NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Pemandangan yang Tak Disengaja

Arvin maju satu langkah seraya menutup pintu kembali.

“Kamu … kenapa kotor begitu lagi?” tanya Arvin, heran karena lagi-lagi ada noda cemong panci di pipi wajah Ayu.

Bedanya, kali ini lebih buruk. Kaos yang dikenakan Ayu juga banyak coretan noda hitam panci di area depan.

“Saya … habis masak steak seperti semalam lagi, Pak,” sahut Ayu yang menampakkan wajah berseri-seri.

Arvin berseringai remeh. Dia bergegas pergi tak mau terpancing menikmati masakan Ayu lagi.

“Saya capek. Buang saja. Dan besok jangan bertingkah jadi istri ahli masak lagi!” Arvin memperingatkan sambil terus melangkah.

“Bapak jangan khawatir. Kalau yang semalam masih kurang enak, yang ini dijamin lebih baik,” sanggah Ayu cepat-cepat sambil mengekori langkah Arvin.

Tiba-tiba, Arvin menahan langkahnya. Bukan karena ucapan Ayu, melainkan ada aroma lezat menyusup hidungnya. Hampir saja Ayu menabrak punggung Arvin seperti malam sebelumnya.

Arvin menengok ke belakang. Untuk sesaat, Ayu ditatap Arvin penuh selidik, yang membuat Ayu berpaling sungkan.

Kemudian, pria itu lalu meninggalkan Ayu, berjalan menuju meja makan dimana sumber aroma lezat itu berasal.

Di meja makan, Arvin keheranan dengan mata memperhatikan sepiring steak yang penataan dan warna kematangannya jauh lebih menarik dibandingkan steak kemarin malam. 

Yang ini bisa dibilang estetik.

Ayu yang baru datang menyusul langsung diberikan pertanyaan tegas.

“Kau yang membuat ini?” tanya Arvin.

“Iya Pak,” jawab Ayu, pelan.

Arvin mengangkat satu alis. “Bisa saja kau pesan lewat online. Kau tidak bohong, kan?”

“Tidak Pak. Saya benar-benar membuat sendiri.”

Arvin sedikit memiringkan kepala dengan pandangan tetap kepada Ayu. Menekurinya dari atas sampai bawah. Dia pun menyimpulkan Ayu mungkin saja jujur karena dari penampilannya yang kotor dan berantakan.

Setelah melepas jas dan menggulung lengan kemeja, Arvin duduk untuk menikmati. Dia penasaran, jangan-jangan aroma dan penampilan steak di depannya ini tidak semenarik rasanya. Sementara itu, Ayu tetap berdiri di tempatnya.

Meskipun Ayu yakin kali ini hidangannya 100 kali naik level, kegugurannya tetap tak bisa dikontrol.

Sepotong steak mulai masuk ke mulut Arvin.

Dan sedetik kemudian, bola mata Arvin melebar. Arvin nampak berubah seperti sedang berpikir keras.

Kemudian dengan semangat, sepotong steak kembali dimasukkan ke mulutnya.

Lagi …

Dan lagi…

Kunyahannya semakin cepat.

Steak pun habis tak tersisa.

Ayu terperanga senang.

Begitu selesai meneguk habis air minumnya, Arvin bangkit cepat, menarik jasnya, lalu pergi tanpa berkomentar, tanpa senyum.

Seperti itu saja.

Melihat sikap Arvin seperti itu, jujur Ayu kecewa. Dia pikir kali ini akan mendapatkan pujian atau pengakuan. Ternyata sama saja.

Sampai kemudian, Ayu tersenyum simpul melihat piring Arvin di meja.

“Paling tidak, kali ini suamiku benar-benar menikmati masakanku.”

Di dalam kamar mandi, Arvin berdiri di bawah rain shower tanpa pakaian, mengguyur tubuhnya dengan air dingin.

Selama itu juga, kepalanya dipenuhi tanda tanya, soal kenapa bisa Ayu cepat mahir membuat steak dengan rasa pas dan sempurna?

Ada kekaguman serta kekesalan mengganjal hatinya.

Dia kagum karena seorang gadis dari desa tiba-tiba bisa cepat memahami ciri khas rasa masakan berkelas.

Dia kesal karena kenapa harus Ayu.

