Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16. Bertemu orang tua Bella
Bella panik sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia harus melakukan sesuatu terhadap Rafael. Ia tidak akan membiarkan pria itu mengendalikan hidupnya.
Rafael mungkin bisa menguasai segalanya, tapi tidak dirinya. Dari apa yang ia dengar, Rafael memiliki cukup uang untuk menyuap hakim, memanipulasi siapa pun agar mendapatkan apa yang ia inginkan. Bella takut ia mungkin tidak akan bisa mempertahankan hak asuh atas anaknya sendiri.
Pria itu bahkan mampu mengendalikan polisi. Ia bisa keluar-masuk rumah Bella sesuka hati. Jika sejauh itu saja yang terlihat, lalu apa lagi yang sebenarnya ia sembunyikan?
Bella mengepalkan tangannya. Ia harus bertindak. Saat itulah sebuah ide muncul. Ayahnya adalah seorang pengacara. Bahkan, ayahnya memiliki kantor hukum sendiri yang ia bangun dengan reputasi dan kerja keras. Bella yakin, ayahnya pasti sudah sering berurusan dengan orang-orang kejam dan manipulatif seperti Rafael.
Jika ada seseorang yang bisa membantunya, itu adalah ayahnya.
Bella belum lama ini benar-benar menjaga jarak dari Ruby dan Anne. Keduanya sibuk dengan kehidupan masing-masing dan tampak jauh lebih bahagia. Bella tidak ingin menyeret mereka ke dalam kekacauan hidupnya yang penuh masalah.
Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah memberi tahu orang tuanya tentang inseminasi itu. Ibunya tidak pernah menyetujuinya sejak awal, jadi Bella memutuskan untuk berbicara dengan ayahnya terlebih dahulu.
Ia merosot ke sofa, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Seandainya saja ia mendengarkan ibunya dulu. Mungkin jika ia tahu semuanya akan serumit ini, ia tidak akan pernah melangkah sejauh ini.
Setelah mengumpulkan sisa keberaniannya, Bella berdiri. Ia tidak bisa terus menunda. Masalah ini harus dihadapi.
Bella merapikan rambutnya menjadi sanggul yang rapi, lalu membenahi gaunnya sebelum mengambil kunci. Ia menutup pintu apartemennya dan berjalan menuju lift.
Rafael terlalu posesif, dan terlalu mengontrol. Pasti ada cara hukum untuk menjauhkannya dari hidup Bella. Ia tidak akan membiarkan pria itu mengambil alih hidupnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuanya, Bella terus berlatih dalam hati apa yang akan ia katakan terutama kepada ayahnya. Meski ayahnya selalu mendukungnya, Bella tahu setiap orang memiliki batas kesabaran masing-masing. Ia akan memberi tahu ibunya nanti, saat kehamilannya tak lagi bisa disembunyikan.
Mobil Bella berhenti di depan rumah besar milik orang tuanya. Ia turun, menatap bangunan itu sejenak lalu melangkah mendekat.
Seperti biasa, ia disambut oleh Ami yang sedang sibuk menyapu beranda.
“Selamat pagi, Ami,” sapa Bella sambil keluar dari mobilnya.
“Senang bertemu denganmu,” jawab Ami sambil mendongak dan tersenyum ramah.
Bella menutup pintu mobilnya. “Apakah orang tua ku ada di rumah?” tanyanya.
“Ada, mereka sedang kedatangan tamu yang sangat penting di ruang tamu,” jawab Ami.
Bella menaiki tangga menuju beranda. Tamu itu sepertinya bukan orang yang bisa disela.
“Aku tidak ingin mengganggu,” gumamnya pada diri sendiri.
Bella duduk di sofa besar di beranda, punggungnya bersandar ke dinding. Di sampingnya ada sebuah meja kecil dengan tumpukan majalah di atasnya. Tempat itu memang favorit ibunya untuk membaca. Dari sana, pemandangan taman terlihat jelas dengan area parkir tepat di sebelahnya.
