Andreas Bramawijaya, seorang CEO ternama yang tampan dan selalu bersikap dingin. Sikap dingin nya itu, tidak lain karena dia kecewa dengan keluarga nya, dan kehilangan istri dan anak tercinta nya karena kecelakaan.
Akibat kehilangan istri dan anak nya, Andreas menjadi seseorang yang sangat dingin, ketus dan jarang tersenyum sehingga ditakuti banyak orang.
Bu Stella, kepala pembantu di rumah Andreas, yang sudah menemani Andreas sejak kecil, sangat kasihan melihat tuan yang sudah dianggap seperti anak nya itu berubah menjadi pendiam setelah ditinggal anak istri nya.
Akhir nya Bu Stella inisiatif untuk mendatangkan anak semata wayang nya ke rumah Andreas untuk menemani dan merawat Andreas supaya mau berubah menjadi Andreas yang seperti biasa lagi.
Savanna Zelindra anak yang baru lulus SMA, terpaksa harus menuruti kemauan ibu nya untuk ikut pindah kerumah bos nya. Apakah Savanna akan bisa berhasil menaklukkan sang bos duda tampan yang dingin?
Ikuti terus ya cerita nya🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ell.ellsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai memperhatikan
Savanna membaringkan tubuh nya di kasur.
"Hah, ini aku mimpi atau engga yah, seminggu ini, aku bakal deket terus sama tuan Andreas." Savanna senyum senyum sendiri memikirkan nya.
"Oh iya, apa aku tunggu ibu aja ya di sofa. Kaya nya aku tunggu ibu aja deh, sambil baca baca buku."
Savanna membawa buku tentang tes masuk Universitas.
Semakin lama Savanna semakin ngantuk, akhir nya ketiduran juga.
Andreas baru saja turun dari ruangan kerja nya, dia mau mengambil air minum. Tapi Andreas kaget, ketika melihat Savanna yang tidur di sofa.
"Kenapa dia gak tidur dikamar, disini kan cukup dingin. Oh iya, dia pasti lagi nunggu bu Stella."
"Ah sudah, abaikan saja."
Andreas lanjut mengambil minum, tapi di lihat lagi, Savanna makin meringkuk di kursi seperti kedinginan.
Andreas yang tadi nya mau mengabaikan, jadi tidak tega, akhir nya Andreas mengambil selimut di kamar tamu.
"Astaga bocah ini." Andreas memakai kan selimut nya. Di lihat nya buku yang masih setia Savanna pegang.
Andreas tersenyum melihat buku itu. Dan perlahan mengambil buku itu dari lengan Savanna, lalu menyimpan nya di meja.
"Dia, anak yang gigih juga, semangat nya sangat membara."
Andreas tak sengaja memandangi wajah Savanna, ternyata di lihat lihat, Savanna mempunyai bentuk mata yang sangat indah, hampir sama dengan Ares, anak nya.
Tapi, ketika Andreas sedang fokus memandang nya, tiba tiba Savanna bergerak, tangan nya jadi memeluk leher Andreas.
Jarak mereka sangat dekat, hampir saja mereka tak sengaja berciuman lagi.
Nafas mereka saling bersautan. Andreas bingung, dia ingin bergerak karena sesak, tapi takut membangunkan Savanna.
Tapi Andreas juga tidak mungkin diam seperti ini. Takut terjadi sesuatu lagi dan ketahuan orang lain, lalu Savanna marah marah dan menangis lagi.
Secara perlahan, Andreas menyingkirkan tangan Savanna dari leher nya.
"Huftt, Akhir nya lepas juga. Ada apa sih bocah ini, tidur nya pun sangat aktif sekali."
Andreas langsung pergi ke kamar nya.
Andreas meminum obat dan vitamin nya. Dia harus bisa tidur nyenyak lagi kali ini.
Tapi tiba tiba, kejadian dia mencium Savanna, lalu tadi dia memandangi Savanna dan Savanna memeluk nya, terlintas di kepala Andreas.
"Astaga, kenapa aku jadi kepikiran bocah itu terus." Andreas menggelengkan kepala nya.
"Ayo Andreas tidur." Andreas berusaha memejamkan mata nya. Tapi nihil, dia tetap tak bisa tidur.
Karena tetap tak bisa tidur, akhir nya Andreas memutuskan untuk berolahraga, supaya setelah capek dan lelah, dia bisa tertidur nyenyak.
"Kenapa vitamin itu jadi gak mempan, kaya nya aku besok harus ketemu dokter Andre lagi." Andreas akhirnya berolah raga untuk mengalihkan pikiran nya.
Bu Stella pulang setelah pukul 2 pagi.
Ternyata dilihat nya, Savanna sedang tertidur di sofa.
"Aduh Savanna, dia pasti tunggu aku, maka nya sampai ketiduran di sini. mau di bangunin kasihan sebentar lagi pagi, gak papa lah di sini aja ya nak, udah pake selimut juga. Nanti pagi ibu bangunin." Bu Stella mencium rambut Savanna.
Bu Stella pergi ke kamar nya, untuk mengistirahat kan diri sebentar.
