NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *28

Tangan Reyno bergetar hebat saat ia pelan-pelan menggeser posisi tubuh Merlin. Matanya tertuju pada genangan darah merah pekat yang masih basah di lantai itu. Darah itu adalah darah anaknya. Darah buah hatinya yang bahkan belum sempat ia ketahui keberadaannya, belum sempat ia rayakan akan kehadiran, dan tentunya, belum sempat ia peluk dalam doa.

"Enggak ... enggak mungkin ...." bisiknya parau. Air matanya jatuh satu per satu, menetes ke pipi pucat istrinya. Ia memeluk tubuh Merlin makin erat, seolah kekuatan pelukannya itu bisa mengembalikan apa yang sudah hilang. "Maafin papa ya ... maafin Papa, Nak. Papa jahat ... Papa bodoh banget. Sangat bodoh sampai papa tidak tahu kamu ada."

Merlin masih terisak pelan di dada suaminya, matanya menatap kosong ke arah langit-langit ruangan. Rasanya sakit di perut itu belum hilang, tapi sakit di hatinya terasa jauh, jauh lebih perih.

"Aku mau kasih tau kamu dari kemarin, Rey. " Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Tangannya yang dingin dan lemah menyentuh dada Reyno, tepat di sebelah jantungnya. "Tiap kali aku mau bilang, selalu ada dia ... selalu ada Yara, Reyno."

Reyno mengangguk cepat, tangannya mengusap rambut istrinya yang basah oleh keringat dan air mata. Rasa bersalah itu datang bagai gelombang besar yang menenggelamkan seluruh dirinya. Ia merasa menjadi manusia paling hina di dunia ini.

"Aku tau ... aku tau semuanya salah aku, Mer. Aku salah besar." Reyno mengecup kening istrinya berkali-kali, penuh penyesalan. "Maafin aku ... maafin aku yang udah bikin kamu nanggung semuanya sendirian. Maafin aku udah ninggalin kamu pas kamu paling butuhin aku."

"Aku nungguin kamu, aku nungguin kamu buat bilang kalau kita bakal jadi orang tua." Merlin terisak. Suaranya pecah lagi. "Tapi kamu selalu pergi, Reyno. Kamu selalu pilih dia, bukan aku."

"Maaf ... maafkan aku." Reyno tak punya kata lain selain kata itu.

Penyesalan sudah memenuhi setiap ruang di hatinya. Ia menatap ke arah selembar kertas hasil USG yang tergeletak di dekat sofa, terlipat berantakan, hampir sobek bekas diremas dengan tangan oleh Merlin.

Pria itu mengulurkan tangan, mengambil kertas itu dengan sangat hati-hati, seolah itu adalah benda paling berharga yang tersisa dari mimpi indah mereka yang telah hancur. Ia buka pelan-pelan. Di sana ada gambar titik kecil yang samar. Titik kecil yang seharusnya menjadi alasan kebahagiaan terbesar mereka. Titik kecil yang sekarang sudah lenyap karena ketidakhadirannya.

"Kita sempat punya anak," gumam Reyno lirih, matanya menatap gambar itu tajam, seolah ingin menghafal buat selamanya. "Anak kita ... di sini?"

"Dan dia pergi, karena aku stres. Karena aku sedih ... karena aku nungguin ayahnya yang nggak pernah ada di saat ibunya sedang butuh." Tambah Merlin, kalimatnya tajam seperti pisau yang menusuk tepat ke ulu hati Reyno.

"Maafkan aku ... memang aku yang salah. Aku yang salah, Merlin. Aku."

Reyno langsung menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Matanya merah padam, bengkak dan basah. "Ini salah aku. Semuanya salah aku. Aku yang gagal jadi suami. Aku yang gagal jadi calon ayah. Aku yang terlalu buta sampai nggak sadar ada kamu dan anak kita di sini, berjuang sendirian."

Merlin menggeleng lemah. Air matanya masih terus mengalir, tapi rasa sakitnya perlahan berubah menjadi rasa hampa yang tak berujung.

