Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal fokus
Mama dan adik Riri baru saja sampai di bandara Juanda. Mereka naik taksi menuju rumah sakit tempat Riri dirawat. Selama dalam perjalanan, Mama tidak henti mengirim pesan kepada Riri. Riri pun membalas sekedarnya.
Sekitar 45 menit mereka baru sampai di rumah sakit. Mereka pun langsung naik lift menuju kamar Riri. Sesuai petunjuk security, mereka pun dapat dengan mudah menemukan kamar Riri.
"Itu kamarnya, ma!" Tunjuk Sisi.
"Oh iya."
Tok tok tok
"Masuk!" Sahut Riri.
Mama membuka pintu kamar tersebut dan mengintip ke dalam untuk memastikan kamar tersebut benar-benar kamar Riri.
"Permisi."
"Mama... "
"Ya Allah Riri.... "
Mama langsung belari kecil mendekati Riri. Seorang ibu pasti sangat terpukul ketika melihat anaknya sedang tidak baik-baik saja. Apa lagi mama Riri yang tinggal terpisah dan mengetahui Riri memiliki trauma kecelakaan di masa lalu. Mama langsung memeluk putri sulungnya sambil menangis.
"Sudah ma, Riri nggak pa-pa kok."
"Kamu selalu bilang begitu! Lihat ini kamu memar gini. Udahlah ayo pulang saja ke Lombok!"
"Mama.. nggak bisa begitu lah!'
"Kak... " Sapa Sisi seraya memeluk kakaknya.
"Kalian pasti capek. Istirahat dulu." Ujar Riri.
Namun mama tidak memperdulikannya. Mama memeriksa seluruh badan Riri untuk memastikan keadaannya. Mama takut ada yang disembunyikan oleh Riri. Mama juga meminta Riri agar menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Mama pun lega saat tahu Riri baik-baik saja.
Sementara itu, Riri mengabari Fira kalau nanti Fira tidak perlu ke rumah sakit sepulang dari kantor karena sudah ada keluarganya yang mengurusnya. Fira pun bersyukur akan hal itu. Bukan karena Fira keberatan untuk mengurusnya, namun karena ia senang Riri diurus oleh keluarganya langsung. Jadi Fira tidak perlu khawatir lagi.
Mama mengupas dan mengiris buah apel untuk Riri. Riri pun memakan buah apel tersebut. Sudah hampir 6 bulan mama tidak bertemu dengan Riri. Riri hanya pulang ke rumah saat lebaran dan tahun baru. Karena saat dua hari spesial itu ia mendapatkan cuti yang cukup lama.
Sisi sedang sibuk menerima telpon dari tunangannya. Hal tersebut membuat Riri jadi ingat tentang pernikahan adiknya. Ia pun berbasa-basi kepada mamanya.
"Bagaimana persiapan untuk pernikahan Sisi, ma?"
"Sudah jalan 30 persen."
"Alhamdulillah... seharusnya Sisi tidak perlu ikut ke sini. Katanya orang yang mau menikah itu tidak boleh jalan jauh?"
"Mama sudah melarang. Tapi adikmu ini ngotot pingin ikut ke Surabaya. Eh tapi katanya mau sekalian belanja kain brokat. Kan, do sini katanya banyak pilihan dan harganya terjangkau. Apa benar, Ri?"
"Iya benar, ma. Kalau begitu tunggu aku keluar dari rumah sakit saja. Nanti aku anterin cari kain."
"Boleh itu kak." Sahut Sisi.
Ia sudah mengakhiri obrolannya dengan tunangannya
"Eh... mana ada baru keluar dari rumah sakit keluyuran?" Sahut mama.
"Nggak pa-pa kok, ma. Kan yang penting Riri sudah pulih."
"Sebenarnya mama ingin sekali membahas tentang pernikahanmu juga, Ri. Tapi percuma saja kan. Kamu sudah menolak Arga mentah-mentah. Mama ingin tahu seperti apa jodohmu nanti. Semoga saja lebih segalanya dari Arga. " Batin mama.
Mama tidak ingin membuat Riri emosi saat keadaannya seperti ini.
Beberapa saat kemudian Papa menghubungi mama dan memberitahu kalau ternyata papa tidak jadi menyusul ke Surabaya karenan besok papa harus berangkat ke Malaysia. Mama pun memakluminya.