Pagi tiba, Bu Stella langsung membangunkan Savanna.
"Nak, Savanna, bangun sayang, ini sudah pagi."
Savanna menggeliat. Ketika melihat ibu nya yang membangun kan nya, Savanna langsung terperanjat.
"Hai ibu, jam berapa ibu pulang?" Savanna langsung memeluk ibu nya.
"Ibu pulang jam 2 pagi. Maaf ya gak bangunin kamu. Kasian kamu nya lagi nyenyak, kalau ibu bangunin, takut nya kamu gak bisa tidur lagi."
"Iya bu gak papa, lagian tidur di sini juga nyaman kok bu."
"Oh iya, ngomong ngomong, kenapa kamu bawa selimut yang ada di kamar tamu?"
"Hah? Selimut ini bu? Kirain ibu yang pakai kan selimut nya ke aku."
"Nggak kok, ibu malah gak tahu."
"Apa mungkin bu Yuni ya bu? Atau Bu Dini? Atau kak April? Atau yang lain?"
"Ibu juga gak tahu, tapi biasa nya kalau malam mereka diam aja di Paviliun khusus tempat mereka, soal nya kan disana juga sudah lengkap, gak perlu jauh jauh kesini. Paling mereka ke rumah utama nya baru jam 6 pagi."
"Apa mungkin tuan Andreas ya? Tapi masa dia mau selimutin aku." Savanna bergelut dengan isi hati nya.
"Udah gak papa, ayo mandi dulu, ibu bawa kue buatan nenek buat kamu, nanti kita sarapan nya pake kue ya."
"Serius bu? Asiiiik, kangen nya kue buatan nenek."
"Ya udah mandi dulu sana."
"Oke bu." Savanna mencium pipi ibu nya lalu pergi mandi.
Savanna sudah segar dan wangi. Andreas pun turun dari kamar nya, akan berangkat ke kantor.
"Selamat pagi tuan, maaf kemarin ibu tidak bilang dulu pas mau berangkat, karena tuan masih beristirahat. Dan tadi malam, ibu baru pulang."
"Iya tidak apa bu, yang penting ibu selamat dan kembali lagi ke sini."
"Iya tuan, silahkan tuan sarapan. Ibu persiapkan dulu untuk bekal makan siang."
Andreas mengangguk.
Bu Stella bingung Andreas terasa seperti tak biasa hari ini. Wajah nya yang biasa ditekuk, menjadi sedikit bergairah. Dan bicara nya pun, tak terlalu irit.
"Apa terjadi sesuatu kemarin?" Bu Stella berbicara dalam hati.
Savanna melihat Andreas yang sedang sarapan.
"Nak, ini seperti biasa, kamu antarkan ya ke mobil tuan Andreas."
"Baik ibu."
Sebelum makanan nya di berikan kepada Andreas, tak lupa Savanna menuliskan dulu sebuah kalimat dalam sebuah kertas, untuk Andreas.
Andreas selesai sarapan. Dia langsung pergi ke tempat biasa.
Savanna membawa makan siang Andreas, dan seperti biasa, menunggu di depan pintu ruangan favorit Andreas.
Karena bosan, Savanna melihat pemandangan langit yang ada di dekat lobby parkiran.
Savanna menengadahkan wajah nya ke langit sembari menikmati terpaan angin lembut dan cahaya matahari yang hangat.
Ternyata di belakang, Andreas tak sengaja memperhatikan Savanna.
"Kenapa bocah tengil itu suka sekali melihat langit?"
Andreas bergumam sambil masih memperhatikan Savanna.
"Ekhem."
Savanna terperanjat.
"Eh tuan. Udah lama di situ?"
"Ngga, baru saja."
"Oh, ya sudah, ini bekal nya. Vitamin nya ada di dalam. Jangan lupa dimakan ya tuan."
"Ya."
Savanna berbalik dan berjalan sambil bersenandung.
Dan Andreas akhir nya pergi dengan membawa bekal makan siang nya.
Setelah sampai di kantor, Andreas langsung di sibuk kan dengan pekerjaan nya.
Tak terasa waktu sudah siang, Andreas membuka bekal makan siang nya.
Andreas melihat lagi sebuah kertas ternyata isi nya.
"**Halo tuan Andreas yang sedikit tampan, jangan lupa habis kan makan nya ya, jangan lupa vitamin nya di minum juga. Dan kalau bisa, tempat makanan nya dibawa pulang ya, biar gak boros beli terus. Oh iya, nanti setelah makan malam jangan sampai lupa ya, kamu jadi guru privat aku, oke**."
"Astaga bocah ini." Tanpa sadar, Andreas tersenyum dengan kalimat yang dituliskan Savanna.
Andreas pikir, Savanna hanya menulis untuk nya kemarin saja ketika ibu nya tidak ada, tapi hari ini pun, Savanna menulis kalimat yang sedikit membuat hati Andreas bersemangat lagi.
Andreas jadi penasaran, apakah besok akan ada lagi sebuah kertas tulisan untuk nya lagi?