"Kenapa, Rey? Kenapa aku dan anak kita harus jadi korban dari rasa tanggung jawab kamu ke dia? Kenapa Yara selalu lebih penting dari kita? Kenapa kebahagiaan kita harus dikorbankan demi kebahagiaan dia?"

Pertanyaan itu meluncur keluar setelah sekian lama tertahan. Pertanyaan yang selama ini selalu dijawab dengan alasan 'dia kesepian', 'dia rapuh', atau 'janji sama Lucas'. Tapi malam ini, di tengah darah dan kehilangan ini, alasan-alasan itu terdengar begitu kerdil dan menyakitkan.

Reyno terdiam. Ia tak punya jawaban yang cukup untuk memuaskan rasa sakit istrinya. Ia sadar, tidak ada alasan apa pun yang cukup berharga untuk menukar nyawa anaknya dan air mata istrinya.

"Aku pikir ... aku cuma mau jagain dia. Aku pikir aku cuma mau nolongin dia biar dia nggak hancur." Reyno bicara pelan, suaranya penuh keputusasaan. "Tapi aku nggak sadar, kalau aku malah ngehancurin rumah tangga aku sendiri. Aku malah nyakitin orang yang paling aku sayang. Aku malah bikin anakku sendiri nggak punya kesempatan buat lahir ke dunia."

Ia menundukkan kepalanya di dada Merlin, menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil yang kehilangan arah. "Aku bodoh ... Merlin. Aku bodoh banget, Mer .... Aku minta maaf, aku minta maaf sebesar-besarnya, sayang."

Beberapa saat berlalu hanya diisi tangisan mereka berdua. Hujan di luar masih turun deras, seolah langit pun ikut berduka atas kehilangan makhluk kecil yang tak sempat bernama itu.

Perlahan, Merlin merasakan tenaganya makin hilang. Dingin mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, dan rasa kantuk yang berat mulai menyerang. Namun sebelum ia benar-benar hilang kesadaran, ia berusaha mengangkat tangan lemahnya, menyentuh pipi suaminya yang basah.

"Bawa aku ke rumah sakit, Rey. Aku nggak kuat lagi."

Saat itu Rey baru sadar dengan apa yang harus ia lakukan. Sejak tadi, karena terlalau panik dan sedih, ia malah lupa dengan apa yang harus ia lakukan. Harusnya, dia bawa istrinya ke rumah sakit sejak tadi. Bukan setelah istrinya meminta baru bergerak. Maklum, serangan panik bisa membuat orang terkadang lupa dengan apa yang seharusnya dilakukan.

"Iya! Iya sayang, kita pergi sekarang!" Reyno langsung bangkit berdiri, mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati namun penuh kepanikan.

Ia tak peduli lagi apa pun di sekelilingnya. Dunia ini, Yara, masalah-masalah lain, semuanya lenyap. Yang ada hanya Merlin. Hanya istrinya yang sedang sekarat di pelukanya saat ini.

Di perjalanan menuju rumah sakit, Reyno menyetir secepat mungkin. Sesekali menoleh ke samping di mana Merlin terbaring lemah di kursi penumpang, kepalanya bersandar di bahu Reyno. Tangan keduanya saling menggenggam erat.

"Tahan ya, Mer ... tahan dikit lagi. Kita udah deket. Kamu harus sehat ya ... demi aku, demi kita." Reyno bicara berulang kali, berusaha membangunkan kesadaran istrinya.

Merlin hanya bisa mengangguk lemah, matanya sering terpejam karena lemas. Namun kalimat yang diucapkannya selanjutnya membuat jantung Reyno berhenti berdetak sejenak.

"Rey ... kalau ... kalau aku sama anak kita harus milih satu yang selamat. Tolong ... tolong selamatin anak kita."

"JANGAN NGOMONG GITU!" Bentak Reyno, suaranya parau dan penuh ketakutan. Air matanya kembali jatuh. "Nggak ada milih-milih! Kamu harus selamat! Kamu harus ada buat aku! Aku nggak butuh apa-apa kalau nggak ada kamu! Denger itu! Kamu hidup, Mer! Kamu harus hidup!"

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!