Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Anak." ulang Laras yang tak paham dengan perkataan suaminya.
"Iya, disini ada benih yang telah aku tanam tumbuh menjadi seorang bayi." Dafa menunjuk perut istrinya dan mengelusnya lembut sembari tersenyum bahagia karna impian untuk memperoleh seorang anak akhirnya terwujud.
"Jadi aku hamil, tuan?" tanya Laras masih belum percaya.
"Hmmm...... Kamu hamil, ada calon anak kita di dalam sana. " angguk Dafa sambil tersenyum manis.
"Alhamdulillah akhirnya. " ucap syukur Laras dengan mata berkaca - kaca. Ia juga ikut merasa bahagia seperti apa yang Dafa rasakan.
"Tuan ini bubur untuk nona." ujar bin Siti yang datang membawa semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap panas.
"Taro sini, bik." bik Siti meletakan bubur di meja dan berlalu meninggalkan kamar tuanya. Dafa mengambil bubur itu dan mengaduknya. Satu sendok bubur yang sudah dingin di arahkan ke mulut Laras.
"Buka, mulutnya." perintah Dafa. Tanpa banyak drama, Laras membuka mulutnya dan melahap bubur yang di suapin suaminya. Dafa dengan sabar dan telaten menyuapkan bubur hingga tandas tak bersisa.
"Minum dulu." Dafa memberikan air ke tangan istrinya. Laras meminum setengah dan memberikan kembali kepada suaminya. Ternyata makan di suapin suami sendiri agak lain rasanya. Rasa jauh lebih nikmat dari pada makan sendiri.
Dafa menyiapkan obat yang di siapkan oleh dokter Astrid tadi.
"Minum obat dulu." tahan Dafa saat Laras ingin merebahkan tubuhnya.
"Obatnya pahit ga, tuan?" tanya Laras.
"Yang namanya obat ya pastilah pahit rasanya, kalau mau yang manis itu namanya gula. Ayo buruan minum biar kamu kuat lagi." Dafa memaksa Laras meminum obat meski susah payah Laras berusaha menelan obat yang suaminya berikan.
Sedari kecil Laras memang tak suka minum obat karna rasanya itu pahit. Makanya ia memilih menjaga kesehatan agar tak minum obat.
Setelah drama minum obat, Laras merebahkan tubuhnya. Sementara itu Dafa duduk di samping Laras sambil memeriksa pekerjaan yang belum selesai di kerjakan tadi karna buru - buru pulang saat mendapat kabar istrinya sakit.
"Tuan ." panggil Laras.
"Ada apa?" tanya Dafa.
"Tuan tidak tidur?" tanya Laras.
"Nanti, kamu tidur aja duluan." jawab Dafa tanpa menoleh karna matanya masih fokus pada layar laptop yang ada di pangkuannya.
"Tuan." panggil Laras kembali.
"Ada apa?" kali ini Dafa menoleh dan menatap istrinya.
"Saya kepengen tidur di peluk, tuan!" entah keberanian dari mana Laras meminta sesuatu yang tidak mungkin. Jantung Laras berdetak lebih cepat dari biasanya, ada rasa takut jika Dafa murka. Tapi ia memberanikan diri karna ia sangat ingin di peluk suaminya.
Dafa terdengar berdecak kesal. Tapi ia mengabulkan permintaan istrinya. Dafa menutup laptopnya dan meletakan di balas baru tidur sambil memeluk istrinya.
"Geli Laras, tolong hentikan." Laras mengendus leher Dafa membaut lelaki irigasi saat sapuan nafas Laras mengenai kulitnya.
"Tapi saya suka aroma tubuh, tuan."
"Tumben?"
"Saya juga ga tau tuan, yang jelas saat memeluk dan mencium aroma wangi tubuh tuan saya merasa tenang dan nyaman." jawab Laras jujur.
Dafa terpaksa menahan nafasnya, ada sesuatu di bawah sana yang terbangun. Andai saja istrinya tidka seperti sekrang sudah tentu Dafa akan meminta haknya. Tapi demi sang calon bayi di perut istrinya Dan harus bisa sabar dan menahannya.
Dan benar saja tak lama Laras tertidur dengan pulasnya. Ada senyum di sudut bibirnya. Dafa melihat istrinya sudah pulas memperhatikan wajah pucat istrinya.
"Terima kasih, kamu akhirnya memberi apa yang saya inginkan. Saya berjanji akan menjaga kalian berdua." Dafa mencium kening istrinya sekilas dan ikut memejamkan matanya mengikuti istrinya terbang ke alam mimpi.
...****************...
Assalamualaikum kk, selamat malam
Selamat beristirahat
Di tunggu saran dan masukannya serat jangan lupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 😘😘🙏🙏🙏