Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Maya Bukan Maya Biasanya
Ruang pemeriksaan rumah sakit terasa dingin dan sunyi. Maya duduk di tepi ranjang kecil dengan ekspresi datar. Salah satu perawat baru saja selesai mencatat keterangannya. Sementara dokter wanita yang melakukan visum menatap Maya dengan penuh simpati.
“Kalau ada yang membuat kamu nggak nyaman, kamu boleh bilang,” ujar dokter itu lembut.
Maya mengangguk pelan. Selama bertahun-tahun dia hidup seperti bayangan di rumahnya sendiri. Diperlakukan lebih rendah dari pembantu. Disuruh diam setiap kali Jamie mulai menyentuhnya diam-diam. Dipaksa percaya kalau semua itu salahnya sendiri.
Namun sekarang berbeda. Maya sudah bukan lagi Maya. Jiwa yang menempati tubuhnya kini adalah seorang wanita tangguh yang mahir memegang pisau dan pistol.
Proses visum berlangsung cukup lama. Maya menjalani semuanya dengan santai. Bahkan tak merasa kesakitan.
“Kamu hebat karena berani bicara,” bisik salah satu perawat.
Kalimat sederhana itu justru membuat Maya tersenyum. "Kita perempuan, perempuan juga manusia, jadi punya hak untuk hidup bebas!" ungkapnya.
"Kau benar..." sahut si perawat.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter melepas sarung tangan medisnya lalu menatap Maya serius.
“Hasil resminya akan keluar secepatnya,” katanya. “Kalau kamu memang ingin melapor, hasil visum ini bisa jadi bukti penting.”
Maya mengangguk perlahan. “Terima kasih, Dok.”
Maya turun dari ranjang. Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, dia duduk di kursi lorong rumah sakit sambil memandangi lantai putih di depannya.
Brzzttt.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama “Norma” muncul di layar. Maya menatap nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
Suara Norma langsung terdengar tajam penuh amarah.
“Kamu benar-benar cari mati ya, Maya?!”
Maya diam.
Norma kembali membentak, “Berani sekali kamu mau laporin Jamie ke polisi!”
Maya memutar bola mata jengah. “Memangnya kenapa? Takut?”
Jawaban itu membuat Norma terdiam sesaat. Biasanya Maya akan langsung menangis atau meminta maaf. Tapi suara Maya sekarang terdengar dingin.
“Kamu jangan kurang ajar sama Mama!” hardik Norma. “Kalau kamu berani lapor polisi, jangan harap bisa tinggal di rumah ini lagi!”
Maya tersenyum tipis. Rumah? Tempat itu bahkan tak pernah terasa seperti rumah baginya.
Norma melanjutkan ancamannya dengan penuh racun.
“Mama juga sudah bakar barang-barang kesayangan kamu! Semua peninggalan ayah kamu habis!”
Beberapa detik hening. Lalu Maya tertawa. Suara tawanya kecil pada awalnya. Namun perlahan berubah semakin jelas. Terdengar seperti psikopat yang memenangkan sesuatu.
Norma sampai membeku mendengarnya. “K-kamu ketawa?” tanyanya bingung.
Maya terus tertawa pelan sambil menunduk. Dia bisa merasakan ketakutan Norma dari seberang sana. Lucu sekali. Setelah semua penderitaan yang dia alami, Norma masih berpikir dia akan takut kehilangan rumah itu? Rumah neraka itu?
“Baguslah kalau dibakar,” ujar Maya akhirnya.
Norma langsung terdiam. “Apa?”
“Gue nggak peduli lagi!" balas Maya. Sengaja bicara tak sopan pada Norma.
Nada suara Maya begitu tenang sampai membuat bulu kuduk Norma meremang.
“Maya—”
“Gue bahkan nggak sudi kembali ke rumah itu.”
Deg.
Untuk pertama kalinya, Norma benar-benar merasa asing dengan gadis yang selama ini selalu tunduk padanya.
Maya melanjutkan dengan suara dingin penuh kebencian yang selama ini dipendamnya. “Sekarang giliran kalian yang harus takut!"
Norma mengepalkan tangan.
“Kau pikir polisi bakal percaya sama perempuan kayak kamu?!”
Maya terkekeh kecil. “Kita lihat saja nanti.”
“Maya!”
“Suruh Jamie dan Ziva siap-siap juga.”
Norma mengernyit bingung. “Siap-siap untuk apa?”
Mata Maya berubah tajam. “Untuk masuk penjara.”
Tut.
Telepon langsung dimatikan. Norma mematung beberapa detik sambil menatap layar ponselnya tak percaya. Tangannya perlahan gemetar.
