Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. WATACI
Matanya membelalak tajam menatap kerumunan orang dalam gedung. Langkahnya tertatih. Tubuhnya mulai bergetar.
Nika berpegangan pada daun pintu sebagai tumpuan agar tubuhnya tak limbung. Darah mengucur dari pelipisnya.
"Apa ... apa yang terjadi padamu?" Kirana berlari menghampiri sang putri yang tampak lemah.
Ia menatap Nika dengan air mata yang mengucur. Tubuh Nika tampak kacau dengan gaun putih yang sebagian kini telah berwarna merah karena darahnya.
Nika menepis tangan ibunya pelan. Ia berjalan menuju pelaminan hingga membuat semua orang terheran apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Ayo lanjutkan pernikahan ini," ajak Nika pada Adnan yang masih mematung menatapnya.
"Bagaimana mungkin kita melanjutkan pernikahan ini dengan keadaanmu yang seperti ini?" bantah Adnan.
Nika mengambil cincin yang ada di tangan Adnan. "Aku tidak peduli, pernikahan ini harus terjadi saat ini juga. Aku tidak akan biarkan seseorang merusaknya."
Ia lalu menoleh tajam ke arah Barra yang berdiri tak jauh dari sana. Terlihat Barra begitu kesal melihat kehadiran Nika.
"Aku tidak akan mati semudah itu. Jadi siapa pun yang mencoba mencelakaiku, aku sarankan berpikirlah dua kali sebelum melakukan itu. Karena sebelum itu terjadi aku pastikan kalian akan merasakan akibatnya terlebih dulu," tegas Nika.
Tanpa menunggu lama pernikahan mereka dilaksanakan. Selesai upacara pernikahan saatnya mereka bertukar cincin.
Nika dan Adnan saling berhadapan. Adnan memasangkan cincin berlian ke tangan Nika dan kemudian Nika pun melakukan hal yang sama.
Bagitu cincin terpasang, Nika merasa kepalanya berdenyut kuat. Pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang. Seketika semua gelap. Tanpa sadar tubuhnya limbung. Untunglah Adnan segera menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
"Nika!" histeris Kirana saat melihat anaknya tak sadarkan diri.
Kirana dan Elano berlari menghampiri. Adnan segera mengangkat tubuh Nika dan berlari menuju mobil membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit sudah ada beberapa perawat yang datang dengan membawa brankar. Tubuh Nika diletakkan di atas brankar dan didorong menuju ruang tindakan.
Adnan menunggu di depan ruang IGD. Tak lama Kirana dan Elano datang. Mereka terlihat begitu panik dengan terus berusaha mengintip ke dalam ruangan.
"Ini sebenarnya ada apa? Kenapa Nika bisa sampai seperti itu?" isak Kirana putus asa.
Elano mendekap erat pundak ibunya. "Tenanglah Bu. Kita tunggu kakak dulu, setelah itu kita pasti tau apa yang dialami kakak."
Adnan duduk di kursi tunggu. Kedua tangan bertaut menjadi tumpuan dagunya.
"Apa mungkin ada yang mencoba mencelakainya? Nika mungkin mengalami kecelakaan," terka Adnan.
"Malangnya anakku, hidupnya begitu keras dari kecil dan sampai sekarang dia terus mengalami itu semua," gumam Kirana.
Elano meninju tembok dengan keras meluapkan rasa kesalnya. "Sialan! Siapa yang berani mencelakai kakakku? Aku pasti akan beri dia pelajaran!"
Adnan berdiri. Ia menghampiri Kirana, mengusap pundak mertuanya dengan lembut.
"Ini masih dugaanku, Bu, Aku pasti akan selidiki masalah ini. Yang terpenting sekarang keadaan Nika. Semoga dia baik-baik saja," ucap Adnan berusaha membuat suasana lebih tenang.
Setelah dilakukan tindakan akhirnya Dokter yang menangani Nika keluar. Semua segera menghampiri penasaran dengan keadaannya.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?" ucap sang ibu panik.
Dokter membuka masker, sorot matanya terlihat tenang. "Ibu tenang saja, Nona Nika sekarang baik-baik saja. Untunglah luka di kepalanya tak begitu parah dan tidak sampai menciderai otaknya. Sekarang Nona Nika sedang beristirahat dan kami sudah menjahit beberapa luka jadi hanya perlu minum obat untuk pemulihan."
Kirana menghela nafas lega. Ia sangat takut jika sampai terjadi hal buruk pada putrinya itu.
"Baiklah Dok, terima kasih. Saya lega mendengarnya," ujarnya sambil mengelus dada.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," ucap sang dokter seraya melangkah pergi.
Beberapa saat kemudian Nika dipindahkan ke ruang rawat. Elano dan ibunya selalu mendampingi menunggu dirinya sadar.
Mata Nika mulai mengerjap. Bayangan ia di dalam mobil terus berputar-putar di benaknya.
Tubuhnya terhempas kuat saat mobil berguling beberapa kali. Geby yang duduk di sampingnya mendekapnya kuat hingga ia tak sampai mendapatkan luka yang begitu serius.
Saat mobil berhenti keadaannya sangat memprihatinkan. Cup depan mobil ringsek, bagian samping juga sampai penyok.
Nika dengan pandangan kabur menatap sekeliling, namun Geby sudah tak sadarkan diri. Wajahnya penuh dengan darah yang terus mengalir. Sedang sang sopir juga tak bergerak.
Dialam bawah sadar tangan Nika mengepal kuat.
"Tidak!" teriak Nika seketika matanya membelalak.
Mendengar teriakan Nika, sang ibu dan Elano adiknya segera menghampiri.
Kirana duduk di tepi ranjang dan perlahan mengusap puncak kepala Nika. "Sayang kamu sudah bangun? Syukurlah, ibu sangat khawatir."
Nika perlahan bangun. "Aku di mana?"
"Kakak sekarang ada di rumah sakit. Kakak tadi tiba-tiba pingsan, dan Kak Adnan membawa Kak Nika ke sini," sahut Elano.
Nika celingukan. Matanya menyisir ruangan seolah mencari keberadaan seseorang.
"Apa kamu mencari Adnan?" tanya Karina.
Nika menggeleng kuat. "Geby. Mana ... mana Geby?"
Tangan Nika menyingkap selimut dengan kuat. Bahkan ia menarik paksa selang infusnya.
Dengan tubuh terhuyung Nika berusaha turun dari ranjang namun Elano segera menghalangi.
"Kakak mau kemana? Kata dokter kak Nika harus banyak istirahat," cegah Elano.
Namun Nika tak peduli, ia menepis tangan Elano. "Jangan coba-coba halangi aku. Aku mau cari Geby. Dimana dia?"
Elano dan ibunya saling pandang, dengan tatapan sulit di artikan.