dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Yang Mati Rasa
Langkahku terasa berat saat melangkah melewati gerbang besi SMA [Nama Sekolah] untuk pertama kalinya. Matahari pagi bersinar terang, menyinari setiap sudut sekolah yang baru saja kumasuki. Namun, cahaya itu seolah tak mampu menembus dingin yang ada di dalam dadaku.
Yang pertama kali kulihat adalah bangunan sekolah yang megah dan indah, dengan arsitektur yang rapi dan cat yang masih terlihat segar. Halaman depannya sangat luas, dipenuhi rumput hijau yang terawat baik dan pohon-pohon besar yang memberikan keteduhan. Udara di sini terasa sejuk, berbau segar campuran aroma tanah basah dan bunga-bunga yang bermekaran di taman-taman kecil di sekeliling halaman. Bunga-bunga itu indah, dengan warna-warni yang cerah dan wangi yang semerbak, seolah menyambut setiap siswa yang datang dengan penuh semangat.
Tapi, aku hanya berdiri di sana, menatap semua keindahan itu dengan wajah yang datar. Tak ada senyuman yang terukir di bibirku, tak ada rasa antusias yang muncul di hatiku. Mataku mungkin melihat segala hal yang indah di sekitarku, tapi hatiku terasa mati rasa, hambar, dan kosong. Rasanya seolah aku hanyalah sebuah bayangan yang berjalan di antara orang-orang yang penuh harapan dan semangat.
Teman-teman baruku yang ada di sekitarku tampak begitu bersemangat. Mereka tertawa, berbicara satu sama lain, dan saling menyapa dengan antusias. Beberapa dari mereka bahkan sudah mulai berkenalan dan bertukar cerita, seolah mereka sudah berteman lama. Namun, aku hanya berdiri diam di sudut halaman, memeluk buku-bukuku erat-erat, dan membiarkan kesepian menyelimutiku.
Aku tidak tahu mengapa aku merasa begitu. Mungkin karena perubahan yang tiba-tiba, atau mungkin karena ada sesuatu yang hilang di dalam diriku. Yang pasti, saat itu, di tengah keindahan dan kesenangan yang ada di sekitarku, aku merasa terasing dan sendirian.
Langkahku kembali bergerak, menuju ruang pendaftaran yang sudah ditentukan. Setiap langkahku terasa seperti beban yang berat, seolah aku sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku melangkah melewati taman-taman yang indah, melewati teman-teman baruku yang bersemangat, dan melewati bangunan sekolah yang megah, namun hatiku tetap saja hambar dan mati rasa.
Saat aku akhirnya sampai di ruang pendaftaran, aku duduk di salah satu kursi yang tersedia, menunggu giliranku untuk dipanggil. Aku menatap lantai yang dingin, berpikir tentang apa yang akan terjadi di masa depanku di sekolah ini. Apakah aku akan selalu merasa begitu? Apakah aku akan pernah bisa merasakan kebahagiaan dan semangat seperti teman-temanku yang lain?
Aku tidak tahu jawabannya. Yang aku tahu hanyalah, saat ini, di hari pertamaku di SMA ini, hatiku masih mati rasa, dan keindahan di sekitarku seolah tak ada artinya bagiku.
Aku tidak tahu jawabannya. Yang aku tahu hanyalah, saat ini, di hari pertamaku di SMA ini, hatiku masih mati rasa, dan keindahan di sekitarku seolah tak ada artinya bagiku.
Namun, di tengah kekosongan yang menyelimuti seluruh jiwaku, di antara rasa hambar yang memenuhi setiap sudut pikiranku, ada satu hal yang tersisa. Sesuatu yang kecil tapi tajam, menancap kuat di dasar hatiku.
Yang ada hanyalah sebuah tekad keras dalam diriku untuk mengubah takdirku.
Ya, hanya itu. Tidak ada senyuman, tidak ada kegembiraan, tapi ada api kecil yang mulai menyala di dalam kegelapan. Api yang tidak terlihat oleh siapa pun, bahkan mungkin oleh diriku sendiri, tapi rasanya nyata. Itu adalah janji yang ku ucapkan dalam diam—janji bahwa keadaan ini tidak akan selamanya begini. Bahwa aku tidak akan terus menjadi bayangan yang tak berarti di tengah dunia yang berwarna.
Aku mengangkat kepalaku perlahan. Mataku masih datar, tapi ada sesuatu yang berubah di dalam tatapan itu. Sebuah keteguhan yang sebelumnya hilang. Aku menatap sekeliling sekali lagi—bangunan megah, halaman luas, bunga-bunga harum yang kini terlihat seperti saksi bisu dari awal yang baru ini.
Mungkin hari ini aku datang dengan hati yang beku. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri, suatu hari nanti, aku akan membuat hati ini kembali merasakan. Aku akan mengubah jalan yang terbentang di hadapanku ini menjadi sesuatu yang layak untuk dijalani, sesuatu yang ku banggakan. Takdirku bukanlah untuk terus hambar. Aku yang akan menentukannya.
Suara panggilan nama dari ruang pendaftaran memecah lamunanku. Aku berdiri tegak, membetulkan letak buku di pelukanku, dan melangkah maju. Langkahku masih terasa berat, tapi kali ini ada tujuan di setiap injakan kakiku. Aku masuk ke ruangan itu, siap untuk memulai perjalanan panjang mengukur takdirku sendiri.