NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:851
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31.Pulang dengan Kabar Bahagia

   ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

Beberapa jam kemudian...

Sinar matahari sudah mulai condong ke barat, menandakan sore hari telah tiba. Di teras rumah besar yang megah itu, Aisyah sudah menunggu cukup lama. Jari-jarinya saling memilin gelisah, matanya tak lepas memandang gerbang pagar utama, menanti kedatangan orang tuanya.

Hingga akhirnya...

NGEENG...

Suara mesin mobil terdengar familiar. Sebuah mobil mewah warna hitam kilap milik Papa Arya perlahan masuk ke halaman rumah dan berhenti tepat di depan teras.

Jantung Aisyah seketika berdegup kencang bak genderang perang. Tangannya dingin, kakinya terasa lemas menahan rasa penasaran dan cemas yang bercampur menjadi satu.

Pintu mobil terbuka. Papa Arya turun lebih dulu dengan wajah yang terlihat sangat tenang dan damai. Ia mengelilingi mobil, lalu membukakan pintu untuk istrinya.

Mama Laras turun menyusul.

Seketika mata Aisyah memandang wajah ibunya, ia bisa merasakan perubahan yang sangat besar. Wajah Mama tidak lagi cemberut, tidak lagi murka, dan tidak lagi memancarkan aura dingin yang menakutkan seperti saat berangkat tadi pagi.

Justru sebaliknya... Wajah Mama terlihat jauh lebih lembut, lebih tenang, dan damai. Matanya sedikit bengkak dan merah, tanda jelas bahwa baru saja habis menangis, tapi bukan tangisan marah atau sedih, melainkan tangisan haru dan lega. Bahkan sesekali terlihat senyum tipis tersungging di bibir Mama saat berjalan masuk.

Aisyah menghela napas panjang, dadanya terasa sedikit lebih lega namun deg-degan belum juga hilang.

Alhamdulillah... Sepertinya tidak ada pertengkaran. Sepertinya semuanya baik-baik saja... batinnya berdoa.

Papa Arya dan Mama Laras berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Suasana yang tadinya tegang perlahan terasa hangat.

"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..." sapaan lembut Mama Laras terdengar memecah keheningan. Suaranya terdengar sangat berbeda, jauh lebih lembut dan penuh kasih sayang.

"Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh..." jawab Aisyah cepat, suaranya sedikit terbata-bata karena gugup. Ia buru-buru mencium tangan kedua orang tuanya satu per satu dengan penuh hormat.

"Pa... Ma..." panggil Aisyah lirih, matanya menatap nanar bergantian ke wajah ayah dan ibunya, menunggu kabar apa yang akan mereka sampaikan. "Gimana... gimana tadi di sana? Bisa selesai baik-baik kan?"

Papa Arya tersenyum lebar, lalu mengelus puncak kepala putrinya itu penuh kasih.

"Alhamdulillah Sayang... Semuanya sudah selesai dengan sangat baik. Bahkan lebih dari yang Papa harapkan," jawab Papa Arya dengan nada bahagia.

Mama Laras hanya diam, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada rasa sayang, ada rasa bersalah, dan ada rasa haru yang bercampur aduk di sana. Perlahan, tangan Mama terangkat, menyentuh pipi halus Aisyah, mengusapnya lembut dengan ibu jari.

"Maafkan Mama ya Sayang..." tiba-tiba Mama Laras berbisik pelan.

Aisyah terbelalak kaget. "Maaf? Maaf apa Ma?"

"Mama minta maaf... selama ini Mama terlalu keras sama kamu. Mama marah-marah, Mama larang ini itu, sampai bikin kamu sedih dan nangis sendirian," suara Mama Laras mulai bergetar, matanya kembali berkaca-kaca. "Padahal sebenarnya... Mama cuma takut. Mama takut kamu sakit hati, Mama takut kamu kecewa."

