NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Sinar matahari pagi kota Los Angeles menerobos masuk melalui celah-celah tirai vertikal penthouse mewah milik Maximilian Valerio.

Cahaya keemasan itu jatuh tepat di atas lantai marmer hitam, memantulkan bayangan siluet kota yang mulai menggeliat sibuk.

Di ruang tengah, di atas sofa panjang berlapis kulit premium, Max melenguh pelan saat sebuah getaran konstan dan dering nyaring dari ponsel pintarnya memaksa kesadarannya kembali ke permukaan.

Max merogoh kolong bantal sofa dengan mata yang masih setengah terpejam. Di layar datar ponselnya, nama "Mommy" berkedip lambat. Pria berusia dua puluh tahun itu berdehem sedikit, mencoba mengusir suara serak khas bangun tidur sebelum menggeser tombol hijau ke kanan.

"Ya, Mom? pagi," sapa Max, suaranya berat dan parau.

"Selamat pagi," suara lembut namun sarat akan ketegasan khas seorang jaksa penuntut umum terdengar di seberang saluran. "Kau tidak pulang ke rumah semalam, Max. Ray terus menanyakan kakaknya karena tidak ada yang membantunya merapikan tugas sekolah. Kau ada di mana?"

Max mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sembari memijat pelipisnya perlahan.

"Aku menginap di apartemen pusat kota, Mom. Semalam jalanan jembatan layang sangat padat, dan aku merasa terlalu lelah untuk berkendara kembali ke rumah." Max sengaja menyembunyikan fakta bahwa semalam dia harus menyelamatkan seorang yang nyaris melompat ke dalam jurang kematian.

Audrey Valerio menghela napas panjang, sebuah embusan napas pasrah seorang ibu yang sudah sangat hafal dengan watak mandiri putranya. "Baiklah. Lagipula tempat itu memang hakmu selama menempuh studi di sini. Tapi Mommy mengingatkanmu, jangan melewatkan sarapan pagi, Max. Kau baru saja pindah lingkungan, dan Mommy tidak mau mendengar dosenmu di kampus menelepon karena kau pingsan di kelas bisnis akibat lambungmu kosong."

Max seketika menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan ironi mendengar kata 'dosen' disebut oleh ibunya. Jika saja Audrey tahu bahwa tidak ada dosen, yang ada hanya asisten dosen yang sedang berada di dalam kamar utama apartemennya, sang jaksa mungkin akan langsung menjatuhkan dakwaan tuntutan berlapis padanya.

"Aku mengerti, Mom. Aku akan mencari sarapan setelah ini. Sampaikan salamku pada Ray," ucap Max sebelum akhirnya menyudahi panggilan telepon tersebut.

Max meletakkan ponselnya di atas meja kopi, lalu menegakkan tubuhnya. Pagi ini dia hanya mengenakan celana kain hitam panjang dan kaos dalam tanpa lengan sewarna arang, mengekspos lekuk otot bahunya yang kokoh serta guratan tato geometris abstrak di pergelangan tangannya yang tampak begitu kontras dengan citra anak baik-baik di depan ibunya.

Sementara itu, di area dapur bersih yang didominasi oleh perabotan berbahan stainless steel dan kayu ek gelap, Amieyara Walker sedang berdiri di depan sebuah lemari es dua pintu berukuran besar. Rambut hitamnya pagi ini dicepol asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang menjuntai di tengkuk lehernya. Dia sudah berganti pakaian menggunakan kemeja satin putih longgar miliknya yang ada di dalam koper semalam.

Yara mengembuskan napas frustrasi sembari bertumpu pada pintu lemari es yang terbuka lebar. Sepasang matanya yang indah menatap nanar ke dalam kompartemen pendingin tersebut.

Kosong. Tidak ada apa-apa di dalam sana selain beberapa botol air mineral dan sebungkus es batu yang sudah mencair setengahnya. Tidak ada telur, tidak ada roti, bahkan tidak ada selembar pun keju yang bisa dia olah menjadi menu sarapan sederhana pagi ini.

"Apartemen semewah ini, tapi pemiliknya membiarkan dapurnya sekosong gurun pasir," gumam Yara ketus, hendak menutup pintu lemari es dengan sedikit sentakan.

Namun, gerakan tangannya terhenti saat sebuah langkah kaki yang terseret pelan terdengar mendekat ke arah dapur. Yara menoleh dan mendapati Maximilian berjalan masuk dengan muka bantalnya yang kentara.

Rambut acak-acakan khas bangun tidur, sepasang mata yang masih menyipit menahan kantuk, serta pembawaannya yang terkesan lambat membuat citra dominan sang genius Harvard semalam menguap tak berbekas.

