NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14. Tentang troli, pembalut, dan perasaan yang pelan-pelan hidup (2)

"A Galang suka rasa strawberry atau blueberry?"

Galang menatap Sekar beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.

"Sekar."

"Iya?" jawab gadis itu seraya mengalihkan pandangannya dari yogurt ke arah Galang.

"Kamu hafalin semua kesukaan aku?"

Sekar tampak bingung mendengar pertanyaan itu.

"Aku tanya-tanya dulu sama teh Mila....kan memang harus tahu."

Harus tahu.

Dua kata sederhana itu membuat Galang kembali terdiam. Sedangkan Sekar sudah sibuk memilih yogurt terbaik sambil mencocokkan harga promo.

Galang memandang gadis itu lama.

Lalu untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, pria itu merasa rumahnya mungkin benar-benar mulai terisi seseorang.

"Yang rasa blueberry aja," jawab Galang pada akhirnya.

🍁🍁🍁

Roda troli kembali bergerak pelan menyusuri lorong supermarket yang mulai ramai menjelang siang. Sekar berjalan di samping Galang sambil sesekali menunduk melihat daftar belanja kecil di tangannya. Beberapa kebutuhan dapur sudah memenuhi troli--- beras, telur, susu, buah, sampai kopi favorit Galang yang tadi diam-diam ia ambil tanpa diminta.

Suasana di dalam supermarket terasa nyaman. Pendingin ruangan membuat udara sejuk, sementara lagu instrumental lembut mengalun samar dari speaker atas. Sesekali terdengar suara kasir yang memanggil nomor antrean atau anak kecil merengek meminta jajanan.

Sekar berhenti di sebuah lorong.

Rak panjang berisi berbagai merek pembalut dan kapas berjajar penuh warna di depan mereka.

Langkahnya mendadak tertahan.

Oh.

Sekar baru ingat.

Ia sedang tidak belanja sendirian.

Biasanya ia akan mengambil kebutuhan itu dengan santai kalau pergi sendiri. tapi sekarang ada Galang di sampingnya, pria yang berstatus sebagai suami. Lelaki yang bahkan masih membuatnya gugup hanya karena berdiri terlalu dekat.

Sekar lalu pura-pura membaca daftar belanja lagi, jemarinya menggenggam kertas kecil itu sedikit lebih erat.

Galang yang mendorong troli pun ikut berhenti tepat di sampingnya. "Kenapa?"

"Nggak..." jawab Sekar cepat. "Cuma lihat-lihat aja."

Padahal matanya sempat melirik salah satu merek pembalut di rak paling tengah.

Galang mengikuti arah pandang itu sekilas, lalu kembali menatap Sekar.

Gadis itu tampak salah tingkah. pipinya sedikit merah, tatapannya mencoba menghindar bahkan tubuhnya seperti buru-buru ingin pergi dari lorong itu.

"Ayo," ucap Sekar cepat sambil melangkah lagi meninggalkan area tersebut.

Galang diam.

Pria itu menoleh sekali lagi ke arah rak penuh pembalut tadi sebelum akhirnya mengikuti langkah Sekar sambil mendorong troli.

Mereka berjalan ke lorong berikutnya. Sekar berusaha terlihat normal sambil mengambil kapas wajah dan sabun mandi. Namun diam-diam ia merasa malu sendiri.

Harusnya tadi ambil saja, gumamnya menggerutu dalam hati.

Tapi bagaimana coba caranya mengambil pembalut dengan A Galang berdiri di sampingku?

Memikirkannya saja membuat telinga Sekar panas. Sementara Galang memperhatikan Sekar dari samping.

Ia bukan laki-laki bodoh. Ia sadar tadi Sekar ingin mengambil sesuatu namun mengurungkan niatnya karena ada dirinya.

Dan entah kenapa, hal kecil itu justru membuat dada Galang terasa aneh. Sekar terlalu sungkan padanya, pikirnya. Seolah mereka orang asing yang padahal gadis itu istrinya.

Beberapa menit kemudian, ketika Sekar sibuk memilih sikat gigi di ujung lorong lain, Galang mendadak berkata singkat.

"Tunggu di sini."

Sekar menoleh sembari memasang wajah bingung. "Hah?"

"Bentar."

Sebelum Sekar bertanya lagi, Galang sudah berjalan kembali ke arah lorong sebelumnya dengan langkah tenang.