Pandangan Bella tiba-tiba tertuju pada sebuah mobil Range Rover besar yang terparkir di antara mobil-mobil milik ayahnya.
Ayahnya tidak pernah memiliki mobil seperti itu. Itu model terbaru, Bella sangat yakin karena ketika ia berniat membeli mobil baru, ia sempat melihat tipe yang sama dan hampir pingsan setelah melihat harganya.
Mobil itu pasti milik tamu mereka. Dan jelas, tamu itu sangat kaya. Bella mengambil salah satu majalah dan mulai membaca sambil menunggu.
Ia menunggu. Dan terus menunggu. Namun, tamu itu tak kunjung pergi.
Satu jam berlalu, dan kelopak mata Bella mulai terasa berat karena sofa itu terlalu nyaman.
'Mungkin sebaiknya aku masuk saja,' pikirnya.
Tamu itu tampaknya tidak akan segera pamit.
Bella berdiri dari sofa sambil menggosok matanya yang mengantuk. Wajahnya pasti terlihat murung, ia memang selalu tampak seperti itu saat lelah.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Tawa terdengar dari arah ruang tamu. Bella langsung mengenali suara itu. Tawa ibunya. Ia belum pernah mendengar ibunya tertawa sebahagia itu. Apa yang sedang terjadi?
Dengan langkah ragu, Bella masuk ke ruang tamu dan seketika membeku.
Rafael sedang duduk santai di sofa, tepat di seberang ayahnya. Sementara itu, ibunya sibuk menyajikan kopi dan kue untuk pria itu, seolah-olah ia adalah tamu kehormatan.
Jantung Bella berdegup kencang. Apa yang Rafael lakukan di sini?
Bagaimana mungkin dia mengenal orang tuanya?
Dan yang paling mengejutkan, mengapa ibunya begitu ramah?
Terakhir kali ibunya melayaninya dengan perhatian seperti itu adalah ketika Bella masih berusia lima tahun.
Rafael mendongak, dan pandangan mereka bertemu. Pria itu tampak sempurna dengan mengenakan setelan tuksedo Armani biru tua dengan dasi senada. Senyum lebarnya merekah, kilau di matanya membuat Bella nyaris tak mengenalinya.
“Itu dia,” kata Rafael ceria, seolah-olah kehadiran Bella adalah momen yang sudah lama ia tunggu.
Ibu dan ayah ikut menoleh ke arahnya.
“Hai, Sayang,” sapa sang ibu hangat.
Bella berdiri kaku di tempatnya, lidahnya kelu. Ia berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di hadapannya.
“Kemari lah, Sayang,” ujar Rafael sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Bella tersentak dari lamunannya. Sang ibu menggelengkan kepala pelan ke arahnya, lalu duduk di samping ayah, memberi isyarat agar Bella menuruti permintaan itu.
Dengan langkah ragu, Bella berjalan mendekat dan duduk di sisi Rafael, kepalanya masih dipenuhi kebingungan.
'Apakah dia baru saja memanggilku ‘sayang’?'
Belum sempat Bella menenangkan diri, Rafael bergeser duduk lebih dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.
“Kami sangat gembira dengan bayi mungil kami,” kata Rafael lembut—terlalu lembut untuk pria yang selama ini begitu mengontrol.
Ia mencondongkan tubuh dan mengusap perut Bella dengan gerakan penuh kepemilikan.
Bella menegang.
“Mengapa kamu tidak memberi tahu kami kalau kamu hamil, Bella?” tanya ibunya.
Bella menggeleng pelan, pikirannya terasa seperti macet. Otaknya bekerja terlalu lambat untuk mencerna semua ini.
Mereka tahu soal kehamilan itu?
Apa saja yang sudah Rafael katakan kepada mereka?
