NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Marsha masih memandangi langit London yang cerah, tetapi sorot matanya tak lagi setenang beberapa menit lalu. Ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini selalu ia tekan setiap kali pertanyaan tentang Selena muncul di benaknya. Namun malam ini, setelah terlalu banyak hal terungkap, ia tak lagi bisa menahannya.

“Kenapa Mama sangat membenciku,” tanyanya pelan.

Suara itu nyaris tenggelam bersama angin malam, tetapi cukup membuat Archio terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi wajah adiknya, seolah sedang memilih kata-kata yang tidak akan terdengar seperti pisau. “Mama membencimu bukan karena kamu melakukan kesalahan”, ucapnya akhirnya.

Marsha menoleh, menatap kakaknya lurus, seakan menuntut jawaban yang selama ini tak pernah diberikan siapa pun. “Lalu kenapa?”

Archio menghembuskan nafas panjang, rahangnya mengeras sesaat, seperti seseorang yang sedang membuka kenangan yang tak pernah ingin disentuh lagi.

“Karena saat Mama mengandungmu, dia tidak siap.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi jatuh begitu berat.

“Saat itu Selena sedang berada di puncak kariernya. Namanya sedang naik, kontrak berdatangan, klien-klien besar mulai mempercayainya, semua yang ia bangun perlahan berada di tangannya. Lalu kehamilan itu datang, dan bagi perempuan yang sedang menggenggam ambisi sebesar Selena, kehamilan bukan kabar bahagia, melainkan gangguan yang datang di saat yang salah.” jawab archio menatap jauh ke depan, seolah sedang melihat kembali masa lalu yang bahkan ia sendiri tak suka mengingatnya.

“Kehamilanmu sangat berat. Mama mengalami mual hampir sepanjang masa kehamilan, tubuhnya drop, pekerjaan banyak terhenti, pertemuan dengan klien dibatalkan, proyek gagal berjalan seperti rencana. Satu per satu orang mulai pergi.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, dan justru jeda singkat itu membuat kalimat berikutnya terasa lebih menyakitkan.

“Mama tidak pernah benar-benar menerima kehilangan itu. Dalam pikirannya, sejak kamu ada, semua mulai runtuh.”

Marsha tak bergerak, Ia hanya mendengarkan, seolah tubuhnya masih ada di bangku taman itu, tetapi pikirannya sedang berdiri di tempat lain.

“Karier Mama, nama yang ia bangun, hidup yang ia rancang, semuanya ia kaitkan dengan kehadiranmu. Mama melihatmu bukan sebagai anak yang lahir dari dirinya, melainkan sebagai awal dari bencana yang merenggut hal-hal yang ia cintai.”

Jemari Marsha perlahan mengencang di sekitar cangkir kopi yang mulai dingin. “Jadi aku dianggap sumber bencana, gumamnya, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.”

Archio langsung menoleh, seperti ingin memotong pikiran itu sebelum tumbuh terlalu jauh.

“Bukan begitu. Itu luka Mama, Acha. Itu cara Mama melampiaskan kemarahan pada hidup yang tak berjalan sesuai kehendaknya. Itu bukan salahmu.”

Namun Marsha hanya tersenyum tipis, senyum yang getir. “Aneh sekali, katanya pelan, aku bahkan belum lahir, tapi sudah dibenci.”

Kalimat itu membuat dada Archio terasa sesak, Ia tahu adiknya tidak sedang menangis, tidak berteriak, tidak meluapkan amarah, tetapi justru ketenangan seperti itulah yang lebih menyakitkan untuk dilihat.

“Jangan berpikir kamu tidak diinginkan” ucap Archio, suaranya melunak. “Ayah, Andreas Halvard, sangat menginginkanmu. Ayah mencintaimu bahkan sebelum kamu lahir.”

Marsha perlahan menoleh. “Benarkah?”

Archio mengangguk. “Ayah dan Mama bertengkar berkali-kali karena itu, Ayah ingin mempertahankanmu, Ayah melindungimu lebih dari yang kamu tahu.”

Marsha menunduk, menatap kopi di tangannya seperti sedang melihat hidupnya sendiri mengambang di sana. “Lalu semua yang selama ini kupikir benar… salah?”

“Tidak sepenuhnya salah,” jawab Archio pelan. “Kamu memang terluka. Kamu memang diabaikan dalam banyak hal, tapi kamu tidak pernah menjadi kesalahan. Papah sudah memberikan solusi tapi tidak pernah didengarkan.”

