Di hari Pernikahannya Kayla Sanjaya 25th di paksa menukar calon suaminya dengan calon suami kakak sepupunya, Apakah Nayla menolak atau menyerahkan calon suaminya untuk kakak sepupunya... Yukkk... Kepoin Karya baru author...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Sayang, hari ini mas pulang agak telat ya, karena banyak kerjaan yang harus mas kerjakan sebelum kita tinggal pulang ke kota J." ujar Rangga menatap lembut sang istri yang berada di seberang meja makan.
"Iya mas, aku juga katanya hari ini pulang telat, soalnya hari ini ada beberapa pesanan yang akan di ambil, dan juga ada beberapa janji juga sama klien aku." sahut Kayla sambil menyendok nasi goreng ke mulutnya.
"Ya sudah, kamu hati hati, klau ada masalah, jangan lupa telpon mas." ujar Rangga.
"Mmm... " angguk Kayla dan mengakhiri sarapannya.
Beberapa waktu berlalu, Kayla sudah di sibukan dengan pesanan kliennya.
"Dea, semua sudah di cek kan, nggak ada yang kurang, jahitannya juga rapi kan, pastikan nggak ada benang yang berlebih tertinggal di pakainnya." ucap Kayla sibuk memerintah anak buahnya.
"Sudah bu, semuanya sudah rapi mbak, dan juga sudah pas, sudah di cek berkali kali." sahut Dea dengan sopan.
"Ok, klau gitu tolong cek pesanan yang ke dua, itu yang punya agak ribet orangnya." keluh Kayla.
"Sudah juga bu." jawab Dea lagi.
"Baiklah, klau semuanya sudah selesai, kamu bantu yang lain aja, nanti klau mereka datang, lansung arahkan saja keruangan saya." ucap Kayla mode serius, tangannya sibuk mengutak atik keybord laptop.
Dea mengangguk tanda mengerti, lalu meninggalkan ruangan Kayla.
Sementara di tempat lain, setelah menemui kliennya, Rangga kedatangan teman temannya.
"Woyyy.... Bro, susah banget sih ngajak lu kumpul sekarang, mentang mentang udah laku." ujar Andre, mengajak Rangga bertos ria.
Rangga berdiri menyambut kedatangan teman teman dan menyambut tos ala ala laki laki itu.
"Gimana lagi bro, nanti klau sudah punya istri bisa
Ngerasain lah." kekeh Rangga.
"Iya iya percaya gue mah." sahut Juan menghempaskan bokongnya di sofa empuk di ruangan Rangga itu.
Sementara Farel hanya duduk dengan muka datarnya.
"Kenapa loe, dari tadi muka di tekuk aja." tegur Andi, Rangga tentu saja tau kenapa Farel bersikap seperti itu, karena Dewi sudah dia pecat dari cafe Nusantara.
Farel membuang nafas kasar, sebenarnya dia juga tidak ingin bertingkah seperti itu, hanya saja dia sedikit tersinggung dengan cara Rangga memecat sang adik dengan tidak hormat, dan tidak memandang persahabatan mereka selama ini.
"Lansung aja deh ke intinya, gue mau nanya sama loe Ngga, sebenarnya apa salah Dewi, tiba tiba loe pecat secara tidak hormat dari Cafe ini? " ujar Farel dengan nada yang tidak enak.
"Apa loe nggak memandang persahabat kita selama ini, hanya karena masalah kecil, loe lansung main pecat aja." amuk Farel dengan menggebu gebu.
"Wooyyy.... Santai Bro, kita selesaikan baik baik, jangan pakai emosi gini." lerai Andre menenangkan Farel.
"Gimana mau baik baik, gue nggak terimalah adil gue di perlakukan kaya gitu! " ujar Farel berkacak pinggang.
Rangga hanya santai lalu meminum jus yang sudah di siapkan di atas meja.
"Gue nggak memecat adek loe begitu saja, kan sudah berulang kali gue bilang sama loe, tolong ajari adek loe sopan santun, walaupun kita ini sabahatan, jadi nggak usah merasa di atas angin lah, dan selalu merasa dirinya paling berkuasa, anak anak di sini sebenarnya sudah lama tidak nyaman sama Dewi, tapi gue masih bisa kasih toleransi, selagi dia nggak main fisik." sahut Rangga dengan tenang.
"Tapi untuk kali ini, gue nggak bisa toleransi lagi, dia sudah merendahkan istri gue, dan sempat mendorong istri gue, andai gue nggak sigap waktu itu, istri gue bisa terluka."
