Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PERANG TERBUKA DI LANTAI BURSA
Pagi itu, sinar matahari Jakarta yang biasanya terasa menyengat justru tampak dingin di mata Arlan Arkananta. Ia berdiri di depan jendela kaca raksasa kantor barunya, A&A Venture, yang terletak di lantai teratas sebuah gedung butik di kawasan SCBD. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan pergerakan saham Arkananta Group (ARKN) yang mulai memerah.
"Tuan, serangan pembukaan sudah kita luncurkan," lapor Raka, asisten setianya yang kini menjabat sebagai Kepala Keamanan dan Operasional Strategis. "Kita baru saja melepas lima persen saham simpanan Anda ke pasar secara serentak. Sentimen investor mulai goyah.
Rumor tentang malpraktik di sayap Barat rumah sakit Medika Utama mulai bocor ke media ekonomi."
Arlan tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada grafik yang terjun bebas. "Ini baru permulaan, Raka. Ibu pikir dia bisa menyentuh keluarga Arumi tanpa konsekuensi. Dia lupa bahwa akulah yang membangun sistem pertahanan finansial Arkananta. Aku tahu di mana setiap baut yang longgar berada."
"Tapi Tuan, Nyonya Victoria telah menghubungi konsorsium perbankan Singapura untuk menyuntikkan dana darurat," tambah Raka.
Arlan tersenyum dingin. "Biarkan dia meminjam. Semakin besar utangnya, semakin mudah bagiku untuk menjerat leher perusahaan itu saat jatuh nanti. Bagaimana dengan Arumi?"
"Nyonya Arumi sedang berada di klinik pribadi lantai bawah, menjaga Nyonya Salsabila. Tim medis kita telah melakukan pembersihan total pada sistem oksigen dan obat-obatan. Semuanya aman."
Di lantai bawah, suasana jauh lebih tenang namun tetap tegang. Arumi duduk di samping tempat tidur ibunya, memperhatikan detak jantung yang kini stabil di monitor. Aroma antiseptik yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan bagi Arumi. Kejadian semalam di ICU telah mengubah cara pandangnya terhadap profesi medis yang ia cintai.
"Ibu... maafkan Arumi," bisik Arumi sambil menggenggam tangan ibunya yang kurus.
"Karena Arumi masuk ke dunia Arlan, Ibu jadi sasaran mereka. Jika saja aku tetap menjadi gadis miskin di desa, mungkin Ibu tidak akan sedekat ini dengan maut."
Pintu kamar terbuka pelan. Arlan melangkah masuk, melepaskan dasinya dan menggulung lengan kemejanya. Aura predator yang ia tunjukkan di ruang kerja tadi seketika melunak saat menatap istrinya.
"Dia akan baik-baik saja, Arumi," ucap Arlan lembut, meletakkan tangannya di bahu Arumi.
Arumi mendongak, matanya merah karena kurang tidur. "Arlan, aku mendengar kabar dari suster. Kau sedang mencoba menghancurkan Arkananta Group? Kau benar-benar ingin mematikan perusahaan keluargamu sendiri?"
Arlan menarik kursi dan duduk di hadapan Arumi. "Perusahaan itu sudah menjadi monster di bawah tangan Ibuku. Mereka tidak lagi menyembuhkan orang; mereka hanya menghitung laba di atas nyawa manusia. Aku tidak menghancurkannya, Arumi. Aku sedang melakukan 'amputasi'. Bagian yang busuk harus dibuang agar sisanya bisa selamat."
"Tapi ribuan karyawan akan kehilangan pekerjaan jika sahamnya anjlok," sanggah Arumi, naluri kemanusiaannya tetap terjaga.
"Itulah sebabnya aku mendirikan A&A Venture. Aku akan menyerap setiap divisi yang sehat, setiap karyawan yang jujur, dan membangunnya kembali dengan namamu sebagai dasar yayasannya. Aku ingin kau yang memimpin departemen filantropi medisnya nanti."
Arumi tertegun. Di balik kemarahan Arlan yang meledak-ledak, pria ini selalu menyisipkan rencana untuk masa depan mereka. "Kau terlalu ambisius, Arlan. Bagaimana jika Ibumu melawan balik dengan cara yang lebih keji?"
"Dia sudah melakukannya semalam, dan dia gagal," desis Arlan. "Sekarang giliranku."
Tepat saat itu, ponsel Arlan bergetar. Sebuah email masuk dengan subjek: "Saudara yang Terlupakan."
Arlan membuka pesan itu. Isinya hanya sebuah koordinat GPS dan sebuah foto hitam putih seorang pria yang sangat mirip dengan ayahnya, namun dengan tatapan yang jauh lebih kelam. Di bawahnya tertulis: “Victoria bukan satu-satunya yang ingin melihatmu jatuh, Arlan. Ada hutang darah yang belum kau bayar atas nama ayahmu.”
Arlan mengerutkan kening. Ia segera memberi isyarat pada Raka untuk mendekat. "Lacak pengirim email ini. Gunakan jalur satelit terenkripsi."
"Ada apa, Tuan?" tanya Arumi cemas.