Angin malam kembali berembus pelan. Bintang-bintang tetap bertaburan di langit, indah dan dingin seperti saksi yang tak pernah bicara.

Marsha mengangkat wajahnya lagi, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Bukan lagi hanya kemarahan pada seorang ibu yang membencinya, melainkan kesadaran yang jauh lebih rumit.

Bahwa mungkin selama ini ia bukan dibenci karena dirinya. Melainkan karena ia lahir di tengah ambisi, kehilangan, dan luka yang tak pernah berhasil disembuhkan ibunya sendiri.

__

Dari kejauhan, Leon berdiri dalam bayang-bayang koridor yang mengarah ke taman, cukup jauh agar kehadirannya tak disadari, namun cukup dekat untuk menangkap percakapan yang sejak tadi mengalir di antara dua kakak beradik itu.

Tatapannya tak lepas dari Marsha, dari cara perempuan itu menunduk saat menahan luka yang baru terbuka.

Dari cara Archio menatap adiknya dengan penyesalan yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan dan dari potongan-potongan kalimat yang baru saja ia dengar, semuanya mulai menyusun sesuatu di benaknya.

“Jadi dia tidak ingat kasus penculikan hari itu,” gumam Leon pelan, nyaris hanya terdengar untuk dirinya sendiri.

Rahangnya menegang samar. “Pantas saja dia tidak mengenaliku.”

Tatapannya turun pada Marsha yang masih duduk memandangi langit, seolah sedang memungut serpihan hidupnya satu per satu. “Pantas saja… dia juga tidak mengenali Reinhard.” kalimat terakhir itu nyaris terdengar seperti kesimpulan yang terlalu lama menunggu untuk dipastikan.

Leon terdiam.

Namun pikirannya justru bergerak semakin cepat, selama ini ia mengira Marsha pura-pura lupa, pura-pura tidak mengenali mereka dan memutus masa lalu.

Tetapi sekarang…

jika yang dikatakan Archio benar, jika kecelakaan itu, penculikan itu, dan hilangnya jejak Marsha memang saling berkaitan, maka yang hilang dari perempuan itu bukan sekadar ingatan.

Melainkan seluruh bagian hidup yang seharusnya menghubungkannya pada mereka, Leon menghembuskan napas panjang, tetapi sorot matanya justru mengeras. “Itu berarti Reinhard benar.”

Bisikan di ICU itu bukan delusi orang yang baru bangun dari ambang kematian. “Akhirnya aku menemukanmu.”

Leon kini memahami kenapa adiknya mengatakan itu, karena Reinhard memang mengenali Marsha, bahkan ketika Marsha tidak mengenali dirinya sendiri.

Ada sesuatu yang nyaris menyerupai kegelisahan melintas di wajah Leon, sesuatu yang jarang muncul pada pria setenang dirinya, karena kalau Marsha mulai mengingat, alau serpihan masa lalu itu benar-benar kembali, maka bukan hanya luka lama yang akan bangkit.

Rahasia yang dikubur bertahun-tahun, bisa ikut terbuka dan Leon tahu, ketika itu terjadi, mereka semua mungkin tak akan pernah bisa kembali hidup tenang seperti sebelumnya.

___

Dari kejauhan, Leon masih berdiri dalam diam, tetapi pikirannya telah jauh mundur ke masa yang nyaris terkubur oleh waktu. Percakapan Archio dan Marsha seperti membuka pintu lama yang selama ini sengaja ia tutup rapat, membawa kembali ingatan tentang hari yang tak pernah benar-benar hilang dari keluarga mereka.

Kasus penculikan itu, hari ketika dua anak kecil menghilang tanpa jejak, ketika Reinhard nyaris tak kembali. Dan hari ketika adiknya pulang membawa sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa ia lepaskan dari ingatannya.

Leon masih ingat bagaimana Reinhard muda dulu berulang kali menceritakan kejadian itu. Setiap kali bercerita tentang gadis kecil itu, suaranya selalu berubah, menjadi lebih hidup, lebih hangat, seperti sedang mengingat sesuatu yang diam-diam sangat berharga baginya.

Marsha.

Gadis kecil yang sama-sama menjadi korban penculikan.

Gadis kecil yang, alih-alih menangis dan pasrah, justru penuh akal, penuh keberanian, dan memiliki ide-ide yang bahkan tak masuk akal bagi anak seusianya.

Mereka kabur bersama.

