Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Papa!!" pekik Yuni
"Apaan Ma!"
"Itu pa, setan kok mirip Melinda, apa Melinda yang sudah jadi setan!" kata Yuni
"Ngawur kamu Ma! ini anak mu, ya ampun mel kamu kenapa?" Imron langsung mendekati anak gadis nya yang masih duduk lemas di lantai. Ada bekas cairan hitam dari maskara nya yang luntur yang membuat wajah Melinda tampak seram
plakkk,,,!
Yuni memukul paha anak nya yang sedikit terlihat karena menggunakan rok pendek, di bawah lutut.
"Kamu kenapa? pulang pulang kayak orang gila, bikin kaget aja"
"Kamu jangan marahin Melinda dong ma, harus nya kamu khawatir. jangan sampai anak mu kenapa kenapa, emang nya kamu gak mikir!" kata Imron
Yuni diam saat suami nya memarahi nya. Sekarang ia mengelus pipi anak nya yang cemong oleh maskara nya dan eyeliner yang luntur
"Kamu kenapa, Mel?"
Tiba tiba Melinda menangis, Yuni semakin kebingungan.
"Dia mungkin kesambet setan jembatan gantung kali pa! Ayo kita bawa dia ke orang pintar, aja!" seru Yuni
Imron tak menanggapi istri nya, ia mengambil kertas putih yang ada di tangan Melinda, mata nya melebar
"Sp1, gimana cerita nya Mel? Kamu bilang sama papa, kinerja kamu kan bagus. Kok bisa sampai dapat SP begini ?!"
"SP? apaan itu pa? Kayak nama bahan buat kue" kata Melinda
"Surat peringatan pertama. Anak mu pasti sudah melakukan kesalahan sampai ia bisa mendapat kan surat ini. Kalau sampai ada SP 3 kamu di pecat!" kata Imron
Yuni langsung memucat, ia menggeleng keras. Melinda adalah kebanggaan nya. Anak nya kerja di perusahaan besar dengan gaji fantastik, Melinda tak boleh sampai di pecat.
Dengan tangan gemetar Yuni memberikan Melinda air mineral yang langsung di teguk habis oleh Melinda
"Sekarang mama tanya lagi sama kamu, Mel? kamu dapat SP 1 sampai jadi gila begini?!"
"Aa,, aku ak gila karena dapat SP ini ma." lirih Melinda pelan
Yuni berkali kali mengusap wajah anak nya
"Terus kenapa?"
"Kamu pasti sudah membuat atasan kamu kecewa. Tiap hari kamu ngantor dan di rumah kamu selalu sibuk di depan laptop, gimana bisa kamu dapat SP?" imron mulai tak sabaran
Imron adalah pegawai teladan, maka nya ia bisa menjabat sebagai kepala bagian. Ia sangat anti pelanggaran pada instansi
"Aku,, aku merayu pimpinan perusahaan untuk memaafkan ku" jawab Melinda terbata
"Kamu melakukan kesalahan apa?!" mata kedua orang tua melotot membuat Melinda semakin takut
"Ayo jawab, Mel!" seru Yuni
"Menghina nya di depan banyak orang" sahut melinda
"Kok bisa? Apa otak mu sudah geser ke perut! gimana bisa kamu berani menghina pimpinan mu?!"
Kali ini Yuni tak bisa menahan rasa gemas nya, ia menoel kepala anak gadis nya hingga tersungkur. Imron menangkap tubuh Melinda yang lemas
"Mama juga sudah hina dia !" ucap Melinda dalam isak nya
"Apa maksud mu? Kapan mama pergi ke kantor mu, menghina pimpinan mu?!" geram yuni "Sudah gak waras anak mu pa! Ayo Bawa dia kekamar mandi, kita guyur dia!" Yuni terlihat semakin emosi.
"Ya udah, papa ambil air segayung dulu, ma"
Imron melepas kan anak nya lalu bangkit berniat akan mengambil air. dengan cepat Melinda menarik tangan ayah nya
"Apaan sih kalian ini !, sekarang kalian siap kan mental untuk mendengar ini!. Jangan sampai kalian hilang akal seperti aku, khusus nya mama, jaga jantung mama itu!"
