“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekutu dalam bayangan
Sekar menatap foto di tangannya lebih lama. Alisnya mengerut, berusaha meraih ingatan yang terasa begitu dekat.
“Namanya Anita Wibisono,” suara Langit memecah keheningan, tetap datar. “Gundik suami kamu. Anak pemilik PT Mega Karsa Mandiri. Salah satu rekanan perusahaan almarhum Papa.”
Sekar tidak langsung merespons. Ia masih diam. Tatapannya tak lepas dari foto itu, hingga perlahan napasnya tercekat. Ia meletakkan foto tersebut di atas meja dengan sedikit keras.
“Aku pernah lihat dia …,” gumamnya lirih. “Dia—”
Kalimatnya terputus. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras.
“Ya Tuhan ….”
Ingatan itu datang begitu saja.
“Jadi selama ini …” Ia tertawa kecil, getir dan pahit. “Bahkan saat bulan madu pun Mas Raka sudah membawa dia?”
Langit menoleh cepat. “Maksud kamu?”
Sekar tidak langsung menjawab. Matanya terpejam, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
“Dia rekan kerja, Mas. Kebetulan banget lagi liburan juga.” Suara Raka di ingatannya terdengar begitu jelas.
Seorang perempuan berdiri di sampingnya, tersenyum tipis.
“Hai, saya Nita. Kamu pasti Sekar, kan?” katanya ramah. “Mas Raka sering cerita tentang kamu.”
“Mas Raka?” Sekar sempat heran.
“Oh … maaf.” Perempuan itu tersenyum lagi. “Kami memang sudah lama kenal. Kami—”
“Nita ini anak teman Papa,” potong Raka cepat. “Perusahaannya juga kerja sama sama kita.”
Ia meraih tangan Sekar.
“Kalau begitu kami duluan, ya. Selamat berlibur, Nit.”
Sekar menutup matanya sejenak. Lalu tertawa getir.
“Jadi bukan kebetulan, ya …,” bisiknya. “Dia memang ikut ke Hawai. Sama Mas Raka. Di saat aku pikir itu momen paling sakral dalam hidupku, ternyata saat itu juga Mas Raka sudah membagi cintanya dengan perempuan lain.”
Matanya kembali terbuka. Kali ini menatap Langit dengan luka yang tidak lagi disembunyikan.
“Kamu tahu semua ini dari awal, kan?” suaranya mulai meninggi. “Kenapa kamu diam, Mas? Sebenarnya kalian ini manusia macam apa? Kalian anggap aku apa?”
Ia tertawa sinis. “Boneka? Badut? Atau cuma istri yang cukup dibohongi selama kelihatan bahagia?”
Langit tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya.
“Raka itu manipulatif, Sekar,” ucapnya tenang. “Seandainya aku bicara dari awal, dia akan punya seribu cara untuk membalikkan keadaan. Termasuk membuat kamu membenciku. Pada akhirnya … aku yang akan terlihat sebagai orang jahat di mata kamu.”
Sekar terdiam, tapi tatapannya masih tajam.
“Dan ada satu hal lagi yang menahanku,” lanjut Langit pelan. “Mama.”
Sekar langsung menegang.
“Kamu tahu kondisi Mama. Kamu tahu bagaimana beliau menyayangi kamu. Raka memanfaatkan itu.” Langit menatap Sekar lurus. “Dia tahu, satu kesalahan kecil saja … bisa berdampak besar pada kesehatan Mama.”
Sekar menelan ludah. Ada sesuatu yang terasa makin berat.
“Ini bukan cuma soal perselingkuhan, Sekar.” Langit melanjutkan. “Masalahnya jauh lebih dalam.”
“Jangan muter-muter, Mas,” potong Sekar. “Aku butuh jawaban, bukan teka-teki.”
Langit menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia mengambil satu amplop lagi dan menggesernya ke arah Sekar.
“Bukalah.”
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sekar membuka amplop itu. Beberapa lembar dokumen dan foto jatuh ke meja.
Seorang pria bersama Anita.
“Namanya Sandy Sanjaya,” ucap Langit. “Pemilik PT Gema Cipta Prima. Pemabuk, tukang judi. Ia bahkan mempertaruhkan semua hartanya di meja judi hingga semuanya habis tak bersisa."
Sekar mengerutkan kening. “Terus?”
“Perusahaannya hampir bangkrut karena itu. Lalu Raka masuk dan mengakuisisinya tanpa banyak pertimbangan.”
Sekar menatap dokumen itu, mencoba memahami.
“Apa hubungannya sama Anita?”
Langit tersenyum tipis seakan menikmati raut wajah sekar yang mulai penasaran.
“Sandy adalah kekasih gelap Anita. Dan pria itu memanfaatkan semuanya. Semua yang Raka lakukan … selalu ada hubungannya dengan perempuan itu. Anita bukan tanpa alasan mendekati Raka, Sekar. Dia butuh uang untuk menyelamatkan perusahaan kekasihnya. Tapi suami kamu terlalu buta.”
Sekar kembali tertegun. Ia terdiam, berusaha mencerna semua informasi yang baru saja ia terima. Terlalu banyak informasi yang datang sekaligus hingga untuk sesaat ia seperti kehilangan pijakan.