Padahal selama ini ibunya selalu menegaskan bahwa kehamilan di luar nikah adalah aib yang tak bisa ditoleransi. Namun kini, perempuan itu tampak justru terpesona.
“A-aku…” Bella tergagap, kata-katanya menghilang begitu saja.
“Sekarang Ibu mengerti kenapa kamu mengarang cerita tentang donor sperma itu,” lanjut sang ibu, seolah-olah menemukan jawaban yang paling masuk akal. “Kamu hanya menguji kami sebelum menyampaikan kabar ini.”
Ia tampak puas dengan kesimpulannya sendiri. Bella tak sanggup membantah.
“Kamu bisa saja langsung mengatakan yang sebenarnya,” sambungnya. “Rafael itu pria yang luar biasa.”
Bagi ibunya, ini adalah gambaran sempurna—seorang cucu yang kelak akan mewarisi maskapai penerbangan besar. Status sosial, kebanggaan, semua tersaji rapi di depan mata.
“Putri Anda adalah perempuan yang luar biasa,” ujar Rafael dengan senyum menawan. “Bu,” katanya kemudian, percaya diri.
Saat itulah Bella menyadari tangan Rafael masih bertengger di perutnya.
“Aku sudah bilang, kamu boleh memanggilku Ibu. ‘Nyonya’ terdengar terlalu formal,” sahut sang ibu dengan senyum ramah.
Rafael perlahan tapi pasti mulai menguasai hidup Bella, mulai dari kafenya, dan kini bahkan sampai ke rumah orang tuanya. Apa pun rencana yang disusunnya, pria itu selalu selangkah lebih maju.
Sang ayah tetap diam, sibuk menyesap kopi tanpa ikut campur.
“Apakah Ibu perlu menyajikan sesuatu untukmu, Bella?” tanya ibunya.
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Bella. Ia membalas dengan senyum kecil yang dipaksakan.
Seolah belum cukup, Rafael justru bergeser lebih dekat ke arahnya. Bella menahan napas tidak nyaman. Apa lagi yang dia mau?
“Jadi, kapan kalian berdua berencana menikah?” tanya sang ibu tiba-tiba.
Bella tersedak napasnya sendiri, sementara ayahnya tersedak kopi. Pria itu segera memuntahkan kopi kembali ke cangkir dan meletakkannya di meja.
Menikah? Bella bahkan belum yakin sanggup membesarkan anak bersama Rafael apalagi menikah dengannya.
“Tidak perlu terburu-buru. Biarkan Bella yakin dulu,” ujar ayahnya.
“Tapi mereka akan punya bayi,” sang ibu menyahut. “Ini waktu yang tepat, sebelum Bella mulai gemuk.”
Bella menunduk, rahangnya mengeras.
“Aku tidak ingin memberi tekanan pada Bella,” Rafael menyela dengan tenang. “Untuk sekarang, kami hanya ingin fokus pada bayi kami.”
Jawaban itu justru membuat Bella terkejut.
Mengenal Rafael ia hampir yakin pria itu lebih suka mengurungnya di bawah pengawasan ketatnya.
“Tentu saja,” kata sang ibu puas. “Bayi memang yang paling penting.”
Tangan Rafael masih bertengger di perut Bella, mengusapnya perlahan dengan sikap posesif yang dibungkus kepedulian palsu. Bella bisa merasakannya.
Rasa geli dan risih bercampur menjadi satu. Tanpa berpikir panjang, Bella menepis tangannya. Rafael tersentak.
Sang ibu justru terkikik kecil, tampaknya mengira itu hanya ulah hormon kehamilan atau interaksi manis sepasang calon orang tua.
Tiba-tiba ponsel Rafael berdering. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menatap layar dengan kening berkerut, sepertinya panggilan itu datang di luar dugaan.
“Ini urusan pekerjaan,” katanya sambil berdiri. “Permisi, aku harus menerima panggilan ini.”