Melihat pemandangan langka itu, jiwa provokatif Yara yang sempat terkubur oleh air mata semalam mendadak bangkit kembali. Sebuah senyuman menggoda yang sarat akan ejekan langsung terukir di bibir ranumnya. Yara melipat kedua tangan di depan dada, bersandar pada konter dapur sembari menatap Max dari atas ke bawah.

"Selamat pagi, Mahasiswa Baru," goda Yara dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, namun mengandung racun sindiran. "Wah, lihat dirimu. Di mana hilangnya keangkuhan pria Harvard semalam? Hei... air liurmu bahkan belum kau bersihkan dari sudut bibirmu, Bocah."

Max menghentikan langkahnya tepat di depan dispenser air. Mendengar sapaan pagi yang luar biasa menyebalkan dari Yara, dia tidak marah.

Sebaliknya, sebuah seringai nakal yang sarat akan kelicikan perlahan muncul di wajah tampannya yang masih mengantuk. Max memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Yara dengan pandangan mata yang mendadak berubah intens.

Max melangkah maju satu tapak, mendekatkan wajah bantalnya ke arah Yara hingga wanita itu bisa mencium aroma maskulin khas bangun tidur dari tubuh Max.

"Apa itu air liur?" bisik Max dengan suara baritonnya yang serak dan berat, terdengar begitu seksi sekaligus berbahaya di keheningan pagi. "Aku rasa... aku lebih suka air susu pagi ini."

DEG.

Kalimat ambigu itu meluncur begitu saja dari bibir Max, bersamaan dengan pandangan matanya yang dengan sengaja melirik turun ke arah dada Yara yang terbalut kemeja satin putih longgar yang kancing atasnya sedikit terbuka.

Wajah Yara seketika merona merah padam. Rasa syok dan jengkel bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Dia langsung mendorong bahu tegap Max dengan telapak tangannya untuk menjauhkan jarak di antara mereka.

"Kau benar-benar pria brengsek, Maximilian!" cetus Yara tajam, matanya menyala oleh amarah yang mendadak tersulut kembali. "Otakmu itu benar-benar tidak pernah bergeser dari hal-hal mesum, hah?!"

Max mundur dua langkah sembari meledak dalam tawa renyah—sebuah tawa lepas yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Yara. Dia mengambil sebuah gelas kaca dari rak, lalu mengisinya dengan air mineral dingin dari dispenser dengan gestur tanpa dosa.

"Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, Yara?" tanya Max di sela-sela tawanya, menatap Yara dengan pandangan mata yang seolah-olah mengadili pikiran kotor wanita itu.

"Aku hanya mengatakan bahwa aku ingin minum susu putih dari kotak kardus yang ada di lemari atas pagi ini. Kau sendiri yang selalu berpikiran buruk dan mengaitkan setiap kalimatku dengan hal-hal yang tidak senonoh. Jadi, siapa sebenarnya yang berotak mesum di sini?"

Yara terdiam seketika, lidahnya mendadak kelu karena skakmat yang diberikan oleh Max. Dia melirik ke arah lemari gantung di atas konter dapur, dan benar saja, di sana terdapat beberapa kotak susu sereal instan yang belum dibuka. Rasa malu kembali menghantam harga diri Yara untuk yang kesekian kalinya di depan pemuda berusia dua puluh tahun ini.

Yara mendengus kasar, memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terserah kau saja, Valerio."

Max menyelesaikan minumnya, lalu meletakkan gelas kaca itu di atas meja bar dengan ketukan pelan. Wajah jenakanya kini berubah menjadi lebih teratur. "Kulihat kau tadi menatap lemari es seperti ingin menelan pintunya. Kosong, kan?"

"Sangat kosong," jawab Yara ketus, masih kesal.

"Aku tahu. Aku jarang tinggal di sini sejak pindah ke Los Angeles," Max merogoh saku celananya, mengambil ponselnya kembali.

"Dengar, sepulang dari kampus siang nanti, kita akan pergi belanja bersama untuk mengisi bahan makanan di apartemen ini. Aku tidak mau mati kelaparan karena asisten dosenku tidak bisa memasak karena alasan fasilitas."

Yara menoleh, sedikit terkejut dengan inisiatif yang ditawarkan oleh Max. Meskipun kata-katanya terdengar menyebalkan, namun tindakan pemuda itu harus diakui sangat solutif bagi kondisinya yang saat ini tidak memiliki tempat pelarian lain.

"Aku akan memesan makanan cepat saji melalui aplikasi sekarang agar kita tidak terlambat ke kampus," sambung Max sembari jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel.

Yara menarik napas dalam-dalam, menurunkan sedikit egonya. Bagaimanapun, malam ini dia sudah berutang nyawa dan tempat tinggal pada pria di hadapannya ini.