“Aku sudah pernah bilang sama kamu, Sekar,” ucap Langit tenang. “Suami kamu nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuka semuanya.”
Sekar menoleh perlahan. Tatapannya tajam, penuh tekanan.
“Kamu tahu semuanya, Mas,” ucapnya pelan, tapi menekan. “Kamu punya semua bukti itu. Kenapa kamu nggak pernah bilang ke Mas Raka? Kenapa kamu nggak bongkar semuanya sendiri?”
Ia berdiri, menatap Langit tanpa berkedip.
“Kenapa justru aku yang kamu tarik masuk ke permainan ini?” lanjutnya. “Kenapa harus mengajakku menikah? Kamu pikir itu akan menyelesaikan semuanya?”
Langit tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Sekar, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Tidak.”
Jawaban itu sederhana. Datar. Tapi terasa dingin.
Sekar mengernyit.
“Lalu untuk apa?”
Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, seolah semua ini bukan hal besar. Jemarinya saling bertaut santai di atas meja.
“Untuk menyakitinya.”
Sekar kembali tertegun.
“Ego Raka akan terluka kalau aku menikah denganmu,” lanjut Langit pelan. “Aku sangat paham bagaimana dia berpikir. Bagi dia, harga diri dan citra adalah segalanya.”
Tatapannya berubah lebih dingin. “Kalau aku bongkar semuanya sekarang, semuanya memang selesai, tapi terlalu cepat. Terlalu mudah untuk manusia seperti Raja.”
Ia menatap Sekar lurus. “Aku sudah menunggu lama untuk ini,” sambung Langit. “Dan aku ingin balasan yang setara.”
Ia menatap Sekar lurus. “Aku ingin sesuatu yang lebih menyakitkan dari apa yang telah dia lakukan.”
Untuk pertama kalinya, Sekar merasa sedikit merinding. Nada suara Langit tetap tenang, tapi justru di situlah letak bahayanya.
“Kamu … adalah bagian penting dari itu, Sekar.” Langit menatapnya penuh perhitungan. “Karena di mata Raka, kamu itu sempurna. Istri yang dia banggakan ke semua orang. Ke kolega, klien, bahkan karyawan.”
Sudut bibirnya terangkat tipis. "Sayangnya, semua itu cuma topeng. Dia membangun citra itu dengan rapi … tanpa pernah membiarkan siapa pun tahu apa yang dia lakukan di belakang.”
Langit terkekeh pelan, hambar membuat Sekar mengepalkan tangannya.
“Dan untuk menjatuhkan pria seperti dia …” Langit sedikit mencondongkan tubuhnya, “kamu nggak bisa menyerang sembarangan.”
Tatapannya menekan.
“Sedikit saja kamu salah langkah, dia akan berbalik. Dan saat itu terjadi, kamu yang akan terlihat sebagai pihak yang bersalah.”
Sekar terdiam. Dadanya naik turun, mencoba mengendalikan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
“Karena itu … kita butuh strategi. Pelan. Rapi. Dan tepat sasaran.”
Senyum tipis kembali terukir di bibirnya. “Kita serang egonya dulu. Buat dia merasa aman… lalu hancurkan dari dalam.”
Sekar menelan ludah. Ia merasa ada kebencian yang terdengar dari suara Langit. Entah apa yang membuat Langit begitu membenci Raka, tapi satu hal yang Sekar mulai pahami. Langit menyimpan luka yang mendalam.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Sekar pada akhirnya. “Kenapa Mas sangat ingin Mas Raka hancur? Apa motif Mas Langit melakukan semua ini?”
Langit tak langsung menjawab. Ia hanya menghembuskan napas panjang. “Terkadang ada hal yang lebih baik kamu nggak tahu Sekar."
Perkataan Langit membuatnya mendengus kesal. Langit tetaplah Langit. Pria yang susah ditebak dengan segala yang melekat padanya.
"Atau … Mas memang nggak mau aku tahu?” Sekar masih berusaha mendebat.
"Yang jelas, kita berada di kubu yang sama. Itu sudah cukup untuk saat ini. Besok, datanglah ke kampus untuk mengurus berkas-berkas kuliah kamu dan juga bertemu dengan pihak kampus."
Sekar mengangguk meskipun masih terlihat penasaran.
***
Sementara di tempat lain, Sandy menatap Anita dengan sorot tak percaya.
“Kamu gila, ya?” suaranya meninggi. “Kamu mau hamil anaknya Raka?”
Anita menghela napas, mencoba tetap tenang. “Sayang, ini—”
“Aku nggak setuju!” potong Sandy cepat. Rahangnya mengeras. Ia berjalan mondar-mandir, berusaha menahan emosi yang mulai meledak.
“Kamu pikir ini cuma permainan, Nita?” lanjutnya tajam. “Kalau kamu hamil anak dia, semuanya akan berubah. Kamu akan terikat sama dia. Selamanya.”
Anita menatapnya lekat. “Memang itu tujuannya.”
Sandy berhenti. Ia menoleh perlahan.
“Apa?!"
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