Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 19: Anomali Bernama Helena
Ruang kaca di sayap belakang mansion keluarga Adristo itu berbanding terbalik dengan ruang makan utama yang kaku dan mencekik.
Ruangan ini dipenuhi oleh anggrek bulan putih, sofa-sofa rotan sintetis berlapis bantal empuk, dan dinding kaca yang menghadap langsung ke taman belakang yang diterangi lampu temaram. Udaranya harum bunga, bukan harum intrik perebutan harta warisan.
Namun, bagi otakku yang sudah disetel ke mode survival, perubahan setting ruangan tidak berarti penurunan level ancaman. Justru sebaliknya.
Aku berjalan mengikuti langkah anggun Helena Adristo. Dalam kepalaku, aku memutar kembali seluruh referensi sinetron dan film tentang keluarga kaya yang pernah kutonton. Ini adalah fase klasik. Sang ibu mertua akan mengajak menantu perempuan dari kalangan bawah ke ruangan tertutup, menyodorkan teh, lalu mengeluarkan buku cek dari tas Hermes-nya sambil berkata: "Sebutkan hargamu dan tinggalkan putraku."
Aku sudah menyiapkan tiga draf jawaban berbeda untuk skenario itu. Semuanya sopan, berbasis logika hukum, dan berpegang teguh pada kontrak satu miliarku dengan Rayan.
Helena duduk di sofa two-seater, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Duduk sini, Nara. Dekat Ibu," titahnya lembut.
Aku melangkah kaku, menjaga postur tubuhku tetap tegak, lalu duduk di sebelahnya. Jarak kami hanya terpisah satu jengkal. Ini adalah jarak yang sangat tidak taktis untuk pertahanan diri.
Helena mengulurkan tangan, menuangkan teh chamomile dari teko porselen ke dalam dua cangkir. Ia menyodorkan satu cangkir ke arahku.
"Diminum dulu. Ibu tahu perutmu pasti kaget melihat kelakuan Sonia tadi," kata Helena.
Aku menerima cangkir itu. "Terima kasih, Bu," kataku hati-hati. Aku memegang cangkir yang hangat itu dengan kedua tangan, menunggu ia membuka tasnya dan mengeluarkan buku cek.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Helena tidak mengambil buku cek. Sebaliknya, wanita berusia lima puluh lima tahun yang dibalut gaun elegan dan perhiasan mutiara itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, meraih kedua tanganku lengkap dengan cangkir teh di dalamnya lalu menggenggamnya erat-erat.
Matanya yang teduh menatapku dengan kilatan emosi yang sangat intens.
"Ya Tuhan, Nara," ucap Helena. Suaranya sedikit bergetar, terdengar sangat dramatis. "Ibu tidak tahu harus bilang apa. Ibu... Ibu bersyukur sekali kamu ada."
Sistem saraf pusatku mendadak berhenti berfungsi.
Error 404: File not found. Respons untuk situasi ini tidak ada di dalam binder hitam milik Rayan maupun di dalam logika otakku.
"Maaf... Bu?" tanyaku, bingung. "Bersyukur untuk apa? Saya belum melakukan apa-apa."
"Kamu sudah menikahi Rayan!" Helena menepuk punggung tanganku dengan penuh semangat. Senyumnya mengembang luar biasa lebar, memperlihatkan gurat halus di sudut matanya. "Kamu tahu tidak? Selama tiga tahun terakhir, Ibu itu sampai susah tidur memikirkan anak itu. Ibu takut sekali dia akan berakhir mati kesepian di penthouse batunya itu, ditemani oleh spreadsheet dan laporan keuangan."
Aku mengerjap cepat. Logikaku masih berusaha mencari letak jebakan dari kalimat ini.
"Ibu yang selama ini repot-repot mengatur puluhan kencan buta untuknya," lanjut Helena, berbicara dengan kecepatan yang tidak kalah dari Sari saat sedang bergosip. "Ibu kenalkan dia dengan anak menteri, anak direktur bank, sampai model papan atas. Semuanya ditolak! Ibu sampai panik, Nara. Ibu pikir, jangan-jangan Rayan itu akan menikahi mesin fotokopi di kantornya karena hanya benda itu yang bisa memahami bahasanya."
Aku terdiam. Otot wajahku yang tadinya bersiap untuk perang dingin, perlahan mengendur karena kebingungan yang absolut.
Wanita di depanku ini... dia tidak sedang berakting.
Ekspresinya terlalu hidup, terlalu berisik, dan terlalu hangat untuk memalsukan kelegaan. Dia tidak peduli bahwa aku berasal dari keluarga biasa. Dia tidak peduli bahwa gaunku bukan rancangan desainer musim ini. Satu-satunya hal yang ia pedulikan adalah: putranya yang gila kerja itu akhirnya membawa pulang seorang manusia berwujud perempuan.