"Hanya masalah bisnis kecil," bohong Arlan. Ia tidak ingin Arumi semakin terbebani. Namun, di dalam hatinya, Arlan tahu bahwa perang ini baru saja meluas. Bukan lagi sekadar konflik ibu dan anak, tapi sesuatu yang terkubur dalam sejarah gelap ayahnya mulai bangkit kembali.
Malam harinya, tanpa memberitahu Arumi, Arlan pergi menuju koordinat yang dikirimkan. Lokasinya berada di sebuah gudang kontainer tua di pelabuhan Tanjung Priok. Udara di sana lembap dan berbau karat.
Raka dan tim keamanan sudah mengepung area tersebut dari jarak jauh. Arlan berjalan sendirian menuju sebuah lampu temaram di tengah gudang. Di sana, seorang pria duduk di atas tumpukan palet kayu, memutar-mutar sebuah koin perak di jemarinya.
Pria itu berdiri. Tingginya hampir sama dengan Arlan. Wajahnya keras, dengan bekas luka melintang di dagunya.
"Arlan Arkananta," suara pria itu berat dan serak. "CEO yang rela jadi martir demi seorang perawat. Sangat puitis."
"Siapa kau?" tanya Arlan dingin.
"Namaku Dante," jawab pria itu. "Atau setidaknya itulah nama yang diberikan ibuku sebelum dia bunuh diri karena diusir oleh ayahmu saat dia sedang mengandungku. Aku adalah kesalahan yang coba dihapus oleh ayahmu, dan aib yang ingin dilenyapkan oleh Victoria."
Arlan terdiam. Ia pernah mendengar selentingan tentang perselingkuhan ayahnya dulu, tapi ia selalu menganggap itu hanya fitnah pesaing bisnis. "Jika kau ingin uang warisan, kau terlambat. Aku baru saja melepaskan hak waris klan Arkananta."
Dante tertawa, suara tawanya terdengar hampa. "Uang? Aku tidak butuh uangmu. Aku memiliki jaringan di bawah tanah yang jauh lebih besar dari apa yang bisa kau bayangkan. Aku di sini untuk memberitahumu satu hal: Victoria tidak bergerak sendirian semalam. Dia bekerja sama dengan sindikat farmasi internasional yang ingin menguasai data riset yang ada di tangan ibumu—Nyonya Salsabila."
Arlan menyipitkan mata. "Apa hubungannya ibu Arumi dengan mereka?"
"Ibu Arumi bukan sekadar perawat biasa sepuluh tahun lalu. Dia adalah peneliti utama yang menemukan cacat pada obat jantung 'Arkananta-Plus' yang menyebabkan ribuan orang meninggal secara diam-diam. Dia memegang kode enkripsi data korbannya. Itu sebabnya ayahmu ingin dia mati, dan itu sebabnya Victoria ingin dia mati sekarang sebelum data itu bocor."
Informasi itu menghantam Arlan seperti godam. Jadi, kecelakaan ibu Arumi bukan sekadar malapraktik biasa, tapi konspirasi tingkat tinggi untuk menutupi pembunuhan massal lewat obat-obatan.
"Kenapa kau memberitahuku ini, Dante? Apa maumu?"
Dante melangkah mendekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Karena aku ingin melihat Victoria hancur berkeping-keping. Tapi aku tidak ingin dia jatuh ke tangan polisi. Aku ingin dia merangkak di kakiku. Bantu aku menghancurkan sistem keuangannya, dan aku akan memberimu bukti yang bisa membebaskan Arumi dan ibunya dari kejaran sindikat itu."
Arlan menatap mata saudaranya—saudara yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Ada kebencian yang sama di sana, namun juga ada kegelapan yang berbahaya.
"Aku akan memikirkannya," ucap Arlan.
"Jangan terlalu lama berpikir," Dante berbalik masuk ke kegelapan. "Sindikat itu sudah mengirimkan orang baru ke rumah sakitmu. Dan kali ini, mereka tidak akan menyabotase listrik. Mereka akan membawa senjata."
Arlan segera berlari menuju mobilnya. "Raka! Perketat keamanan lantai bawah! Sekarang! Jangan biarkan siapapun masuk tanpa verifikasi retina!"
Sepanjang perjalanan pulang, Arlan menggenggam kemudi dengan sangat kencang hingga tangannya gemetar. Ia menyadari bahwa ia baru saja membuka kotak Pandora. Arumi, wanita yang ia cintai, ternyata memegang kunci dari skandal terbesar yang pernah ada di negeri ini.
Saat sampai di kantor yang juga menjadi tempat persembunyian mereka, Arlan melihat Arumi sedang tertidur di sofa samping boks Leon. Wajahnya tampak begitu damai, tidak tahu bahwa di luar sana, para hiu lapar sedang mengepung mereka.
Arlan berlutut di depan Arumi, membelai rambutnya dengan lembut. "Aku akan melindungimu, Arumi. Meski aku harus membakar seluruh dunia ini, takkan kubiarkan mereka menyentuhmu lagi," bisiknya dalam hati.
Namun, di saku jas Arumi yang tergantung di kursi, sebuah alat pelacak kecil yang ditempelkan oleh seseorang di rumah sakit tadi siang terus berkedip merah, mengirimkan sinyal posisi mereka kepada sang pemburu yang sedang mendekat.