NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan dari London dan Prahara di Meja Redaksi

​Setelah badai dengan Julian mereda, New York menyisakan keheningan yang canggung di antara Arkan dan Ziva.

Meskipun mereka telah berjanji untuk saling percaya di atas atap Brooklyn, sisa-sisa kecurigaan dan rasa bersalah masih mengendap seperti debu yang sulit dibersihkan. Arkan memutuskan untuk memperpanjang kunjungannya seminggu lagi, namun ketenangan itu hancur saat sebuah kiriman tiba di depan pintu apartemen Ziva.

​Bukan bunga, bukan cokelat. Melainkan sebuah amplop besar berlogo firma hukum ternama dari London.

​Serangan Balik Elena

​Ziva membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat salinan gugatan pencemaran nama baik yang diajukan oleh Julian terhadap Arkan, serta beberapa foto lampiran yang membuat napas Ziva tertahan.

​Foto-foto itu menampilkan Arkan dan Elena di London.

Mereka tampak sangat dekat—di balkon The Shard, di perpustakaan kampus saat malam hari, hingga foto Arkan yang sedang masuk ke mobil mewah Elena. Di bagian bawah terdapat catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi:

​"Keadilan punya banyak wajah, Ziva. Arkan menghancurkan karier Julian dengan koneksi ayahnya, tapi dia lupa kalau dia sendiri punya rahasia di London. Jangan terlalu percaya pada 'si sempurna' ini." — E.

​"Arkan... apa ini?" suara Ziva pecah. Ia melempar foto-foto itu ke atas meja makan.

​Arkan, yang baru saja selesai mandi, mendekat dengan handuk di bahunya. Begitu melihat foto-foto itu, rahangnya mengeras. "Ziv, itu semua di luar konteks. Elena sengaja menjebakku. Foto di perpustakaan itu saat kita belajar kelompok untuk kompetisi saham—"

​"Belajar kelompok sampai jam tiga pagi? Masuk ke mobil dia?" potong Ziva, air mata mulai menggenang. "Lo marah besar ke gue soal Julian, lo selidikin dia pake intelijen bokap lo, tapi lo sendiri main aman sama cewek yang jelas-jelas punya kepentingan bisnis sama keluarga lo?"

​Ego yang Berbenturan

​"Aku nggak pernah menyentuh dia, Ziva! Aku cuma butuh data dari ayahnya buat bantuin investigasiku soal Julian!" Arkan mencoba meraih tangan Ziva, namun Ziva menepisnya.

​"Jadi lo manfaatin perasaan Elena buat jatuhin Julian? Lo sama jahatnya kalau gitu, Ar!" seru Ziva frustrasi. "Lo pake taktik manipulasi yang sama kayak Papa lo. Gue ngerasa nggak kenal lagi sama Arkan yang dulu gue temuin di ruang OSIS."

​Pertengkaran hebat meledak di ruangan sempit itu. New York yang panas seolah menambah bara pada ego mereka masing-masing. Arkan merasa usahanya melindungi Ziva tidak dihargai, sementara Ziva merasa Arkan telah kehilangan integritasnya demi ambisi dan rasa cemburu.

​"Kalau lo nggak percaya sama gue, kenapa kita masih bertahan di sini, Ziv?" tanya Arkan, suaranya mendadak dingin dan datar—mode 'robot' yang paling Ziva takuti.

​"Mungkin karena kita emang terlalu muda buat janji sehidup semati," jawab Ziva lirih, sebuah kalimat yang menusuk jantung Arkan lebih dalam daripada gugatan hukum mana pun.

Sinyal Bahaya dari Australia

​Di Sydney, Revan sedang melakukan sesi pemulihan otot setelah pertandingan besar. Ia melihat notifikasi dari grup alumni SMA Garuda yang mulai ramai. Rupanya, foto-foto Arkan dan Elena sudah mulai bocor ke akun gosip sekolah yang dulu pernah menghancurkan mereka.

​Revan segera menelepon Gibran di Jakarta.

​"Gib, lo liat akun @GarudaSpill? Siapa yang sebar foto Arkan sama cewek Rusia itu?" tanya Revan tanpa basa-basi.

​"Gue baru mau cari tahu, Van. Tapi kelihatannya ini serangan terencana. Bukan cuma buat hancurin Arkan, tapi buat bikin Ziva hancur secara mental di New York," jawab Gibran dengan nada cemas. "Bokap Arkan juga lagi kalang kabut karena saham perusahaannya ikut goyang gara-gara rumor ini."

​Revan mengepalkan tangannya. "Gue nggak bisa diem aja. Arkan mungkin brengsek kalau dia beneran selingkuh, tapi gue tahu dia nggak sebodoh itu. Ini pasti kerjaan Elena sama Julian yang kerja sama."

​Penentuan di Meja Redaksi

​Ziva mencoba melarikan diri dari rasa sakitnya dengan bekerja. Ia pergi ke kantor redaksi kampus untuk menyerahkan liputan terakhirnya. Namun, di sana ia justru bertemu dengan dewan etik universitas.

​"Ziva, kami menerima laporan bahwa investigasi Anda terhadap Julian adalah hasil dari tekanan pihak eksternal, yaitu suami Anda dan koneksi bisnis keluarganya," ucap salah satu profesor. "Kami harus membekukan status beasiswa Anda sementara sampai penyelidikan ini selesai."

​Dunia Ziva runtuh. Karier yang ia bangun, beasiswa yang ia banggakan, dan suami yang ia cintai—semuanya tampak hancur dalam satu hari.

​Ia keluar dari gedung kampus dengan langkah gontai. Di trotoar yang ramai, ia melihat Arkan berdiri bersandar di tiang lampu, menunggunya dengan wajah yang sangat kuyu.

​"Aku udah telepon pengacara Papa," ucap Arkan pelan. "Julian dan Elena bekerja sama. Foto itu diedit, Ziv. Aku punya rekaman aslinya dari CCTV kampus. Aku bakal bersihin nama kamu, meski itu artinya aku harus bener-bener tunduk sama Papa kali ini."

​Ziva menatap Arkan lama. Ada rasa benci, tapi ada cinta yang jauh lebih besar di matanya. "Lo mau lakuin itu? Lo mau jadi 'pion' Papa lo lagi demi gue?"

​Arkan mendekat, kali ini ia tidak ragu memeluk Ziva di tengah keramaian Manhattan. "Aku bakal jadi apa pun, Ziva. Asal kamu nggak kehilangan mimpi kamu. Biar aku yang kotor, asal jalan kamu tetep terang."

​Di kejauhan, Julian memantau mereka dari dalam mobil, tersenyum miring. Ia tahu, meskipun ia kalah secara hukum nanti, ia telah berhasil menanamkan benih keraguan yang permanen di antara pasangan "sempurna" itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!