"Tapi hari ini... Mama sudah dengar semuanya. Mama sudah ketemu langsung sama Bunda Maryam dan Ayah Abdul. Dan yang paling penting... Mama sudah bicara hati ke hati sama Aqlan."

Mendengar nama itu disebut, air mata Aisyah tak kuasa dibendung lagi. Menetes deras membasahi pipi.

"Terus... terus gimana Ma? Mama masih marah kan? Mama masih nggak suka kan sama dia?" tanya Aisyah cemas, tangannya memegang lengan ibunya erat-erat.

Mama Laras menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis.

"Tidak Sayang... Mama tidak marah lagi. Mama sudah mengerti semuanya sekarang," jawab Mama lembut. "Mama tahu sekarang kalau cewek yang sering sama dia itu adiknya, bukan pacarnya. Dan Mama juga baru tahu... kalau ternyata hubungan kalian itu bukan baru kemarin sore."

"Kalian itu... jodoh sejak dulu kan? Kalian sudah berjanji satu sama lain sejak masih di pesantren?"

Aisyah mengangguk cepat sambil menangis. "Iya Ma... Iya bener. pak Aqlan ingat semuanya Ma. Dia ingat janji kita, dia ingat masa kita."

"Ya sudah... ya sudah..." Mama Laras akhirnya menarik putrinya ke dalam pelukan hangat. Memeluknya erat-erat, seolah ingin menebus semua kesalahpahaman yang terjadi selama ini. "Mama tidak akan menghalangi lagi. Mama izinkan kamu dekat sama dia. Mama restui hubungan kalian."

BUUG!

Seakan ada beban berat seberat ton yang terangkat dari pundak Aisyah. Mendengar kata "DIRESTUI" keluar dari mulut ibunya sendiri, rasanya dunia seakan berputar bahagia.

"Benarkah Ma? Benar Ma? Mama nggak bohong kan?" Aisyah melepaskan pelukan, menatap wajah ibunya tak percaya.

"Bener Sayang... Bener. Mama serius," jawab Mama Laras tegas. "Tapi ingat ya Aisyah... Mama kasih kepercayaan ini besar-besar. Kamu harus jaga diri baik-baik. Biarkan hubungan ini berjalan sesuai aturan agama, biar nanti bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius dan halal."

Papa Arya yang melihat adegan haru itu hanya bisa tersenyum bangga. "Syukurlah... Akhirnya semua masalah selesai. Sekarang kamu bisa tenang lagi kan Sayang? Nggak perlu nangis-nangis lagi?"

Aisyah mengangguk bahagia, lalu memeluk kedua orang tuanya bergantian. Hatinya terasa sangat hangat, sangat tenang, dan sangat bahagia. Mendung yang selama ini menyelimuti hatinya akhirnya berganti menjadi pelangi yang indah.

"Makasih Pa... Makasih Ma... Makasih banyak karena sudah mau mengerti Aisyah. Aisyah janji Aisyah bakal jaga diri baik-baik. Aqlan juga orang baik Pa, Ma... Dia bakal tanggung jawab kok."

"Iya... Kami tahu," sahut Mama Laras sambil tersenyum. "Anak itu tadi berlutut di hadapan Mama lho... Cuma buat minta izin sama kamu. Sungguh ketulusan yang langka."

Aisyah tersipu malu mendengarnya, namun hatinya berbunga-bunga.

Bab 9: Kabar Bahagia untuk Sang Kekasih

Malam harinya...

Setelah perasaan lega dan bahagia itu mulai sedikit mereda, Aisyah buru-buru mengambil ponselnya yang ada di atas meja nakas. Jari-jarinya dengan cepat mencari nama kontak yang paling ia rindukan saat ini.

"GUS AQLAN ❤️"

Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin sekali mendengar suaranya, ingin memberitahu bahwa semua masalah sudah selesai, bahwa mereka sudah direstui, dan bahwa mereka tidak perlu bersembunyi lagi.