Kita beralih ke Sultan.
Sultan sedang sibuk menandatangani beberapa berkas di kantor. Sebelum menandatangani, ia harus benar-benar teliti dalam memeriksa isinya. Namun entah kenapa saat ini ia gagal fokus. Pikirannya terbagi ke rumah sakit.
"Astaghfirullah.. kenapa aku kepikiran dia? Tidak-tidak, mungkin karena aku empati kepadanya karena dia tidak ada keluarga di sini." Gumamnya.
Sultan mencoba fokus kembali, namun yang ada ia malah semakin resah. Sultan menyandarkan diri di kursinya seraya menghela nafas panjang.
Ia mengingat-ingat awal pertemuannya dengan Riri. Belum ada dua minggu mereka kenal, namun Sultan merasa sudah sangat dekat dengannya.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Permisi, bos. Gimana bos, apa sudah selesai?"
"Belum."
"Hah belum? Bukannya sudah dari dua jam yang lalu ya, bos?"
"Ck... kamu ini. Aku harus teliti. Nanti kalau salah, bisa fatal. Sebenarnya bonya kamu stau aku?"
"I-iya, bos. Ya sudah saya tunggu saja di sini."
"Nggak perlu. Keluar sana! Yang ada aku malah makin nggak fokus nanti."
"Iya, iya bos."
Leo pun keluar dari ruangan Sultan. Ia tidak ingin bosnya murka.
Sore harinya.
Mama dan adik Riri ingin memesan makanan secara online. Namun mereka bingung ingin pesan makanan yang cocok dengan lidah mereka. Riri pun memilihkannya untuk mereka. Ia juga memesan bubur ayamayam karena dari kemarin di matanya sudah nampak bubur ayam.
Sekitar 2 jam kemudian pesanan mereja datang. Memang agak lama karena makanannya bukan satu tempat. Mama menyiapkan bubur ayam untuk Riri.
"Mau disuapin atau makan sendiri, Ri?"
"Makan sendiri ma. Sejak kapan Riri manja? "
"Halah... ya kan kadang-kadang."
Riri hanya mengulum senyum.
Terkadang Riri sangat rindu dengan perhatian mama. Meski sedewasa itu dirinya, tidak dipungkiri ia masih membutuhkan perhatian seorang ibu. Apa lagi mamanya itu sebenarnya sangat menyayangi dirinya dan adiknya. Mama tidak pernah membedakan keduanya.
Keesokan harinya.
Sultan bangun kesiangan karena semalam ia tidak bisa tidur sampai waktu Shubuh. Untungnya hari ini hari libur. Jadi ia tidak perlu terburu-buru.
"Hafiza, panggil abangmu!"
"Paling juga masih tidur, ummi."
"Iya ummi, biarkan saja. Lagian ini hati libur. Biar nanti dia sarapan belakangan." Sahut abi.
Akhirnya mereka lanjut sarapan tanpa menunggu Sultan.
Sultan baru selesai mandi. Ia pun turun ke bawah. Sampai di bawah, ternyata sudah tidak ada orang di ruang makan.
"Hem.. benar-benar ditinggalin aku."
"Den, baru mau sarapan?"
"Iya bi'."
"Sini bibi' yang ambilin."
"Nggak usah deh, bi'. Biar aku ambil sendiri." Ujar Sultan dengan lembut.
Sultan pun makan dengan santai sambil memikirkan sebuah rencana. Dalam pikirannya saat ini ingin mengunjungi Riri namun ia tidak punya alasan. Akhirnya ia frustasi sendiri.
"Apa aku pura-pura saja ya. Pura-pura nganterin orang ke rumah sakit jadi sekalian jenguk dia. Tapi apa itu etis? Duh... mumet."
"Ehem ehem... kamu kenapa, bang?" Tegur ummi yang baru saja lewat mau ke dapur.
"Eh, ummi. Nggak pa-pa kok."
"Nggak pa-pa tapi kayak orang bingung."
Sultan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Beneran nggak pa-pa kok, ummiku sayang."
Sultan segera membawa piring kotornya ke dapur . Setelah itu, ia kembali ke kamarnya.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...