NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^31

Karena mengabaikan penasaran dalam sukma jauh lebih sulit, ketimbang mempermainkan pikiran seseorang. Di saat hubungan yang pernah terjalin telah hancur akan kepercayaan yang sulit berpihak pada seseorang keras kepala.

Pandangan meliar untuk mencari sosok yang entah di mana keberadaanya, tanpa menghentikan kaki jenjangnya. Terus melangkah melewati beberapa manusia lalang di sekitarnya, hingga kaki itu terhenti saat kedua mata tidak sengaja melihat ke dalam ruangan melalui jendela yang berada di hadapannya saat ini.

"Apa dia seorang maniac buku? Kenapa dia tidak pernah bosan dengan tulisan di buku-buku itu?" Gumannya. Mengerutkan samar keningnya, sebelum tersenyum kecil saat raut wajah seseorang yang pemuda itu lihat berubah menjadi suram.

"Seharusnya dia tidak membaca buku itu." Imbuh sang pemuda dengan kepala menggeleng pelan, sembari berjalan pelan untuk masuk ke dalam ruangan. Karena, pemuda itu ingin menuntaskan rasa rindunya terlebih dahulu. Walau sikapnya saat ini akan membuat jengkel seseorang yang saat ini ia perhatikan dari jauh.

Mengambil salah-satu buku yang berjejer rapi di dalam rak dengan asal, sebelum menarik bangku kosong paling pojok. duduk dengan tenang, sembari membuka buku di tangannya secara acak.

Kedua mata elang itu tidak teralih sedikit pun. Terus melihat ke arah seorang gadis yang posisi duduknya berhadapan dengan sang pemuda, walau jarak itu ada. Tapi, tidak membuat pemuda itu merasa jika ada benteng penghalang.

Dan, ini juga bukan kali pertama pemuda itu melakukannya. Terus menatap seseorang yang tidak akan pernah mau mendapat julukkan sebagai, 'tuan putri' karena gadis itu lebih menyukai, seseorang menganggapnya sebagai queens. Ratu.

Karena bagi gadis itu, takhta yang dimiliki sang ratu jauh lebih besar dari pada sang puri. dan posisi ratu pun juga tidak akan ada yang bisa menggantikannya, jika pun raja sudah tidak lagi di sisi kehidupannya.

Spontan tersedak dengan ludahnya sendiri saat kedua matanya bertemu dengan manik mahoni milik gadis itu. Melayangkan tatapan tajam penuh mengintimidasi. membuat sang pemuda langsung menyunggingkan sudut bibirnya, refleks melambaikan ragu tangannya. dan, itu semakin memperjelas jika ada kerutan di kening sang gadis.

"Kau ingin mati?"

Perlahan tapi pasti, pemuda itu menurunkan tangan kanannya sembari menghilangkan senyumannya yang menawan itu. Hingga kepala sang pemuda menggeleng pelan, dengan pandangan beralih pada buku di depan matanya.

Walaupun telinganya tidak dapat mendengar apa yang gadis itu ucapkan. Karena jarak mereka cukup terbilang jauh. Apalagi sang gadis hanya menggerakkan mulutnya tanpa suara, dengan raut wajah yang penuh arti. Tetapi pemuda itu sangat tahu apa yang terlontar.

"Wahh, ternyata aku punya bakat baru. Membaca buku secara terbalik." Gumam sang pemuda dengan senyum hambarnya. Sembari membenarkan bukunya agar terlihat normal seperti pada umumnya. Karena pemuda itu juga tidak ingin dianggap kurang waras oleh orang-orang di sekitarnya saat ini. Walau, mereka sibuk dengan buku mereka masing-masing.

"Bagaimana bisa jubah merah di bodohi oleh serigala?" Pemuda itu kembali bergumam. Berusaha untuk tidak melihat di mana gadis itu berada. Jika pun kedua matanya sulit di ajak kerja sama, tetapi jiwanya masih berada di pihaknya.