"Terima kasih, Max," ucap Yara dengan nada suara yang tulus dan melembut, sebuah penghargaan kecil yang jarang dia berikan pada pria mana pun setelah pengkhianatan David.

Max menghentikan gerakan jarinya di layar ponsel, mendongak menatap Yara dengan binar mata yang mendadak dipenuhi oleh kilat keisengan tingkat tinggi.

"Sama-sama, Baby," jawab Max dengan intonasi suara yang sengaja dilembutkan, terdengar begitu manja sekaligus memprovokasi.

Mendengar panggilan gila itu keluar dari mulut mahasiswanya sendiri, mata Yara seketika membelalak sempurna. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Dia sudah bersiap untuk melontarkan sumpah serapah dan umpatan kasar untuk membalas kelancangan pemuda itu.

Namun, sebelum kata pertama lolos dari bibir Yara, Max sudah lebih dulu membalikkan badannya dengan cepat sembari tertawa puas, berjalan melangkah kembali menuju kamar mandi untuk bersiap-siap, meninggalkan Yara yang berdiri mematung di dapur dengan dada yang kembang kempis menahan dongkol yang luar biasa.

Pagi ini baru saja dimulai, namun Max sudah berhasil membuat tensi darahnya naik ke tingkat tertinggi.

Satu jam kemudian, sebuah sedan sport hitam arang matte melaju membelah jalanan protokol kota Los Angeles yang mulai padat oleh arus kendaraan pagi. Di dalam kabin mobil, atmosfer sunyi yang sarat akan kecanggungan kembali tercipta.

Yara duduk di kursi penumpang dengan pakaian formal yang sudah rapi—kemeja sutra biru muda dan rok span hitam yang memperlihatkan keindahan kaki jenjangnya.

Sepasang matanya menatap tajam ke luar jendela, menolak untuk memberikan atensi pada pria di sampingnya. Sementara itu, Maximilian fokus mengemudikan kendaraannya dengan satu tangan di atas setir, sementara tangan lainnya bertumpu pada jendela mobil yang terbuka sedikit, membiarkan angin pagi memainkan rambut acak-acakannya yang kini sudah tertata rapi.

Mereka berangkat bersama ke kampus dari satu titik awal yang sama—sebuah rahasia besar yang jika sampai bocor ke telinga mahasiswa lain atau bahkan ke telinga Caca, akan memicu ledakan skandal gila yang tidak akan pernah usai.

Mobil Max memasuki area gerbang universitas tepat lima belas menit sebelum bel kuliah pertama berbunyi. Alih-alih menurunkan Yara di area drop-off gedung Fakultas hukum yang sepi agar terhindar dari kecurigaan, Max dengan sengaja mengarahkan mobil mewahnya menuju area parkir utama Fakultas Bisnis yang saat itu sedang sangat ramai oleh kerumunan mahasiswa yang sedang berkumpul pagi.

"Hei, apa yang kau lakukan, Max?! Turunkan aku di depan gedung hukum!" bisik Yara panik saat melihat deretan mahasiswa mulai menoleh ke arah mobil sport milik Max yang menderu halus memasuki area parkir.

Max tidak memedulikan ucapan Yara. Dia memutar setir dengan sentakan halus, memasukkan mobilnya ke dalam slot parkir kosong tepat di barisan depan, lalu mematikan mesin.

"Kita sudah sampai, Nona Walker," ucap Max dengan nada santai, seulas senyuman tengil yang sangat menjengkelkan terukir jelas di wajah tampannya.

Max membuka pintu mobilnya, melangkah keluar dengan gaya kedewasaan seorang Valerio yang intimidatif. Dia mengancingkan jaket denimnya sejenak, lalu berjalan memutar menuju pintu penumpang tempat Yara berada.

Di bawah tatapan ratusan pasang mata mahasiswa bisnis yang sedang nongkrong di selasar parkir—termasuk Demon dan Carter yang berdiri tidak jauh dari sana dengan mulut menganga lebar—Max dengan ksatria membukakan pintu mobil untuk Yara.

Max menundukkan tubuhnya sedikit, mengulurkan sebelah tangannya dengan gestur formal yang dibuat-buat, membantu Yara untuk keluar dari mobil sportnya.

"Silakan turun, Nona yang terhormat," ucap Max dengan suara yang cukup lantang, sengaja membiarkan beberapa mahasiswa di sekitar mereka mendengarnya.

Seringai tengil di wajahnya semakin melebar saat dia melihat kilatan amarah dan kepanikan yang luar biasa di sepasang mata cantik Yara.

Pagi ini, di bawah siraman matahari kampus, Maximilian Valerio secara resmi telah menabuh genderang permainan baru yang jauh lebih menantang bagi hidup Amieyara Walker.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!