Dua anak kecil yang seharusnya tak mungkin bisa bertahan, justru berhasil melarikan diri ke hutan dan hidup seadanya selama berhari-hari, mereka makan buah-buahan liar dan minum dari aliran sungai kecil.

Bersembunyi setiap kali mendengar suara orang yang memburu mereka. Dan di antara semua cerita yang pernah diulang Reinhard, ada satu bagian yang selalu ia ceritakan dengan nada yang hampir terdengar kagum.

Tentang tas kecil milik Marsha dan tentang apa yang ia sebut sebagai kotak ajaib.

Leon bahkan masih bisa mendengar suara Reinhard muda waktu itu. “Aku ingat, Kak, saat mau kabur dia malah sibuk mencari tasnya. Aku bilang tinggalkan saja, tapi dia marah. Katanya tas itu penting.”

Reinhard waktu itu bercerita dengan mata berbinar, seperti sedang menceritakan sesuatu yang luar biasa.

“Ternyata di dalam tas itu ada kotak ajaib katanya. Ada korek api, ada obat-obatan, ada perban, bahkan ada pisau kecil, aku tidak tahu dari mana anak sekecil itu punya semua itu.”

Lalu Reinhard tertawa kecil saat itu.

“Kita tidak kelaparan karena dia, aku memanggilnya gadis nakal. “

Dan setelah semua cerita yang penuh antusias itu, selalu ada satu pertanyaan yang keluar dengan suara jauh lebih pelan. “Apakah dia sudah ditemukan?”

Leon masih mengingat bagaimana ayah mereka menjawab saat itu. “Ayahnya seorang dokter legendaris. Dia membawa putrinya keluar negeri demi keselamatannya, kalau kamu benar ingin melindungi gadis itu, maka setelah sembuh kamu harus menjadi kuat.” Kalimat itu sederhana, tetapi justru di sanalah semuanya berubah.

Sebelum hari itu, Reinhard hanyalah pemuda yang pendiam, pemalu, dan terlalu lembut untuk kerasnya dunia keluarga mereka. Ia dianggap lemah, terlalu ragu, terlalu baik untuk bertahan di lingkungan yang menuntut kekuatan. Dan Leon tahu, ia dan ayah mereka memanfaatkan momen itu.

Mereka menjadikan keinginan Reinhard untuk menemukan gadis itu sebagai alasan untuk mendorongnya berubah, latihan dimulai, didikan militer yang keras dan disiplin yang nyaris kejam.

Hari-hari panjang yang mematahkan tubuh dan membentuk ulang mentalnya.

Tidak mudah, tetapi Reinhard melewatinya, sedikit demi sedikit, pemuda pemalu yang dulu dikenal Leon menghilang, digantikan oleh sosok yang lebih kuat, lebih dingin dan lebih kejam bila diperlukan.

Namun di balik semua perubahan itu, Leon tahu ada satu hal yang tidak pernah berubah, Reinhard tidak pernah melupakan gadis kecil dengan kotak ajaib.

Gadis yang menarik tangannya saat ia hampir menyerah.

Gadis yang mengajari cara bertahan hidup di tengah hutan.

Gadis yang diam-diam menjadi alasan Reinhard menempa dirinya menjadi pria yang sekarang.

Dan kini, setelah bertahun-tahun, gadis itu duduk hanya beberapa meter darinya, masih hidup dengan baik, tetapi tanpa mengingat apa pun.

Tanpa mengenali siapa anak laki-laki yang dulu berlari bersamanya di tengah hutan.

Leon menatap Marsha lama, rahangnya mengeras samar. “Kini semuanya masuk akal.”

Kini ia mengerti kenapa Reinhard mengenalinya bahkan dalam setengah sadar, saat membuka mata setelah keluar dari ambang kematian, hal pertama yang keluar dari bibir adiknya adalah akhirnya aku menemukanmu.

Dan untuk pertama kalinya, Leon menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa lebih berat dari yang seharusnya.

Jika Marsha mulai mengingat semuanya, maka yang bangkit bukan hanya masa lalu, melainkan janji yang diam-diam dijaga Reinhard selama bertahun-tahun.

1
Nessa
apakah liam jodohnya marsha 😁
Forta Wahyuni
gk slh thor, tapi marsha anak bungsu n koq manggil adik sama archio.
羽菜 Hana: iya kak ada kesalahan, Terimakasih banyak untuk koreksinya.
total 1 replies
Nessa
ahh mewek 😭
Nessa
ngeriii kok ada y ibu yang hatinya seperti iblis binatang aja g tega membuang anaknya loh miris kali
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!