiara.
"Jangan membahas itu sekarang, itu tidak penting." balas Kenan.
"Tentu saja penting! Pak Kenan tidak boleh ingkari janji... bahkan memori otakku semakin merekam kata-kata pak Kenan semalam."
"Tentang kejadian semalam?" Tanya Kenan.
"Iya.... sepuluh miliar!" kata Kiara membuat Kenan menepuk jidat wanita itu.
"Sepuluh miliar itu terlalu sedikit untuk apa yang kau berikan semalam, Kiara." Kata Kenan.
"Lalu? Pak Kenan mau memberiku setengah saham perusahan?" Ujarnya semakin ngelunjak.
"Tidak." Ucap Kenan membuat Kiara berhenti berkhayal.
"Aihhhh... pelitnya." Balas Kiara cemberut.
Sambil memeluk kenan, mengambil kesempatan meraba-raba perut sixpack pria itu di balik selimut sambil sesekali dia salah tingkah dan pipinya merona merah.
"Siapkan dirimu. karena mulai hari ini bukan hanya Arkan atau teman masa kecilmu yang harus menjauh darimu... tapi seluruh dunia harus kubuat hilang." Ucap Kenan dengan nada posesif yang mutlak.
Kiara tersenyum di dada Kenan. "Apa maksudnya itu?" Tanya Kiara masih belum berfikir apa-apa.
"Kita harus menikah." Kata Kenan. "Aku akan menikahimu, jadilah istriku." Tambahnya.
Seketika membuat Kiara kaget dan duduk dengan ekspresi yang sulit di buat-buat. menikah? dengan Kenan? menjadi istri pria itu? tidak.... tidak bisa, dia akan dibunuh oleh ibu dan neneknya jika tahu alasan mereka menikah karena tidur duluan. jelas sekali bukan.
'Kami tidak saling mencintai!!!!' Tangan Kiara gemetar sementara Kenan curiga Kiara tidak mau bertanggung jawab.
"Kiara.. kita sudah tidur! jangan menolakku!" Kenan melototi Kiara.
"Pak kenan... rileks.. mari kita diskusikan baik-baik. tapi tunggu sebentar... aku ke kamar mandi dulu," Kata Kiara menjauh dari ranjang dengan detak jantung tak karuan.
Bersambung....
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