Rafael melangkah keluar ruangan.
“Anak muda yang sangat rajin. Ayah dan Ibu benar-benar bangga padamu,” komentar sang ibu dengan bangga.
Cara ibunya mengatakannya membuat Bella merasa aneh, seolah memiliki pasangan kaya adalah sebuah pencapaian hidup.
“Permisi,” kata Bella sopan sambil berdiri. Ia butuh udara segar. Dan lebih dari itu, ia perlu berbicara dengan Rafael selagi pria itu masih di luar, dan apa sebenarnya rencana Rafael, mengapa ia bisa sedekat itu dengan orang tuanya.
Bella meninggalkan ruang tamu dan melangkah ke arah yang sama dengan Rafael.
Pria itu masih sibuk dengan panggilan teleponnya. Dari suaranya tampak tegang, langkahnya mondar-mandir di beranda seperti sedang menghadapi masalah besar. Bella memilih menunggu, menyandarkan punggung pada tiang, menahan diri agar tidak ikut campur.
“Kamu dipecat!” bentak Rafael tiba-tiba sebelum mematikan panggilan itu dengan kasar. Ia mengembuskan napas pendek. “Hanya masalah pekerjaan sepele,” gumamnya dan memasukkan ponselnya ke saku jas, lalu mendongak. Tatapannya akhirnya bertemu dengan mata Bella.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Bella dingin.
Kerutan di wajah Rafael perlahan berubah menjadi seringai.
“Aku hanya ingin mengunjungi calon mertuaku,” jawabnya dengan suara menyebalkan.
“Aku tidak bercanda,” bisik Bella sambil melangkah lebih dekat.
“Aku sudah menduga kau akan datang ke sini,” balas Rafael sambil menyilangkan tangan di dada.
Bella mengatupkan rahang. Ia tidak tahu apakah pria itu sedang bercanda atau benar-benar serius, yang jelas semua ini harus dihentikan. Ia tidak bisa membiarkan Rafael terus mencampuri hidupnya.
“Aku ingin kau berhenti ikut campur. Aku bersedia berdiskusi secara sopan, tapi bukan seperti ini,” kata Bella.
“Baiklah,” jawab Rafael santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
“Oke,” sahut Bella.
“Aku akan pamit pada calon mertuaku dulu,” ujar Rafael bercanda.
Bella menepuk dada Rafael, sebagai bentuk peringatan. Ia tahu, menampar wajah pria itu nyaris mustahil kecuali ia mengenakan sepatu hak tinggi. Ia memutar bola mata, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
Rafael tertawa kecil di belakangnya. Anehnya, tawa itu membangkitkan sensasi aneh di dada Bella. 'Apa yang sedang kupikirkan?'
Rafael adalah pria paling menyebalkan yang pernah ia temui. Ia tidak boleh membiarkan pria itu memiliki pengaruh sekecil apa pun atas dirinya.
Di ruang tamu, kedua orang tuanya menunggu dengan sabar. Bella dan Rafael kembali duduk di sofa.
“Bagaimana kalian berdua bisa bertemu?” tanya sang ibu penuh rasa ingin tahu.
Bella dan Rafael saling berpandangan, sama-sama sadar bahwa jawaban mereka akan menentukan banyak hal.
Sejujurnya pertemuan pertama mereka terjadi di sebuah klub malam, dan Bella tahu betul itu bukan jawaban yang ingin didengar ibunya. Namun berbohong pun terasa berbahaya, Rafael tipe orang yang sulit ditebak.
“Kami pertama kali bertemu di sebuah klub,” jawab Bella jujur.
“Klub buku,” sela Rafael cepat, tanpa ragu.
Ia tersenyum santai. “Kadang aku suka rehat dari kapal pesiar dan mobil-mobil mewah. Sesekali berinteraksi dengan orang-orang biasa terasa… menyegarkan.”
Bella menahan diri agar tidak mendengus.