Sedangkan Sekar hanya bisa menatap punggung pria itu heran. Sedangkan Galang berhenti tepat di depan rak pembalut tadi.

Pria itu memandang deretan merek yang berjajar penuh warna dengan ekspresi datar.

Protex.

Laurier.

Charm.

Kotex.

Sofy.

Daun sirih.

Ada yang tipis, ada yang malam hari, ada yang bersayap dan ada yang panjangnya macam-macam.

Galang terdiam cukup lama. Keningnya sampai berkerut sehingga kedua alis tebalnya bertautan.

Seorang ibu-ibu di sampingnya bahkan sempat melirik aneh ketika Galang berdiri serius memperhatikan rak pembalut seperti sedang membaca jurnal medis.

Pada akhirnya Galang mengambil satu bungkus.

Lalu berhenti.

"Kalau salah gimana?" gumamnya.

Ia mengambil merek lain, lalu yang lain lagi, dan lagi. Ia mengambil satu per satu dari semua merek dan ukuran hingga troli yang tadi penuh dengan kebutuhan dapur kini mendadak dipenuho berbagai merek pembalut dengan warna kemasan berbeda-beda.

Ekspresi Galang tetap datar meski sebenarnya dalam hati ia sendiri merasa absurd dengan situasi ini.

"Aneh banget. Sebenarnya apa yang aku lakukan ini?" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Namun tetap saja, tangannya mengambil tambahan satu bungkus kapas dan tissue.

Baru setelah dirinya merasa aman, Galang kembali mendorong troli menuju tempat Sekar menunggu.

Sekar yang sejak tadi berdiri di dekat rak pas gigi langsung menoleh ketika Galang datang.

"A Galang darimana--"

Kalimatnya langsung terputus ketika matanya turun ke arah troli, Sekar diam sesaat sembari memandangi troli yang dipenuhi oleh berbagai merek pembalut.

Detik itu juga wajah Sekar berubah merah terang sampai ke telinga yang tertutup kerudung pashminanya.

"Aa..." gadis itu hampir berteriak. "Ini...ini apa maksudnya?"

Galang langsung berhenti dengan santai di depannya. "Kayanya barusan kamu mau ambil ini, dan malah bilang cuma lihat-lihat. Kenapa?"

Sekar langsung menunduk malu setengah mati.

"Ya Allah." desisnya.

Rasanya ia ingin menghilang masuk ke dalam rak supermarket saja.

"Aku tuh gak tahu kamu pakai yang mana," ungkap Galang dengan nada tenang seolah pembicaraan ini sangat normal. "Jadinya ya...aku ambil semua aja."

Sekar langsung menatap troli lagi, dan benar saja...semua mereka ada di sana, semuanya!

Bahkan ada pembalut malam ukuran dengan ekstrak panjang yang membuat Sekar makin ingin menangis karena malu.

"A Galang..." lirihnya pelan penuh protes.

Galang justru terlihat biasa saja. "Kenapa?"

"Kebanyakan..." gumam Sekar.

"Yaudah pilih aja nanti, mana yang akan kamu pakai." Lanjut Galang dengan enteng seraya mendorong kembali troli.

Sekar menutup wajahnya sebentar dengan telapak tangannya. Beberapa pengunjung yang lewat sampai melirik sekilas ke arah troli mereka dan itu membuat Sekar makin salah tingkah.

Sedangkan Galang malah terlihat tenang mendorong troli seperti tidak terjadi apa-apa.

Galang menoleh, "Ayo." katanya santai.

Sekar masih berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya berjalan cepat di samping Galang dengan wajah merah padam.

Dan untuk pertama kalinya Galang tersenyum kecil, bahkan sangat kecil. Hampir tidak terlihat senyum itu.

Namun cukup membuat wajahnya yang biasanya dingin tampak jauh lebih hidup.

.

.

.

Selepas berkeliling cukup lama di area supermarket dan beberapa toko kebutuhan rumah tangga di ciplaz Garut, langkah Sekar mulai melambat. kedua tangannya penuh kantong belanja, sementara pundaknya terasa pegal karena sejak tadi terus berpindah dari satu lorong ke lorong lain mengikuti Galang.

Mall cukup ramai siang itu. Suara anak-anak kecil bercampur dengan musik dari tempat pakaian dan pengumuman promo yang sesekali terdengar dari pengeras suara.

Galang melirik Sekar sekilas.

"Capek?"

Sekar yang sedang membenarkan posisi paper bag di tangannya menggeleng kecil. "Nggak."