"Waktu Rayan tiba-tiba menelepon Ibu dan bilang dia sudah mendaftarkan pernikahan sipil secara privat dengan seorang perempuan bernama Nara... Ibu sampai harus minum obat tensi saking kagetnya," Helena tertawa kecil, suara tawanya renyah dan elegan di saat bersamaan. "Dan malam ini, melihat caramu mematahkan omongan racun Sonia dan Dika tadi? Ya ampun. Ibu nyaris bersorak dari ujung meja."
"Ibu... tidak marah saya tidak sopan pada Tante Sonia?" tanyaku pelan, masih tidak percaya.
"Sopan? Untuk apa sopan pada ular?" Helena mengibaskan tangannya dengan gaya sosialita yang sangat luwes. "Sonia itu dari dulu memang hobi mencari gara-gara. Kalau Ibu yang membalas, nanti jadinya perang antar-faksi dan Nenek Ratih akan murka. Tapi karena kamu yang membalasnya dengan cara sepintar itu... aduh, Nara. Kamu ini benar-benar oase di padang pasir keluarga Adristo."
Tiba-tiba, Helena melepaskan tanganku, berdiri dari sofa, dan berjalan menuju sebuah meja panjang di sudut ruang kaca.
Ia mengambil sesuatu dari sana, lalu kembali ke arahku dengan membawa tiga buah paper bag tebal berlogo restoran bintang lima.
"Ini," kata Helena, meletakkan ketiga tas kertas itu di atas pangkuanku. Bebannya cukup berat.
"Apa ini, Bu?" tanyaku, menatap tas-tas itu dengan dahi berkerut.
"Katering," jawab Helena bangga. "Waktu Rayan bilang dia mau bawa kamu ke sini, Ibu langsung telepon restoran langganan Ibu. Ibu pesan Wagyu Beef Wellington, Truffle Pasta, sama berbagai macam dessert. Ibu tahu kamu pasti tidak akan kenyang makan malam di meja depan tadi. Udaranya terlalu beracun untuk mencerna makanan dengan baik."
Aku membeku.
Aku menatap tumpukan makanan mewah di pangkuanku, lalu menatap wajah Helena yang tersenyum hangat, menungguku menerimanya dengan senang hati.
Di dalam dadaku, tiba-tiba ada sesuatu yang bergeser. Sebuah perasaan asing yang terasa hangat namun menyakitkan di saat yang bersamaan.
Ibuku sendiri Sri Wahyuni tidak pernah memberiku makanan tanpa syarat. Sepotong ayam goreng selalu datang dengan tagihan ekspektasi, nilai ujian, atau sekadar sindiran tentang anak tetangga. Makanan di rumahku adalah alat tukar.
Tapi Helena Adristo, wanita konglomerat yang baru mengenalku kurang dari dua jam, memesankan makanan mewah diam-diam hanya karena ia takut aku kelaparan di tengah keluarganya yang beracun. Dia repot-repot memikirkan kenyamananku tanpa mengharapkan timbal balik apa pun selain melihat anaknya tidak kesepian.
Dinding pertahanan logisku mendadak retak sehelai rambut. Aku harus menggigit bagian dalam pipiku keras-keras agar mataku tidak memanas.
(Fokus, Nara. Fokus. Ini semua hanya kebohongan. Kamu di sini dibayar satu miliar. Jangan terlena.)
"Terima kasih banyak, Ibu," kataku dengan suara yang jauh lebih tulus, menekan rasa sesak di dadaku. "Ini... sangat banyak. Rayan dan saya pasti akan menghabiskannya di penthouse nanti."
"Syukurlah. Jangan lupa paksa anak kaku itu makan juga," Helena kembali duduk di sebelahku. Ia menyelipkan sebelah rambutku ke belakang telinga. Sentuhannya sangat lembut. "Ibu tidak peduli dari mana asalmu, Nara. Ibu hanya melihat bagaimana Rayan menatapmu. Dia selalu pasang badan kalau soal urusan keluarga, tapi malam ini, dia membiarkanmu bicara dan membela diri. Itu artinya, dia menghargaimu. Bagi Rayan, itu adalah sebuah keajaiban."
Aku hanya bisa tersenyum kaku. Dia membiarkanku bicara karena itu adalah rincian kontrak kerja kami, Bu, balasku dalam hati. Tapi aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan wanita ini dengan realita yang sedingin es.
Suara langkah kaki yang berat dan terukur terdengar mendekat dari arah lorong.
Rayan muncul di ambang pintu kaca. Jas charcoal-nya masih melekat sempurna, namun raut wajahnya terlihat sepuluh kali lebih lelah daripada saat kami tiba tadi. Rapat evaluasi dengan Nenek Ratih dan paman-pamannya jelas menguras seluruh sisa kewarasannya.
Matanya langsung mencari sosokku.
Rayan tampak sedikit terkejut melihatku duduk berdekatan dengan ibunya. Ia mungkin berekspektasi akan menemukanku sedang diinterogasi, dihakimi, atau sedang menangis dalam diam.