Belum lagi, saat ingat penampilan Ayu dalam dua hari terakhir ini, yang cemong dan berantakan, gara-gara berusaha keras memasak steak untuknya … terlihat manis dan menggemaskan di mata Arvin.

Arvin tak bisa bohong soal yang satu itu.

“Kurang ajar kau Ayu!”

Bugh!

Arvin meninju keras dinding kamar mandi.

Arvin tidak bisa menerima rasa kagum atau rela untuk memuji Ayu dengan kata manis dan menggemaskan itu.

Harga dirinya sebagai pria berkelas berusia 28 tahun serasa dipaksa turun pangkat bila itu dilakukan.

Apalagi Arvin sendiri tipe orang yang mudah gengsi untuk memberi pujian kepada orang lain. 

“Aku harus menghukum Ayu. Benar! Itu balasan yang tepat untuknya!” gumamnya.

Selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek, Arvin menengok ke area lemari khusus di lorong dekat kamar mandinya. Dia teringat sesuatu. 

Di dalam lemari sana banyak pakaian lama Arvin yang sudah jarang dipakai.

Sebuah ide mendarat cepat.

“Baju-baju di sana sangat banyak. Butuh waktu seharian bagi Ayu mencucinya meski harus pakai mesin cuci. Cocok untuk dijadikan hukuman.” Arvin tersenyum mantap.

Arvin bergegas keluar kamar menuju ruang tengah. 

“Ayu!” Panggilannya tapi tak ada sahutan.

Ayu rupanya tidak ada di sana. Melihat area dapur nampak sudah bersih, Arvin yakin wanita itu sudah ada di kamarnya.

Kamar Ayu berada di sisi lain dari kamar Arvin. Bersebrangan dan perlu melewati ruang tengah.

Arvin berjalan lurus ke depan.

Begitu sampai di pintu kamar Ayu, Arvin langsung mendorong pintu itu tanpa permisi.

“Ayu, aku perlu kamu…”

Bola mata Arvin membulat. Tubuhnya membatu.

Di dekat tempat tidur sana, Ayu dalam posisi membelakangi Arvin — dalam keadaan polos, alias tak berbusana — bersiap untuk memasang pakaian.

Mendengar suara Arvin, Ayu menengok dan …

“KIYAAAA!”

Ayu menjerit sambil pontang-panting menutup tubuhnya dengan baju yang belum sempat ia pakai. Sementara Arvin cepat-cepat menarik pintu kembali.

Di luar, Arvin terperanga sendiri. Tangan satunya mengusap-usap dada kiri. 

Dia lalu buru-buru kembali, masuk ke kamarnya. Lebih tepatnya kabur.

...****...

Di meja makan pagi hari, Arvin dan Ayu sama-sama sarapan roti bakar selai. Udara di antara mereka diselimuti dengan kekakuan.

Canggung.

Canggung karena perbuatan Arvin sendiri semalam.

Ayu sedang mengoles roti dengan selai. Matanya daritadi curi-curi pandang kepada Arvin, ingin minta maaf soal semalam meski bukan dirinya yang salah, tapi tidak berani.

Di seberang meja, Arvin sarapan tenang dengan aura gelisahnya.

“Pak Arvin,” Ayu akhirnya bersuara. “Soal tadi malam —”

Drrt!

Arvin lekas mendorong kursinya ke belakang sampai terdengar suara derit. Dia bangkit berdiri, membersihkan mulutnya dengan tisu.

“Saya berangkat. Jangan lupa mencuci semua pakaian lamaku yang menumpuk!” 

Ayu ikut berdiri. “Baik … Pak…”

Arvin membuang tisunya sembarangan lalu pergi berlalu.

Di dalam lift yang membawanya turun, Arvin berdecak kesal. Ingatannya tentang tubuh polos Ayu terus meneror sejak tadi malam.

Arvin menjilat bibir bawahnya. Meski cuma terlihat dari belakang dan sekilas, tetap saja mengundang.

Langsing.

Putih.

Lekukan yang sungguh ideal.

Semakin mengingatnya, semakin membuat Arvin penasaran akan bagaimana bentuknya jika dilihat dari depan.

Sebersit ide kotor pun berbisik. Memintanya untuk melakukannya lagi malam ini.

Dan apakah Arvin akan mau?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!