Padahal jelas-jelas wajah gadis itu terlihat lelah.

Galang menghela napas pendek, lalu tanpa banyak bicara mengambil dua kantong belanja paling berat dari tangan Sekar. Refleks Sekar langsung menoleh.

"Aku masih bisa bawa."

"Saya tahu," Galang tetap berjalan santai di sampingnya. "Tapi tangannya merah."

Sekar langsung menunduk jemarinya sendiri.

Benar saja. Bekas tali plastik tampak membekas samar di kulit putihnya. Entah kenapa hal kecil itu malah membuat kedua sudut bibirnya berkedut, tersenyum kecil.

"Di atas aja makannya," ucap Galang kemudian.

Sekar mengangguk pelan mengikuti langkah pria itu menuju area restoran. Setelah beberapa menit berjalan, mereka berhenti di depan Solaria-- Ramayana Mall Garut.

Sekar tersenyum kecil.

Solaria.

Tempat yang begitu familiar baginya saat tinggal di Bandung dulu.

Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi. Tempat makan aman untuk siapa saja.

Galang mendorong pintu kaca restoran, membiarkan Sekar masuk lebih dulu. Aroma nasi goreng dan mentega langsung menyambut begitu mereka masuk ke dalam.

Mereka memilih meja di sudut dekat dinding kaca.

Kantong-kantong belanja diletakkan di sisi kursi. Sekar baru saja hendak duduk ketika suara adzan Dzuhur terdengar samar dari mushola mall.

Galang melirik jam tangannya.

"Aku shalat dulu."

Sekar mengangguk cepat. "Iya."

Galang lalu mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.

"Tolong jagain dulu."

"Hmmm."

"Mau pesan sekarang atau nanti nunggu aku kesini?"

"Eum, Aa shalat aja. Biar aku yang pesan, Aa mau makan apa?"

Galang menatap Sekar cukup lama untuk memastikan apakah benar gadis ini tidak keberatan.

"Nasi goreng seafood aja," jawab Galang.

"Minumnya?"

"Samain aja."

"Baiklah," jawab Sekar.

Galang kemudian berdiri.

"Aku nggak lama."

Sekar mengangguk kecil sebelum pria itu berjalan meninggalkan restoran menuju mushola.

Begitu Galang benar-benar pergi, Sekar mengembuskan napas pelan.

Entah kenapa ia masih merasa canggung saat hanya berdua seperti ini.

Ia mengambil buku menu Solari dan mulai membukanya. Jemarinya bergerak santai di antara deretan makanan yang sebenarnya sudah sangat familiar baginya.

Pada akhirnya ia memilih capcay tanpa nasi untuk dirinya sendiri, dan dua teh manis dingin sebagai minumnya.

Sederhana.

Setelah memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya, Sekar kembali duduk. Tangannya refleks merapikan beberapa kantong belanja di bawah meja agar tidak menghalangi jalan.

Suasana restoran cukup ramai oleh suara sendok beradu dengan piring dan percakapan pengunjung lain.

Untuk sesaat, Sekar merasa semuanya terasa normal. Seperti pasangan menikah biasa yang sedang menghabiskan akhir pekan bersama.

Pikiran itu membuatnya buru-buru menunduk.

"Pasangan menikah..." gumamnya seraya tersenyum kecil.

Baru beberapa menit berlalu ketika getar ponsel di atas meja terdengar.

Bzzzttt.

Sekar refleks menoleh.

Layar ponsel Galang menyala.

Nama yang muncul di sana membuat gerakan Sekar berhenti.

Melisa calling.

Seketika suasana hatinya yang tadi hangat seperti ditarik turun begitu saja.

Sekar menatap layar itu cukup lama.

Panggilan masuk terus berdering pelan di atas meja kayu.

Ia bisa saja mengangkatnya, lalu mengatakan jika Galang sedang shalat. Akan tetapi Sekar memilih untuk mendiamkan panggilan tersebut, pikirnya terus berkata jika tidak berhak untuk mengangkat panggilan tersebut.

Panggilan itu berhenti dan meninggalkan pesan masuk yang membuat Sekar kembali diam seribu bahasa.

[ A Galang aku udah nunggu lho ]

.

.

.

Hmmmm....

kira-kira kalau ada pesan masuk ke ponsel pasang kita kaya yang Sekar alami sekarang, gimana tanggapan kalian?

jangan lupa jawab di kolom komentar ya😁

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!