Pria itu benar-benar pembohong ulung, seolah semua yang terjadi telah ia rencanakan jauh hari sebelumnya.
“Ayah tidak tahu kamu ikut klub buku, Bella,” kata sang ayah, menatapnya curiga. Ia mengenal putrinya terlalu baik untuk begitu saja menerima jawaban itu.
“Aku punya banyak waktu luang di hari Minggu,” jawab Bella, berusaha terdengar santai. “Ruby dan Anne sibuk, jadi aku memutuskan bergabung dengan klub buku.”
Kebohongan itu terasa kaku di lidahnya. Bella selalu buruk dalam berbohong, kehadiran Rafael justru membuatnya semakin sering melakukannya.
Sang ibu menatap Bella dengan sorot mata bangga, seolah ia sedang memamerkan sebuah trofi.
“Maaf, Pak, Bu, tapi saya harus pergi sekarang,” sela Rafael sopan. “Saya masih ada rapat beberapa jam lagi.”
Sikapnya begitu santun, sangat berbeda dari cara ia bersikap pada Bella selama ini.
“Aku juga harus pergi,” kata Bella cepat. Jika ia dan Rafael belum mencapai kesepakatan apa pun soal bayi itu, maka keberadaannya di rumah ini terasa sia-sia.
“Kalau begitu aku bisa mengantarmu pulang,” ujar Rafael. Suaranya terdengar lebih seperti perintah daripada tawaran.
“Tidak perlu, aku membawa mobil sendiri,” jawab Bella segera. Ia sama sekali tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya.
“Jangan mengada-ada,” bantah Rafael. “Aku akan menyuruh salah satu sopirku mengantarkan mobilmu kembali ke apartemen hari ini.”
Bella melirik ibunya. Tatapan sang ibu jelas mendorongnya untuk menerima tawaran itu.
“Baiklah,” akhirnya Bella mengalah.
“Bagus,” kata sang ibu puas. Ia lalu menoleh pada Rafael. “Silakan mampir kapan saja.”
Bella dan Rafael berjalan keluar rumah, sementara kedua orang tuanya mengikuti dari belakang.
Rafael membukakan pintu mobil untuk Bella dengan sikap seorang pria sejati. Dari beranda, ayah dan ibu melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan saat mobil itu melaju pergi.
“Orang tuamu sangat ramah. Aku sampai bertanya-tanya dari mana kamu mewarisi sikap keras kepalamu itu,” komentar Rafael.
Di situlah Rafael yang dikenalnya, dingin, menyebalkan, dan penuh sindiran. Jelas pria itu telah kembali ke versi aslinya.
Bella memutar bola mata, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Dudukannya terasa nyaman. Seandainya ia tidak bersama Rafael, ia pasti sudah tertidur sejak tadi. Bersama pria itu, ia tak pernah bisa benar-benar lengah.
“Harus kuakui, aku tidak menyangka kamu tipe orang yang menyukai Range Rover,” ucap Bella tanpa menoleh
“Bukan soal suka. Aku hanya perlu mengendarai mobil yang membuatku terlihat seperti kepala keluarga.”
Jawaban itu terdengar begitu terencana seperti dirinya. Seorang pebisnis yang memikirkan citra hingga detail terkecil.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan, ditemani suara radio yang disetel Rafael ke stasiun bisnis. Laporan pasar dan pergerakan saham mengalun monoton di latar belakang.
Tak lama kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan gerbang apartemen Bella.
“Aku benar-benar ada rapat hari ini,” kata Rafael sambil menatap lurus ke depan. “Kita bisa bicara besok malam.”
Bella mengangguk singkat, melepas sabuk pengaman, lalu turun dari mobil.
“Sampai jumpa, Bella,” panggil Rafael saat ia sudah melangkah menjauh.
Bella menoleh. Di balik jendela mobil, seringai khas Rafael terukir jelas.