Alih-alih adegan melodrama, yang ia temukan adalah aku sedang memeluk tiga buah paper bag katering dengan wajah kebingungan, sementara ibunya tersenyum berseri-seri.
"Rayan, sudah selesai laporan ke Nenek?" sapa Helena ringan.
"Sudah," jawab Rayan, melangkah masuk. Ia menatap tumpukan tas kertas di pangkuanku dengan kening berkerut. "Apa itu?"
"Bekal," jawabku cepat, mendahului Helena. "Ibu memesankan katering karena mengira saya akan mati kelaparan gara-gara alergi kepiting."
Rayan memijat pangkal hidungnya. Ia menatap ibunya dengan tatapan pasrah yang sepertinya sudah menjadi rutinitas. "Ma, Nara bukan anak asrama yang butuh dikirimi rantang makanan. Saya bisa memberinya makan di luar."
"Alah, Ibu tahu kamu! Kalau dibiarkan, kamu paling hanya memesan kopi pahit dan menyuruh Nara makan salad daun!" omel Helena santai. "Sudah, bawa pulang saja. Dan kamu, jangan langsung kerja lagi sampai rumah. Temani istrimu ngobrol kek, nonton TV kek."
Rayan menghela napas panjang, jelas menolak untuk berdebat dengan ibunya. "Iya, Ma. Kami pamit pulang sekarang. Malam semakin larut."
Helena berdiri, lalu menarikku ikut berdiri. Ia memelukku—pelukan yang benar-benar erat dan hangat, pelukan seorang ibu yang sesungguhnya. Aku berdiri kaku di dalam pelukannya, membiarkan aroma parfum mewahnya menyelimutiku.
"Sering-sering main ke sini ya, Nak. Kalau Rayan sibuk, kamu datang saja sendiri. Kita bisa ke salon berdua," bisik Helena.
"Baik, Ibu. Terima kasih banyak," jawabku kaku.
Rayan mengambil alih ketiga paper bag dari tanganku tanpa banyak bicara. Ia membimbingku keluar dari ruang kaca, menyusuri lorong panjang mansion, hingga kembali ke teras utama di mana mobil Maybach kami sudah menunggu.
Selama perjalanan keluar, kami tidak berbicara sama sekali.
Kami masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup. Sopir perlahan melajukan mobil membelah jalanan Menteng yang sepi, meninggalkan gerbang besi raksasa itu di belakang kami. Kaca pembatas kabin depan dan belakang kembali dinaikkan.
Rayan meletakkan tiga paper bag berisi katering mewah itu di kursi sebelah kirinya. Ia melonggarkan dasinya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil, dan memejamkan mata. Otot-otot di wajahnya yang kaku perlahan mengendur. Ia terlihat seperti seorang jenderal perang yang baru saja turun dari medan pertempuran berdarah.
Aku menoleh ke arahnya, mempertahankan wajah datarku.
"Ada apa?" tanya Rayan tanpa membuka matanya, menyadari aku sedang menatapnya.
"Sistem informasi di binder hitammu tidak akurat, Rayan," kataku datar.
Rayan perlahan membuka sebelah matanya, menatapku dengan tatapan bertanya. "Bagian mana yang salah?"
"Ibumu," jawabku serius. "Di profilnya, kau menulis bahwa ia sangat terobsesi pada pernikahanmu. Kau membuatnya terdengar seperti diktator yang haus kendali."
Aku menunjuk tas-tas katering itu dengan telunjukku.
"Kenyataannya, ibumu adalah sebuah anomali. Dia terlalu hangat. Dia terlalu peduli. Dia memelukku dan memberiku makanan seolah aku adalah korban selamat dari zona perang," kataku, nada suaraku mengandung sedikit kepanikan logis yang tak bisa kututupi. "Dia berbahaya, Rayan. Dia merusak algoritma pertahanan saya."
Rayan terdiam selama beberapa detik. Ia menatap wajahku yang sedikit pias karena kebingungan menghadapi kasih sayang tanpa syarat.
Lalu, tanpa kuduga, dada Rayan bergetar. Sebuah tawa tertahan keluar dari bibirnya. Bukan tawa sarkastis, bukan senyum sinis. Melainkan sebuah tawa rendah yang murni.
"Saya sudah bilang keluarga ini tidak normal, Nara," balasnya, kembali memejamkan mata dengan sudut bibir yang masih sedikit melengkung ke atas. "Beradaptasilah. Kamu dibayar mahal untuk itu."
Aku membuang muka, menatap ke luar jendela kaca mobil yang gelap.
Malam ini aku berhasil memenangkan perang logika di meja makan. Tapi aku kalah telak di ruang kaca.
Sebab menghadapi orang jahat dengan logika itu mudah. Yang sulit adalah membentengi diri dari orang baik, apalagi ketika kau tahu bahwa keberadaanmu di sisi mereka hanyalah sebuah kebohongan seharga satu miliar rupiah.