"Walau sudah tau dia salah, tapi adek loe tetap tidak merasa bersalah, terus saja memojokan orang, kesabaran gue juga ada batasnya, dan hari itu batas kesabaran gue sudah habis." tegas Rangga.
Andre dan Juan hanya bisa menyimak dan juga berjaga jaga, takut terjadi hal hal yang tidak dinginkan.
Dan setuju dengan Rangga klau Dewi adalah gadis yang angkuh dan sombong, selama ini mereka juga melihat tingkah Dewi yang selalu sok berkuasa.
Farel menarik nafas berat, sepertinya susah untuk membela sang adik, karena memang sudah fatal kesalahannya, akan tetapi Farel yang namanya saudara, Farel juga sedikit ego untuk membela sang adik.
"Dewi masih kecil Ngga, masih banyak belajar, jangan di ambil hati lah dengan sikapnya itu." bela Farel terhadap sang adik.
Rangga terkekeh geli mendengar penuturan Farel
"Adek lu bukan anak tk yang harus di peringati setiap saat, dan dia bukan anak remaja yang masih labil, umurnya sudah 22th, bahkan karyawan di sini ada yang berumur di bawah 20th, tapi mereka bisa bersikap dewasa dan profesional terhadap kerjaan, nggak pernah merasa iri dengan pengunjung yang lebih cantik dari mereka, juga nggak ada yang angkuh saat melayani pelanggan yang merasa kurang mampu masuk ke cafe ini, gue selalu menerapkan ke mereka, selalu bersikap ramah terhadap pengunjung, tapi adek lu apa? " ujar Rangga bertubi tubi meluapkan semua keluhannya terhadap Dewi selama ini.
Farel di buat bungkam tanpa bisa membela sang adik, ada rasa mali di hati Farel karena perbuatan adiknya itu.
"Satu lagi, gue tau adek loe suka sama gue, dan itu mendapat dukungan dari loe, gue tau itu, hanya saja berpura pura tidak tau, tapi maaf gue nggak bisa menerima cinta adek loe, gue hanya menganggap dia sebagai adik sahabat gue aja."
Skakmat Rangga tepat sasaran, dan Farel makin mati kutu mendengar penuturan Rangga itu.
Hening untuk sesaat, sebelum Rangga kembali bersuara.
"Gue harap loe mengerti akan hal ini Rel, tapi klau loe tetap tidak terima dan tetap pada pendirian loe, mohon maaf, gue lebih memilih untuk mundur dari persahabatan kita." tegas Rangga yang tidak dapat di tawar, dan teman teman Rangga sangat tau sifat Rangga yang tidak dapat di ganggu gugat.
Deggg....
Ada rasa tidak terima di hari Farel, karena Rangga memilih persahabatan mereka hancur, dari pada memaafkan Dewi.
"Jadi loe lebih suka persahabatan kita hancur dari pada memaafkan Dewi? " tanya Farel.
Rangga mengangguk dengan mantap. "Gue lebih baik kehilangan satu sahabat, dari pada usaha yang gue rintis mati matian hancur kerena ke egoisan seseorang."
"Satu lagi, gue juga tidak ingin rumah tangga yang baru gue bina di rusak sama orang yang tidak bertanggung jawab." tegas Rangga tidak dapat di tolerir lagi.
Faris mengangguk lalu berdiri dari duduknya.
"Ok, klau gitu gue duluan." ucap Faris dengan perasaan campur aduk.
Juan dan Andre tidak bisa membela di antara mereka, karena ini bukan ranah mereka.
Huuffff.....
Rangga menghempaskan punggungnya dengan sedikit keras ke sandaran kursi, bukan maksud hati ingin putus hubungan yang sudah di bangun dari lama, tapi dia tidak bisa mentolerir kesalahan Dewi, dan juga tidak ingin mengorbankan rumah tangganya hanya karena seorang sahabat.
Andre menepuk bahu Rangga, untuk menyemangati sahabatnya itu, apa yang di lakukan Rangga bukanlah hal yang mudah, memilih di antara sahabat, usaha dan juga rumah tangga, semua sangat rumit, tapi menurut Juan dan juga Andre apa yang di putuskan Rangga itu sudah tepat, jangan karena ulah seseorang, demi kata persahabatan, usaha yang sudah di rintis bertahun tahun, dan rumah tangga hancur hanya karena nama persahabatan, itu sangat bodoh, lebih baik mengorbankan persahabatan dari pada semua jadi hancur.
Bersambung....
nah gt dong damai itu kan indah😍
semangat💪