Belum juga mulut pemuda itu terbuka untuk membaca satu kalimat di buku dongeng yang ia pengang, tubuhnya tersentak kaget akan dua buku tebal yang baru saja di letakkan di atas meja dengan cara sedikit kasar.

Mendongak melihat seorang gadis dengan wajah angkuhnya itu, membuat kepala sang pemuda mengangguk kecil. Paham, berusaha menerima tanpa menyebutnya sebagai beban.

"Kau bisa melihatku sepuasnya, tanpa harus membaca buku itu." Cetus gadis itu, kini duduk di hadapan sang pemuda.

"Oh," lagi, pemuda itu menganggukkan kecil kepalanya. "Aku lebih suka buku seperti ini."

Gadis itu Yuna yang kembali fokus pada buku-bukunya, tetapi napas berat berhembus begitu dari indera penciuman Yuna. Kini menyandarkan punggungnya dengan pandangan menatap pemuda di depan matanya saat ini. "Ralat, berhentilah memperhatikan ku. Itu membuat ku tidak nyaman sekali."

Sedangkan sang pemuda yang mendengar kalimat itu sangat terlihat tertekan sendiri. Dan bukan berarti pemuda itu tidak memiliki keberanian membalas perkataan dari Yuna. Hanya saja, sang pemuda tengah mencari kalimat yang pas untuk tidak menyinggung perasaan Yuna.

"Dan kau juga harus ingat, hubungan kita sudah berakhir. Jadi urus lah masalah mu sendiri, ketimbang melihat ku. Itu sama saja membuang waktu berharga mu." Pinta Yuna yang sangat tegas, tanpa adanya lengkungan sedikit pun yang menghiasi wajah cantiknya.

Ampuh membuat sang pemuda mengangguk paham. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi, kau juga harus tahu-- jika aku dengan Anna tidak ada hubungan apapun. Jadi,"

"Berhentilah membicarakan orang yang tidak ada disini." Sopan tidak sopan, Yuna akan tetap menyela perkataan dari pemuda itu.

Menutup rapat mulutnya sebentar, seraya menegakkan punggungnya tanpa bersandar .. terus menatap pemuda di depannya. "Anrey__"

Yaps, pemuda itu Anrey yang refleks bergumam dengan kedua netra berusaha untuk tidak memutuskan kontak matanya dengan Yuna.

"Aku tidak lagi peduli hubungan mu seperti apa dengan Anna. Yang jelas, rubah lah sikap mu. Karena kau harus menjaga harga dirimu saat bersama ku ataupun dengan yang lain." Sambung Yuna.

Dan Anrey hanya menganggukkan kepalanya, tidak membuka suara. Karena Anrey sangat tahu, jikapun dirinya memberi tanggapan. Yuna pasti akan menyelanya tanpa ampun.

"Apa kau tidak pernah sakit hati mendengar perkataan ku? Padahal kau tahu, jika itu sangat buruk. Dan tidak seharusnya aku mengatakan hal-hal buruk itu padamu." Pelan membenarkan posisi duduknya lebih dulu sebelum melanjutkan perkataannya. "Tapi, kau selalu menerimanya tanpa membalas. Apa kau akan seperti ini terus saat berhadapan dengan ku?"

"Aku tidak bisa melukai perasaan perempuan. Karena orang yang melahirkan ku juga seorang perempuan." Rendah Anrey, mengangguk kecil dengan menelan ludah getirnya.

"Jika kau tidak bisa melukai perasaan seorang perempuan. Tapi tanpa sadar kau telah melukainya. Dengan sikap baikmu." Balas Yuna pelan.

Diam menatap Anrey, sebelum beranjak dari duduknya. Berjalan pergi meninggalkan Destan sendiri, tanpa melupakan buku tebal itu yang di letakkan begitu saja di atas meja penjaga perpustakaan. Karena, itu salah satu tugas sang guru yang wajib membalikkan buku ke tempat semula. Jika para murid menaruh buku itu di meja kerja sang penjaga perpustakaan. Dan hal itu hanya dilakukan para murid yang benar-benar mendesak.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!