TUUUT... TUUUT... TUUUT...

Nada sambung terdengar panjang. Hingga akhirnya...

"Halo..."

Suara berat dan dalam itu terdengar dari seberang sana. Suara yang sangat Aisyah rindukan. Namun terdengar sedikit lemah dan serak, mengingat kondisi pemiliknya yang masih dalam perawatan.

"Assalamu’alaikum..." jawab Aisyah pelan, suaranya terdengar lembut dan bergetar menahan haru. "Aqlan... kamu gimana keadaannya sekarang? Masih sakit nggak?"

Di seberang sana, terdengar helaan napas panjang yang lega. Seakan beban di dada Gus Aqlan langsung hilang begitu mendengar suara kekasih hatinya itu.

"Wa’alaikumsalam Sayangku... Alhamdulillah Aqlan sudah jauh lebih baik kok. Cuma masih agak lemas aja dikit," jawab Gus Aqlan lembut. "Terus kamu gimana? Kamu baik-baik aja kan di rumah? Maaf ya hari ini bikin kamu khawatir dan sendirian."

"Aqlan..." panggil Aisyah lagi, air matanya sudah siap tumpah lagi tapi kali ini air mata bahagia. "Mama... Mama Aisyah sudah nggak marah lagi lho. Tadi Papa sama Mama pulang bawa kabar baik banget."

Gus Aqlan di seberang sana tampak tersentak. "Hah? Benarkah Sayang? Ibu... Ibu Laras sudah tidak marah lagi?"

"Iyaaa..." Aisyah tertawa kecil di telepon bercampur tangis bahagia. "Mama cerita semuanya. Mama bilang kalau tadi kamu berlutut minta izin sama Mama. Aqlan bodoh... kenapa harus berlutut sih? Kamu kan laki-laki..."

"Itu demi kamu..." potong Gus Aqlan lembut. "Demi kita. Aqlan rela lakukan apa aja asal kita bisa bersama. Terus... terus gimana Sayang? Ibu mau terima Aqlan kan? Ibu mau restui kita kan?"

"Iyaaa! Mama restui kok!" seru Aisyah dengan semangat. "Mama bilang nggak akan menghalangi kita lagi. Mama sudah tahu semuanya, Mama tahu kalau kita jodoh dari kecil, Mama tahu kalau Zea itu adik kamu. Semua salah paham sudah hilang Lan..."

"Alhamdulillah... Ya Allah, Maha Suci Engkau..." terdengar suara Gus Aqlan mengucap syukur dengan suara bergetar. "Aqlan nggak nyangka bisa secepat ini. Aqlan pikir harus berjuang lama lagi."

"Itu karena kamu tulus Lan... Karena kamu serius. Mama sampai terharu lho dengar janji kamu tadi."

Aisyah menarik napas panjang, lalu berkata dengan sangat lembut dan penuh makna.

"Aqlan... Kita berhasil ya? Kita berhasil lewati semua badainya. Sekarang tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan."

"Iya Sayangku... Kita berhasil. Kita menang," jawab Gus Aqlan dengan suara bahagia. "Tunggu Aqlan ya... Segera setelah Aqlan boleh pulang dan badan Aqlan fit lagi, Aqlan akan datang ke rumah. Aqlan akan jemput kamu, kita akan jalanin hubungan ini dengan cara yang benar, dengan kepala tegak."

"Aqlan sayang banget sama kamu Aisyah... Sangat sayang."

"Aisyah juga sayang banget sama pak Aqlan... Sangat sayang."

Malam itu menjadi malam paling indah bagi keduanya. Rasa rindu yang bertahun-tahun terpendam, rasa takut kehilangan, dan air mata kesedihan, kini berganti penuh dengan kebahagiaan, harapan, dan janji manis masa depan.

Cinta mereka yang sempat terhalang, kini kembali bersinar terang lebih indah dari sebelumnya.

BERSAMBUNG....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!