Perasaan tidak enak mulai merayapi dadanya. Maya tadi bukan Maya yang biasanya. Tak lama kemudian, suara pintu depan rumah terbuka keras. Jamie masuk dengan wajah pucat penuh ketakutan.
“Ma!” panggilnya panik.
Norma langsung menoleh cepat. “Gimana? Dia jadi lapor?”
Jamie mengangguk gelisah sambil mengusap wajahnya kasar.
“Kayaknya iya... Dia serius banget tadi.”
Wajah Norma makin tegang. Sementara Ziva yang duduk di sofa langsung berdiri dengan kesal.
“Dasar bodoh!” bentaknya pada Jamie.
Jamie langsung melotot. “Apa?!”
Ziva menunjuk wajah kakaknya dengan marah. “Semua ini gara-gara kamu nggak pernah bisa nahan nafsu!”
Jamie tersinggung. “Mulut kamu dijaga ya!”
“Memang salah siapa?!” bentak Ziva lagi. “Aku heran deh, kenapa sih kamu obsesi banget sama Maya?! Padahal pacar kamu cantik!”
Jamie mendecakkan lidah kesal. “Kamu nggak ngerti apa-apa.”
“Oh jijik banget!” Ziva memutar mata penuh muak. “Dari dulu aku udah bilang jangan macam-macam sama dia.”
Jamie tertawa sinis. “Dan kamu ngomong begitu seolah-olah kamu lebih baik?”
Ziva langsung terdiam.
Jamie melangkah mendekat sambil menatap adiknya tajam. “Kamu juga sama sadisnya.”
“Apa maksud kamu?”
“Kamu lupa selama ini siapa yang paling sering ngebully Maya di rumah? Di sekolah?” sindir Jamie. “Kamu pikir aku nggak tahu?”
Wajah Ziva memerah marah. “Itu beda!”
“Beda apanya?” Jamie tertawa mengejek. “Kamu senang bikin hidup Maya sengsara. Jadi jangan sok suci sekarang.”
“Diam kamu!” bentak Ziva.
“Kamu aja yang munafik!”
“Kamu tuh emang mesum dari lahir!”
“Dan kamu ular paling bermuka dua yang pernah aku kenal!”
Mereka mulai saling berteriak. Ziva mendorong bahu Jamie kasar. Jamie membalas dengan tatapan penuh emosi. Rumah itu kembali dipenuhi keributan.
BRAK!
Norma menghantam meja kaca di dekatnya sampai keduanya terdiam.
“DIAM KALIAN!”
Jamie dan Ziva langsung membisu. Napas Norma memburu karena emosi.
“Bukannya cari solusi, kalian malah ribut kayak orang gila!”
Jamie menelan ludah. “Ma... sekarang gimana?”
Norma mulai mondar-mandir gelisah. Otaknya bekerja cepat memikirkan berbagai kemungkinan. Kalau Maya benar-benar melapor, kalau hasil visumnya keluar, kalau polisi mulai menyelidiki, mereka bisa hancur. Nama baik keluarga mereka tamat.
Jamie mulai panik lagi. “Ma, kita harus gimana? Polisi pasti percaya sama hasil visum.”
Ziva ikut pucat sekarang. “Kalau sampai viral gimana?”
Norma memejamkan mata kuat-kuat. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, situasi mulai keluar dari kendalinya. Itu membuatnya takut.
Tiba-tiba Jamie bersuara pelan. “Apa... apa kita habisi saja Maya?”
Ziva langsung menatap kakaknya tak percaya. “Kamu gila?”
Jamie frustrasi. “Ya terus gimana?!”
Norma perlahan membuka mata. Tatapannya berubah dingin. “Tidak,” katanya pelan.
Jamie dan Ziva menoleh bersamaan.
Norma menyeringai tipis. “Kita cari cara supaya Maya yang terlihat salah.”
Mereka langsung terdiam mendengarnya.
“Ma... maksud Mama?” tanya Ziva hati-hati.
Norma duduk perlahan di sofa sambil berpikir. “Selama ini Maya selalu dianggap gadis lemah dan emosional,” ujarnya tenang. “Kalau kita pintar memainkan cerita... orang-orang bisa percaya kalau dia cuma cari perhatian.”
Jamie mulai memahami arah pikiran ibunya. “Mama mau bikin dia terlihat gila?”
Norma tersenyum tipis. “Atau setidaknya... terlihat tidak stabil.”
Ziva perlahan ikut tersenyum lega. Namun jauh di dalam hati mereka, ketiganya sebenarnya sama-sama sadar. Kali ini Maya tidak lagi mudah dikendalikan.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