"Jangan bertele-tele kamu Mel, mama sudah capek nih! cepat ceritakan semua nya dengan jelas" perintah Yuni dengan wajah galak nya
"Raditya ma,,, Raditya itu,, di,, dia,,," Melinda menutup mulut nya seperti tak sanggup bicara
"Kenapa lagi sama cowok kere itu? Dia yang sudah bikin ulah sampai kamu Dapat SP?"
Melinda menggeleng cepat
"Dia,,, Raditya,, dia ternyata sebenar nya adalah,,,"
"Apa sih Mel,? kenapa dengan cowok kere itu ?"
"Dia itu CEO di perusahaan ku ma, dia itu anak sulung founder, pak Hadi Pratama, Raditya sekarang adalah pimpinan perusahaan di tempat ku bekerja, Ma"
Yuni membatu, seketika gelap pandangan nya.
"Kamu jangan bohongin mama Mel, jangan main main kamu?!"
Yuni menopang tubuh nya dengan kedua tangan nya. Hampir saja ia jatuh ke lantai karena keterkejutan nya yang luar biasa. Ia berharap Melinda hanya sedang mengerjai nya
"Sungguh ma! Hari ini aku hina dia di depan teman teman kantor. Dan rupa nya hari ini pak Nyoman, boss ku membuat pengakuan. Serasa habis nafas ku, ma" Melinda menangis histeris
Kedua tangan Yuni memegang dada nya karena ia merasa jantung nya tidak aman. Rasa nya udara di rumah itu berubah seperti duri yang terasa sakit saat di hirup. Yuni menggeleng geleng, sudah pucat pasi wajah tua nya
"Ini ma, bukti nya" Melinda mengambil handphone dan membuka web kantor nya. Ia menunjuk kan pemangku jabatan disana. Sempurna, posisi kedua di bawah Hadi Pratama, adalah Raditya Pratama. Begitu cepat website itu di perbarui.
Membeliak bola mata Yuni, seperti ingin keluar, berkali kali ia mengusap mata nya yang berembun
"Enggak,, engak Mel,! Ya ampun gimana ini Mel?"
Yuni menarik nafas sekuat yang ia bisa
Keingat ucapan dan penolakan nya pada Raditya, membuat nya semakin lemah. itu seperti paku yang menancap terus menerus hingga ia tak sadar kan diri
"Ma,!!" teriak Melinda, ia mengangkat tubuh ibu nya yang terkulai di lantai tepat di depan nya
"Tolong ambil minyak kayu putih di situ,pa!" perintah Melinda
Segera Imron menuruti perintah putri nya itu. Hampir setengah botol minyak kayu putih di balurkan di bagian kaki, tangan dan perut istri nya yang terasa dingin dan berkeringat
"Ma,,, bangun ma,,!" seru imron
"Eengg,,, engg,," hanya suara erangan Yuni yang terdengar. Mata nya setengah membuka dengan mulut nya mangap mangap seperti ikan kekurangan air
"Ini gimana sih mel ibu mu, Mel. Ya ampun" kata Imron, ia lalu berlari menuju kamar mandi, mengambil air segayung. Di percikan air itu ke wajah istrinya, namun istri nya tidak sadar juga.
"Ma, ayo bangun dong! kalau mama kelamaan kayak begini, nanti malaikat maut akan datangin mama loh!" seru Melinda sambil mengusap usap wajah ibu nya
Plakk,,,!
Imron menepuk bahu Melinda
"Apaan sih papa, sakit tahu!" pekik Melinda sambil menepis tangan papa nya
"Jangan asal bicara kamu, kalau malaikat maut datang, itu arti nya mama kamu udah KO ID,," kata Imron
Tiba tiba Yuni langsung gelagapan bangun. Mungkin dia takut juga bertemu malaikat maut. kedua tangan nya mencoba menggapai Melinda
"Mel,, Mel gimana ini Mel? bagaimana bisa ia tiba tiba jadi pemimpin perusahaan sebesar itu, aaa,,, aaa,,"
Yuni menarik nafas nya yang tersengal sengal lalu kembali lemas seperti krupuk di siram air panas